Paju, Korea Selatan

Asian Way of Documentary

Setelah sesi pemutaran filem Dongeng Rangkas [baca di sini] beserta diskusi dengan keempat dari lima sutradaranya; Andang Kelana, Badrul  Munir, Fuad Fauji, Syaiful Anwar, pada pagi hari tanggal 25 September 2011, maka sore harinya giliran akumassa yang menjadi bagian dari rangkaian acara 3rd DMZ Docs Korean International Film Festival. akumassa mendapat kehormatan untuk mewakili Indonesia dalam forum diskusi “Asian Way of Documentary” yang berlangsung di Eche Art Hall, Paju, Korea Selatan.

Asian Way of Documentary

Cuaca di Kota Paju sore itu cukup hangat meskipun berangin, membuat banyak orang tidak rela melepas jaketnya, terutama aku dan teman-teman Forum Lenteng yang memang berasal dari negara tropis. Di sepanjang jalan banyak terlihat muda-mudi, maupun keluarga beserta anak-anak berjalan menikmati pemandangan kota. Sebagian lainnya tampak menuju Eche Edutainment Mall, tempat dimana 3rd DMZ Korean International Documnetary Festival berlangsung.

Pintu masuk Eche Edutainment Mall

Eche Art Hall berada di lantai 1 Eche Edutainment Mall. Berdasarkan pengalaman kami yang telah menghadiri festival ini sejak 22 September 2011, tidak terlalu banyak pengunjung menonton filem-filem yang dihadirkan pada 3rd DMZ Korean International Film Festival. Hal ini dikarenakan Kota Paju merupakan kota perbatasan antara Korea Selatan dengan Korea Utara. Paju berada cukup jauh dari ‘pusat kehidupan’ masyarakat Korea, yaitu Seoul.

Sebelum diskusi, aku dan Andang dipertemukan dengan Sani, seorang perempuan Korea yang pernah kuliah di Jogjakarta. Sani menjadi penerjemah Indonesia-Korea untuk kami selama sesi diskusi berlangsung. Tak lama kemudian, Kim Myoong Jun ikut bergabung. Ia adalah moderator untuk sesi diskusi kali ini. MJ, sapaan akrabnya, merupakan Direktur Media Center Mediact, sebuah infrastruktur budaya non-profit yang fokus pada pengembangan media center di Korea. Selain aku dan Andang dari akumassa dan Forum Lenteng (Indonesia), hadir pula Nguyen Trinh Thi dari Hanoi DOCLAB (Vietnam), serta Navi dan Lee Ha-Yeon dari River, The Origin (Korea) sebagai panelis dalam forum diskusi ini.

Diskusi dimulai telat 30 menit dari rencana awal yaitu pukul 16.00, karena kendala teknis. Akhirya, tepat pukul 16.30 waktu Korea aku beserta panelis lainnya memasuki ruangan. Presentasi diawali oleh kata pembuka dari MJ selaku moderator. Menurutnya, sesi diskusi ini sangat penting untuk perkembangan dokumenter di Asia, hasil diskusi diharapkan menjadi sebuah pengetahuan bagi publik Korea tentang perkembangan dokumenter di negara Asia lainnya, serta dapat membangun kerjasama antara para pembuat film dokumenter Asia, khususnya Indonesia, Vietnam, dan Korea.

Organisasi dan program dari tiga negara yang dipresentasikan dalam “Asian Way of Documentary” memiliki beberapa kesamaan baik dari segi konsep maupun aktivitas. Ketiganya sama-sama memakai medium audio-visual sebagai media distribusi pengetahuan, fokus pada pendidikan berbasis media, pengembangan kapastitas publik dan pusat data. Selain itu, ketiganya sama-sama memiliki sejarah situasi sosial-politik yang panjang.

Hanoi DOCLAB memulai aktivitasnya pada Oktober 2009 sebagai pusat belajar produksi filem dan video dokumenter yang kegiatannya meliputi workshop, pemutaran dan diskusi, dan sebagainya. Sedangkan River, The Origin merupakan sebuah project dokumenter tentang para petani di berbagai daerah pinggir sungai yang terancam kehilangan lahan karena kebijakan pemerintah untuk merestorasi sungai-sungai utama di Korea.

Sunrise Jive

Dalam sesi diskusi “Asian Way of Documentary”, Forum Lenteng memutar karya Mahardika Yudha: Sunrise Jive dan video akumassa Lombok hasil kerjasama dengan Komunitas Pasir Putih: Tepian Laut Utara.

Video akumassa: Tepian Laut Utara

Tidak banyak terjadi sesi tanya jawab dalam diskusi ini, karena minimnya peserta diskusi yang hadir. Salah satu pertanyaan yang dilemparkan adalah “Bagaimana filem dan video dokumenter dapat diterima oleh khalayak luas?” Hal ini ternyata menjadi harapan dari seluruh panelis yang hadir. Baik di Indonesia, Vietnam, maupun Korea, scene  dokumenter memang masih harus terus berjuang untuk dapat diterima oleh masyarakat. Apa yang dilakukan akumassa dirasa sebagai cara pendekatan yang baik agar filem dokumenter dapat diterima oleh masyarakat, karena merekam hal-hal kecil yang ada di keseharian massa dan menggelar pemutaran untuk publik setempat.

River, The Origin

Berakhirnya sesi diskusi sore itu merupakan awal harapan baru untuk dapat mengembangkan kerjasama distribusi pengetahuan, khususnya melalui medium audio-visual antara Indonesia, Vietnam, Korea dan Asia.

About the author

Mira Febri Mellya

Perempuan kelahiran Jakarta pada tanggal 22 Februari 1990 ini telah menyelesaikan studi strata satu di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta. Sebelumnya ia telah aktif sebagai fasilitator program worskhsop akumassa di beberapa kota bersama komunitas dampingan. Sekarang ia menjadi wartawan aktif di majalah Gatra.

Leave a Comment

3 Comments