Darivisual Kecamatan: Pemenang Kota/Kabupaten: Lombok Utara Provinsi: Nusa Tenggara Barat

Pertemuan Nash dengan Bangsal

Avatar
Written by Otty Widasari

Tulisan ini adalah bagian dari buku Sebelas Kisah dari Tenggara yang ditulis oleh Muhammad Sibawaihi, Otty Widasari, dan Manshur Zikri, diterbitkan oleh Forum Lenteng pada tahun 2016. Dimuat kembali di situs web AKUMASSA dalam rangka rubrik “Darivisual”.

Suatu ketika saya sedang duduk-duduk di tepian dermaga di Pelabuhan Bangsal bersama teman-teman dari Komunitas Pasirputih. Kami sedang mengamati, mengukur, dan melihat-lihat situasi pelabuhan yang akan kami jadikan panggung kami untuk perhelatan Pesta Rakyat Bangsal Menggawe (‘Berpesta’) dalam proyek seni AKUMASSA Chronicle. Di dekat kami, riuh rendah sekelompok anak-anak kecil berlari di sepanjang dermaga, lalu melompat bebas ke dalam air dengan variasi gerakan salto. Kemudian mereka naik lagi ke atas dermaga, basah kuyup, untuk mengulangi kembali aksinya. Tiba-tiba ada salah satu anak berlari dengan kencang sekali, namun bukan menuju ke arah laut. Dia berlari kencang sekali ke arah kami yang sedang duduk-duduk. Sangat mengejutkan, namun kami tak sempat untuk menghindar karena dia berlari begitu cepat. Kami hanya sempat melakukan gerakan tangan untuk melindungi wajah, siap diterpa oleh seorang anak kecil yang berpakaian lengkap basah kuyup. Saat dia berada kira-kira beberapa sentimeter di hadapan kami, tiba-tiba dia berhenti dengan seketika, mematung dengan sebuah pose entah apa. Kami yang tidak jadi kena terjangan, terbengong menatap patung basah di hadapan kami. Terkesiap beberapa detik, kemudian kami tertawa berderai bersama, baru menyadari kalau anak itu adalah salah satu murid Nash Ja’una, aktor pantomim yang merupakan salah satu seniman yang terlibat proyek seni AKUMASSA Chronicle.

Nash Jauna ketika memberikan lokakarya pantomim ke anak-anak warga Kecamatan Pemenang, 25 Januari 2016. (Foto: arsip AKUMASSA).

Pertemuan Nash Dengan Bangsal

Rasanya, tidak ada lokasi yang lebih penting di Kota Pemenang selain Pelabuhan Bangsal. Kisah romantis dahulu kala bagaimana Bangsal merupakan jantungnya Pemenang sering kali terdengar. Lalu kemudian, keluhan bahwa Bangsal sudah tidak seperti dulu adalah hal yang lebih sering lagi terdengar. Pariwisata mengubah wajah Bangsal yang dicintai warga. Tidak terasa lagi pesta rakyat yang selalu terselenggara secara organik di akhir pekan, di mana warga saling bertemu dan bersapa sambil menikmati pelecing, es limun, dan jajanan lainnya sambil bermain bola di pantai yang akan diakhiri dengan berenang dan mencari keke (kerang) di tepi laut utara Pulau Lombok sebelum matahari terbenam.

Salah satu performans pantomim yang dilakukan Nash Jauna lewat proyek “Cubit-Cubit Bangsal” dalam rangka AKUMASSA Chronicle tanggal 4 Februari 2016 di Pelabuhan Bangsal, Pemenang, Lombok Utara. (Foto: arsip AKUMASSA).

Di Bangsal, Nash bertemu dengan demografi profesi-profesi penghuni Bangsal. Pekerja jasa angkut pariwisata atau porter, kusir cidomo, pedagang Bangsal, dan orang-orang yang berseliweran di sekitar dermaga. Nash mengganggu mereka.Tak lain yang diharapkannya adalah reaksi mereka. Isu sampah yang dibawakan oleh Nash memang merupakan isu yang selalu dia usung dalam tiap pertunjukkan pantomimnya.

Salah satu performans pantomim yang dilakukan Nash Jauna lewat proyek “Cubit-Cubit Bangsal 02” dalam rangka AKUMASSA Chronicle tanggal 18 Februari 2016 di Pelabuhan Bangsal, Pemenang, Lombok Utara. (Foto: arsip AKUMASSA).

Reaksi beragam tak terkecuali mengundang para turis berambut pirang yang tetap menjadikannya objek untuk difoto, merupakan dinamika Pelabuhan Bangsal. Anak-anak kecil yang menjadi sahabatnya melakukan gerik pantomim setiap saat dan pula mengundang reaksi orang-orang. Pelabuhan ini memberikan isyarat tentang bagaimana sebuah kabupaten baru benar-benar bergantung pada pemasukan dari sektor pariwisata. Tak satu pun dari gerak-gerik warga yang terlihat di lokasi ini menunjukkan ketidakbergantungan masa kini Kota Pemenang kepada sirkulasi turisme, dari dan menuju ke tiga gili (pulau kecil) di seberang sana. Gili Meno, Gili Air, dan Gili Trawangan adalah tujuan wisata yang digandrungi—setelah Bali—terutama semenjak peristiwa teror bom di Kuta tahun 2002. Tak sedikit nelayan yang mengganti profesinya menjadi pedagang suvenir, atau petani yang menjadi pebisnis mutiara, dan para remaja tumbuh dewasa dengan lahan usaha transportasi penunjang pariwisata, atau pemandu wisata, atau porter, atau calo penginapan, ataupun bekerja di ratusan cottage di ketiga gili.

Aktivitas lokakarya pantomim yang dilakukan oleh Nash Jauna di SD N 8 Pemenang pada tanggal 10 Februari 2016 dalam rangka AKUMASSA Chronicle 2016. (Foto: arsip AKUMASSA).

Nash menerima isyarat yang diberikan oleh laut di tepi pantai Bangsal sebagai pesan bahwa pengelolaan sampah harus menjadi salah satu bagian dari dinamika ini. Dan Nash membalas pesan tersebut dengan isyaratnya sendiri juga, bahwa dia akan membersihkannya. Maka digangguinyalah para penghuni jalur sirkulasi Bangsal dengan isyarat miliknya. Dengan gerak, gestur, dan posisi tubuh, Nash meng-“ada”-kan sesuatu yang “tak ada” sehingga mereka bisa “melihat” apa yang “tidak terlihat”. Satu setengah bulan lamanya dia berproses, mengajak anak-anak kecil yang tanpa beban dengan gembira melakukan sesuatu yang “tidak ada”. Berpantomim, mengganggu Bangsal.

Nash Jauna. (Foto: arsip AKUMASSA).

Sebagai bagian dari seni pertunjukan, pantomim Nash mengambil panggungnya di Bangsal. Memilih pelabuhan, yang sekaligus menjadi skenarionya. Anak-anak menduplikasi gerak orang memancing, menggotong ikan yang ukurannya melebihi tubuh mereka, sehingga mereka perlu bergotong royong, sambil terus memunguti limbah manusia di sepanjang pantai Bangsal. Di tepi pantai sebelah timur, ada ramai orang menonton babak penyisihan kompetisi sepak bola pantai Bangsal Cup. Di jeda pertandingan, saat para pemain bola menenggak berliter air dingin dari botol-botol plastik, dan para penonton sibuk jajan kacang rebus dan keripik, Nash menendang udara hampa ke arah gawang dengan gerakan lambat a la film laga yang dramatis. Salah satu teman kecilnya yang menjaga gawang langsung melompat tinggi untuk menghalau tendangan udara hampa Nash: dengan gerakan lambat a la film laga yang dramatis. Setelah itu mereka kembali memunguti sampah botol plastik dan kulit kacang rebus. Babak ke dua Bangsal Cup hari itu pun kembali dilanjutkan.

About the author

Avatar

Otty Widasari

OTTY WIDASARI adalah seorang seniman, penulis, sutradara, dan kurator. Saat ini, ia menjabat sebagai Direktur Program Pendidikan dan Pemberdayaan Media (AKUMASSA) di Forum Lenteng.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.