Pamulang, Tangerang Selatan

Muda-mudi Penjaga Alam

Muda-mudi Penjaga Alam
Avatar
Written by Lulus Gita Samudra

Ini awal September 2012. Hujan yang kutunggu-tunggu tak kunjung datang. Surat kabar bilang, musim kemarau sejak Agustus lalu akan terus berlangsung hingga November atau Oktober. Bisa kulihat volume air di setu-setu Pamulang, Tangerang Selatan (Tangsel) kian surut. Tambak-tambak peternak ikan jadi tak terlihat, mungkin mereka tak semangat untuk beternak. Atau barangkali hilangnya tambak-tambak itu berkat proyek renovasi setu yang dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Tangsel untuk menanggulangi erosi. Kota yang baru terbentuk tahun 2008 ini memang sedang banyak belajar bagaimana mengelola kota.

Pemerintah Kota Tangerang Selatan menurunkan alat berat untuk proses renovasi Setu Kedaung, Pamulang

Meskipun sedang kemarau panjang, angin malam masih menghembuskan udara dingin di sini. Tiupannya bisa menghadirkan suasana romantis, terlebih jika menikmati suasana itu di tengah cahaya temaram di tepian Setu Cileduk. Maka tak heran kalau terlihat banyak muda-mudi yang bermadu cinta di tepiannya, meskipun ada juga yang datang hanya sekedar mengisi waktu bersama teman sebaya.

Tapi di antara muda-mudi itu ada juga yang berkumpul untuk mengkontrol kelestarian lingkungan setu. Mereka menamakan dirinya OKP Ganespa (Organisasi Kepemudaan Gugusan Alam Nalar Ekosistem Pemuda Pemudi), sekelompok muda-mudi independen yang mau menjaga lingkungan hidup di tengah semrawutnya pembangunan kota. Melalui jalur pendidikan dan kebudayaan mereka mengupayakan agar tidak ada pengrusakan lingkungan demi kepentingan apapun.

Markas OKP Ganespa, kelompok muda-mudi Tangerang Selatan yang bergerak dalam kegiatan pencinta alam

Jika melihat berbagai macam bencana alam, penyesalan tinggalah kenangan. Misalnya musibah runtuhnya tanggul yang selama ini menjadi benteng dari jutaan kubik volume air di Setu Gintung pada tahun 2009. Arsula, Ketua OKP Ganespa Cabang Pamulang menceritakan, jauh hari sebelum terjadinya musibah itu mereka sudah mendeteksi kemungkinan terjadinya bencana alam. Waktu itu Kota Tangerang Selatan masih sebatas wacana. Jadi surat permohonan penanggulangan diajukan kepada Pemda Kabupaten Tangerang yang jaraknya cukup jauh dan hasilnya tidak diindahkan.

Arsula (kanan) Ketua Umum OKP Ganespa cabang Pamulang

Kekhawatiran berkata benar, belum genap satu tahun umur Kota Tangsel, musibah itu datang. Lantas Pemkot Tangsel jadi kocar-kacir. Mengingat di awal peresmian kedaulatan, salah satu langkah utama yang ditempuh adalah merestui pembangunan Pamulang Square yang berdiri tepat di samping Setu Cileduk (lokasinya berjarak sekitar 50 km dari Situ Gintung). Sejak tahun 2008 mobil proyek sudah mondar-mandir di lokasi itu, dan tahun 2009 terjadi musibah jebolnya Situ Gintung, walhasil banyak pejabat Istana dan wartawan yang menyaksikan pengelolaan kota yang tidak ramah lingkungan.

OKP Ganespa mengakui, pada saat itu mereka protes berat tentang pembangunan Pamulang Square. Terlebih di waktu yang sama, mereka juga sedang kampanye dan bakti sosial untuk membersihkan Setu Cileduk. Menurut Anton, Sekjen Ganespa Pamulang, persoalan sampah merupakan salah satu masalah utama pada saat itu. Ia menjelaskan, umumnya sampah yang mengotori setu berasal dari rumah dan pertokoan, yang kemudian bertambah lagi dengan sampah pembangunan. “Tapi sekarang 70 persen sudah bersih,” katanya.

Kemudian Anton menyediakan teh botol. “Silahkan minum,” katanya. Ia menyarankan untuk menikmati keindahan setu sambil berbagi cerita dan jangan sampai terlewatkan minuman ringannya. Segera kuminum seteguk setelah menghisap rokok. “Terima kasih, Bang,” balasku.

Anton (kanan) Sekjen OKP Ganespa cabang Pamulang

Cerita dilanjutkan Arsula. Menurutnya Pemkot sudah belajar dari pengalaman musibah Situ Gintung, namun persoalan Pamulang Square sudah terlanjur berdiri. Jalan yang terbaik adalah tetap saling menjaga lingkungan hidup. Baru kemarin tepi-tepi Setu Cileduk yang dijadikan lahan parkir gedung itu mengalami keretakan dan mereka langsung membenahi.

Pemkot Tangerang Selatan tengah merenovasi Setu Cileduk di Pamulang, Tangerang Selatan. Tepat di sebelahnya merupakan bangunan Pamulang Square yang berfungsi sebagai sarana pertokoan.

Arsula menjelaskan, sebenarnya jarak ideal mendirikan bangunan dari bibir setu sekitar 30 meter. Kita tidak akan mengajukan permohonan relokasi, karena terlambat menyadarinya. Artinya, jika memang Pemkot harus relokasi akan mengorbankan banyak biaya dan banyak keluarga. Karena nanti yang akan digusur bukan hanya gedung Pamulang Square, tapi banyak juga perumahan yang terlanjur berdiri di sekitarnya selama hampir dua dekade.

Mencintai Alam

Semakin malam angin berhembus semakin kencang, tapi percakapan yang hangat dapat meredam. Mungkin begitu juga bagi muda-mudi yang sedang dimabuk cinta. Mereka masih enggan beranjak pulang, seolah biar menanti dering telphon dari calon mertua yang meminta anak gadisnya dikembalikan.

Tiba-tiba, Uka, pejabat Kepala Divisi (Kadiv) Sosialisasi OKP Ganespa Pamulang, datang. Sejenak ia memperhatikan apa yang sedang diperbincangkan. Tentu ia tidak akan berkomentar tentang situasi lingkungan hidup di Pamulang, Tangsel. Karena aku tahu, ia yakin apa yang sudah diceritakan kedua temannya sudah mencukupi. Ketertarikannya justru mengacu pada kegiatan Ganespa untuk mengajak warga menerapkan hidup bersih dan cinta lingkungan.

Menurut Uka, setiap tanggal 22 April, Ganespa selalu memperingati Hari Bumi dengan membuat pagelaran musik dan kerja bakti sosial dengan membersihkan lingkungan di Pamulang. Kegiatan itu biasanya melibatkan pelajar dan kelompok-kelompok pemuda. “Khusus untuk pelajar, tahun-tahun selanjutnya akan ada lomba wall climbing.”

Ia menjelaskan, proposal untuk Pemkot Tangsel dalam pembuatan wall climbing sudah terealisasikan dan sekarang berdiri di Kelurahan Pamulang Barat. Fasilitas itu akan dikelola dengan gratis sebagai salah satu perangkat belajar bagi siswa-siswi di Pamulang yang tertarik dengan kegiatan pecinta alam. Hasilnya pun positif, banyak kegiatan ekstra kulikuler di tiap-tiap sekolah sekitar Pamulang dan Ciputat yang ingin menggunakannya. “Seneng sih ngeliat pelajar-pelajar tertarik kegiatan pecinta alam, tapi jadi repot ngebagi jadwal buat mereka, kan kudu kita yang ngajarin,” ujar Uka sambil tertawa.

Uka, Kepala Divisi Sosialisasi OKP Ganespa Pamulang

Arsula lekas menyambar, target sosialisasi Ganespa tentang mencintai lingkungan hidup memang mengarah ke pelajar dan anak muda. Dengan kegiatan-kegiatan yang menyenangkan, masyarakat lebih mudah menyerap pesan-pesan positif dan menerapkannya. Ia menambahkan, Usia-usia muda  lebih mudah untuk diajak bagaimana mengambil sikap yang baik untuk alam, kemudian mereka juga yang akan melanjutkan tradisi cinta lingkungan untuk ke depannya. “Yang tua, mah, udah susah dibenahinnya,” kata Arsula dan yang lain tertawa.

Kemudian gelak tawa terus mengiringi percakapan. Percakapan tentang ide-ide pencegahan bencana alam atas nama pembangunan. Biarlah peristiwa jebolnya Situ Gintung menjadi pelajaran. Aku berharap renovasi setu segera selesai dan hujan segera turun, agar para peternak ikan melakukan aktifitasnya lagi di tambak.

Aku percaya apa yang mereka rasakan, bahwa mencintai alam itu menyenangkan. Buktinya sangat nyaman duduk di pondok anyaman, padahal dulu tempat ini penuh tumpukan sampah dan alang-alang. Tapi rasanya hembusan angin semakin kencang. Aku tak habis pikir, yang sedang dimabuk cinta belum juga pulang padahal jarum jam sudah menunjukan pukul sebelas malam.

About the author

Avatar

Lulus Gita Samudra

Lulus Gita Samudra telah menyelesaikan studi Strata Satu-nya di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta. Pria kelahiran Jakarta tahun 1989 ini, juga turut aktif di Forum Lenteng sebagai Sekretaris Redaksi akumassa.org. Sebelumnya ia pernah mengikuti workshop akumassa Depok pada tahun 2011. Kini ia sedang membangun sebuah komunitas berbasis massa di Depok, bernama Suburbia.

4 Comments

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.