Jurnal Kecamatan: Pemenang Kota/Kabupaten: Lombok Utara Provinsi: Nusa Tenggara Barat

Melihat Lombok Lewat Bangsal Menggawe

Setiap kali mendengar nama Pulau Lombok, pikiran saya tidak bisa tidak mengiangkan kata “Tiga Gili” dan “Pantai Senggigi”. Sebagaimana sebagian besar orang-orang yang berada di luar Pulau Lombok dan terlebih yang beraktivitas di Jakarta, Lombok bagi saya pun telah sangat terkenal sebagai sebuah destinasi wisata. Bagaimana tidak? Setiap kali mengetik kata “Lombok” pada mesin pencari di internet, hasil pencarian teratas selalu menampilkan keterangan-keterangan seputar pantai-pantai dan tempat-tempat yang tampak memesona untuk dikunjungi sebagai lokasi berlibur saja. Akan tetapi, hafal soal destinasi wisata di Lombok tentu tak lantas membuat kami yang tidak berasal dari Lombok turut melek akan dinamika dan ragam kultur di sana meski sama-sama hidup dalam naungan satu konstitusi negara. Rezim pengetahuan berbasis internet, yang bisa menjadi jembatan atas penghalang geografi antarwilayah, rupanya belum tentu mampu memandirikan distribusi jenis dan bentuk pengetahuan secara setara. Ia membuat masyarakat seringnya melek masih pada isu yang terbatas saja.

Pembacaan “Wasiat Pemenang” oleh Tuan Guru Dr. H. Lalu Muchsin pada acara puncak Bangsal Menggawe di Pelabuhan Bangsal, Kecamatan Pemenang, Lombok Utara. (Foto: Hafiz Rancajale @hafizrancajale).

Perkenalan dengan Forum Lenteng kemudian mendorong saya untuk mengetikkan kata kunci yang lain pada mesin pencari di internet terkait Pulau Lombok, yaitu “Bangsal Menggawe”. Disusun dari kata “Bangsal” yang berasal dari nama Pelabuhan Bangsal, yang umumnya lebih dikenal orang-orang sebagai salah satu titik tolak penyeberangan utama dan terdekat menuju tiga Gili (Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air) yang terkenal, Bangsal Menggawe sebetulnya tidak semata-mata menyoal wisata Lombok saja. Justru, ia adalah sebuah pesta rakyat, sebagaimana kata “Menggawe” yang memang berarti berpesta, serta sebuah wadah penyaluran ekspresi kultural warga lokal di sekitar Pelabuhan Bangsal, khususnya warga kecamatan Pemenang, Lombok Utara. Acara ini diinisiasi oleh dan untuk warga lokal.1

Anggota Pasirputih ketika rapat menggagas Bangsal Menggawe 2017 di malam hari tanggal 28 Januari 2017. (Foto: Pasirputih).

Diselenggarakan sebagai program utama komunitas Pasirputih secara tahunan, ini adalah tahun kedua penyelenggaraan Bangsal Menggawe. Pada tahun sebelumnya, Otty Widasari bersama Arief Yudi sebagai kurator, menjadikan “Membasaq” yang artinya ‘bersama-sama membasuh diri’ sebagai tema perdana Bangsal Menggawe.2 Menurut cerita Otty, membasaq sebetulnya merupakan sebuah tradisi mandi air laut beramai-ramai yang dilakukan di Pelabuhan Bangsal. Orang-orang Pemenang yang menganut agama Hindhu, Islam, dan Budha Sasak sama-sama percaya bahwa air laut di Bangsal memiliki khasiat untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit. Beberapa artikel memang menyebutkan bahwa membasuh diri menggunakan air laut, terutama yang masih bersih dari polusi, dapat memberikan berbagai manfaat bagi kesehatan tubuh. Namun, seiring dengan kehadiran pariwisata dan turisme yang masif, tradisi membasaq justru kian menjadi tradisi yang makin jarang dilakukan. Berangkat dari fenomena tersebut, Bangsal Menggawe pertama dilaksanakan sebagai sebuah pesta rakyat yang mengembalikan ekspresi tradisi masyarakat lokal yang telah banyak digeser oleh kehadiran industri turisme.

Kurator Bangsal Menggawe 2017: Muhammad Sibawaihi, Pasirputih (kiri), dan MG Pringgotono, Serrum Jakarta (kanan). (Foto: Manshur Zikri @manshurzikri).

Melanjutkan semangat tahun sebelumnya, pada tahun 2017 ini Bangsal Menggawe dalam kuratorial Muhammad Sibawaihi dan MG Pringgotono mengangkat tema “Siq-Siq O Bungkuk”. Mulanya kata ini sungguh terdengar aneh namun familiar. Aneh karena ini adalah kali pertama saya mendengar kata ini, namun familiar karena kesan jenaka dan kanak terus menjejak di kepala saya ketika mendengarnya. Bertanya pada Sibawaihi, kurator Bangsal Menggawe 2017 yang merupakan Direktur Program Pasirputih, saya mendapatkan keterangan bahwa siq-siq o bungkuk berarti ‘orang-orang yang berlapang dada’. Istiliah itu juga berasal dari sebuah lagu permainan anak-anak. Masih penasaran, maka saya melanjutkan pencarian lewat mesin pencari internet untuk menggali tentang siq-siq o bungkuk.

Sketsa interpretasi tentang “siq-siq o bungkuk”. (Foto: Pasirputih).

Hasil pencarian rupanya selalu terkait dengan peristiwa Bangsal Menggawe 2017. Sebuah tulisan dari situs www.pasirputih.org mengungkapkan bahwa siq-siq o bungkuk merupakan bentuk penghormatan warga Pemenang terhadap satu sama lain dan berkaitan pula dengan bangunan rumah orang Lombok zaman dahulu yang memiliki pintu berukuran pendek sebagai penghormatan tamu yang datang pada empunya rumah.3 Di artikel lain dalam situs yang sama juga diungkapkan bahwa kata siq-siq o bungkuk dikutip dari sebuah lagu pengiring permainan anak yang terkenal pada era 1980-an hingga awal 2000-an.4 Namun, sebagaimana berbagai tradisi lokal yang bergeser ketika teknologi baru berkembang, permainan tradisional ini pun turut menjadi bagian dari tradisi yang cenderung tak lagi banyak dipraktikkan.5 Keseharian anak-anak dan remaja sudah cenderung lebih sibuk bergaul dengan gawai pintar.

Siq Siq O Bungkuk! 🎥 : @klmrm #pasirputih #lombok #pemenang #siqsiqobungkuk

A post shared by Ika Yuliana Rusiadi (@ikanation) on

Menambahkan penemuan tersebut, Sibawaihi, dalam perbincangan kami di suatu malam yang larut minggu lalu, bercerita bahwa siq-siq o bungkuk sebetulnya dimaknai lewat beragam perspektif oleh tiap-tiap tokoh dari tiap-tiap desa. Menurutnya, ragam perspektif ini juga tak lepas dari jejak masa lalu ketika tiap-tiap desa di Pemenang sebetulnya tidak bisa berdiri sendiri secara utuh, melainkan saling terkait satu sama lain dalam mendukung fungsinya masing-masing. Namun secara umum, siq-siq o bungkuk adalah sebuah istilah yang mampu mencerminkan suatu karakter manusia yang mampu berlapang dada, memahami momen, dan mampu mempergunakan momen tersebut sebaik mungkin sebagai sebuah kesempatan.

Dimulai sejak residensi seniman pertama pada Februari 2017, proses Bangsal Menggawe melibatkan sebelas seniman yang berasal dari berbagai kota di Indonesia. Mereka adalah Andreas Siagian dan Nia Agustina dari Yogyakarta; Citra Sasmita dari Bali; Irawita, Serrum dan The Popo dari Jakarta; serta Fatih Kudus Jaelani, Hamdani, H. Muzhar, Daniel Emet, dan Zakaria dari Lombok. Karya yang dihasilkan, antara lain kegiatan mural di dinding-dinding gedung di jalanan sekitar Bangsal, kegiatan Pasar Ilmu, pertunjukan dan pembacaan puisi, dan pelepasan lentera, membuat Wayang Karsunda, presentasi karya seni media berupa instalasi video, pentas monolog, pembuatan buku saku untuk kusir cidomo, serta berbagai lokakarya bersama beragam komunitas yang melibatkan warga Pemenang. Kegiatan presentasi karya dilakukan sejak 28 Maret 2017 hingga puncaknya pada 2 April 2017.

Irawita (seniman teater) berlatih teater dengan Komunitas Danger di markas Komunitas Danger, Dusun Karang Desa, Desa Pemenang Barat, Kecamatan Pemenang, Lombok Utara. (Foto: Pasirputih).

Citra Sasmita (seniman lintas media) melakukan lokakarya pembuatan Wayang dari barang bekas bersama warga di Dusun Karang Subagan Daya, Desa Pemenang Barat, Kecamatan Pemenang, Lombok Utara. (Foto: Pasirputih).

Serrum (kolektif seni yang berbasis di Jakarta) saat melakukan Diskusi Kelompok Terarah (Focus Group Discussion) bersama guru-guru sekolah di Kecamatan Pemenang tentang kurikulum pendidikan lewat proyek Kurikulab. (Foto: Pasirputih).

Hamdani (seniman video) berkolaborasi membuat karya video dengan remaja-remaja di Kecamatan Pemenang, Lombok Utara. (Foto: Pasirputih).

H. Muzhar (pelukis) saat membuat lukisan “Siq-Siq O Bungkuk” di rumahnya, Dusun Menggala, Desa Pemenang Barat, Kecamatan Pemenang, Lombok Utara. (Foto: Pasirputih).

Nia Agustina (penari) saat sedang latihan “Tari Mempolong” bersama remaja-remaja yang mewakili masing-masing agama (Hindu, Budha, dan Islam) di Kecamatan Pemenang, Lombok Utara. (Foto: Pasirputih).

Popo (street artist) berkolaborasi dengan Lombok Street Art, BON, dan Pena Lombok untuk merespon gedung Tempat Evakuasi Sementara (TES) Tsunami, Kecamatan Pemenang, Lombok Utara. (Foto: Pasirputih).

Andreas Siagian (seniman lintas media) berkolaborasi dengan pemuda-pemuda di Dusun Menggala, Desa Pemenang Barat, Kecamatan Pemenang, Lombok Utara. (Foto: Pasirputih).

Fatih Kudus (penulis) berkolaborasi dengan tokoh-tokoh pemuda di Kecamatan Pemenang untuk membuat “ikrar mempolong”. (Foto: Pasirputih).

Daniel Emet (street artist) berkolaborasi dengan perhimpunan cidomo untuk menggagas “Kusir Idaman”. (Foto: Pasirputih).

Zakaria (seniman rudat) saat sedang rapat untuk menggagas proyek “Rudat Massal”, berkolaborasi dengan sekolah-sekolah di Kecamatan Pemenang. (Foto: Pasirputih).

Pertandingan pertama pada acara Bangsal Cup, bagian dari rangkaian acara Bangsal Menggawe 2017: Siq-Siq O Bungkuk. (Foto: Andreas Siagian @squaresolid).

Saya kebetulan hanya hadir pada puncak acara di tanggal 2 April. Sejak pagi, rumah komunitas Pasirputih sudah riuh dengan panitia yang bersiap. Kambing-kambing calon hadiah pemenang Bangsal Cup tampak terparkir di halaman, tengah merumput dengan lahap. Beberapa kawan lelaki terlihat menenteng sarung dan pakaian berwarna hitam khas Lombok, begitu pula para kawan perempuan. Pukul 2 siang, Siba mengajak saya menuju Lapangan Guntur Muda tempat acara puncak akan dimulai.

Selama lebih dari dua jam, Pemenang terus diguyur hujan. Kami terpaksa menunggu dalam kurun waktu tersebut. Sempat saya kira bahwa hujan ini akan memukul mundur warga dan peserta pawai yang sudah berkumpul di Lapangan Guntur Muda. Tapi dugaan saya meleset total. Di tengah deras hujan dan lapangan yang kian banjir, semua orang masih tetap berdiri teguh menunggu dimulainya puncak Bangsal Menggawe 2017. Anak-anak dalam pakaian marching band-nya masih memainkan musik di tengah guyuran hujan.

“Pasar Ilmu”, proyek yang digagas oleh Serrum, dipresentasikan di Kecamatan Pemenang dengan berkolaborasi dengan Madun (pemusik lokal) dalam rangka Bangsal Menggawe 2017. (Foto: Pasirputih).

Lukisan “Siq-Siq O Bungkuk” karya H. Muzhar dipamerkan di perempatan Pemenang, di samping jalan yang menuju ke Pelabuhan Bangsal. (Foto: Pasirputih).

“Wayang Karsunda” (2017) karya Citra Sasmita dan warga Dusun Karang Subagan Daya, Desa Pemenang Barat, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara. (Foto: Manshur Zikri).

Pertunjukan Monolog “INAQ” (2017). Karya kolaborasi antara Irawita (Penulis Naskah/Sutradara) dan Martini Supiana (pemeran), salah satu warga di Kecamatan Pemenang, Lombok Utara. (Foto: Manshur Zikri).

Lomba Kusir Idaman “Silaq Polong Ta Pada Beriuq” (2017), proyek seni karya warga Pemenang, khususnya kusir cidomo, berkolaborasi dengan Daniel Emet. (Foto: Manshur Zikri).

“Pemuda Pemenang Versus Masa Depan”, buku hasil kolaborasi antara pemuda-pemuda di Pemenang dengan Fatih Kudus Jaelani. Buku ini merupakan hasil pembacaan Fatih terhadap pergerakan komunitas-komunitas di Pemenang. (Foto: Pasirputih).

Sekitar pukul 15.30, microphone akhirnya digilir kepada tamu undangan tertentu untuk memberi sambutan. Lalu Rudat Massal karya bapak Zakaria pun dimulai. Tarian yang memiliki cita rasa silat ini dilakukan serempak oleh beberapa sekolah mulai dari tingkat Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas yang hadir di Lapangan Guntur Muda, masih dengan guyuran hujan. Beberapa kawan dari luar kota juga ada yang mendadak berhujan-hujan turun ke lapangan untuk ikut merudat massal. Seorang kawan yang turut turun merudat massal berkata bahwa peristiwa ini sepertinya lebih seru daripada konser Coldplay yang tengah digelar di negeri tetangga.

Usai merudat bersama-sama, seluruh peserta acara puncak Pesta Rakyat Bangsal Menggawe: Siq-Siq O Bungkuk melakukan pawai. Rengka atau sesaji persembahan yang dibuat warga, kemudian diusung dan diarak mengikuti jalur pawai. Siba mengakatan bahwa rengka pada Bangsal Menggawe tahun sebelumnya dibuat oleh komunitas Gerbong Tua. Namun tahun ini, ada beberapa rengka yang dibuat oleh warga dari beberapa dusun dan keseluruhan rengka berjumlah lima buah. Rengka-rengka tersebut, selain mencerminkan ekspresi estetik warga, juga berbicara tentang gagasan Pasirputih mengenai representasi tradisi maupun kultur dari masing-masing dusun. Teluk Kombal, misalnya. Datang paling awal, muda-mudi dusun ini mengusung sebuah rengka berbentuk kapal sebagai representasi profesi nelayan dari Teluk Kombal. Sedangkan Karang Subagandaya, mereka membawakan rengka berbentuk rumah sebagai representasi lumbung penyimpanan di sana. Iring-iringan rengka itu bersama marching band dan murid-murid sekolah kemudian bergerak menuju Pelabuhan Bangsal. Hujan yang tidak kunjung berhenti tidak menghentikan rombongan yang juga berisi anak-anak ini untuk menyanyi dan menari sepanjang jalan. Pesta kami disaksikan oleh berpasang-pasang mata warga yang tak bisa saya hitung jumlahnya. Semua saling mengatur barisan dan menggerakkan diri untuk mencapai titik temu di Bangsal.

Rengka Teluq Kombal, salah satu rengka yang dibuat oleh warga di Kecamatan Pemenang. (Foto: Pasirputih).

Jika dulu penyeberangan di Bangsal sempat ditutup sesaat untuk Bangsal Menggawe, kali ini siq-siq o bungkuk dituntaskan dengan keberadaan rutinitas pariwisata seperti biasanya. Pembacaan Wasiat Pemenang lantas dilakukan dengan dipimpin oleh Ketua Kerukunan Umat Beragama DR. H. Lalu Muchsin. Dilanjutkan kemudian dengan Ikrar Pemuda Pemenang, pembacaan Surat Kepada Angin, penampilan Tari Keberagaman atau Tari Mempolong hingga Pertandingan Final Bangsal Cup. Seluruh rangkaian kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi antara warga lokal di Kecamatan Pemenang dan para seniman residensi yang diundang Pasirputih. Tari Mempolong karya Nia Agustina, sebagai salah satu contoh, berbicara tentang ajaran agama-agama yang dulu ada di Pemenang dan saling bersinggungan namun kini menjadi terpisah akibat dinamika politik dari luar Pemenang. Menurut tuturan Siba, Nia mengumpulkan tiga orang dari tiga dusun dengan ajaran yang beda. Ketiga orang tersebut tidak saling kenal. Padahal dahulu, lagi-lagi menurut tuturan Siba, setiap dusun sangat saling bersinggungan dan memahami ajaran agama satu sama lain sebagai bentuk kerukunan beragama sehingga tak heran jika bangunan-bangunan agama yang berbeda berdiri damai di Pemenang sejak lama juga. Tarian yang digagas oleh Nia bersama dengan kumpulan remaja yang mewakili masing-masing komunitas agama itu pun mencoba menghidupkan kembali ide tentang saling mengenal dan saling menghargai perbedaan tersebut.

Mengalami segelintir bagian dari Bangsal Menggawe bukan cuma memberi kesenangan bergaul dengan warga dalam konteks yang tidak transaksional, tapi juga menambahkan kosakata-kosakata baru saya mengenai Lombok. Inisiasi organik ini malahan menjadi media warga untuk menuturkan dan mendengarkan cerita soal aspek sosial dan kultural di Pemenang kini, sekaligus menjadi kanal untuk membincangkan kritik. Mungkin akan sangat menyenangkan juga jika suatu saat nanti, ketika mengetik Lombok di kolom pencarian di internet, kata “Bangsal Menggawe” turut muncul sebagai salah satu penemuan teratas. Barangkali dengan demikian, maka yang datang dari berbagai pulau di Indonesia tak melulu menjadi turis di negeri sendiri dan rezim pengetahuan bisa melayani kebutuhan diseminasi informasi warga secara lebih berimbang.

Footnote   [ + ]

1. Pasirputih, “Bangsal Menggawe“, diakses dari situs web Pasirputih, 4 April 2017, pukul 12:10 WITA
2. Forum Lenteng, “Bangsal Menggawe: Membasaq“, diakses dari situs web Forum Lenteng, 4 April 2017, pukul 12:20 WITA
3. Pasirputih (31 Januari 2017), “Siq-Siq O Bungkuk Dan Para Tokoh“, diakses dari situs web Pasirputih, 4 April 2017, pukul 12.26 WITA
4. Pasirputih (30 Januari 2017), “Refleksi : Pewacanaan Lokasi Bangsal Menggawe #2 2017 “Siq Siq O Bungkuk”“, diakses dari situs web Pasirputih, 4 April 2017 pukul 13.55 WITA
5. Pasirputih, “Siq-Siq O Bungkuk Dan Para Tokoh“, op cit.

About the author

Anggraeni Widhiasih

Anggraeni Widhiasih (Sleman, 1993), meraih gelar S1 Hubungan Internasional di Universitas Paramadina tahun 2016. Saat ini ia merupakan anggota Forum Lenteng yang bertanggung jawab untuk divisi Riset dan Pengembangan, dan program Diorama. Ia pernah menjadi reporter di 4th ARKIPEL – Jakarta Documentary & Experimental Film Festival. Ia juga anggota peneliti di Koperasi Riset Purusha dan pegiat teater kafha di Universitas Paramadina.

Leave a Comment