Padangpanjang, Sumatera Barat

Video akumassa: Membongkar Konsep-Konsep Sentral

Memang agak merinding ketika mata tergiring pada proses kreatif masa kini yang ibarat berada di sebuah rel-rel yang sebelumnya terjaga rapi, namun telah dihuni oleh kereta-kereta yang berkecepatan tinggi sambil melompat keluar rel sesuka hati dan mengambil jalur lain. Bahkan di sana sini kini terdapat kereta-kereta yang terkadang mengendap-endap cari penumpang di pangkalan ojek, terminal bus atau di bandara.

suanana-pd-pajang
Presentasi Video akumasa di bioskop Karia, Padang Panjang.

Presentasi Video Akumassa di Sinau, Cirebon.
Presentasi Video akumassa di Sinau, Cirebon.

Memang agak merinding ketika mata tergiring pada proses kreatif masa kini yang ibarat berada di sebuah rel-rel yang sebelumnya terjaga rapi, namun telah dihuni oleh kereta-kereta yang berkecepatan tinggi sambil melompat keluar rel sesuka hati dan mengambil jalur lain. Bahkan di sana sini kini terdapat kereta-kereta yang terkadang mengendap-endap cari penumpang di pangkalan ojek, terminal bus atau di bandara.

Suasana proses workshop Akumasa di Saidjah Forum, Lebak.
Suasana proses workshop akumasa di Saidjah Forum, Lebak.

Kereta itu juga bisa tampil seperti gerobak dan terkadang tanpa diduga ia menjadi pedati, bahkan kereta itu bisa tidak menyadari kalau ia dikatakan kalkulator. Analogi akan hal ini jelas membawa kita pada kesadaran akan makin liarnya –katakanlah seniman– saat melahirkan produk kreatif yang menjadikannya sulit untuk diidentifikasi. Ditambah dengan makin mencairnya hierarki dan batas-batas yang sudah tidak terlalu meributkan ini kereta atau sepeda ataupun kaos kaki, tapi lebih pada persoalan apa yang bisa ditangkap di balik kecairan itu. Bagi mereka yang masih setia dengan sebuah definisi-definisi dengan niat baik untuk meletakkannya dalam kotak-kotak kategori, jelas akan dipusingkan dengan liarnya proses kreatif yang ada. Sebut saja para komunitas teater yang merasa “dirugikan” ketika medium mereka dicaplok oleh praktik yang disebut dengan performance art kemudian digiring ke dalam rel seni rupa. Sehingga tarik menarik antara teater dengan performance art hingga kini masih sangat terasa. Begitu juga dengan video art yang di dalamnya terintegrasi antara bunyi (auditorial), gerak (kinestetik) dan rupa (visual) malah lebih sering direpresentasikan dan dielaborasi dalam persitiwa seni rupa.

Suasana proses workshop Akumassa di Lenteng Agung, Jakarta.
Suasana proses workshop akumassa di Lenteng Agung, Jakarta.
Ki Rabin, video Akumassa Lebak.
Ki Rabin, video akumassa Lebak.
Lapau, video Akumassa Padang Panjang.
Lapau, video akumassa Padang Panjang.
Kalau Cowok Gue, video Akumassa Lenteng Agung, Jakarta.
Kalau Cowok Gue Nginep Gimana?, video akumassa Lenteng Agung, Jakarta.

Namun apa itu dan apa ini suatu kategori bisa menjadi tidak esensial walau di lain hal bisa menjadi penting ketika menyimak bagian-bagian tertentu dari akumassa yang dikomodifikasi dalam medium video. Hal yang boleh dikatakan aplikatif dalam konsep akumassa yang lahir dari buah pikiran Forum Lenteng Jakarta ini, salah satunya adalah menggeser posisi-posisi sentral dalam dunia kreatif.

Teman Nelayan, video Akumassa Cirebon.
Teman Nelayan, video akumassa Cirebon.
Gelanggang Banca Laweh, video Akumassa Padang Panjang.
Gelanggang Banca Laweh, video akumassa Padang Panjang.

Hal ini seperti menohok pandangan konvensional dalam seni yang selama ini memposisikan seniman/pelaku seni sebagai sebuah sentral. Salah satu posisi sentral itu hadir akibat di sana terdapat ‘jiwa-rasa’ yang menopang gerak kontemplasi dan menelurkan ‘meta narasi’ yang terus bertransformasi ke dalam sebuah ‘wacana seni’ dan sebagainya. Dari sini terkonstruksilah sebuah gambaran yang terproyeksi dari satu titik ke titik lainnya yang mana seniman menjadi proyektornya. Alhasil ketika seniman memantulkan huruf A maka ia sejatinya harus di baca A dan begitu seterusnya. Seiring perjalanan waktu kepercayaan macam ini tentu diyakini mulai memudar ketika modernisme sebagai penjaga posisi sentral itu sendiri menjadi ‘paradigma’ yang makin kelihatan pincangnya. Posisi sentral itu mulai dipertanyakan akibat mesin proyektor telah berbalik arah, terbolak-balik dan semakin banyak titik untuk memproyeksikan dan menangkap gambar. Belum lagi hal yang sudah sama-sama diketahui adalah tumbangnya hierarki trans-budaya dunia yang hempasannya mengajak agar bisa memaknai bahkan memberi ruang gerak untuk menafsir ulang kembali setiap kerangka pemikiran maupun praktik kreativitas di peradaban masing-masing.

Negosiasi di Atas Air, video Akumassa Cirebon.
Negosiasi di Atas Air, video akumassa Cirebon
Antara Pasar Minggu - Depok, video Akumassa Lenteng Agung.
Antara Pasar Minggu – Depok, video akumassa Lenteng Agung.
Babi versus Anjing, video Akumassa Padang Panjang.
Babi versus Anjing, video akumassa Padang Panjang.

Kendati seniman sebagai sentral masih memiliki akar yang kuat akibat belum ditemukannya ‘pandangan baru’ saat posisi sentral itu hendak direformasi, namun ini kurang lebih bisa terjawab saat makin masuk ke dalam gagasan yang dikemas dalam akumassa tadi. Secara naratif akumassa memang bisa dimengerti seperti memaknai ruang dan waktu alias ‘masa’ yang berhubungan dengan waktu tertentu dan ‘masa’ yang bersandar pada kumpulan masyarakat. Dalam komodifikasinya dua persoalan ini jelas akan berjalan bersamaan dan memiliki alur yang terstruktur secara alamiah. Dengan menggunakan medium video, seniman/pelaku seni yang selama ini diperlakukan sebagai sentral digeser sejauh mungkin dengan menempatkan kumpulan massa (masyarakat) sebagai representasi kondisi sebenarnya. Sehingga yang tampak dalam video akumassa adalah unsur-unsur objektifitas realitas tanpa dramatisasi dari si seniman. Atau seperti memberikan pilihan-pilihan lain terhadap subversi intuisi seniman yang menjelaskan kondisi atau bagaimana sesuatu terjadi.

akumassa memang berniat menawarkan sebuah kerangka pemahaman dan aturan-aturan referensi tentang bagaimana dunia dikonstruksi oleh massa. Persahabatan, saling percaya, tolong menolong, acuh tak acuh, khusyuk, berteriak, senyum tak percaya, bahagia, tampil apa adanya di layar video. Dengan kata lain tampilan yang lahir di layar video adalah transformasi dari pandangan massa sebenarnya bukan pandangan sang seniman/pembuatnya. Kemudian publik yang menyaksikan video tersebut nantinya sadar ataupun secara tidak sadar matanya akan bertukar menjadi mata massa dan berganti posisi ke sebuah kumpulan massa dalam ruang dan waktu tertentu. Sehingga pemirsa berkesempatan penuh untuk menegasikan dimensi sosial dalam ‘teks’ video dengan makna tanpa meragukan kealamiahan relasi-relasi maupun dialog didalamnya.

Pertanyaannya adalah di mana posisi si seniman atau sang kreator di sini? Jelas dalam akumassa ini tidak ditemukan, karena seniman di sini selain hanya sebagai penyanggah mata massa agar mampu merekam dan menangkap realitas. Paling banter seniman hanya memilih kumpulan atau aktivitas massa mana yang akan ia pilih dan dalam rentang waktu tertentu, selepas itu massa-lah yang akan bercerita banyak.

Jembatan Dua, video Akumassa Lebak.
Jembatan Dua, video akumassa Lebak.
Mak Uniang, video Akumassa Padang Panjang.
Mak Uniang, video akumassa Padang Panjang.
Prejectionist, video Akumassa Padang Panjang.
Prejectionist Tua, video akumassa Padang Panjang.

 

Video akumassa dan Perluasannya

Pada 24 Januari-1 Maret 2009  merupakan waktu yang bisa dikatakan sangat membahagiakan bagi komunitas Sarueh Padang Panjang. Sebab saat itu mereka didatangi sambil mendapat tantangan dari Forum Lenteng Jakarta untuk membuat sebuah video akumassa. Secara teknis, program workshop video ini tentu tidak terlalu menyulitkan bahkan asing bagi anggota Sarueh, karena mereka terdiri dari mahasiswa jurusan Pertelevisian Sekolah Tinggi Seni Indonesia Padang Panjang. Namun hal yang bisa di katakan baru bagi mereka adalah konsep akumassa itu sendiri yang mana bisa terlihat mengejutkan sebagian dari mereka akibat ‘menihilkan’ kompleksitas teknis dan wawasan yang telah dimiliki anggota komunitas Sarueh. Memang benar, dan itulah yang terjadi. Program akumassa yang saya tangkap memang tidak terlalu sibuk dengan matematisasi teknis pengambilan gambar. Salah satu latar dari ini adalah membangun kepercayaan diri bagi siapa saja untuk tidak takut menggunakan dan bermain dengan media video akibat di kangkangi segudang fitur kamera, etika, komposisi, sudut pandang yang menghadang. Singkat kata, siapa saja bisa menggunakan kamera dan membuat video termasuk anak kecil.  Namun harus segera disadari bahwa konsep macam ini bukan sebagai usaha untuk menutupi ketidakmampuan teknis yang sebenarnya merupakan bagian yang telah disadari penting sebelumnya.

Penambang Kapur di Buki Tui, video Akumassa Padang Panjang.
Penambang Kapur di Bukit Tui, video akumassa Padang Panjang.
Sementara Kami di sini, video Akumassa Lenteng Agung.
Sementara Kami di sini, video akumassa Lenteng Agung.
Tepian Sungai Ciujung, video Akumassa Lebak.
Tepian Sungai Ciujung, Video akumassa Lebak.

Kendati dalam pelaksanaan akumassa di komunitas Sarueh terlihat sederhana secara teknis, namun bukan berarti tidak ada hal yang menantang. Kekeliruan sangat bisa terjadi di sini ketika sentaralistik sang kreator masih menggebu-gebu. Alhasil kebiasaan ini akan menelurkan karya yang sangat subjektif dan bisa mengkonstruksi realitas yang arbitraris. Belum lagi masalah posisi pengambilan yang kalau tidak peka akan menampilkan karakteristik fotografi atau sekedar reportase dan dokumentasi. Sehingga mata massa yang diharapkan akan mewakili realitasnya menjadi tersembunyi akibat ketidaktepatan menata dan memilih sudut pandang.

Harus diakui akumassa memang memberikan tantangan tersendiri bagi perkembangan dunia kreatif di Indonesia. Sebab perkembangan sebuah pergerakan memang diawali oleh temuan-temuan yang tersadar dari sikap revolusioner. Walau awalnya ini bisa membuka sebuah keterpinggiran namun akan menjadi terhormat ketika ia berotasi ke tengah dari pada bernostalgia di garis dominan namun siap terpelanting kepinggir akibat gagasan-gagasan yang revolusioner itu.

Ibrahim
(Penggiat Komunitas Belanak, Padang)

About the author

Avatar

akumassa

Program Pendidikan dan Pemberdayaan Media Berbasis Komunitas, atau biasa disebut AKUMASSA, adalah sebuah program pemberdayaan media yang digagas oleh Forum Lenteng sejak tahun 2008, berkolaborasi dengan komunitas-komunitas lokal di beberapa daerah di Indonesia untuk melaksanakan lokakarya dan memproduksi beragam bentuk media komunikasi (tulisan, gambar/foto, audio, dan video).

26 Comments

  • Apakabar kawan kawan akumassa! haha …salut dengan gagasan ini
    Gagasan kawan kawan tentang reformasi cukup menarik. Dalam hal ini saya juga tergelitik untuk ingin mengajukan pertanyaan-pertanyaan kenapa posisi profesi seniman di indonesia muncul.
    Sampai saat ini saya juga sedang mencari bahan bagaimana bangunan bangunan pendidikan kampus seni itu berdiri di Indonesia terutama awal dekade kampus ITB muncul dan juga ASRI juga berdiri. Teman saya juga pernah berjanji untuk memberi sebuah tulisan atau makalah kalau tidak salah sardjoko( kalau salah diralat kalau anda mendapatkannya kirim ke tohjayatono@gmail.com) sampai saat ini saya belum mendapatkannya. kalau ada kawan yang mempunyai data berdirinya kampus-kampus dan berangkatnya apa, bagaimana dan untuk apa metode metode pendidikan itu berjalan di tanah kita. Dengan demikian kita bisa merunut bagaimana profesi itu bisa muncul dan di butuhkan pada peradabannya. Pertanyaan seniman sebagai sentral akar yang kuat saya harap bisa terjawab dan cair dengan membedah ‘pandangan baru’ posisi sentral yang hendak direformasi. Selamat berjuang kawan kawan akumassa!

  • Ralat: Apakabar kawan kawan akumassa! haha …salut dengan gagasan ini
    Gagasan kawan kawan tentang reformasi cukup menarik. Dalam hal ini saya juga tergelitik untuk ingin mengajukan pertanyaan-pertanyaan kenapa posisi profesi seniman di indonesia muncul.
    Sampai saat ini saya juga sedang mencari bahan, bagaimana bangunan bangunan pendidikan kampus seni itu dibutuhkan di Indonesia terutama sebelum dekade kampus ITB muncul dan ASRI juga. Teman saya juga pernah berjanji untuk memberi sebuah tulisan atau makalah (kalau anda mendapatkannya kirim ke tohjayatono@gmail.com) sampai saat ini saya belum mendapatkannya. kalau ada kawan yang mempunyai data berdirinya kampus-kampus dan berangkatnya apa, bagaimana dan untuk apa metode metode pendidikan itu berjalan di tanah kita. Dengan demikian kita bisa merunut bagaimana profesi itu bisa muncul dan di butuhkan pada peradabannya. Pertanyaan seniman sebagai ‘sentral akar yang kuat’ saya harap bisa terjawab dan cair dengan membedah ‘pandangan baru’ posisi sentral yang hendak direformasi. Selamat berjuang kawan kawan akumassa!Salam Reformasi!

  • wow..

    klo bleh,,gw kasi judul baru ni tulisan

    “perspektif perupa dalam sastra terhadap akumassa”

    hkhkhkhkhkhk….
    keren bg..tulisannya…

    klo bleh nambahin

    gw sebagai partisipan akumassa

    akumassa adalah adalah sebuah konsep baru dalam dunia audio visual yang pendekatannya lebih ke dokumenter, dan akumassa mencoba untuk memperkecil wilayah subjektif si pembuat terhadap bingkaian yang akan diframming

    dan semoga saja akumassa ini bisa dikembangkan dan dipakai oleh mereka pengkarya dokumenter, karena konsep akumassa bukan milik pratisipan saja..
    namanya saja akumassa..aku massa, berarti milik aku dan massa yang lainnya..

  • Akumassa bukan saja tentang bagaimana melepaskan sentral seniman yang selama sering lebih banyak “menipu” masyarkat dengan estetika sendiri, tapi merupakan cara lain melihah wajah kita sendiri dengan lebih jernih. Lihatlah seniman kita sekarang, semua berlomba-lomba membuat monumen diri sendiri. Tidak banyak seniman kita yang berusaha untuk memproduksi ilmu pengetahuan (knowlegde producing). Asik sendiri. Jadi, kalau bicara tentang Akumassa, ini hanyalah salah satu cara lain untuk melihat fenomena dan persoalan-persoalan kecil di sekitar kita. Untuk itulah sebenarnya Akumassa bukan untuk memproduksi seniman. Tapi, memproduksi informasi dengan perspektif yang dicoba dengan cara yang beda.
    Untuk data tentnag ASRI dan ITB, Anda silakan datang ke kampus-kampus itu untuk bertanya. Karena dari sanalah kelihatan keseriusan untuk membongkar dan keseriusan dalam menjalankan riset.

    Salam
    Hafiz

  • ibrahim anak baik,
    mungkin posisi seniman kali ini tidak perlu dipertanyakan lagi, darling. karena kita bercerita tentang kita dan orang2 sekitar kita. itu saja.

  • Ibrahim yang baik, tidak perlu merasa lancang. Seniman tetap perlu dibicarakan, tapi mungkin dalam perspektif yang berbeda. Masih perlukah kita menempatkan diposisi yang spesial? Padahal apa bedanya seniman dengan penjual sate atau pegawai bank. Kan selama ini kalangan seniman sendiri yang selalu menganggap dirinya beda. Dan selalu merasa tersanjung dibilang sama masyarakat sebagai orang “gila”. Ada suatu kata yang menarik dalam pernyatan Salvador Dali tentang orang gila: hanya ada satu yang membedaka saya dengan orang gila yaitu saya tidak gila” Dlam hal ini gerakan perubahan dalam kesenian eropa juga sebenarnya mencoba melepaskan hal-hal yang sentral itu. Seperti gerakan surrealisme yang di sini “hanya” dikenal sebagai gerakan visual (yang aneh2) padahal itu sebuah gerakan politik kebudayaan melawan burjuasi dan moralitas kalangan elit tertentu di eropa. Jadi, sebenarnya kesenian bukan hanya berhenti ada individu-individu yang asik pada wilayah estetika atau wahyu/inpirasi belaka. Kesenian juga wilayah kenyataan-kenyataan sosial yang seharusnya seniman ada di dalam itu. Terminologi seniman dalam akumassa memang tidak dipakai. Karena memang Akumassa mencoba menghilangkan dominasi sentral dari individu-individu tertentu. Yang diutamakan adalah kolaborasi dan bekerjasama, sharing knowledge. Juga, bukan berarti mengabaikan individu-individu untuk menjadi dirinya sendiri. Tapi, minimal dengan kerja bersama ini kita bisa membagi pengalaman ke masyarkat dengan cara berasama-sama pula. Kalau pun nanti ada kawan-kawan di sini (partisipan akumassa) ingin menjadi seniman, minimal ada pengalaman society yang konkrit yang dialami dalam proses berkarya dan memproduksi informasi dalam akumassa.

    salam
    Hafiz

  • hehe wah ramaaii ck ck ck!! hihihi..Aku senang diskusi bisa jadi lebih hidup karena aku berdiri dari massa dan aku bagian dari massa tak menjadi penonton pasif yang akhirnya nanti menjadi gila padahal tidak…Salam Reformasi! Aku pikir bung Ibrahim tak perlu minta maaf heheh…di sini kita berdiri bersama sama ..bukankah suasana itu yang kita inginkan sampai pada titik faham tentang visi apa yang dilakukan kawan kawan yaitu menghilangkan dominasi sentral?!

    Salam

    Tono

  • gak tau ini nyambung apa gak. yang jelas proses berkesenian kita mungkin sekarang sudah seharusnya turun gunung dan sudah bukan waktunya mendem di gua adiluhung yang membuat kita tertidur dan melupakan kenyataan-kenyataan realitis yang kita dapati disekitar kita dan masyarakat. pada kasus akumassa ini misalnya sipembuat karya video mak.uniang tentu bukan seorang yang melulu suntuk dengan hal-hal berhubungan audio visual tapi dia juga manusia yang kalau lapar dia akan mencari nasi di dapur atau mencarinya ke warung-warung nasi terdekat jadi apa yang membedakan si pembuat video mak uniang dengan mas tris (salah satu penghuni kontrakan di matrial yang terkadang mendapat pesanan membuat lemari dan kursi)jika nantinya sipembuat video ini kesohor dan filemnya banyak diminta dan diputar diseluruh belahan dunia itu hanya imbas dari sikap apresiasi masyarakat atas karya kita.

  • hihihi omJojon salam kenal…nama ente mirip pelawak top ibu kota. Ya menurutku sukur alhamdullilah jika ada yang meng apresiasi. Biarlah karya itu lepas seperti busur,ia sudah menjadi subyek. Tanya deh ama hafiz kalo tak percaya hiihi. Publik akan menilai karya itu bohong apa tidak. Video mak Uniang tidak seperti ayam goreng buatan MC Donald memproduksi massal. Tiap hari bisa sampai membunuh ayam sampai ribuan atau bahkan jutaan lebih tiap hari untuk kepentingan koorporasi besar bernama kapitalisme. Hushh!!! husshh!!!
    Aku jadi teringat affandi, ya dia lebih senang berada di pinggir melihat kenyataan lalu mencatatnya sebagai bagian dari hidupnya hehehe hidup bareng ma teman-temanya di sanggar ngobrol2 ampek tak ada batas waktu mungkin kalau kuliah lebih dari 10 sks….Aje gile seniman banget yakkkh?! Esok nya juga tak tau kemana kawan2 nya berjalan kemana. Tak seperti si Ibu Arab pemilik kontrakan matrial di lenteng agung lupa pohon rambutannya kalo sudah berbuah berwarna merah nampak menggiurkan dipandang mata….untung ada si Min ngingetin sang pemilik kontrakan. Si Fadhil penghuni kontrakan dilarang ngambil buahnya karena buah rambutannya sudah di lirik pedagang pasar, alhasil si fadhil gigit jari dehhh….huhahahahahaha. Oh ya Jon…Aku juga sering memakinya siiiiiii… dasar Arab pelit!!! Otaknya dagang mulu…hihihi

  • ibrahim, anak yang baik,
    itu bukan peringatan, melainkan bagian dari diskusi terbuka kita di blog kita bersama ini. dan aku salut sekali dengan tuisanmu yang sampai sekarang masih memegang rekor diskusi terbuka paling ramai dan berbobot. kami menunggu tulisan2mu berikutnya.salam aku massa

  • allowww om ……
    seneng de liat tulisan om di aku massa ini….
    tq bgt….
    apapun itu ttg aku massa yg pastinya aku massa nyadarin gw akan kepedulian gw dengan lingkungan sekitar….bravo bwt tmn2 aku massa ….

  • wow…..
    keren………

    orang-orang baik berbicara menurut kebenarannya dan tuhannya…
    heheheeh……..gw ngaur……ya…..hahahahahaha……………..

    seniman..
    menarik juga tuh..

    gw mo nanya..
    apa bedanya orang yg nganggap dirinnya seniman diluaran sana..(jangan marah ya..)
    dengan orang yang mencoba meraih gelar seniman: S.sn (sana sini nonkrong)dalam bangku perkuliahan..yang memiliki batasan gerak,,antara tugas dengan karya..karya apa tugas ya..??
    apakah tugas itu karya? or tugas tetap tugas..yg pencapaiannya hanya untuk nilai ( A/B/C/D/E)

    trus…
    seniman adalah pelaku seni (benar ngga ya..?hahahaha)
    bagaimana dengan tukang sate, yang membuat ketupat dengan daun kelapa yang hasilnya menurut gw ada nilai seninya, karena tukang sate pasti bikinnya dengan keindahan mata dan rasa yang dimilikinya, seperti yg bg Hafiz bilang “Padahal apa bedanya seniman dengan penjual sate atau pegawai bank”
    trus..dengan tukang perobat (benar ngga ya) yang bikin lemari, kursi,meja..yang disebut pekerja..apakah itu bisa disebut seniman? Karena di kampus tercinta gw STSI Padangpanjang (tetep bangga dunk,hkhkhkhk) disini ada namanya jurusan kriya,,yang kul.Seninya(hahaha)berhubungan dengan palu,gergaji,paku,kayu balok. Dan TA nya(bukan titip absen ya,hhahaha)bikin lemari, kursi, lampu dinding, dll. Maap ya..malahan klo gw bleh milih..lebih bagus yang dijual di prabot. Nah..gmn ke senimannya???? or apakah karya seorang seniman hanya milik mereka/ kalangan tertentu?

  • Semua profesi itu sama saja menurut saya. Persoalannya adalah seniman sering menganggap dirinnya “beda” di tengah masyarakat. Ini yang menjadi problem. Jadi, kreatifitas bisa saja untuk siapa saja. Apakah itu berjalan di wilayah seni atau bukan, itu tetap saja dianggap sebagai kreatifitas. Jadi, seorang penjual bakso atau pembuat kriya, dia tetap saja memproduksi kreatiitas. Sekarang apakah kita memasukan kreatifitas itu “relate” dengan masyarakat? Ini yang menjadi penting. Seorang penjual bakso “relate” dengan masyarakat.
    Menurut saya, tugas kuliah tetap bisa dianggap karya. Juga bisa dianggap bukan karya. Jadi, anda bisa memilih apakah anda melihat itu sebagai sesuatu yang punya ikatan dengan diri anda sendiri. Jadi, marilah kita memproduksi kreativitas.

    Hafiz

  • Saya ditawarkan teman saya untuk membuka blog ini, dimana ia tidak mau mengasi tau saya tentang apa itu aku massa. Ketika saya buka pertama kali saya tertarik untuk membaca (Video akumassa: Membongkar Konsep-Konsep Sentral). Setelah saya baca, mungkin ini bisa membantu saya untuk memahami aku massa, dan ada beberapa point yang saya anggap penting

    1. video akumassa adalah unsur-unsur objektifitas realitas tanpa dramatisasi dari si seniman
    2. Seniman sering menganggap dirinnya “beda” di tengah masyarakat
    3. Akumassa mencoba untuk memperkecil wilayah subjektif si pembuat
    4. Akumassa bukan saja tentang bagaimana melepaskan sentral seniman yang selama ini sering lebih banyak “menipu” masyarkat dengan estetika sendiri

    Saya sangat menyukai yang nama-nya audio visual, sepengetahuan saya film terbagi tiga fiksi, eksperimental, dan dokumenter (ini diluar media yang kita gunakan). Fiksi tidak lepas dari interpretasi imajinatif si pembuat. Dokumenter dikenal dengan realita. Eksperimental memiliki struktur yang dibentuk oleh insting subyektif si pembuat terhadap gagasan, ide, emosi, serta pengalaman batin mereka.
    Tapi bagi saya fiksi, dokumenter, eksperimental tidak lepas dari subjektifitas si pembuat.
    Bagaimanakh dengan dokumenter? Yang mengutamakan kata realita? Karena ketika si pembuat melihat sebuah realita, subjektifitasnya akan tetap ada. Dan itu bukan realita lagi secara tidak sengaja sudah ada pengadegan yang ada dalam fikiran si pembuat, sebuah estetika gambar dan cerita yang di tawarkan si pembuat. Seakan memaksa penonton bahwasanya realita itu adalah seperti sebuah settingan struktur yang diinginkan oleh si pembuat.

    Bagaimana dengan aku massa?
    Beberapa judul karya aku massa yang saya copy di bawah ini

    1. Jembatan Dua, video akumassa Lebak.
    2. Lapau, video Akumassa Padang Panjang.
    3. Teman Nelayan, video akumassa Cirebon.

    Saya melihat karya ini sebuah realita yang cukup terabaikan oleh pandangan keseharian mata manusia yang bersentuhan di daerah tersebut. Hasil pemahaman saya ternyata kata realita itu muncul lagi. Sebuah realita, berarti kata riset itu tetap ada. Ketika riset kita melihat berbagai realita yang ada. Secara tidak langsung otak manusia sudah bekerja, si pembuat sudah mulai memikirkan seperti apa karya yang akan dibuat. Sebuah estetika bahkan semiotika gambar sudah terkotak-kotak dalam imajinasi si pembuat. Karena sepulang riset, si pembuat sudah membayangkan bentuk visualisasi rangkaian shot yang akan di transformasikan ke kamera. Visualisasi? Tidak lepas dari sebuah imajinasi. Artinya subjektifitas akan tetap ada, pengadeganan dibenak si pemegang kamera akan tetap ada, bloking kamera sudah ditentukan ketika riset, jika bloking sudah ditentukan kata dramatisasi untuk estetika visual dan cerita itu akan tetap ada.
    Dan itu menurut pemahaman saya yang mencoba memahami aku massa sesuai dengan apa yang saya baca, pengalaman, pengetahuan saya dan sebuah kata proses yang masih saya jalani.
    Semoga saya mendapat sanggahan yang membantu saya untuk lebih memahami apa itu aku massa?

    terima kasih

  • mas/mbak proses yang baik,
    terimakasih atas komennya.
    tentu saja semua poin yang anda sebut di bagian akhir tidak bisa dihindari, karena dengan membuat video saja kita sudah melakukan sebuah pembingkaian terhadap sebuah persoalan, dan secara otomatis terlibat dengan semua perangkat yang menjadi aturan main si kamera video itu sendiri.
    dalam proses kerja aku massa, kami meminimalisir subjektifitas dengan cara kerja kolaborasi. tidak ada karya individual di sini. setiap ide dan konsep karya dibuat oleh lebih dari 3 orang selalu, bahkan jumlah pekerjanya lebih dari 10 orang yang mana semua terlibat dari awal riset, membingkai persoalan menjadi sebuah ide video sampai eksekusinya. dalam proses produksi kita menghindari subjektifitas teknifikasi medium, sebagai contoh: teknik pembesaran atau pengecilan objek ambilan, sperti yang selalu kita lakukan saat kita di belakang kamera, di mana kita memiliki otoritas penuh terhadap objek ambilan (subjektifitas). dengan cara itu kita mencoba kemungkinan kamera akhirnya hanya akan mewakili mata massa, bukan mata kamerawan atau sutradara. termasuk di antaranya sudut pengambilan gambar. begitu seterusnya sampai proses penyuntingan gambar.

    aku massa bukan sebuah kerja yang ingin menggurui atau menafikan semua definisi yang sudah ada. ini adalah salah satu cara kerja melihat masyrakat yang juga kita berada di dalamnya, melalui sudut pandang massa sendiri. diharapkan maka dari sana akan menyeruaklah isu2 lokal indonesia yang selama ini tidak diproduksi oleh media, karena dengan memandang melalui sudut pandang massa, maka kita kan membaca sekumpulan narasi2 kecil dalam kehidupan sosial kita sendiri.

    salam

  • masih untuk mas/mbak proses,
    mungkin juga kita bisa membaca proses kerja ini sebagi kritik terhadap ‘seni’ yang selama ini terlihat begitu agung, sampai-sampai sulit dikenali oleh orang yang bukan ‘seniman’ secara identitas.

  • Salam,
    Aku hanya ingin mengucapkan selamat apa ya?kalau waktu sudah menunjukan pukul 03.51 WIB. Oh, sungguh bodoh aku-kurun waktu dalam satu hari pun aku tak tahu. memang malang nasib orang yang bodoh ini.
    bagaimana ya cara seniman yang sering ‘berbicara’ dalam bahasa simbolik bersosialisasi? Apakah jika ia berbicara kepada wanita cantik, ia akan berkata “wahai bunga yang merekah!” atau kata – kata lain yang serupa. Mohon bimbingannya untuk orang yang tersesat ini.
    Terima Kasih

    – Waktu sekarang menunjukan pukul 03.59 WIB

  • jadi ingat lagi tulisannya mas Dami N. Toda :
    ……………….Diksi puisi tidak terikat pada definisi “bahasa, kata, morfem dan fonem” menurut sejarah kamus dan paradigma linguistic. Puisi terus ditulis penyair (tanpa batas pembedaan kelamin laki atau perempuan) bersetia azas “mencari” dan menciptakan (baru). Tiada definisi. Karena definisi berarti mandek. Tetapi terus mencipta. Mencari untuk mencipta (lagi).
    ( Dami N. Toda : “What is Poetry? Who and What is a Poet?”
    Afterward for “Santa Rosa by Dorothea Rosa Herliany”)

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.