Malang, Jawa Timur

Sempu

Perjalanan ke Pulau Sempu, menikmati gelap malam dan suara bising dari roda kereta kelas ekonomi “Mata Remaja” yang menuju Stasiun Kota Lama, Malang. Malam itu kami menunggu kereta di Stasiun Solo Jebres seharga Rp.37.000 per tiket, kereta datang sekitar pukul 00.30 wib. Aku menaikinya sampai tempat tujuan, yakni kota Malang. Di dalam kereta kami berkenalan dengan orang-orang, mulai dari pemusik, mahasiswa pencinta alam, bahkan para seniman tato dan para pekerja dari Malang.

Tebing di Pulau Sempu

Ya, salah satunya seorang mahasiswa dari sebuah Universitas di Purwokerto yang mengeluti kegiatan pencinta alam (Mapala). Mereka bertiga, satu cowok dan dua cewek. Di perjalanan, mereka menjadi teman bercakapku. Aku bertanya tujuan mereka dan mereka menjawab mau mendaki Gunung Semeru. Ya, mereka sedang libur kuliah. Di musim liburan seperti sekarang ini biasanya mahasiswa aktif selalu banyak acara… kayak aku…hehehe…

Kami tidak hanya berkenalan dengan para Mapala saja. Ada juga para pemusik beraliran underground. Mereka akan main musik di Malang sebagai bintang tamu di sebuah acara underground. Ternyata kami pernah ketemu ketika dia main di Kota Pati. Aku cukup heran kenapa kok bisa ketemu sama teman lama, ya? ‘Dunia Itu Sempit’, itu kata-kata yang sering dipakai orang Indonesia di kala bertemu seorang teman lama secara tidak sengaja.

Maka kamipun ngobrol-ngobrol bareng dengan kenalan-kenalan baru di dalam kereta yang melaju dengan kecepatan tinggi. Waktu itu kereta tak terlalu penuh sehingga kami bisa duduk di mana saja sesukanya karena banyak bangku yang kosong. Di dalam kereta, sesekali kami iseng-iseng mengabadikan perkenalan baru ini lewat jepretan kamera digital. Jepret sana jepret sini, ambil gaya, satu…dua…tiga…JEPRET!!!

Kali ini masuklah seseorang yang tubuhnya penuh dengan tato, kumpulan kamipun bertambah. Ternyata aku juga sudah pernah ketemu dia waktu ada acara di Kota Salatiga, tiga tahun silam. Saat itu  aku terlibat sebuah acara internasional yang bernama Festival Mata Air. Acara itu biasanya diselengarakan satu tahun sekali. Kamipun ngobrol-ngobrol sampai orang itu harus turun di Kota Jombang, untuk mengikuti sebuah acara bertema “Tato Tingkat Nasional”.

Setelah kereta sampai di Kota Malang, kami berpisah karena perbedaan tujuan. Aku bersama temanku langsung menuju tempat yang mau kita tuju, yakni Pulau Sempu. Dari Stasiun Malang Lama kita naik angkot dengan membayar ongkos Rp. 3.000 per orang menuju Terminal Gadang.

Setelah tiba di Terminal Gadang akupun bergegas cari angkutan yang menuju Pasar Turen dengan menggunakan angkutan Mobil Elf yang berbiaya Rp. 5.000 per orang. Dalam perjalanan ke Pasar Turen aku tertidur, dan ketika terbangun ternyata aku sudah sampai di Pasar Turen.

Di Pasar Turen ini harus kita sedikit bersabar. Kalau kita tidak berombongan alias sendiri atau berdua saja, kita harus menunggu sampai angkutan penuh dulu. Bayangkan, aku menunggu angkutan sampai penuh selama hampir tiga jam. Sungguh membosankan setengah mati. Untuk mengisi kebosanan itu aku jalan-jalan di sekitar pasar, sarapan, minum kopi pagi dan di temani lagu-lagu format mp3 lewat telepon selular.

Akhirnya angkutan terisi 15 penumpang, kini kami menuju Sendang Biru. Penuh dan desak-desakan, tak sesuai kapasitas mobil yang semestinya. Kata si sopir, setiap dua tahun sekali mobilnya harus turun mesin. Wah, jelas saja! Selain selalu memaksakan daya tampung si mobil, akupun terkejut dengan jalannya yang menanjak dan berliku-liku.

Di dalam perjalanan kami disajikan pemandangan bukit-bukit yang sangat keren dan mempesona. Sawah-sawah di sekitar dan bukit-bukit di kejauhan membuat mata kita selalu menikmati perjalanan dengan senang meskipun di dalam keadaan penuh sesak. Dengan ongkos sebesar Rp. 15.000 perorang, kita disajikan pemandangan yang tak mengecewakan.

Perjalanan memakan waktu sekitar dua hingga tiga jam. Akhirnya kita sampai juga di Sendang Biru. Sebelum masuk lokasi wisata pantai Sendang Biru kita  harus bayar uang masuk sebesar Rp. 5000 per orang. Kemudian barulah kita turun di depan pos milik Perhutani yang menjadi tempat untuk perizinan masuk lokasi Pulau Sempu.

Di pos ini kita meminta izin masuk ke Pulau Sempu. Biasanya kita akan ditanya tentang tujuan ke Pulau Sempu, sebab  Pulau Sempu bukan tempat wisata melainkan tempat konservasi alam. Di sini kita dituntut untuk pintar-pintar ngomong. Di pos ini ada kotak uang sumbangan sukarela.  Kita memyumbang Rp. 10.000. Anggap saja uang ini untuk terima kasih kita atas izin diperbolehkannya mengunjungi Pulau Sempu. Kemudian mereka akan meminta data dari salah satu perwakilan pengunjung untuk mengisi surat perjanjian.

Izin sudah dapat, aku beranjak mencari perahu yang akan membawa kita ke pulau yang ingin kita tuju. Perahu bisa diisi 12 orang penumpang, seharga Rp. 100.000 sekali berangkat. Biaya perahu bisa patungan bersama penumpang lain. Meskipun kurang dari 12 orang, biaya perjalanan tetap sama. Maka sebaiknya cari perahu yang agak penuh. Perjalanan menyeberang dari Sendang Biru menuju Pulau Sempu kurang lebih 30 menit saja. Pemandangan indah kembali tersajikan dalam penyeberangan ini.

Perahu menuju Pulau Sempu

Akhirnya kita sampai di pulau yang kita inginkan. Perjalanan yang akan kita lalui untuk mencapai Segara Anakan di sisi selatan Pulau Sempu harus melewati jalan setapak dengan batu-batu karang yang tajam di awal perjalanan. Hal yang perlu diingat, kita harus mengunakan sepatu yang berasal dari karet atau sepatu kets yang mengunakan bahan lentur dan tak mudah sobek ketika kena karang.

Perjalanan menuju Segara Anakan sekitar 1-2 jam dari tempat awal mendarat, itupun ketika musim kemarau seperti sekarang ini. Kalau di musim penghujan bisa lebih lama, sekitar 3-4 jam karena jalanya licin dan naik turun, banyak akar pohon yang melintang di jalan. Maka dari itu ketika hujan harus waspada.

Di perjalanan, kita disuguhi suara-suara burung khas pulau tersebut. Lebih dari ratusan spesies burung ada di situ. Jika di perjalanan melihat tali rafiah (tali plastic) warna merah, itu adalah tanda jalan menuju segara anakan yang kalian bisa ikuti.

Setelah setengah perjalanan kita bisa dengar ombak yang membentur tebing-tebing, ini pertanda perjalanan kita akan sampai danau Segara Anakan. Selang beberapa menit kemudian, dari sisi kanan kita bisa lihat danaunya dengan mata telanjang dan kitapun akan terengah oleh keindahan Segara Anakan yang sangat keren coy. Pastinya jauh dari hingar-bingar kemoderenan sebab pulaunya masih alami banget.

Selain itu kita juga bisa melihat langsung air masuk ke dalam danau lewat terowongan dengan memandang lurus dari tempat kita datang. Dari situ kita juga bisa melihat ganasnya ombak Samudra Hindia yang terkenal.

Perjalananpun kita lanjutkan ketempat lokasi membuat tenda tepatnya di pingir danau. Sesampainya aku langsung mendirikan tenda tanpa harus istirahat lama-lama sambil minum sebotol Bir hanya untuk mengisi perut saja. Hati kita senang berada di pulau yang tak kalah keren dengan tempat pembuatan film The Beach yang mengambil lokasi di Pulau Phi Phi, Thailand.

Terowongan air yang mengalir ke danau

Sorepun datang, aku naik ke atas tebing yang berada di samping tenda. Dari situ aku bisa melihat semua lokasi sekitar pulau dari atas tebing. Jika kita melihat ke arah barat, kita bisa melihat pulau-pulau yang mempunyai bukit hampir mirip kepulauan Wakatobi. Selain itu ketika melihat kebawah, masih dalam posisi penglihatan ke barat, aku bisa melihat ombak yang menghentak menabrak tebing-tebing di dekitar pulau tersebut. Ketinggian ombaknya bisa mencapai 10 meter lebih, nah itu baru yang sisi barat kawan.

Selanjutnya di sisi timur, masih di puncak tempatku berada. Kita bisa melihat bukit yang lumayan tinggi dari tempat kita memandang. Namun tak ada laut, hanya bukit dengan hutannya. Tapi jangan salah kira dulu, itukan belum menengok ke bawah, mari kita lihat! Nah, dari sini kita bisa lihat ada tenda-tenda pengunjung yang ngecamp di daerah Segara Anakan. Selain itu kita juga bisa lihat danaunya yang membiru, sehingga dapat terlihat karang-karang di bawahnya. Sangat mempesona dan ajiiiippp bener deh.

Pemandangan danau dari atas tebing

Di sisi selatan tak kalah eloknya dengan yang di barat dan di timur. Menengok ke selatan kita bisa melihat bukit yang lebih tinggi dari kita, tepatnya di sebelah barat daya. Di sebelah tenggara kita bisa melihat samudra hindia dengan luas, juga bisa melihat pulau yang ada di tengah laut.

Melihat Samudera Hindia dari Sempu

Di sisi utara kita akan melihat tebing-tebing dan bukit-bukit menjulang ke atas yang di tumbuhi pepohonan lebat dan sangat sedap di lihat. Ketika menengok ke bawah kita bisa melihat ombak yang menabrak tebing-tebing dan air yang masuk ke dalam danau dari terowongan yang sangat lebar.

Aku menikmati suasana di atas pada sore itu, hawanya adem buat nyantai apalagi tak ada orang lain di bukit saat itu. Tapi perlu waspada ketika menaiki tebing, karena kemiringannya mencapai 80 derajat.

Setelah dari tebing itu aku menuju tempat yang lain yakni, tebing di selatan danau. Di sini bisa memandang luas Samudra Hindia dan merasakan cipratan ombak-ombaknya yang besar dari tempat aku berdiri. Akupun terpukau, tak kulewatkan untuk mengambil gambar memakai kamera ponsel.

Selain itu, kita bisa mancing dari atas tebing ini dengan umpan ikan asin yang bisa kita beli di Sendang Biru. Tepatnya di TPI (Tempat Pelelangan Ikan). Cukup Rp. 5000 kita dapat 1 kantong plastik. Tempat ini merupakan bagian favorit bagi pengunjung, selain danau dan bukit yang sebelumnya aku naiki.

Malampun telah tiba, aku sendirian mencari kenalan-kenalan baru yang datang dari berbagai kota. Malam itu aku dapat kenalan dari Semarang, para mahasiswa dari salah satu Universitas negeri di Semarang. Mereka datang berempat dengan perbekalan yang lengkap. Waktu itu aku diberi makanan dan diajak makan bareng.

Saat itu suasana langit mendung dan tak nampak bulan yang semestinya kelihatan. Obrolan kami berlanjut sampai aku pergi untuk cari kenalan-kenalan orang baru. Sebab aku tipe orang yang tak mau diam begitu saja, apalagi di tempat yang baru aku kunjungi pertama kali. Sambil jalan-jalan akhirnya aku menuju ke tenda yang lumayan dekat denganku, mereka pengunjung dari Jakarta yang sebelumnya habis mendaki gunung Semeru.

Sebelumnya aku sempat mendengar suara gitar dari kejauhan. Maka akupun beranjak untuk meninggalkan tenda tersebut untuk mengunjungi asal suara gitar itu. Ketika aku sampai di tempat itu, ternyata aku di panggil untuk bergabung. Mereka membentuk lingkaran dengan api unggun di tengahnya. Kemudian aku ngobrol-ngobrol, dari situ aku ketahui ternyata mereka dari Kota Malang.

Mereka semua cowok yang ingin menghabiskan malam mingguan di pulau. Aku diajak bernyanyi dan bercanda tawa sambil menikmati minuman Malang untuk menghangatkan tubuh. Aku meminumnya, tapi tak banyak hanya sebagai salam perkenalan. Aku tetap ingin menjaga diri di sini. Sambil bakar-bakar ikan, sama seperti yang sebelumnya. Ditemani suara ombak yang berasal dari lubang di sebelah barat danau. Malam itu terasa tenang dan tak akan aku lupakan.

Usai ngumpul sama arek-arek Malang, aku berjalan ke arah barat. Searah pulang menuju tendaku. Aku mampir ke sebuah tenda pas di depan tendaku. Ternyata mereka juga mahasiswa dari Malang berjumlah sekitar 15 orang terdiri dari cewek dan cowok, kamipun saling bercengkrama.

Nah, sudah larut malam. Aku langsung bergegas untuk masuk ke tenda menikmati tidur di malam itu. Sleeping bag sudah lama menungguku untuk tidur .

Tenda pengunjung yang kemah

Gerimis pagi membangunkanku dari tidur. Akupun bergegas untuk menikmati pagi hari, di temani air yang jatuh dari langit. Ternyata gerimis hanya sebentar, langit pagipun menjadi cerah. Aku langsung beranjak ke danau Segara Anakan untuk mandi bersama orang-orang yang datang di tempat itu. Aku menikmati ombak-ombaknya dan hentakan air yang masuk melalui lubang di sebelah barat danau tersebut. Meskipun airnya dingin, tapi rasanya segar banget coy…!!!

Ketika aku sedang menikmati air dan ombak terjadilah suatu peristiwa fatal yang semestinya bisa dihindari. Ada beberapa orang terhantam ombak dari utara lubang danau. Ada tiga orang korbannya. Salah satu di antara mereka terkelupas pahanya, ada juga yang kulit jari kakinya sobek, dan yang satu lagi mengalami memar-memar. Para korban adalah orang-orang yang bercanda denganku semalam. Sepertinya ketika ombak besar datang posisi mereka nempel dengan karang, sehingga musibah ini terjadi. Untung saja mereka tidak terbawa ombak, walau ada barang bawaan yang terseret. Tapi nyawa lebih berharga.

Sebelumnya terlihat sulit mengevakuasi mereka, sehingga prosesnya cukup lama. Mungkin karena medannya harus merenangi danau terlebih dahulu. Aku ikut mengevakuasi korban karena aku merasa kasihan musibah datang pada mereka. Setelah kejadian tadi aku dan temanku langsung packing dan kemas-kemas sampah yang berserakan di sekitar tendaku. Aku dan temanku memutuskan untuk cabut hari itu juga karena tempatnya terlalu ramai dan tidak sesuai yang ada di benak kita sebelum sampai di pulau itu.

Sebelumnya aku kira tempat itu sepi dan enak untuk santai dan merenungkan diri. Eee… gak taunya ramai dan gak bisa tenang. Karena yang datang semakin banyak, umumnya dari luar kota Malang. Akhirnya aku dan temanku meninggalkan tempat itu dan berharap suatu saat bisa kembali lagi ketempat itu yang sangat eksotis dan damai ketika sepi.

Perjalanan pulang kami melalui jalur sebelumnya, tapi dengan cerita yang sedikit berbeda. Ketika kita sampai di tempat penyeberangan langsung saja kita menghubungi pemilik perahu yang kita sewa kemarin, karena sebelumnya aku meminta nomor ponselnya. Ternyata nomor itu tidak aktif, tapi keberuntungan datang pada kita.  setelah menunggu lama tiba-tiba ada perahu nelayan yang datang dan mau mengangkut aku dan temanku. Kitapun tak basa-basi untuk naik ke perahu itu.

Selanjutnya perjalanan berlangsung seperti sebelumnya, tapi dalam perjalan kali ini kita ditemani oleh teman-teman dari Semarang dan Jakarta. Kami semua baru berkenalan. Dalam perjalanan kita semua membuat kesepakatan untuk nyarter angkutan umum dari Sendang Biru langsung menuju Gadang. Setelah sampai di Gadang kita semua berpisah dengan teman-teman dari Semarang dan Jakarta. Karena aku dan temanku ingin melanjutkan ke Surabaya sebab paginya kita harus naik kereta menuju Randublatung.

Dari Gadang kita pergi ke terminal Arjosari naik angkutan dengan ongkos Rp. 4.000. Sampai di terminal kamipun langsung mencari bus menuju Surabaya dengan tarif Rp. 12.000 perorang (harga itu agak sedikit lebih mahal dari biasanya, Rp. 8.000 sebab masih suasana lebaran/arus balik). Sesampainya di Surabaya kamipun langsung naik bus kota menuju Pasar Turi bertarif  Rp. 5.000 (kalau hari biasa Rp. 4.000).

Akhirnya kita sampai di persinggahan akhir untuk hari itu. Sebelum melanjutkan keesokan harinya. Aku dan temanku mencari warung makan di depan stasiun, sambil pesan es teh dan secangkir Kopi. Setelah itu kami langsung mencari tempat istirahat di sekitar stasiun pasar Turi. Kami tidur di latar tempat parkiran mobil dengan atap langit dan di temani suara nyamuk. Malam itu bulan menampakan cahayanya jadi aku dan temanku ngobrol-ngobrol sampai tertidur.

Pagipun telah tiba, kami bersiap-siap untuk membeli tiket di loket yang baru buka pukul 08.30. Kami membeli tiket KRD Ekonomi seharga Rp. 3000 perorang. Kereta kami mulai berangkat tepat pukul 09.30 dari Stasiun Pasar Turi. Di dalam kereta aku menyempatkan untuk tidur sebab perjalanan masih jauh dan capek sudah melandaku.

Waktupun berlalu, suara speaker sudah terdengar dari Stasiun Bojonegoro, kami siap-siap turun. Kemudian aku langsung beli tiket lagi tapi yang menuju Stasiun Randublatung yang tak lain adalah kota di mana kita tinggal. Loket waktu itu sudah terbuka jadi aku tak usah menunggu lama untuk mendapatkan tiket Feeder seharga Rp. 4.000 yang akan membawa kita ke Randublatung. Tiket sudah di tangan, aku langsung masuk dan mencari temanku yang sudah menunggu di dalam. Kereta kita berangkat tepat pukul 13.27.

Keretapun berjalan dengan berhenti di tiap-tiap stasiun, hingga akhirnya memasuki Cepu yang merupakan pintu masuk menuju Provinsi Jawa Tengah. Berarti perjalanan kita sampai Randublatung tinggal sebentar lagi dan saatnya siap-siap mengakhiri perjalanan kita yang sangat berkesan.

Banyak hal baru yang bisa kita pelajari dari kehidupan masing-masing. Akhirnya aku betul-betul sampai di rumah dan ada sedikit pesan dariku.

Semua yang hidup di dunia ini pasti akan mengalami sebuah perubahan,
Perubahan yang datang di setiap menit bahkan di setiap detik,
Maka tak ubahnya kita harus bisa memahami arti kehidupan yang semestinya,
Alam akan membawa kita kesuatu tempat yang tak semua orang tau,
Alam juga yang akan menunjukan kita ketempat yang baru itu,
Maka kita seharusnya menjaga alam kita yang sudah tak terjaga ini,
Janganlah kau kotori alam ini atau lingkungan ini,
Karna dari alam kita hidup,
Karna alam yang menghidupi kita,
Jadi, Rawat, Jaga, lindungi, Bahkan teriakan ke telinga-telinga di sekitar kita untuk menjaga ALAM ini,
JagaTanah ini,
Jaga air ini,
Jaga Bumi ini.

Oke coy…!!!

About the author

Avatar

Ariyanto

Dilahirkan di Blora pada tanggal 8 Mei 1990. Pria yang akrab disapa Pethek ini menyelesaikan sekolahnya di SMK Katolik St.Louis, Randublatung, Blora. Sekarang ia sedang menyelesaikan studinya di IKIP PGRI Bojonegoro jurusan Bahasa Inggris. Ia juga aktif di komunitas lokal di Blora yaitu, komunitas Anak Seribu Pulau.

10 Comments

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.