Jurnal Kecamatan: Tanah Abang Kota: Jakarta Pusat Provinsi: DKI Jakarta

Sembilan Catatan Kala Demonstrasi September

Catatan Furqon Syiva Handoko (Mahasiswa IKJ, Angkatan 2018)
Selasa, 24 September 2019, mahasiswa dari kampus saya terlibat kegiatan aksi damai dalam rangka menolak RUU KUHP yang kontroversial dengan turut serta membawa berbagai tuntutan lainnya. Saya dan teman-teman mengikuti kegiatan tersebut bersama dengan mahasiswa universitas lainnya dengan komando utama dari Universitas Trisakti. Sebelum perjalanan dimulai, rombongan kami yang berasal dari IKJ (Institut Kesenian Jakarta) melakukan briefing terlebih dahulu di Teater Besar Jakarta untuk membahas teknis lapangan. Usai itu, saya dan rombongan bergerak menuju lokasi dengan menaiki KRL dari Stasiun Gondangdia menuju Stasiun Palmerah. Saat transit di Stasiun Manggarai, banyak penumpang kereta yang menyoraki kami penuh semangat, “Hidup Mahasiswa!! Hidup Rakyat Indonesia!! Tolak, Tolak, Tolak RUU!! Tolak RUU sekarang juga!!” Beberapa dari mereka juga menyanyikan lagu-lagu nasional, beberapa orang tua menyemangati kami sambil meneteskan air matanya karena bangga kami mengikuti aksi tersebut.

Sesampainya di Stasiun Palmerah, kami kerap menyanyikan lagu-lagu nasional dan yel-yel mahasiswa. Begitu keluar stasiun, kami segera menyusun barisan dan pembatas sambil memegang spanduk mural yang sudah kami buat. Barisan ini kami buat untuk memastikan agar tidak ada penyusup. Dalam formasi demikianlah kami berjalan ke arah pintu utama DPR RI. Kami sempat berhenti sesaat di gerbang belakang DPR RI dan menyuarakan aspirasi kami sebelum kemudian bergerak ke pintu utama kantor DPR RI. Di dekat flyover Slipi, kami berhenti untuk menampilkan pertunjukan yang sudah kami siapkan.

Ketika kami lanjut bergerak ke area demonstrasi, rupanya keadaan di depan sudah sangat rusuh sehingga kami memutuskan untuk menunggu dan berkoordinasi sembari memperkuat barisan kami. Saya sempat melihat beberapa mahasiswa terluka dan pingsan sehingga harus segera dilarikan ke mobil ambulans. Saat itu, ada seorang mahasiswa yang datang dari barisan depan meminta kami untuk menutup jalan agar tidak ada mahasiswa yang masuk lagi ke area kerusuhan. Banyaknya korban yang harus diangkut dari barisan depan ke ambulans membuat kami kesulitan menutup jalan dengan baik. Kami hanya bisa melarang, tetapi terkadang para demonstran lain tetap menerobos ke area kerusuhan tersebut.

Ketika kami masih menunggu dan membantu mahasiswa lain, beberapa orang terlihat sedang merusak pembatas yang berada di samping barisan kami. Orang-orang itu mengoyak spanduk dan menjebol beberapa pembatas yang terbuat dari seng. Kami melarang mereka berbuat begitu dan menyoraki mereka “Kampungan!! Kampungan!!” Situasi itu sempat membuat perhatian kami teralih, sedangkan polisi semakin mendekat dan menembakkan gas air mata ke arah kami. Barisan kami langsung pecah. Saya berteriak ke rombongan, “Border!!! Border!!! Jangan panik!!!”

Tak tahan dengan pedihnya gas air mata, barisan kami akhirnya pecah dan semua lari kocar-kacir, termasuk saya. Rombongan IKJ masuk ke stadion di GBK sedangkan saya menunggu di ambang pintu untuk mengarahkan teman-teman yang belum masuk ke stadion untuk segera masuk. Tiba-tiba seorang mahasiswa dari kampus lain dengan terengah-engah mengatakan ada yang pingsan di dekat Kopaja, saya membantunya mencari kawan yang pingsan tersebut, tetapi nihil. Tak lama kemudian, dari dalam stadion, saya mendengar teriakan kawan saya memanggil nama salah satu kawan kami. Saya coba telepon kawan itu, tetapi sinyal di lokasi sama sekali hilang. Kami akhirnya mencari kawan kami yang raib tersebut. Puji syukur, ahirnya kami menemukannya di antara kerumunan. Saya kemudian berusaha memastikan semua rombongan kami lengkap. Namun, saya tak bisa mencari ke luar stadion sebab keadannya mencekam. Asap pembakaran dan gas air mata menghalangi pandangan kami. Strategi saya memakai pasta gigi di bawah mata untuk menangkal gas air mata pun tak berguna. Saya terus bertemu dan terpisah lagi dengan teman-teman saya selagi berusaha mengarahkan bagian dari rombongan IKJ untuk bergerak ke area yang lebih aman. Berunding dengan koordinator kami di Gerbang 12 GBK, akhirnya kami memutuskan untuk berkumpul di titik semula: gerbang 2 GBK. Sebagian rombongan pun segera bergerak.

Tapi, lagi-lagi kami mendapat berita tentang salah seorang kawan yang pingsan. Saya menjemputnya di stadion panahan. Saat saya temui, ia dalam kondisi lemas dan kejang-kejang. Beberapa mahasiswa dari kampus lain membantu saya menyadarkan kawan tersebut. Saat sadar, ia menanyai tentang kondisi rombangan lainnya dan di mana lokasi semuanya. Saya terpaksa bilang bahwa semua sudah aman agar ia tidak berniat ke barisan depan di area kerusuhan lagi. Padahal, sebetulnya banyak dari kami, terutama kakak tingkat, yang masih berjuang menyuarakan aspirasi kami. Di jalan, ia sempat kejang lagi; matanya sayu seolah mau “pergi”. Sesampainya di rombongan, kawan ini kami bawa ke mobil ambulans.

Semua beristirahat setelah kelelahan akibat kerusuhan tersebut. Ketika logistik sudah datang memberikan makanan dan minuman, Ketua BEM dan koordinator kami berunding untuk langkah selanjutnya. Kami pun akhirnya memutuskan bahwa massa dari IKJ harus kembali ke kampus.

About the author

Avatar

akumassa

Program Pendidikan dan Pemberdayaan Media Berbasis Komunitas, atau biasa disebut AKUMASSA, adalah sebuah program pemberdayaan media yang digagas oleh Forum Lenteng sejak tahun 2008, berkolaborasi dengan komunitas-komunitas lokal di beberapa daerah di Indonesia untuk melaksanakan lokakarya dan memproduksi beragam bentuk media komunikasi (tulisan, gambar/foto, audio, dan video).

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.