DKI Jakarta

Transportasi Idola yang Sering Mogok

Ayah dan Ibuku merupakan pengguna setia kereta api relasi Serpong – Tanah Abang. Mereka biasanya naik dari Stasiun Pondok Ranji dan turun di Stasiun Tanah Abang. Setiap pulang ke rumah mereka selalu memiliki cerita seputar kereta api yang diceritakan kepadaku. Ibuku pernah beberapa kali harus naik dan turun kereta melalui jendela, karena keadaan kereta sangat penuh. Ayahku pernah hampir tersandung pembatas stasiun karena kakinya tidak seluruhnya masuk ke dalam kereta. Ibuku juga pernah mengancam pencopet dengan lirikan matanya ketika si copet akan beraksi mengambil dompet seorang ibu. Lirikan itu kemudian dibalas dengan acungan pisau.

Pernah juga suatu hari ibuku pulang dengan kaki lebam, ternyata ia terdesak lautan penumpang kemudian terjatuh saat hendak masuk ke dalam kereta Ekonomi AC. Aku ngeri membayangkannya. Ya, kereta api memang belum menjadi alat transportasi yang nyaman bagi masyarakat, meskipun begitu kereta api tetap menjadi transportasi idola masyarakat karena harganya murah dan waktu tempuhnya cepat.

Berbagai cara dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan kenyamanan dan keamanan masyarakat pengguna kereta. Salah satunya larangan untuk naik di atas atap kereta yang ada dalam pasal 207 UU KA. Bagi pelanggar pasal ini akan dijerat hukuman maksimal tiga bulan penjara dan denda Rp. 15.000.000,-. Karena masih banyak pelanggaran yang terjadi, maka petugas Kereta Api Indonesia (KAI) pun sempat menetapkan sangsi tambahan, yaitu menyemprotkan cat pewarna bagi siapapun yang naik ke atas atap kereta.

Peraturan yang terbaru adalah penetapan pola single operation  yang diberlakukan sejak 2 Juli 2011. Yang dimaksud dengan single operation yaitu  perjalanan KRL pada lintas yang sama memiliki waktu tempuh perjalanan yang sama dan berhenti di stasiun yang sama pula, serta tidak dilakukan penyusulan. Jenis Kereta Rel Listrik (KRL) yang biasa dikenal dengan Ekonomi AC dan Eksklusif, kini berubah nama menjadi Commuter Line. Sehingga jenis kereta listrik menjadi KRL Ekonomi dan Commuter Line. Ketika aku mencari informasi di internet seputar Commuter Line, aku mendapat informasi bahwa tarif awal Commuter Line adalah Rp.9.000,-. Namun, berdasarkan pengalamanku akhir-akhir ini, harga tiket Commuter Line adalah Rp. 6.000,-. Ternyata, menurut berita di media online, tarif awal tersebut banyak menuai protes dari penumpang kereta karena dinilai terlalu mahal. Namun, banyak pula masyarakat yang menerima harga tarif awal tersebut, asalkan kenyamanan dan keselamatan penumpang kereta lebih terjamin saat menaiki Commuter Line.

Aku sendiri bukanlah pelanggan setia Communter Line. Namun, untuk beberapa keperluan aku sering juga memilih kereta sebagai alat tarnsportasiku. Dan aku merasa kehadiran Commuter Line jauh lebih nyaman dibandingkan kereta Ekonomi. Apalagi di gerbong pertama dan terakhir Commuter Line disediakan gerbong khusus wanita yang membuat penumpang wanita merasa nyaman dan tidak harus bersinggungan badan dengan lawan jenis.

Pada hari Minggu, 9 Oktober 2011 aku memilih bepergian menggunakan Commuter Line relasi Serpong – Tanah Abang. Kereta tiba di Stasiun Pondok Ranji pukul 12.10 WIB. Cuaca hari itu mendung disertai gerimis kecil. Aku pun melangkah masuk ke dalam Commuter Line. Meskipun tak mendapat tempat duduk, aku cukup merasa nyaman karena keadaan kereta tak terlalu penuh. Setelah melayangkan pandang ke segala penjuru, aku baru sadar bahwa di dalam gerbong kereta banyak rombongan keluarga beserta anak-anak. Mungkin karena hari ini akhir pekan.

Hari ini tujuanku adalah Tanah Abang. Untuk mencapai stasiun Tanah Abang, Commuter Line harus melewati dua stasiun, yaitu Stasiun Kebayoran dan Palmerah. Sepuluh menit sudah kereta berjalan. Aku merasa lajunya sangat lamban. Padahal jarak tempuh dari Stasiun Pondok Ranji-Kebayoran biasanya hanya 10 menit. Tapi karena kereta melaju pelan maka kami belum sampai di Stasiun Kebayoran. Tiba-tiba keringat mengucur dari keningku. Tadinya aku mengira keringat ini mengucur karena aku sedang tidak enak badan. Tetapi beberapa orang lainnya juga terlihat berkeringat. Anak-anak kecil pun mulai menangis kegerahan. Ternyata listrik Commuter Line yang aku tumpangi mati total. Pantas saja AC dan lampu tidak menyala. Aku pun mulai panik, karena tak ada pemberitahuan apapun dari petugas kereta.

Tiba-tiba dua orang petugas yang bertugas mengecek karcis masuk ke gerbongku. “Karcis.. Karcis…” ujar seorang di antaranya. Seorang lainnya membuka setiap jendela di gerbong tanpa berkata-kata. Mereka pun langsung jadi sasaran pertanyaan dari para penumpang.

Mas kenapa sih keretanya?”

“Listriknya mati ya, Mas?”

“Keretanya kok pelan begini? Ini gak bahaya, Mas?”

Ada pula ibu-ibu yang berzikir dengan suara cukup keras, “Astaghfirullahaladzim, Astaghfirullahaladzim…”

Akhirnya, setelah berjalan dengan sangat lamban, kereta sampai di Stasiun Kebayoran. Di sinilah baru terdengar pemberitahuan dari pihak stasiun bahwa Commuter Line tujuan Tanah Abang belum dapat beroperasi karena listrik mati.
Mendengar pemberitahuan tersebut, beberapa penumpang memutuskan untuk keluar dari kereta dan melanjutkan perjalanan menggunakan bus. Namun, banyak juga yang masih bertahan di dalam kereta, salah satunya aku.

Lima menit kemudian, keadaan kereta masih sama. Belum dapat beroperasi kembali. Semakin banyak penumpang yang memilih untuk turun. Terutama yang membawa anak kecil, karena banyak anak yang menangis kegerahan dan bosan berada dalam gerbong kereta yang tak melaju. Ternyata mereka yang memilih turun tak semuanya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan, para penumpang itu justru duduk-duduk di stasiun sambil menghirup udara segar. Sebagian dari mereka menunggu kereta beroperasi kembali sambil membeli minuman dan merokok.

“Sekali lagi kami beritahukan, Commuter Line di jalur dua tujuan Tanah Abang belum dapat beroperasi dikarenakan listrik mati.” Lagi-lagi pengumuman dari pihak stasiun terdengar.

Karena mulai bosan dan tidak jelas estimasi waktu operasi kereta kembali, maka aku berkeinginan untuk melanjutkan perjalanan dengan bus kota. Tapi sebelum memutuskan, aku menelepon ayahku untuk meminta pendapat, karena ia pelanggan setia Commuter Line.

“Keretanya mogok di Kebayoran, Pa…” jelasku lewat telepon seluler.

“Udah tungguin aja, biasanya gak sampai setengah jam sudah jalan lagi.”

“Oh, gak sampai setengah jam ya? Oke.”

Ketika selesai menelepon, seorang perempuan langsung bertanya padaku. “Gak sampai setengah jam ya, Mbak?” Aku mengangguk sambil merasa kaget karena perempuan itu ternyata menyimak percakapanku. Namun aku tak menyalahkan karena jarak kami berdiri memang sangat dekat. Aku juga ikut serta memperhatikan dan menyimak percakapan orang lain yang ada di sekitarku. Di keadaan kereta yang mogok ini, ada banyak hal yang menjadi perhatianku. Di dekatku, sepasang muda-mudi ternyata sedang bertengkar, si perempuan ingin turun dari kereta karena mulai bosan, sementara si lelaki masih enggan beranjak karena percaya mogoknya tak akan lama. Di sebelahku seorang pria asyik memainkan handphone-nya, seolah tak peduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Seorang anak menangis sambil mengamuk karena kegerahan, ibunya membujuk dengan sabar sementara ayahnya hanya diam dan akhirnya mencubit lengan anaknya. Tangisan pun semakin menjadi di dalam gerbong kereta api. Ada pula sepasang suami istri (tampaknya begitu) yang seru bercakap-cakap dengan kalimat yang sedang tren saat ini, “Alhamdulillah yaa mogok. Sesuatu banget!” Aku pun memalingkan pandangan karena tak bisa menahan tawa. Sementara itu, penumpang yang tertidur terlihat semakin lelap dan mulai mangap.

Saat sedang asyik memperhatikan tingkah massa di sekitarku, mesin kereta tiba-tiba meraung kembali. Lampu dan AC menyala, petugas stasiun pun memberitahukan bahwa Commuter Line siap beroperasi kembali. Para penumpang yang berada di luar kereta langsung berebut masuk. Pintu kereta pun tertutup, kereta siap melaju.

Ketika hampir tiba di Stasiun Tanah Abang, mesin kereta, lampu dan AC kembali mati. Laju kereta pelan. Untungnya, kereta dapat sampai di Stasiun Tanah Abang dengan selamat. Aku pun turun dan langsung menuju toko ayahku di Pasar Tanah Abang. Di sana aku bercerita menggebu-gebu tentang pengalamanku naik Commuter Line yang mogok. Ayahku hanya memasang muka datar sambil berkata, “Ah, itu sudah biasa…”

Ternyata bagi pelanggan setia kereta seperti ayahku, mogok adalah hal yang biasa terjadi. Belum lagi keterlambatan kereta dan gangguan teknis lainnya yang mengganggu kenyamanan penumpang. Hari ini pun ketika aku sedang membuka situs berita online, aku membaca sebuah berita tentang KRL Commuter Line yang mogok akibat gangguan listrik sekitar jam 10 pagi di Stasiun Kebayoran.

Namun di balik semua ketidaknyamanan itu, kereta masih tetap menjadi transportasi idola masyarakat Indonesia. Aku berharap sistem kereta api Indonesia lebih maju lagi, sehingga suatu saat nanti kereta bisa benar-benar menjadi tarnsportasi idola masyarakat karena kenyamanannya, bukan karena tarifnya yang terjangkau.

About the author

Avatar

Mira Febri Mellya

Perempuan kelahiran Jakarta pada tanggal 22 Februari 1990 ini telah menyelesaikan studi strata satu di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta. Sebelumnya ia telah aktif sebagai fasilitator program worskhsop akumassa di beberapa kota bersama komunitas dampingan. Sekarang ia menjadi wartawan aktif di majalah Gatra.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.