Jurnal Kecamatan: Gambir Kota: Jakarta Pusat Provinsi: DKI Jakarta

Festival Jurnalisme Warga: Temu Komunitas, Bertukar Gagas, Berjejaring dan Do Something!

Avatar
Written by Renal Rinoza

Suasana temu komunitas Jurnalisme Warga

Festival Jurnalisme Warga diselenggarakan selama dua hari, 14-15 April 2012 di Museum Nasional adalah festival yang pertama kali diselenggarakan di Jakarta. Festival ini mengambil tema Kencangkan Suaramu; Raise Your Voice. Dalam festival, diselenggarakan berbagai event di antaranya, workshop menulis, workshop Video & Foto, workshop Optimalisasi Social Media, Diskusi Panel jurnalisme Warga & Efektifitas Pelayanan Publik, Bersama Melukis Mural, Pameran Multimedia, Kuis Berhadiah, Lomba Siaran Radio, Klinik Jurnalistik, Temu Komunitas Warga, Pentas Musik dengan menghadirkan Tika and the Dissidents, Efek  Rumah Kaca, Kunokini, dan Paroeh Waktu.

Festival ini adalah kerja bersama dari Tempo Institute, KOJI Communication, SERRUM, Air Putih, Desa Mandalamekar, Jatiwangi Art Factory (JAF), Komunitas Jibreg Cisitu, Media Parahyangan, Sorge Magazine, Jaringan Pewarta Mahasiswa Independen (JAPMI), Gema INTI, Grafis Sosial, Forum Lenteng, Komunitas Lereng Medini, Desa Melung, Combine Resource Institution, dan Komunitas Serrongge. Penyelenggaran di hari kedua adalah puncak dari perhelatan Festival Jurnalisme Warga. Salah satu agenda di hari kedua ialah Temu Komunitas Warga yang mengambil tema Signifikansi Jurnalisme Warga dan Suara Komunitas.

Temu komunitas ini dihadiri beberapa komunitas penggiat jurnalisme warga dari berbagai daerah yang ada di Indonesia. Acara ini dipandu oleh Mardiyah Chamim dari Tempo Institute yang juga sebagai host penyelenggara Festival Jurnalisme Warga. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Tempo Institute ini didukung oleh  World Bank, AusAID, Tempo.co, Koran Tempo dan Green Radio 89.2 FM. Mardiyah Chamim selaku pembawa acara dalam temu komunitas didampingi beberapa narasumber yang berpartisipasi dalam sharing temu komunitas. Mereka di antaranya adalah Vivi Alatas dari perwakilan World Bank, Kartini dari lembaga Ombudsman RI, Ignatius Haryanto-pengamat media dari Lembaga Pers dan Pembangunan (LSPP), dan Pepi Nugraha dari Kompasiana.

Menurut Mardiyah Chamim, tujuan dari forum temu komunitas ialah saling sharing apa saja pengalamannya sebagai penggiat jurnalisme warga dan juga mengatur bagaimana kedepan kita berjejaring. “Karena dengan berjejaring aktifitas kita bakal lebih kuat, lebih kencang dan juga bisa saling membantu,“ imbuh Mardiyah dengan mantap.

Mardiyah Chamim setelah memperkenalkan narasumber-narasumber, selanjutnya ia mempersilahkan bagi teman-teman komunitas untuk memperkenalkan dirinya masing-masing. Kebetulan yang mendapat kesempatan pertama memperkenalkan diri ialah Kang Yana Noviadi setelah ditunjuk oleh Ibu Mardiyah Chamim dengan penuh semangat.  Dus, Kang Yana pun memperkenalkan dirinya, yang menarik dari Pak Yana, selain menjadi Kepala Desa, ia memposisikan dirinya sebagai penyiar radio komunitas tepatnya Radio Ruyuk FM dan admin portal mandalamekar.or.id di Desa Mandalamekar, Kecamatan Jatiwaras Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.

Yana Noviadi, Kepala Desa Mandalamekar dengan penuh semangat menceritakan program Gerakan Desa Membangun

Kang Yana bersama rekan-rekannya di Desa Mandalamekar dan desa-desa lainnya mengembangkan sebuah gerakan yang dinamai Gerakan Desa Membangun. Untuk mengembangkan gerakan ini, Kang Yana bersama rekan-rekannya mengadakan sebuah lokakarya, semiloka tentang penerapan Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) di beberapa desa yang tergabung dalam Gerakan Desa Membangun. Menurut Pak Yana, gerakan ini telah diikuti sekitar 40-an desa yang ada dengan mengelola informasi, mengelola administrasi desa, dan sekaligus sebagai media yang mempromosikan desa ke ajang luar.

Perkenalan selanjutnya kepada Al Ghorie, penggiat TV Komunitas dari Desa Jatisura, Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka,  Jawa Barat. Al Ghorie ini juga seorang penggiat aktifitas seni dan budaya di daerah Jatiwangi dengan berkecimpung di Jatiwangi Art Factory (JAF)— pada akhir desember lalu menyelenggarakan Video Village Festival 2011. Dalam perkenalannya Al Ghorie sedikit berkelakar untuk kembali ke desa, karena di kota sudah terlalu riweuh. Perwakilan Desa Melung, Kecamatan Kedung Banteng, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Desa Melung merupakan daerah pinggiran yang paling ujung dari pusat pemerintahan Kabupaten Banyumas, kebetulan bersama Kang Yana dari desa Mandalamekar ikut tergabung dalam Gerakan Desa Membangun, Pak Kades desa Melung ini juga memperkenalkan di desanya juga memiliki portal yang berisi informasi potensi-potensi desa dalam portal Gerakan Desa Membangun.

Selanjutnya, Sugianto dari SIAR  (Sistem Informasi Akar Rumput) Yogyakarta, sebuah konsorsium yang menghimpun sekitar 24 komunitas yang terdiri atas TV, radio, dan buletin komunitas yang tersebar di Yogyakarta. Dalam aktifitasnya, SIAR Yogyakarta  juga berkerjasama dengan Combine Resource Institution—sebuah lembaga pendamping yang berkedudukan di Yogyakarta. Lembaga ini fokus pada pengembangan media komunitas di setiap komunitas-komunitas penggerak media komunitas.

Perkenalan selanjutnya dari penggiat jurnalisme warga yang tergabung dalam Komunitas Lereng Medini dari Kediri, Jawa Timur. Dalam aktifitasnya mewadahi dan menggerakan potensi media komunikasi untuk mengawal isu-isu kebijakan publik, pertanian dan perdagangan di tiga kecamatan yang telah terjangkau oleh aktifitas jurnalisme warga yang digelutinya. Ia mengharapkan adanya sebuah terobosan baru dalam aktifitas jurnalisme warga seperti, mengintensifkan berjejaring, saling tukar informasi di antara penggiat media komunitas dan berharap adanya semacam pemanfaatan potensi media video bagi kegiatan jurnalisme warga di desanya yang berada di daerah pegunungan.

Kemudian perkenalan dari pengelola Suarakomunitas.net yang juga difasilitasi dari Combine RI Yogyakarta. Sebuah portal yang dikelola teman-teman  Jaringan Radio Komunitas Indonesia (JRKI) yang terdiri dari 500 kontributor aktif yang setiap hari beritanya selalu update. “Semoga bisa mengalahkan website yang lainnya,“ harapnya.

Suarakomunitas.net juga menaungi jaringan radio komunitas di Cirebon yang menjangkau kawasan Indramayu, Kuningan dan sekitarnya. Kerja jaringan ini juga telah mengadvokasi seperti kasus trafficking, KDRT, pemerkosaan, dan sebagainya. Tentunya permasalahan-permasalahan di tingkatan desa, seperti program Keluarga Harapan, Raskin, dan sebagainya, semuanya dilakukan oleh teman-teman penggiat radio komunitas.

Perkenalan selanjutnya dari penggiat radio komunitas di sebuah desa di Kabupaten Cianjur, bernama Radio Edelweiss yang di gerakkan oleh sebuah komunitas bernama Komunitas Jibreg Cisitu. “Radionya baru dua tahun berjalan, di samping itu radio ini mempunyai program community development, penggiatnya adalah sukarelawan yang tidak ada upah, “ akunya.

Mardiyah Chamim menyudahi perkenalan dari setiap elemen komunitas dengan mengatakan biar elit kita gontok-gontokan tapi di bawah bertalian dan coba membuat sesuatu di sekitarnya yang lebih konkret. Bu Mardiyah tak lupa memperkenalkan LBH Pers, di mana sebagai penggiat jurnalime warga tak perlu takut menyampaikan informasi dan mengawal kebijakan publik. Karena ada LBH Pers yang akan mengadvokasi bila dikemudian hari ada masalah-masalah yang berkaitan dengan kasus hukum yang menimpa penggiat jurnalisme warga.

Bu Mardiyah selanjutnya mempersilahkan narasumber untuk memaparkan seputar tema temu komunitas ini. Pada kesempatan pertama diberikan kepada Ibu Kartini yang menjelaskan apa itu lembaga Ombudsman RI, apa kewenangannya, dan apa tugas yang dikerjakan oleh lembaga Ombudsman RI. Secara garis besar, Ibu Kartini mengatakan bahwa lembaga Ombudsman RI bertugas mengawasi implementasi kebijakan publik. Lebih lanjut ia mengharapkan ingin bekerjasama dengan para penggiat media komunitas untuk dapat saling bersinergi mensosialisasi kewenangan lembaga Ombudsman RI dalam mengawasi praktik kebijakan publik yang tentunya berdampak bagi warga sendiri.

Lembaga Ombudsman RI sangat membutuhkan peran media, terutama peran media komunitas untuk menyoroti pelayanan publik yang seringkali dikeluhkan masyarakat. Dengan adanya media komunitas diharap dapat memberi edukasi kemana masyarakat akan mengeluh dan mengadukan seputar masalah kebijakan publik. Termasuk di dalamnya pelayanan publik akibat dari mal administrasi oleh pejabat publik misalnya, kesehatan, pendidikan, ijin usaha, dan sebagainya.

Mal administrasi yang dimaksud ialah tidak adanya standar pelayanan, tidak adanya transparansi dan tidak adanya informasi terbuka kepada publik. Bu Kartini mengharapkan peran aktif radio komunitas untuk men-on air-kan masalah-masalah yang tidak beres berkenaan pelayanan publik. Bagi warga yang merasa dilayani dengan tidak baik oleh pejabat publik untuk dapat mengadukannya kepada lembaga Ombudsman RI melalui SMS, e-Mail, dan menulis surat untuk segera ditindaklanjuti laporan-laporan masyarakat. Karena lembaga Ombudsman mempunyai kewenangan dalam mengawasi, menegur, menginvestigasi, sampai dengan merekomendasi.

Selanjutnya, narasumber berikutnya adalah  Pepi Nugraha, pengelola Kompasiana. Dalam paparannya Pepi menceritakan bahwa kehadiran Kompasiana tiga tahun yang lalu adalah sebuah keniscayaan. Pada hematnya ia menyebutkan, media tidak hanya dibikin oleh jurnalisme profesional melainkan juga oleh warga sendiri. Dalam sehari, tambah Pepi, sangat fantastis tak kurang sekitar 300 artikel yang termuat di Kompasiana bahkan hampir mencapai 1000 artikel per harinya. Begitupun pembacanya tak kurang hampir 8 juta orang per bulan yang membaca kanal Kompasiana.

Dalam perkembangannya, masing-masing kontributor di Kompasiana membentuk komunitas-komunitasnya sendiri misalnya komunitas sastra. Pepi, dengan mantap mengatakan artikel yang ditulis di Kompasiana ternyata paling banyak dibaca. “Warga punya cerita, warga punya berita,” begitu imbuhnya.  Pepi mengilustrasikan berita seputar kunjungan anggota DPR di Australia yang sempat heboh di media massa karena asal mencatut alamat email palsu. Begitu juga artikel mengenai kasus Indomie di Taiwan yang pada akhirnya menjadi pemberitaan besar di media mainstream.

Pepi Nugraha, Pengelola Kompasiana

Paparan selanjutnya datang dari Ignatius Haryanto, seorang pengamat media dari Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP). Mas Hery, sapaan akrabnya, mengutarakan bahwa ia pernah mempunyai pengalaman meneliti radio komunitas di empat provinsi. Menurutnya, alasan keberadaan radio komunitas adalah betapa kedekatan dengan warga dan mendatangkan manfaat. Lebih lanjut, Mas Hery mengatakan, tantangannya apakah berita jurnalisme warga bisa dipercaya? Lalu bagaimana pengakuan dan penerimaan masyarakat itu sendiri terhadap geliat jurnalisme warga?

Ignatius Heryanto, mengajak kepada hadirin untuk sama-sama berpikir, kira-kira apa saja tantangan dan langkah-langkah preventif yang harus dilakukan jurnalisme warga kedepannya. Diharapkan media komunitas mendapat pengakuan dan penghargaan serta simpati dari masyarakat juga dapat disegani oleh pemerintah-pemerintah di daerah. Vivi Alatas, perempuan berjilbab ini memaparkan agenda Bank Dunia untuk ambil bagian dalam program-program mengentasan kemiskinan, di mana dahulu Bank Dunia bekerja sama dengan Pemerintah. Akan tetapi, saat ini juga melibatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan termasuk di dalamnya pengembangan media komunitas sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat. Dalam kesempatan ini Ibu Vivi melemparkan sebuah pertanyaan untuk didiskusikan kepada hadirin yakni, pengalaman-pengalaman dalam berjurnalisme warga.

Setelah narasumber memaparkan pengantarnya untuk didiskusikan, Ibu Mardiyah Chamim menjelaskan sedikit tentang signifikansi Jurnalisme Warga dan Suara Komunitas, untuk selanjutnya diskusi pun dimulai. Beberapa hadirin memaparkan pengalaman-pengalamannya seputar menggiatkan jurnalisme warga di daerahnya masing-masing. Termasuk Kang Yana dan Al Ghorie sendiri memberikan pengalamannya dalam menggerakkan media komunitas. Dalam forum ini, nama Kang Yana sudah begitu familiar di kalangan penggiat komunitas. Beberapa kali, baik pembawa acara, narasumber dan di antara teman-teman penggiat jurnalisme warga menyebutkan namanya sebagai seorang yang benar-benar survive menggerakkan media komunitas.

Kang Yana memaparkan tujuan dibentuknya Gerakan Desa Membangun ialah adanya kemandirian teknologi informasi komunikasi (TIK) berbasis teknologi Open Source dan kemandirian desa dari ketergantungan kepada pihak luar, termasuk kepada pemerintah.

Gerakan Desa Membangun disosialisasikan dari desa ke desa agar masyarakat desa melek teknologi. Sosialisasi dilakukan dengan mengadakan semiloka-semiloka di tiap-tiap tingkatan desa dengan biaya swadaya. Kang Yana dalam kesempatan ini menginformasikan kepada hadirin bahwa pada awal Juni mendatang akan diselenggarakan Festival Jawa Selatan (Jadulfest)—sebuah kegiatan untuk mewujudkan Gerakan Desa Membangun dengan mengadakan seminar-seminar, semiloka-semiloka membahas tentang desa dan juga diisi dengan berbagai pertunjukan kesenian rakyat dari berbagai desa peserta.

Gagasan Gerakan Desa Membangun dilatarbelakangi pembahasan tentang desa yang dibicarakan di kota-kota. Sebagian besar para pesertanya bukan pelaku di tingkat desa, sehingga orang-orang desa hanya sedikit bisa menyerap informasi dari hasil seminar yang diadakan tersebut. Atas dasar itulah tercetus ide Gerakan Desa Membangun yang diharap hasilnya berupa kemandirian desa di berbagai sektor seperti, kemandirian teknologi Informasi Komunikasi (TIK), kemandirian pangan dan kemandirian energi untuk tidak selalu bergantung kepada pihak lainnya.

Yana Noviadi memberikan pengalamannya dalam bermedia di Desa Mandalamekar

Pemaparan selanjutnya oleh Al-Ghorie—seorang penggiat media komunitas di Jatiwangi, Majalengka. Al-Ghorie menjelaskan adanya program TV Komunitas adalah ‘hadiah’ dari acara Village Video Festival yang diselenggarakan pada akhir Desember 2011 lalu. Dalam Village Video Festival tersebut ada program TV Program. Program TV Komunitas ini diawali karena ada seseorang warga yang berbaik hati membuat semacam pemancar televisi di minggu kedua penyelenggaraan festival. Nah dari situlah, festival ini dibikin dengan cara lain, artinya tidak di screening di Balai Desa melainkan bisa dinikmati dari kamar tidur, tinggal melihat di televisi dari rumah masing-masing.

Al-Ghorie juga menjelaskan dampak dari adanya TV Komunitas di desanya terhadap perilaku warga, ceritanya begini, “Katanya,  masih banyak warga desa yang dolbonmodol di kebon atau buang air besar di kebun. Kita bikin video tentang dolbon. Kebetulan ada rekan-rekan dari SERRUM yang juga membantu, nama program TV-nya How To Bikin WC Yang Sederhana Dengan Modal Rp. 200.000, hasilnya setelah diputar dan disiarkan mengurangi terjadinya aktifitas dolbon,” imbuhnya.

Tukar menukar pengalaman masing-masing di antara penggiat jurnalisme warga memberikan sebuah wahana pemahaman sejauh mana posisi media komunitas dalam menghadapi tantangannya ke depan. Dan agenda apa saja yang dapat memperkuat posisi penggiat media komunitas, serta sejauh mana media komunitas berkontribusi bagi penyalur aspirasi warga. Dan terpenting dari keberadaan media komunitas adalah kekuatan untuk berjejaring, karena dengan berjejaring dapat memberikan amunisi untuk terus secara bersama-sama menyuarakan aspirasi warga yang berasal dari warga sendiri dan kemandirian untuk tidak tergantung, baik kepada pemerintah maupun korporasi.

Tukar pengalaman di antara pelaku media komunitas dalam forum temu komunitas berakhir dengan secercah harapan untuk siap siaga menghadapi tantangan kedepan. Tentunya geliat agenda yang menanti segera dilaksanakan dengan penuh semangat. Dalam kesempatan ini aku ngobrol dengan  tiga orang yang bisa dilihat dari kiprahnya bermedia. Yang pertama Pepi Nugraha—pengelola  Kompasiana, kedua Yana Noviadi—Kepala Desa Mandalamekar sekaligus penyiar Radio Ruyuk FM Desa Mandalamekar, dan terakhir Al Ghorie—penggiat media komunitas di Jatiwangi Art Factory.

Selepas acara Temu Komunitas

Pepi Nugraha, menuturkan keberadaan Kompasiana didasari oleh sebuah keniscayaan, karena di dunia luar (luar negeri-red) sudah tumbuh mewadah dalam sebuah media blog. Mereka dapat bersuara atas persoalan di lingkungannya dan melaporkannya. Terbukti bahwa kegairahan masyarakat menulis jauh melebihi kegairahan wartawan sendiri dalam menulis dibandingkan dengan penulis-penulis di Kompasiana. Misalnya, untuk saat ini di Kompas.com baru bisa menghasilkan 350-an berita per hari tetapi di Kompasiana bisa mencapai 800-1000 berita per hari. Ini menunjukkan kegairahan warga menulis sangat luar biasa. Mengenai pembaca dapat terlihat di ranking Alexa, Kompasiana berada di ranking teratas portal berita tertinggi di Indonesia. Kita boleh berbangga diri bahwa Kompasiana adalah social blog terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara bahkan di dunia. Karena Kompasiana bisa mengalahkan OhMyNews.com dari Korea Selatan, dan NowPublic.com dari Amerika Utara.

Awal berdirinya Kompasiana adalah me-rebranding untuk belajar dan melihat dari portal-portal tersebut. Dalam hal ini aspirasi yang tertulis di blog Kompasiana berdampak pada penerimaan publik dan bahkan pemerintah. Posisi Kompasiana, lanjut Pepi, dapat mengatasi monopoli informasi dari segelintir elit. Karena Kompasiana terdiri dari beragam kelompok, artinya terlepas dari kepentingan politik elit. Dengan kehadiran Kompasiana justru dapat mengatasi hegemoni atas monopoli informasi yang dilakukan oleh elit media.

Di Kompasiana, Pepi menjelaskan, bahwasanya dalam sehari ada sekitar 800-1000 tulisan per hari.  Sedangkan pembacanya sendiri sekitar 7- 8 juta per bulan dan dalam sehari ada sekitar 300 ribu pembaca yang membuka portal Kompasiana. Pepi menambahkan, di Kompasiana pastinya mendatangkan benefit seperti pengiklan dan itu adalah sah-sah saja karena untuk menghidupi Kompasiana. Lagipula Kompasiana sama sekali tidak mengutip apapun dari warga. Benefit tersebut dialokasikan seperti untuk menyewa bandwitch yang mahal, sekitar dua ratus juta rupiah per tahun. “Nah, karena itulah pihak kami mencari vendor untuk memasang iklan di Kompasiana. Namun yang patut disimak, kami tidak mencari uang banyak atau profit oriented di Kompasiana. Melainkan hanya untuk maintenance portal Kompasiana.”

Setelah aku berbincang dengan Pepi Nugraha, orang yang akan kusambangi selanjutnya adalah  Kang Yana Noviadi, yang begitu terkenal namanya dikalangan penggiat jurnalisme warga. Namun beliau sedang bercengkerama dan melayani salam sapa dari orang-orang yang mengerubunginya. Wah, rasanya Kang Yana bak seorang pesohor, di mana orang-orang sangat appreciated dan kagum pada sosoknya—maaf kalau ini berlebihan, tapi itulah kenyataannya yang aku lihat dan karena sabar menunggu. Secara tak terduga aku menghampirinya dan dia rupanya mengenaliku, mungkin bukan karena mengenali wajahku melainkan aku memperkenalkan diri bahwa aku yang mention di twitternya untuk bisa ketemu, dan diapun tersenyum lebar dan tertawa kecil. Oh ini rupa orangnya, mungkin dalam hatinya begitu, dugaku.

Langsung saja, aku bersamanya menuju ke teras depan lobby Museum Nasional. Sambil duduk kami pun memulai percakapan. Dia begitu supel, dan aku pun memanggilnya dengan sebutan Kang Yana, dia pun mempersilahkannya.

Percakapan kami dimulai dengan bagaimana informasi dapat diterima dan diserap masyarakat. Kang Yana mengawali, jika informasi tidak terserap dengan baik di masyarakat perkotaan bagaimana dengan yang di desa. Di Jakarta saja yang sudah ada kelengkapan infrastrukturnya masih ada informasi yang tidak terserap, apalagi kalau di desa. Kang  Yana menceritakan awal mula adanya terobosan menggunakan teknologi Informasi Komunikasi (TIK) di desanya yang terasa tak mungkin karena berada di desa tertinggal.

Desa yang tertinggal dari akses infrastruktur jalan, untuk menempuh desa Mandalamekar diperlukan jarak tempuh  30 km dari pusat Kota Tasikmalaya, begitupun dengan akses internet yang sulit ditangkap. Di tahun 2009 mulai merintis blog di wordpress.com, mengirim berita via email dan juga kita tidak paham tentang email. Saat itu, warga Mandalamekar yang tahu mengelola blog dan email tinggal di Papua. Dialah yang mengembangkan blog.

“Di tahun 2007, karena infrastruktur jelek, saya membuat radio komunitas agar informasi cepat sampai di masyarakat. Radio komunitasnya bernama Radio Ruyuk FM. Penamaaan Ruyuk pada Radio Ruyuk FM dapat diartikan semak belukar, sesuai dengan tipografi Desa Mandalamekar. Awal berdirinya Radio Ruyuk FM mempunya visi menggerakkan konservasi alam. Program konservasi alam ini dilakukan secara mandiri tanpa adanya pembinaan dari siapapun, “Yang penting kita bergerak,“ akunya.

Percakapan kami pun berlangsung seru, di mana Kang Yana menceritakan apa-apa saja yang telah dicapai Desa Mandalamekar sejak menerapkan Teknologi Informasi Komunikasi (TIK). Program penerapan Teknologi Informasi Komunikasi (YIK) yang dicanangkan di Desa Mandalamekar adalah program Mandalamekar Goes Open Source (MGOS). Aplikasi teknologi Open Source ini dikembangkan oleh tim MGOS yang kebetulan pemuda Desa Mandalamekar. Dengan pendampingan dari aktivis Infes dan Jogja Goes Open Source (JGOS), aplikasi sistem operasi dikembangkan oleh Desa Mandalamekar bernama Gethux Siga Ruyuk 1.0. Nama tersebut bisa diartikan meraih kemerdekaan ala masyarakat belukar atau kampung. Harapannya dengan aplikasi ini dapat  menjadikan Bahasa Sunda sebagai bahasa computer. Sehingga diharapkan banyak warga yang semakin melek media dan teknologi Informasi Komunikasi (TIK).

Pengembangan sistem operasi Gethux Siga Ruyuk 1.0 diadopsi dari keberhasilan Desa Melung, di Banyumas yang juga rekan sesama Desa Mandalamekar dalam menggagas Gerakan Desa Membangun, di mana Desa Melung telah berhasil menciptakan aplikasi sistem operasi pengembangan Open Source Gethux berbahasa Banyumas-an. Wah, aku semakin tertarik dengar cerita Kang Yana, apalagi dengan keterbatasan yang ada di desanya tak menyurutkan langkahnya untuk memajukan desa.

Awalnya bukan perkara mudah untuk berkenalan dengan teknologi informasi karena menurutnya sekitar 2-3 tahun yang lalu masih banyak warga desa yang belum mengerti teknologi ICT. Dan berita-berita untuk dimuat di blog desa dikirim via email ke admin yang berdomisili di Papua. Nah, aku penasaran, lah kan di desa saja sulit mengakses internet, juga belum banyak warga yang mengerti, lalu bagaimana keefektifitasan dan manfaat blog tersebut bagi warga.

Kang Yana dengan gamblang mengatakan, “Bahwasanya karena keterbatasan infrastruktur internet, Radio Ruyuk FM-lah yang menjadi tumpuan informasi bagi warga”. Lebih lanjut Kang Yana, mengemukakan, informasi yang disalurkan ke Radio Ruyuk FM sekaligus sebagai ajang promosi desa ke pihak luar. Radio Ruyuk FM yang digawangi oleh Kang Yana ini biasanya menginformasikan pemerintahan, kebijakan publik, informasi pajak, PNPM Mandiri, pertanian, konservasi alam dan pelestarian budaya. Program berbahasa Sunda, merupakan program unggulan di Radio Ruyuk FM, karena banyak diminati warga Mandalamekar. Lagipula saat ini fasilitas internet sudah dapat terjangkau di Desa Mandalamekar, di mana sebelumnya, 2-3 tahun lalu harus bersusah payah ke kota untuk mengakses internet. Kini tinggal mencari sinyal di sawah dengan menggunakan laptop beserta modem internet sudah dapat terkoneksi.

Aku bersama Kepala Desa Mandalamekar yang juga penyiar Radio Ruyuk FM, Yana Noviadi

Mendengar itu, aku teringat dengan cerita di film karya sutradara Iran, Abbas Kiarostami. Dalam filmnya Abbas menceritakan seputar dampak teknologi bagi masyarakat pedesaan di Iran. Bagaimana masyarakat berkenalan, mengoperasikannya dan tentunya mendefinisikan teknologi sesuai dengan karakteristik masyarakat setempat.  Contohnya yang sesuai dengan keterbatasan infrastruktur teknologi informasi komunikasi adalah mencari tempat yang bagus mencari sinyal. Kalau di Desa Mandalamekar, tempat favoritnya adalah sawah, sedangkan di film karya Abbas Kiarostami yang berjudul The Wind Will Carry Us adalah perbukitan nan tinggi.

Maklum, film itu dibuat tatkala dunia secara global pada akhir tahun 1990-an jelang tahun 2000 mengalami globalisasi telekomunikasi melalui telepon selular. Hadirnya telepon selular adalah barang baru, apalagi adanya keterbatasan infrastruktur telekomunikasi ketika itu. Nah, melalui terobosannya ini Kang Yana berhasil dan menuai virus di desa-desa lainnya, di mana Kang Yana saat ini aktif sekali menjadi agen penggerak perubahan terutama bagi penerapan Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) berbasis Open Source. Dengan penuh semangat dan senyum keramahannya Kang Yana juga menceritakan kepada aku tentang keberhasilannya membangun Sistem Informasi Desa (SID) yang kini jadi proyek percontohan Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya.

Mengenai program ini Kang Yana mengatakan, “Asalnya dari akar rumput, yakni dari warga Desa Mandalamekar sendiri. Artinya bersifat bottom-up. Sudah saatnya kita berinisiatif tanpa harus menunggu perintah dari atas, bisa saja perintah dari atas tersebut tak sejalan dan bahkan bertentangan dengan kebutuhan warga.”

Hal yang menarik dari Kang Yana adalah idenya tentang bagaimana membangun kapasitas desa. Maka dari itu, ia mencetuskan Gerakan Desa Membangun,  “Nah, mungkin artinya lain kalau redaksinya dibalik ,semisal Gerakan Membangun Desa.” Aku kira inilah yang dimaksud Kang Yana tentang kemandirian desa untuk tidak bergantung ke atas. Yah, logika bottom – up tadi jawabannya. Kalau membangun desa bisa diartikan, desa hanya jadi obyek pembangunan yang digariskan oleh pemerintah di atasnya, maka Gerakan Desa Membangun bisa diartikan posisi desa menjadi subyek pembangunan di mana kemandirian desa untuk mampu membangun kapasitas diri sendiri tanpa harus memiliki ketergantungan kepada orang lain.

Obrolan-obrolan kami berdua semakin seru saja, banyak hal baru yang aku ketahui dan itu sangat menggugah. Betapa hebatnya kerja kolaboratif yang dilakukan Kang Yana untuk menghimpun beberapa desa dalam Gerakan Desa Membangun. Tak kurang ada sekitar 100-an desa yang bersebar di wilayah selatan Jawa (Jawa Barat, Jawa Tengah dan DI Yogyakarta) berpartisipasi dalam Gerakan Desa Membangun. Kang Yana dengan lugas menyatakan bahwasanya Gerakan Desa Membangun adalah sebuah semangat untuk berkembang. Karena desa memiliki potensi dan kemampuan untuk berdaya.

Gerakan ini bisa dilihat sebagai inisiatif dalam rangka cetak biru Visi Desa Mandiri 2025 yang dicanangkan Pemerintah Pusat dan Kang Yana sudah bertindak step by step dalam mewujudkan cetak biru tersebut. Selain itu, gerakan ini kiranya dapat meminimalisir jargon-jargon politik para politikus, karena saya adalah kepala desa yang dipilih masyarakat, bukan seorang politikus, “ tegas Kang Yana.

Dalam program Gerakan Desa Membangun, berisi beberapa program di antaranya adalah kemandirian teknologi informasi komunikasi (TIK) dengan berbasis sistem teknologi Open Source. Kemandirian pangan, dan kemandirian energi. Dalam dua bulan mendatang, tepatnya awal bulan Juni, dari tanggal 2-5 Juni 2012 di desa Mandalamekar akan diselenggarakan Festival Jawa Selatan (Jadulfest).

Festival ini didukung dan diramaikan dari berbagai perwakilan desa-desa seantero pesisir selatan Jawa. Kegiatan yang berlangsung akan diisi dengan program seminar, semiloka, lokakarya, pertukaran informasi di antara masing-masing desa. Membangun kerjasama dan jejaring antar desa, menyikapi pembangunan infrastruktur desa, pertukaran komoditas desa seperti hasil-hasil pertanian, perikanan dan peternakan, juga komoditi unggulan lainnya seperti, home industry. Dengan adanya pertukaran informasi dan komoditi diharapkan bisa menciptakan geliat perekonomian di desa.

Begitupun dengan pemanfaatan teknologi ICT (Information Communication Technology,  terutama bagi penerapan Sistem Informasi Desa (SID). Menurut Kang Yana, dengan adanya SID ini diharapkan tidak lagi manual sehingga dapat mengirit kertas. Ketika informasi bejalan lebih cepat, ini berdampak pada implementasi KIP (Keterbukaan Informasi Publik-red). “Prinsipnya adalah transparansi dalam pemerintahan desa,” aku Kang Yana.

Wah-wah, Kang Yana memang super deh, aku benar-benar kagum sama daya energi beliau. Bayangkan di tengah keterbatasan infrastruktur, Kang Yana membuktikan, justru dengan keterbatasan dan ketertinggalan yang ada menjadikan sebuah aset, begitu Kang Yana menyebutnya dan atas keterbatasan itu tadi saat ini apa yang dilakukan oleh Kang Yana. Aku kira sudah melampaui capaian-capaian yang mungkin di luar perkiraannya, terbukti Kang Yana mendapatkan sebuah achievement awards dari Seacology—sebuah lembaga dari Amerika Serikat atas totalitas membangun desanya sendiri. Ia juga mendapat hadiah sebesar 10 ribu dollar AS untuk pengembangan desa. Tak berhenti di desanya saja, Kang Yana juga menyebarkan virusnya ke desa-desa lain, sehingga terciptakan sebuah gerakan masif yang aku kira sangat berdampak bagi masa depan desa di Indonesia dengan kekuatannya sendiri yang dapat menunjukkan bahwa desa mampu membangun dirinya sendiri. Baiklah aku sudahi dulu cerita tentang geliat Kang Yana.

Aku pun tak ketinggalan untuk mengobrol lebih jauh kepada seorang anak muda yang juga tak kalah hebatnya, namanya Arie Syarifuddin, dia dikenal dengan nama Al-Ghorie. Entahlah kenapa begitu, aku pun baru tahu kalau nama sebenarnya demikian dan tak ambil pusing sejarah nama Al-Ghorie yang disandangnya. Ia menceritakan kepadaku pengalaman bermedia di daerahnya, Desa Jatiwaras, Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka Jawa Barat.

Bermula dari penyelenggaraan Village Video Festival 2011 pada tanggal 18-31 Desember 2011, Al-Ghorie dan kawan-kawan menyelipkan satu program, namanya TV Program. Program ini bermula secara tidak sengaja dari salah seorang warga desa yang membuat stasiun pemancar televisi yang bisa dijangkau siarannya ke beberapa desa tetangga dengan radius 2 km. Akhirnya berangkat dari situ, dibuatlah sebuah program televisi yang mempunyai kelanjutan dari Festival ini.

Pada perhelatan itu, sekaligus diluncurkan secara perdana Jatiwangi Art Factory Televisi (JAFTV). Al Ghorie memberikan contoh seperti program How To. Program ini difasilitasi oleh SERRUM, sebuah program edukasi bagaimana cara membuat sesuatu. Nah, Al Ghorie menceritakan kepada aku tentang salah satu video yang dibuat yakni How To Bikin WC Yang Sederhana. Dalam video ini diceritakan tentang dolbon—modol di kebon, yang artinya buang air besar di kebun. Video yang dibuat ini ternyata efektif merubah perilaku warga yang biasa buang air besar di kebun dan beralih ke WC yang dibuat secara sederhana dan ramah lingkungan. Program-program JAFTV juga efektif dalam mensosialisasikan pembuatan e-KTP, liputan Rakor (Rapat Koordinasi) Camat Jatiwangi.

Menurut Al Ghorie informasi yang disampaikan sangat efektif diterima warga, juga Pak Kapolsek tidak ketinggalan untuk mejeng di televisi dengan membuat video penanaman pohon dari lahan yang menganggur. Televisi yang jam siarnya mulai beroperasi pada pukul 10.00 -12.00 WIB, pukul 15.00-18.00 WIB dan malam hari pukul 19.00-22.00 WIB ini masih memiliki stok materi siaran yang terbatas dan sering diulang-ulang dalam menyiarkannya. Namun kedepannya selama kurang lebih tiga bulan beroperasi, JAFTV berupaya membenahi program-programnya. “Perlu digarisbawahi, yang penting ada kemauan warga bikin program ,” tandas Al-Ghorie.

JAFTV sendiri mempunyai tageline, Pareuman Bae, artinya Matikan Saja. Tageline ini adalah sebuah kampanye penyadaran ke warga agar mematikan televisi, “Ha..ha.. kita sebagai stasiun TV tapi nyuruh penonton matiin TV,“ tawa Al Ghorie.  Kedepannya JAFTV akan menayangkan perhelatan ulang tahun Desa Jatisura ke-100 pada tanggal 4-5 Mei 2012, Jatiwangi Residency Festival pada bulan Juni 2012. Kemudian di bulan November 2012, Jatiwangi ada penyelenggaraan Ceramic Music Festival, dan tentunya disiarkan oleh JAFTV,“ Al Ghorie menutup percakapan.

Arie Syarifuddin a.k.a Al-Ghorie memberikan pengalamannya dalam program JAFTV

Ya, bagiku pada perhelatan Festival Jurnalisme warga adalah hari yang sangat berkesan. Aku berkenalan dengan orang-orang baru dan pengalaman-pengalaman baru dari para penggiat media komunitas. Penting artinya, di sini bukan hanya untukku saja melainkan bagi proses demokratisasi bermedia di Indonesia. Semangat independen, mandiri, dan progresif ini semakin teraksentuasi tatkala di antara para penggiat berkolaborasi dan membentuk sebuah jejaring, bak sebuah nebula yang merangkai di antara kepingan-kepingan mikrokosmos untuk menjadi besar dan kuat. Ya, Indonesia adalah negeri yang dianugerahi alamnya nan elok bak zamrud khatulistiwa, ternyata masih menyimpan potensi kreatif yang berlimpah dari warga negaranya. Potensi kreatif inilah yang dioptimalisasikan oleh sebagian para penggiat media komunitas untuk Do Something kepada siapapun juga.

Terlepas dari kepentingan anasir-anasir politik yang semakin reduksionistis, institusionalis dan proseduralistis, temu komunitas dari para penggiat media komunitas adalah semacam gerakan snow ball yang digelindingkan oleh Kang Yana Noviadi, dan yang lainnya untuk menjadi bola yang besar. Sehingga berdampak bagi perbaikan kualitas hidup masyarakat. Di tengah kacau balaunya elit politik negeri ini, ditambah buruknya kualitas tayangan televisi, penguasaan opini publik oleh media mainstream yang berselingkuh dengan kepentingan elit politik tidak hanya memperburuk kualitas informasi yang disajikan. Melainkan semakin mendevaluasi nilai-nilai demokrasi dan mengkerdilkan pemaknaan politik itu sendiri.

Politik telah dimaknai sesempit pandangan elit yang hanya berkutat pada aspek instrumental prosedural semata. Tak hanya elit politik saja, media arus utama juga bertanggung jawab atas distorsi pemaknaan politik, begitupun dengan cendekiawan dan akademisi yang cuma berkutat di menara gading teori dan senyapnya ruang akademik.  Namun dalam konteks ini, apa yang dilakukan oleh sebagian warga  yang bergeliat di lapangan inovasi sosial (social innovation realm), politik dimaknai untuk kemaslahatan bersama, hidup bersama dan mencapai kesejahteraan bersama. Pengalaman-pengalaman para penggiat media komunitas di lapangan patut mendapat apresiasi yang mendalam. Karena informasi di deliver sebagaimana mestinya, tanpa tendensi ekonomi-politik yang sempit melainkan mengabdi untuk kepentingan publik—kepentingan warga. Dan aku pun turut merasa terharu atas kontribusi dan energi kreatif para penggiat media komunitas. Tabik.

About the author

Avatar

Renal Rinoza

Renal Rinoza lahir di Jakarta, 8 Maret 1984. Tahun 2004 kuliah di Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, lulus tahun 2010 dan di tahun 2007 sempat kuliah Filsafat Barat pada Program E.C Ilmu Filsafat Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara Jakarta. Aktif di Komunitas Djuanda, sebuah kelompok studi sosial dan budaya berbasis media yang mengembangkan potensi media komunikasi seperti teks, video, fotografi dan material media komunikasi lainnya. Menulis kajian sinema, video dan kebudayaan visual di jurnalfootage.net. Bersama akumassa.org, menulis aneka tulisan feature berbasis jurnalisme warga dan bergiat sebagai Peneliti/Pemantau Program Pemantauan Media Akumassa di daerah Kota Tangerang Selatan.

3 Comments

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.