Purworejo, Jawa Tengah

Inilah Keadaannya

Hampir 12 jam aku berada di bus jurusan Jakarta-Jogjakarta. Pukul 04.45 WIB aku sampai di tempat tujuan pertamaku, yaitu Pasar Krendetan, Desa Krendetan, Purworejo, Jawa Tengah. Sesudah turun dari bus aku terkaget dan bertanya-tanya di dalam hati “kenapa kok sepi banget begini, biasanya setiap sabtu ramai orang di pasar dan banyak angkot, kok ini nggak ada?” Lalu aku melihat jam sekali lagi dan menyadari bahwa hari masih terlalu pagi, karena itu keadaan pun masih sepi.

Desa Hargorojo terlihat sepi

Desa Hargorojo terlihat sepi

Setiap Sabtu dan Rabu di Pasar Krendetan sudah menjadi tradisi para petani menjual hasil buminya, seperti singkong, kelapa dan gula jawa, namun saat ini orang lebih banyak menjual gula jawa, karena singkong dan kelapa belum datang musimnya. Hasil berjualan tersebut biasanya mereka pergunakan untuk membeli bahan makanan pokok. Pada hari-hari biasa di pasar ini hanya ada sedikit pedagang dan tidak ada petani yang menjual hasil buminya.

Karena pasar masih sepi dan tidak ada angkot (angkutan kota), menuju rumah nenekku di Desa Hargorojo, maka aku menelpon pamanku untuk menjemput. Tak lama kemudian pamanku datang dengan motornya. Dalam perjalanan pulang yang gelap dan sedikit dingin, aku melihat beberapa orang berjalan kaki untuk pergi ke Pasar Krendetan. Mereka berjalan kaki agar lebih menghemat biaya, padahal pejalanan yang harus mereka tempuh dari Desa Hargorojo menuju pasar sekitar 2-4 kilometer. Tidak hanya jauh, mereka juga harus turun dan naik gunung, karena Desa Hargorojo terletak di daerah pegunungan.

Beberapa orang sedang mempersiapkan dagangannya di Pasar Krendetan

Beberapa orang sedang mempersiapkan dagangannya waktu menjelang pagi di Pasar Krendetan

Sesampainya di rumah nenekku yang berada di Desa Hargorojo aku melihat banyak pepohonan hijau dan tetesan embun. Berhubung aku sedikit lelah karena perjalanan jauh, aku memutuskan untuk istirahat sejenak. Kemudian aku beranjak karena rasanya ingin melihat daerah-daerah sekitar rumah yang sudah lama tak aku kunjungi. Memang semenjak aku kuliah di Jakarta, aku jarang sekali pulang kampung, paling jika libur Lebaran atau liburan semester, dan terakhir aku pulang adalah saat Lebaran tahun lalu.

Tujuan pertamaku adalah kali kecil yang berada di bawah rumah nenekku ,yang sampai saat ini aku tidak tau apa nama kali itu. Aku hanya tahu nama bagian-bagian dari kali itu, seperti tegongan (tikungan) serta grujugan (air terjun) dan memang sepertinya kali ini tidak memiliki nama. Ternyata air di kali ini masih terlihat jernih, dan mengalir dengan lancarnya, batu-batuannya pun masih terlihat alami, ikan-ikan kecil yang berlarian pun menambah keindahan kali, walaupun tak seindah dulu.

Kali kecil di bawah rumah nenekku

Kali kecil di bawah rumah nenekku

Saat memandang air kali, aku teringat masa kecilku yang sering mandi di kali bersama teman-temanku. Aku teringat pengalaman menarik saat aku mulai belajar berenang. Saat itu aku diajarkan berenang oleh teman yang lebih tua, aku di bawa ke bagian kali yang airnya cukup dalam, kemudian ditinggalkan supaya aku berusaha menepi dengan berenang sendiri. Aku pun tenggelam karena sama sekali tidak bisa berenang, namun mereka langsung tanggap untuk menolongku dan lama-lama aku bisa karena terbiasa berenang di kali ini. Aku belajar berenang di bagian kali yang jmasih satu aliran dengan kali di bawah rumah nenekku ini, yang biasa disebut grujugan.

Saat mulai musim kemarau aku dan kawan-kawan sering memburu ikan di kali dengan menggunakan setrum atau obat, hasil buruannya lumayan untuk makan bersama walaupun ikannya kecil-kecil. Saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar aku juga pernah diajak saudaraku menyetrum ikan di kali ini. Hasilnya tidak tanggung-tanggung, sekitar 4 ember kecil Ikan Kating (sejenis ikan yang mirip dengan Ikan Lele, tapi ukurannya lebih kecil).

Grujugan, tempat aku belajar berenang

Grujugan, tempat aku belajar berenang

Aku merasakan ada yang janggal saat aku berkunjung kembali ke kali ini, mungkin karena remaja-remajanya mulai berkurang dan jumlah ikan-ikan yang sudah tidak sebanyak dulu.

Air di kali ini hanya dapat mengalir ketika musim penghujan dan jika musim kemarau bisa tidak ada airnya sama sekali. Sewaktu kecil aku pernah mengalami kemarau panjang yang melanda kampungku, dan kali sama sekali tidak ada airnya, aku dan warga kampung harus berjalan jauh dan mengantri untuk mendapatkan air. Jika air kali sedang tidak kering kerontang warga membuat sebuah sumur kecil yang berukuran 5-8 jengkal jari tangan.

Kemudian aku meneruskan jalan-jalan ke sekitar rumah tetangga untuk melihat keadaan kampungku. Ternyata keadaan kampungku semakin sepi, dibandingkan saat aku pulang pada Lebaran yang lalu. Jumlah remajanya semakin berkurang, terbukti saat aku sedang berjalan-jalan aku hanya melihat enam temanku saja dan hingga aku pulang ke Jakarta hanya enam orang itu yang sering nongkrong.

Para pemudanya kebanyakan pergi untuk mengadu nasib ke kota besar, bahkan ada dua temanku yang bekerja di Malaysia, entah bekerja di pabrik atau sebagai pembantu rumah tangga, aku tidak begitu tahu. Lulus SMK dan bahkan SMP mereka lebih memilih untuk merantau dan mencari uang ke luar kota. Aku juga melakukan hal yang tak jauh berbeda, pergi merantau setelah lulus SMK untuk meneruskan kuliah di Jakarta.

Kebanyakan dari mereka yang merantau jarang kembali lagi ke kampung, dan ada pula yang mendapat jodoh dan berkeluarga di daerah rantauannya, sehingga warga di kampungku ini makin berkurang, terutama para pemuda. Mereka memilih untuk bekerja keluar kota bahkan ke luar negeri, karena memang di kampungku ini hanya ada sedikit lapangan pekerjaan. Hal ini menjadi salah satu faktor yang menyebabkan mereka lebih memilih merantau di kota dengan iming-iming gaji besar, walau belum tentu pekerjaannya seenak yang mereka bayangkan. Padahal menurutku untuk mencari uang lebih mudah di kampung, walaupun hanya sebagai petani.

Jalanan Desa Hargorojo terlihat sepi di siang hari

Jalanan Desa Hargorojo terlihat sepi di siang hari

Setahuku warga kampungku yang menjadi TKI (Tenaga Kerja Indonesia) tidak banyak, hanya sekitar empat orang, di antaranya Ima dan Erik. Kedua temanku ini seusia dengan ku dan sekarang bekerja di Malaysia. Dua orang di antara warga kampungku yang menjadi TKI itu ada yang tak kembali ke Malaysia, salah satunya Ibunda Erik dan seorang temanku yag kini sudah meninggal karena sakit. Sepenglihatanku setelah mereka kembali dari Malaysia, mereka bisa membeli motor, televisi, kulkas serta memperbaiki rumah. taraf hidup mereka pun meningkat walaupun tidak banyak.

Sepengetahuanku, para pemuda di Desa Hargorojo jarang yang mengecyam pendidikan hingga ke perguruan tinggi. Beberapa yang melanjutkan kuliah di antaranya dua orang adik kelasku, aku sendiri ,dan yang paling banyak adalah anak-anak dari Lurah Desa, ada empat orang yang sekarang telah menjadi sarjana dan bekerja entah di mana. Setelah mereka lulus aku lihat tidak banyak dari mereka yang memanfaatkan ilmunya untuk memajukan desa. Padahal desa ini sangat membutuhkan orang berpendidikan seperti mereka. Aku sendiri dari dulu mempunyai angan-angan untuk memajukan kampungku ini suatu saat nanti. Aku juga berharap tulisan tentang keadaan kampungku ini dapa terbaca oleh warga Desa Hargorojo yang sedang merantau ke kluar ota maupun luar negeri. agar ingin berbondong-bondong untuk memajukan kampung kita Desa Hargorojo pada khususnya, dan Purworejo pada umumnya, dari keteringgalan, sehingga kampung ini dapat melangkah lebih maju.

About the author

Avatar

Choiril Chodri

Pria kelahiran 1990 ini sedang menyelesaikan studinya di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan aktif diberbagai komunitas, di antaranya Div. Produksi di Komunitas Djuanda, Div. Media di Masyarakat Peduli Karakter Bangsa dan Wakil Ketua di Ikatan Mahasiswa Purworejo Jakarta Raya (Imapurjaya). Selain di kampusnya, beberapa karyanya pernah dipamerkan di Jakarta 32 ruang rupa di Galeri Nasional Indonesia 2010 dan Pameran fotografi 484, Cikini dan pernah presentasi khusus video akumassa di Festival Film Dokumenter (FFD) Taman Budaya, Yogyakarta, 2010.

14 Comments

  • jadikan hargorojo desa wisata alam yg menarik,perbnyk kebun buah,jln,listrik dan penginapan di puncak gunung ngergo insyallah jd obyek wisata seperti tangkuban prahu semoga aza ada investor yg berminat Amien yrblmien salam kami dari bumi etam kaltim samarinda

  • amin moga ajah bisa…
    ngergo yang indah…

    listrik udah banyak..dan sya kira buat tanamn rambutan, mangga dan durian mantep tanh sana…
    salam kenal dari jkt…om asli hargorojo,,?

  • sdh lm meninggalkan kmpg, tapi msh kangen sama krempyeng, kethek, gelangan,jenang lot, tp bersyukur donk, listrik sdh ada, walau air msh susah

  • aku setuju kalo teman2 masih mau ikut berpartisipasi mbangun desa kita tercinta, tapiiii kapann…. saya tunggu dech …..
    saya dah lakuin walau belum seberapa dengan program pendidikan luar sekolah untuk ibu2 di hargorojo bertempat di vihara setoyo, juga mendirikan radio komunitas amerta Fm untuk anak muda desa hargorojo, tapi emang berat untuk cari dukungan yang optimal dari teman-teman di desa……
    tapi saya yakin suatu ketika desa hargorojo bakal maju …yupsssssss…. ! ?

  • Angan2 untuk membangun desanya adalah mulia ,lebih mulia lagi jika kita action bukan hanya angan2 saja,jika kita muslim perlu di ingat di dalam QS : 61 ayat 3, Amat besar kebencian disisi Alloh jika kita hanya mengatakan tanpa berbuat,Ayo anak2/atau siapapun yang cerdik pandai buatlah konsep dan tawarkan kepada orang2 yang berasal dari hargorojo ntuk membangun desanya ,janganlah kita hanya memikirkan diri sendiri ,cobalah mulai saat ini kita berfikir & bergerak bagaimana kita bisa maju,yang sudah kaya sisihkan hartanya ,ingatlah Harta itu dari Alloh semestinya sebagianya dibelanjakan ntuk kemakmuran umat ,bravo untuk manusia – manusia yang masih mempunyai NURANI

    • setuju, ayo dulur Kabeh sing nang rantau, ulur pikiran ugo bondho, bentuk panitia pembangunan desa hargorojo, buka rekening ats nm panitia yg kredible, transfr sbagian rejeki ke rekening tsbt, penggunaan dana di komunikasikan brsama, AYO KAPAN ACTIONYA??????

  • aku terakhir kesana 20 tahun yang lalu, ugh kangen berat. Katanya di puncak Hargorojo ada petilasan ya… Ada yang bisa bagi cerita?

  • Cah Sekuning…

    Prihatin melihat kampung halaman sekarang, pasbanget dpt julukan kota pensiun, tapi tetep kangen karo kampong halaman… Salut kro tonggo + konco-konco nang hargorojo. Hargorojo bisa jd bank darah yang bisa diandalklan PMI Purworejo…. tak kei ***** (bintang 5)….

  • grujugan juga tempetku main waktu kecil, tp skrng airnya nggak grujuk lagi. rumah bapakku di sebelah sd plarangan, lam kenal

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.