Jurnal Kecamatan: Rangkasbitung Kota/Kabupaten: Lebak Provinsi: Banten

Bentengan

Avatar
Written by Badrul Munir

Bentengan. Ya, bentengan! Konon katanya memiliki terowongan yang menembus ke bentengan lainnya. Salah satu bentengan dari tiga bentengan yang berada di kota Rangkasbitung berada di jalan Kitarung. Masih berdiri kokoh walau usianya mungkin diperkirakan sudah ratusan tahun. Tidak ada sumber yang pasti bisa menjelaskan kapan tempat ini dibangun. Perkiraanku, dibuat pada masa penjajahan Belanda.

bentengan1

Tertimbun tanah, Bentengan di Kampung Muhara.

Bentengan ke dua berada di sungai Kalimati. Kini sudah terendam oleh sungai Ciberang dan limbah. Tapi sesekali menampakan wujudnya jika aliran sungai surut. Yang terakhir berada di kampung Sentral yang masih terlihat utuh mirip seperti yang berada di kampung Muhara di jalan Kitarung.

Pada masa kecil, bentengan-bentengan ini mempunyai mitos yang sangat menakutkan. Katanya di situlah para penjajah mengintai para pejuang dan menembakinya. Mayatnya dibuang begitu saja di sekitar bentengan yang memunculkan hawa mistis begitu kuat. Bagiku, cerita itu hanya sebuah khayalan dan tidak masuk akal. Ini aku rasakan ketika aku beranjak remaja. Setelah diamati, tempat ini hanya sebuah terowongan lintas sungai dan posisinya berfungsi sebagai pemantau debit air sungai.

Jika aku pulang dari aktivitas keseharian, hal ini terlihat jelas karena letaknya persis di samping jalan Kitarung (dekat sebuah pemakaman umum di kampung Muhara Kebon Kelapa tempat aku tinggal). Menurut beberapa cerita, bentengan itu dulu digunakan oleh penjajah untuk menyimpan persediaan persenjataan dan makanan. Tempat ini juga digunakan untuk mengintai dan mengawasi wilayah di sekitar yang merupakan perkebunan kelapa milik Belanda. Kalau dihubungkan dengan titik-titik posisi bentengan ini, letaknya tidak berjauhan. Jadi ada pikiran bahwa bentengan itu memiliki terowongan yang menembus ke bentengan lainnya. Ini merupakan jalur untuk menghindari gempuran dari para pejuang kemerdekaan yang menyerang tanpa dapat diperkirakan sebelumnya. Tapi cerita keberadaan terowongan tersebut tidak dapat dibuktikan kebenarannya.

Pada tahun 1980 hingga 2000, bentengan yang berada di kampung Muhara jadi tempat pembuangan sampah. Menurutku mungkin untuk menutup pintu bentengan agar tidak dimasuki oleh anak-anak yang sering bermain di sekitarnya. Sekarang, karena sudah penuh oleh sampah maka tidak digunakan lagi menjadi tempat pembuangan sampah. Hanya ada sisa abu dari pembakaran sampah yang dulu dibuang di bentengan tersebut.

Pada dinding tebalnya, masih terlihat sisa-sisa bekas tembakan. Ketebalan tembok bentengan sekitar 1 meter lebih. Atapnya masih kokoh yang terbuat dari beton terbentang. Kadang digunakan oleh anak muda kampung untuk bermain kartu gaple (domino) dan kartu remi. Atau hanya dipakai nongkrong sambil bernyanyi-nyanyi diiringi gitar akustik. Atap bentengan di Muhara bisa dijadikan tempat nongkrong, karena kekokohannya. Diduga bentengan ini bisa menampung ratusan orang bahkan lebih dan bisa menyimpan makanan serta persenjataan dalam jumlah besar. Kini, di sekitar bentengan banyak yang tertimbun tanah. Bangunan ini mempunyai sebuah tangga yang cukup tinggi untuk naik ke atas atapnya.

Sekarang bentengan jadi tempat untuk corat-coret anak-anak muda yang berada di sekitar Muhara. Bentengan ini sudah dilupakan masyarakat. Salah satu dari tiga bentengan yang ada di Rangkasbitung, bentengan yang terletak di Muara jalan Kitarung sudah tertimbun tanah. Dia hanya menjadi saksi bisu dari regenerasi manusia di sekitarnya. Itu adalah kelalaian yang serius bagiku dan masyarakat. Jelas kelalaian itu terasa sekarang dan harus ditebus mahal. Sulit untuk mencari keterangan yang akurat mengenai sejarah bentengan. Sekali waktu aku pernah mencoba menanyakan pada orang tuaku dan kakek kawanku bernama Dableng yang berumur panjang. Tapi yang didapat hanya cerita mistis tentang tangisan tak terlihat dari bentengan. Atau cerita yang sulit diterima akal sehat tentang tembusan terowongan bentengan hingga sampai ke negeri Arab.

About the author

Avatar

Badrul Munir

Dilahirkan pada 16 April 1978. Menyelesaikan studi Hubungan Masyarakat di LP3I tahun 2000 dan studi Ilmu Dakwah di STITDA – Lebak tahun 2008-2009. Pengajar ilmu Bahasa Inggris di STKIP Banten & STIB Pandeglang. Pernah mengikuti workshop akumassa dan terlibat dalam produksi filem dokumenter Dongeng Rangkas.

1 Comment

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.