Pengantar Serang, Banten

Serang (akan) Menyerang

Tidak banyak yang dapat saya gambarkan dari Kota Serang. Sepuluh tahun lalu, saya hanya bisa mengingat-ingat nama kota ini pernah disebut dalam tulisan Multatuli dan selain itu saya tidak menemukan ingatan saya tentang kota ini. Tentu ada beberapa catatan media tentang kota kecil yang dulunya merupakan bagian dari Propinsi Jawa Barat ini.

Peta Banten jaman dahulu

Peta Banten abad 18

Tapi, kesan dan cerita tentang kota Serang baru saya dapatkan ketika Otty Widasari (Kordinator Program Akumassa) bercerita tentang masa kecil menuju remajanya (SMP) yang ia habiskan di ibu kota Propinsin Banten ini. Pertama kali saya menginjakan kaki di kota ini saat Forum Lenteng mendapatkan kesempatan memberikan pelatihan video dokumenter kepada mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA) tahun 2005.

Untuk keperluan tulisan ini, saya mencoba mencari-cari berbagai sumber tentang Kota Serang. Di situs-situs internet, baik untuk para pelancong yang akan datang ke kota ini, blog pribadi hingga website media massa, informasi tentang kota ini sangatlah minim. Saya baru bisa menemukan ‘sedikit’ sejarah tentang kota dan Propinsi Banten saat masuk ke situs resmi Pemerintahan Propinsi Banten. Itu pun informasi yang terdapat dalam situs resmi pemerintah daerah ini sangat minim. Untuk hal ini, saya cukup terkejut melihat sebuah kota (yang merupakan ibukota propinsi) dan Propinsi Banten sendiri—yang merupakan salah satu propinsi kaya di Indonesia (menurut harian Kompas)—tidak memiliki database informasi untuk kepentingan publik.

Lambang Kota Serang

Lambang Kota Serang

Setahun lalu, saya sempat melintas di Kota Serang saat menuju Kota Pandeglang untuk keperluan membuat sebuah filem dokumenter. Begitu kagetnya saya waktu itu, di sebuah kawasan pinggiran Kota Serang berdiri bangunan-bangunan ‘gigantik’ yang sangat mencolok. Setelah melintas barulah saya tahu bahwa ‘superblock’ itu adalah kawasan pusat pemerintahan Propinsi Banten yang akan digunakan dalam beberapa tahun mendatang. Dari pengalaman melihat bangunan ini, saya ingat kembali tentang predikat Propinsi Banten sebagai salah satu Propinsi kaya di Indonesia yang disebutkan media. Secara visual pemerintah Banten sepertinya ingin memperlihatkan ‘kejayaan’ Banten yang memang memiliki sejarah panjang sebagai kawasan maju pada masa Kesultanan Banten.

Dari hasil surfing saya itu, diketahui bahwa Kota Serang yang ditetapkan sebagai kotamadya pada tanggal 2 November 2007 ini terdiri dari enam kecamatan yang terdiri dari; Kecamatan Serang, Kecamatan Cipokok Jaya, Kecamatan Curug, Kecamatan Kasemen, Kecamatan Taktakan dan Kecamatan Walantaka. Kota Serang memiliki luas 266,74 km² dan penduduknya berjumlah 501.562 jiwa. Sama seperti berbagai kota dan kabupaten di era otonomi ini, Kota Serang juga memiliki moto yaitu ‘Kota Serang Madani’. Dalam situs pemerintahan yang saya baca, moto ini merupakan bentuk kemandirian daerah. Madani memberikan arti luas untuk pengayoman masyarakat, civil society yang mengedepankan musyawarah untuk mufakat, serta berbudaya.

Dilihat dari kesejarahan, membaca Kota Serang tidak lepas dari bagaimana Banten tumbuh dan berkembang hingga sekarang. Saya menemukan sekelumit sejarah kejayaan Kesultanan Banten, namun hanya satu kalimat yang menyebutkan Serang’sebagai wilayah kesultanan Banten. Jadi, untuk menuliskan sejarah kota ini perlu riset dan kerja keras. Dari catatan-catatan yang dituliskan Multatuli, Kota Serang menjadi pusat pemerintahan kolonial Karesidenan Banten. Itu pun masih sangat kabur.

Multatuli

Multatuli

Sekelumit Tentang Banten

Dari catatan sejarah yang terdapat dalam situs resmi Propinsi Banten tertulis bahwa Banten pada masa lalu merupakan sebuah daerah dengan kota pelabuhan. Pada abad ke-7 Banten sudah menjadi pelabuhan internasional. Islam diyakini telah masuk dan berakulturasi dengan budaya setempat pada 1513 (Tome Pires). Islam dibawa oleh Sunan Ampel, kemudian Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) yang seluruh kisahnya terekam dalam naskah Carita Purwaka Caruban Nagari. Bupati Banten menikahkan adiknya, yang beernama Nyai Kawunganten dengan Syarif Hidayatullah yang kemudian melahirkan dua anak yang diberi nama Ratu Wulung Ayu dan Hasanuddin sebagai cikal bakal Kerajaan Islam (Djajadiningrat, 1983:161). Sunan Gunung Jati menentukan posisi istana, benteng, pasar, dan alun-alun yang harus dibangun di dekat kuala Sungai Banten yang kemudian diberi nama Surosowan. Pada tahun 1552 Masehi, Banten yang tadinya hanya sebuah kadipaten diubah menjadi negara bagian Demak dengan dinobatkannya Hasanuddin sebagai raja di Kesultanan Banten dengan gelar Maulana Hasanuddin Panembahan Surosowan (Pudjiastuti, 2000:61). 

 Dalam usahanya membangun Banten, Maulana Hasanuddin sebagai Sultan Banten pertama (1522-1570), menitikberatkan pada pengembangan sektor perdagangan dengan lada sebagai komoditas utama. Wilayah kekuasaan Banten, yaitu Jayakarta, Lampung, dan terjauh yaitu dari Bengkulu (Tjandrasasmita,1975:323). 

 Pada 1527, Sunda Kalapa sebagai salah satu pelabuhan terbesar berhasil ditaklukkan, dan mengganti namanya menjadi Jayakarta. 

Pasca wafatnya Maulana Hasanuddin, pemerintahan dilanjutkan oleh Maulana Yusuf (1570-1580). Kemudian Sultan Abul Mufakir Mahmud Abdul Kadir (1596-1651). Pada tahun 1651 Sultan Abul Mufakir Mahmud Abdul Kadir digantikan oleh Pangeran Adipati Anom Pangeran Surya, putra Abu al-Ma’ali Ahmad atau Pangeran Ratu Ing Banten atau Sultan Abufath Abdulfattah atau yang lebih dikenal dengan Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1672). Sultan Ageng Tirtayasa membawa Banten ke puncak kejayaannya. Tragisnya ia dikudeta oleh anaknya sendiri Sultan Haji yang membawa kehancuran kesultan Banten ( http://www.bantenprov.go.id ).

Sultan Ageng Tirtayasa

Sultan Abufath Abdulfattah atau Sultan Ageng Tirtayasa

Dari catatan yang masih sangat sedikit inilah Program akumassa mulai di Kota Serang dalam satu bulan ke depan. Forum Lenteng bekerjasama dengan tiga kampus yaitu Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA), Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Wangsa Jaya Banten (STIKOM WJB), dan Institut Agama Islam Negri(IAIN) Maulana Hasanudin, Banten, diwakili oleh para mahasiswanya atas kordinasi para dosen.  Mereka kini tergabung dalam sebuah payung bernama Komunitas Sebumi. akumassa juga bekerjasama dengan Yayasasan Rekonvasi Bhumi—sebuah lembaga swadaya masyarakat yang melakukan pendampingan masyarakat dalam kesadaran menjaga lingkungan. Lembaga ini dengan prestasinya telah mendaptakan Anugrah Kalpataru dari Pemerintah Indonesia. Sebuah penghargaan yang sangat penting dalam lingkungan hidup dari pemerintah.

Secara oraganisasi Forum Lenteng berharap program akumassa yang dikembangkan oleh tiga kampus yang berbeda ini dapat menjadi modal awal untuk mengembangkan penggunaan media di masyarakat. Dari pengalaman saya mencari sumber-sumber informasi ‘dasar’ tentang Kota Serang, dapat menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya mengemas informasi tentang sebuah lokasi untuk publik. Untuk itu kita dapat memberikan kontribusi kepada sejarah kota ini. Dan saya yakin Komunitas Sebumi yang menjadi pengikat para partisipan dari berbagai latar belakang ini akan bisa ‘menyerang’ kita dengan informasi-informasi objektif yang memang menjadi bagian dari publik.

Hafiz
Ketua Forum Lenteng Jakarta

*Data di ambil dari berbagai sumber


About the author

Hafiz

Hafiz dilahirkan di Pekanbaru, perupa dan pembuat video ini menyelesaikan studi Seni Murni di Institut Kesenian Jakarta tahun 1994. Ia salah satu pendiri Forum Lenteng (2003), dan menjadi ketua organisasi tersebut.

Leave a Comment

3 Comments

  • Katanya literatur-2 masa lalunya banyak tercecer di Leiden, Tem…Nah, literatur-2 masakininya mungkin bisa diupdate oleh Komunitas Sebumi nanti

  • Literatur tentang masa lalu Indonesia memang banyak di negeri orang. Untuk mendapatkannya perlu kerja keras dan tenaga yang sangat besar. Selama ini kita sering abai tentang habitus kita sendiri, untuk mencatat, merekam, mendokumentasikan dan “memberikannya” kepada publik. Inilah esensi yang penting untuk pembelanjaran bersama tentang persoalan-persoalan lokal. Kita sering terjebak dalam kemasan informasi dari “pusat” dan media-media besar.