Padangpanjang, Sumatera Barat

“Minangkabau, Ambo Tibo!”

(Minangkabau, Here I come!)

25 Januari 2009

Bandara Internasioanal Minangkabau (BIM)
Bandara Internasioanal Minangkabau (BIM)

Seperti yang telah dijadwalkan, pesawat kami mendarat di BIM (Bandara Internasional Minangkabau) pukul 14.30 WIB, saya bersama Otty Widasari dari Forum Lenteng dijemput di bandara oleh kawan dari Komunitas Sarueh. Kami disambut dengan hangat oleh Linda, Fadly dan Ayahnya yang bersedia mengantarkan hingga kota Padangpanjang.

Padang adalah kota yang panas karena berdekatan dengan laut, berbeda dengan Padangpanjang dan Bukitinggi yang sejuk karena diapit oleh tiga buah gunung yaitu Gunung Singgalang, Gunung Merapi dan Gunung Tandikat belum lagi Bukit Barisan yang terbentang melintasi bagian barat Sumatera. Jarak antara kota Padang menuju Padangpanjang menghabiskan waktu sekitar dua jam, sedan ayah Fadly yang kami tumpangi melaju pesat layaknya kendaraan umum di pulau Sumatera. Jalan yang ditempuh menanjak dan berliku. Pemandangannya sangat menarik sekali di sisi sebelah kiri tampak sisa-sisa rel kereta pengangkut batu bara peninggalan Belanda yang kini tidak difungsikan lagi. Kabarnya jalur ini akan digunakan untuk kereta wisata yang peresmiannya sampai saat ini belum dilaksanakan, melihat rel kereta ini dan jembatannya saya teringat akan cerita “Topi Helm” sebuah cerpen karya A.A Navis di buku “Robohnya Surau Kami”. Di sisi sebelah kanan tampak sungai yang mengalir jernih dengan bebatuan dan hutan dibukitnya. Ketika melewati air terjun lembah anai di sebelah kiri, ingin rasanya melompat dan membasahkan diri di tempat itu agar lengket di badan ini musnah.

Air terjun Lembah Anai
Air terjun Lembah Anai

Sebelum menuju laboratorium Sarueh yang terletak di belakang komplek STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia) Padangpanjang, kami berhenti direstoran “Pak Datuk” yang pastinya menyajikan makanan khas minang. Otty yang dari pagi belum terisi perutnya walau hanya sesuap nasi langsung menyendok nasi dan memilih dendeng balado, tunjang dan sambel cabe hijau sebagai pendukungnya. Saya memesan roti Cane, namun karena nasi di meja sudah sangat menggoda, hati saya pun berpindah ke lain menu. Habis sudah setengah bakul nasi di taburi rendang, cabe hijau, sayur hijau dan sepotek dendeng yang saya rampas dari tangan Otty. Untuk menpererat dan menghangatkan suasana, saya bergurau dengan bahasa minang “okem” saya dengan ayah Fadly yang ternyata beliau pun memberikan feedback denga teka-teki tempoe doeloe-nya seperti apa beda lelaki dangan gajah? atau apa bedanya wanita dengan harimau? Nah silakan anda tebak sendiri jawabannya.

Otty dan ibunda Riezky
Otty dan ibunda Riezky

Secara kebetulan, sudah seminggu ibu saya sedang berada di kota Bukitinggi untuk tugas kantor dan urusan keluarga. Beliau pun mengunjungi laboratorium Sarueh untuk menjawab rasa penasarannya kepada saya yang dua bulan lebih tidak bertatapan wajah dengannya. Ibu saya berbincang dengan Otty yang kebetulan sebagai koordinator program di forum lenteng. Sedangkan saya asyik bercanda dengan kawan kawan baru di Sarueh. Mereka, baik laki-laki maupun gadis-gadisnya sangat ramah dan hangat menyambut kedatangan kami.

Menu maskan Padang
Menu masakan Padang

Malamnya saya menginap di Bukitinggi, kota leluhur yang baru kedua kalinya saya kunjungi. Berbeda dengan Cirebon kota asal leluhur saya dari pihak ayah. Di Bukitinggi, darah saya tidak merasa menyatu dengan”ranah minang” ini. Mungkin saya berbeda dengan mayoritas perantau asli minang di Jakarta yang mungkin ekstase-nya seperti anak cucu keturunan Yakub ketika berada di Tanah Perjanjian. Entah karena ibu saya yang tidak fasih berbahasa minang, atau mungkin juga nenek saya yang sehari-harinya berbahasa minang ini tinggal di Bandung. Sampai saat ini darah saya mungkin belum menyatu dengan tanah minangkabau, namun pastinya lidah saya sejak kecil selalu menyatu dengan rendang, kripik sanjay, sambal cabe ijo, apalagi duriannya. Dan saya rasa saudara-saudara semua baik yang berasal dari seluruh Nusantara, maupun dari seluruh belahan dunia akan sepakat dengan pernyataan saya bahwa “Minangkabau, walau kakiku belum menapakimu, namun rendang, gulai, dan sate mu selalu menggoda lidahku”. Dan kini saya datang untuk waktu sebulan lebih.


About the author

Avatar

Riezki Andhika Pradana

Riezky Andhika Pradana (Kikies) seorang mantan jurnalis majalah anak-anak Ananda semasa kuliah di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta, Fakultas Komunikasi jurusan Jurnalistik, ia lulus pada tahun 2005. Salah satu karya videonya, Balada Hari Raya yang merupakan salah satu karya dari proyek Cerpen Untuk Filem yang masuk nominasi kategori filem pendek Konfiden 2007. Ia juga pernah menjadi pemimpin redaksi akumassa.org. Sekarang ia tinggal di Jogjakarta, dan menjadi wartawan di salah satu surat kabar lokal Jogjakarta.

11 Comments

  • kok kayanya lebih ke catatan perjalanan + wisata kulinernya daripada mengulas tujuan dari perjalanan itu sendiri…kegiatan dengan anak STSI-nya apa aja?

  • tuh rendang enak kyanya dari gambar, jadi pengen nyicipin langsung….
    mana foto air terjunnya bikin nyamperin, kyanya enak bgt keliling-keliling yaa….

    oiya, saran nih…. mending dipanjangin aja tuh ulasan kuliner, atau malah catatan alam padangnya…. hehehe…. daripada gini, gantung bgt dah ah…

    tapi manteb kok, okay deh pokoknya….

  • HAHAHA….MUDAH-MUDAHAN LEKAS DAPET JODOH, CEPET KAWIN, DIBELI ORANG MINANG BIAR GAK KELUYURAN LAGI.

  • keong….. enak ga makan masakan padang di kotanya?????
    rasanya beda ga sama masakan padang samping kampus????
    waaah….. jadi lapeeeer!!!!!!!!!!!!

  • gw ja sebagai anaknya nggak tau apa isi n makna teka teki tersebut,bagi yang tau,,,,kasih tau ya.buat kyky peak lu tau kagak isinya????klu tau kasih tau gw ya….
    CAPAIK

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.