Padangpanjang, Sumatera Barat

Uni Tina dan Cerita Rabu

Minangkabau sangat terkenal dengan makanan tradisionalnya yang khas, dia ntaranya dendeng kering dan dendeng batokok. Banyak orang bisa membuat jenis makanan yang satu ini, namun tidak semuanya menjadikan bisnis keluarga seperti yang dilakukan oleh Hj. Rostina yang telah berusia 75 tahun. Beliau adalah penjual dendeng kering yang cukup terkenal di Padangpanjang dan merupakan satu-satunya produsen dendeng rabu di Padangpanjang. Dendeng rabu merupakan dendeng yang dibuat dari paru-paru sapi. Di Minangkabau, paru disebut juga dengan rabu.

Ibu Hj. Rostina (Uni Tina)

Ibu Hj. Rostina (Uni Tina)

Beliau memulai usahanya sejak tahun 1988, yang artinya telah 20 tahun menggeluti usaha ini. Usaha ini telah menghantarkan empat orang anaknya ke jenjang perguruan tinggi. Salah satunya Emil Bustaman yang berusia 31 tahun yang saat ini meneruskan usaha dendeng Uni Tina (sapaan akrab beliau).  Bahkan berkat usahanya ini Uni Tina juga telah naik haji ke Mekah.

Setiap bulannya Ibu Rostina dapat memproduksi 300 kilogram dendeng rabu. Harga satu kilogramnya tiga ratus ribu rupiah, jika dikalikan menjadi sembilan juta rupiah perbulan. Tetapi dendeng ini pun tidak dijual per kilo semuanya. Terkadang dijual pula ke toko-toko dan warung nasi dengan harga per bungkus enam ribu.

Dendeng rabu yang telah dibungkus

Dendeng rabu yang telah dibungkus

Dendeng rabu setiap tahunnya juga dipasok ke Mekah oleh jamaah haji Indonesia. Dan beberapa pelanggan membeli dendeng ini untuk oleh-oleh kepada sanak saudara yang berada di luar daerah seperti Jawa dan daerah lainnya.

Selain itu Ibu Rostina masuk ke dalam organisasi IWAPI (Ikatan Wanita Pedagang Indonesia) cabang Padangpanjang dan telah pernah beramah tamah dengan Presiden Indonesia pada tahun 2007.

Walaupun begitu Uni Tina masih tinggal di rumah kontrakan di depan Taman Kota Padangpanjang. Di usia senjanya beliau tinggal bersama anak-anak dan cucunya yang masih tetap meneruskan usaha beliau ini.

Perkenalan ku dengan ibu yang gigih ini diawali ketika bertamu ke rumah beliau untuk membeli dendeng rabu sebagai oleh-oleh untuk tamu Teater Sakata. Di rumahnya yang sederhana beliau bekerja keras untuk menyekolahkan anak-ananknya setelah suaminya meninggal dunia. Dan kali kedua pertemuan ku dengan ibu ini adalah ketika aku tertarik untuk menjadikan profil dan usaha dendeng rabu beliau menjadi karya dokumenter untuk tugas kuliah. Maka aku pun datang kembali dan ngobrol banyak dengan beliau.

Dendeng kering

Dendeng kering

Nampak dari raut muka beliau perasaan puas dengan perjuangan hidupnya, ketika bercerita tentang sejarah panjang usaha Uni Tina yang saat ini dikelola Emil Bustamam, anak bungsunya. Beliau bercerita dengan semangat bagaimana awalnya sebelum usaha ini beliau sempat menjadi guru di salah satu sekolah Kristen di Padangpanjang. Setelah tidak mengajar lagi, beliau berdagang kain dari rumah ke rumah dengan sistem kredit. Dan disela itu beliau juga membuat makanan basah khas padang dan di jual di Pasar Padangpanjang. Bisa dikatakan beliau sangat gigih dan jeli melihat peluang usaha. Sampai akhirnya beliau mencoba membuat dendeng rabu dan dijual ke beberapa warung nasi. Resep dendeng rabu ini ia dapat dari resep khas keluarganya. Beliau asli Pariaman dan merantau ikut suami ke Padangpanjang.

Aku juga sempat ngobrol dengan pemasok bahan baku rabu (paru) ini di los penjual daging, yaitu Bapak Irwan. Beliau sangat salut atas kerja keras nenek berumur 75 tahun ini. Uni Tina sudah langganan bahan baku dendeng rabu dengan beliau sejak awal Uni Tina berusaha dendeng rabu. Bahkan Bapak irwan juga menjadi salah satu pelanggan setia dendeng rabu Uni Tina.

Selain Bapak Irwan, aku juga mewawancarai pemilik Rumah Makan Gumarang, Bapak H. Sudirman Sutan Marlaut . Pak Sudirman pernah bertanya ke beberapa rumah makan di Bukittinggi, ternyata pemasok dendeng rabu-nya juga dari Uni Tina.  Uni Tina sosok pekerja keras yang sangat ulet.

Dendeng rabu di antara masakan lainnya di Rumah Makan Gumarang

Dendeng rabu di antara masakan lainnya di Rumah Makan Gumarang

Aku juga mewawancarai tetangga lama Uni Tina yang tahu sejak awal bagaimana beliau menjalankan usaha ini, serta anak-anak yang tahu diuntung dan ikut membantu beliau walau masih kecil. Kesuksesan beliau yang tidak hanya dalam berusaha tetapi juga dalam mendidik anak-anaknya membuat aku terharu dan menjadi ingat dengan ibu ku sendiri di Padang. Bagaimana seorang ibu dapat berjuang sedemikian rupa untuk anak-anaknya agar menjadi ‘orang’.

Aku sangat terenyuh sekali ketika ngobrol dengan Uni Tina, sekaligus membuat ku sangat bersemangat untuk kerja keras. Karena seorang Uni Tina yang umurnya sudah berkepala tujuh saja masih sangat sangat bersemangat di hari tuanya.

About the author

Avatar

Gusnita Linda

Dilahirkan di Padang, pada tanggal 18 Agustus 1985. Ia kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang, jurusan Televisi dan Film, angkatan 2007. Ia aktif dalam mengurus Rumah Jamur dan berwirausaha.

5 Comments

  • Ondeh, taragak lo wak nio makan dendeng, di siko (Depok) payah bana mancari rumah makan nan ado dendeng nyo!!!!
    (Wah, saya jadi kangen ingin makan dendeng. Di sini (Depok) susah banget mencari rumah makan yang ada dendengnya!)

  • ya dendeng rabu emang enak dan gurih,,!!

    oh ya boleh minta tolong untuk carikan literratur atau referensi tentang industri dendeng rabu itu ngk soal nya,, skripsi ku tentnag itu,, tp blom nemu referensi,,!!!
    makasih sebelumnya,,!!!

  • bisa minta tolong untuk ngasih tau literatur atau referensi tentang dendeng rabu,,??
    mkasih sebelumnya,,!!!

  • Assalamualaikum

    Permisi Admin YTH
    Mohon nama H Susirman Sutan Marlaut diganti menjadi H Sudirman Sutan Marlaut,,!!
    Ambo anak laki – laki kontan dari H Sudirman Sutan MArlaut
    Tarimo Kasih

    Wassalam

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.