Acara

Pertemuan Antar Komunitas Dampingan Forum Lenteng dan Kampung Halaman

Kawasan Cilimus, Kuningan menjadi pilihan tempat untuk pertemuan antar komunitas se-Indonesia pada 8-11 Februari 2010. Komunitas yang bertemu merupakan komunitas dampingan Forum Lenteng Jakarta dengan Project akumassa-nya dan Kampung Halaman Yogyakarta dengan Project Video Diary-nya. Kedua project ini memiliki beberapa kesamaan, salah satunya sama-sama mengajak komunitas lokal di suatu daerah untuk mengikuti workshop video tentang isu lokal di daerah mereka.

pertemuan komunitas1

Komunitas dampingan Kampung Halaman terdiri dari Taruna Reka (Karang Ploso), Sanggar Teratai (Indramayu), Ho’e (Ponorogo), Taman 65 (Denpasar), Kobate (Yogyakarta)dan SOCA (Tasikmalaya). Sedangkan komunitas dampingan Forum Lenteng terdiri dari Gardu Unik (Cirebon), Saidjah Forum (Lebak-Banten), Komunitas Sarueh (Padang Panjang), Epicentrum dan Komka (Lenteng Agung), Anakseribupulau (Blora), Komunitas Djuanda (Ciputat) dan Komunitas Pasir Putih (Blora). Komunitas Gardu Unik yang berbasis di Cirebon menjadi tuan rumah pada acara ini, karena lokasinya yang paling dekat dengan Kuningan.
pertemuan komunitas2

Sehari sebelum acara, para perwakilan dari komunitas dampingan Forum Lenteng bermalam di Lenteng Agung, tepatnya di markas Forum Lenteng Jakarta untuk bersama-sama berangkat ke Kuningan esok harinya. Kecuali Anakseribupulau, mereka langsung berangkat dari Blora menuju Cirebon dan kemudian menuju lokasi penginapan bersama panitia. Begitu pula kawan-kawan perwakilan Kampung Halaman beserta komunitas dampingannya. Para partisipan saling memperkenalkan diri dan asal komunitas mereka begitu sampai di sana.

Para partisipan saling memperkenalkan diri dan asal komunitas mereka

Para partisipan saling memperkenalkan diri dan asal komunitas mereka

pertemuan komunitas4

Acara yang diadakan tiga hari tiga malam ini berlangsung cukup hangat. Beberapa kawan memang sudah saling mengenal satu sama lain, tetapi banyak juga yang hanya berkenalan di dunia maya tanpa saling bertatap muka sebelumnya. Mereka biasa berkenalan dan saling memberi komentar pada artikel-artikel di situs www.akumassa.org dan jejaring sosial seperti facebook dan sebagainya. Ketika bertemu, kawan-kawan saling bertanya kabar masing-masing sambil menikmati makan siang sebagai acara pembuka.

Nico Broer dari Gardu Unik selaku tuan rumah menjadi moderator di sesi diskusi yang dimulai setelah makan siang. Pada hari pertama masing-masing perwakilan komunitas saling mengenalkan diri dan asal komunitas mereka. Otty Widasari, Andang Kelana dan Mira Febri Melya dari Forum Lenteng Jakarta menjabarkan perkembangan program akumassa dan juga situs www.akumassa.org. Otty selaku Koordinator Program akumassa dan Peminpin Redaksi akumassa mengatakan bahwa pertemuan ini adalah milik komunitas, untuk mereka saling berjejaring dalam mengembangkan programnya masing-masing. Kampung Halaman, Jogjakarta, yang diwakili oleh Cicilia Maharani selaku Program Manajer Kampung Halaman dan Zamzam Fauzannafi selaku Youth Media Community Lab juga mempresentasikan program mereka yang sudah berlangsung dan yang akan dilaksanakan dalam tahun program berikutnya. Kemudian acara dilanjutkan dengan acara bebas sekaligus melepas lelah setelah perjalanan jauh.

pertemuan komunitas5

Ruang diskusi yang resmi layaknya sidang Dewan Rakyat

Pada hari kedua, diskusi dimulai tepat jam sembilan pagi. Ruang diskusi yang terkesan resmi layaknya sidang Dewan Rakyat, awalnya membuat beberapa kawan-kawan termasuk saya yang biasa diskusi beralaskan tikar menjadi kaku. Namun, hal ini tak membuat jalannya diskusi menjadi terhambat. Masing-masing perwakilan komunitas mempresentasikan tentang komunitas mereka, program-program yang telah dilaksanakan dan yang masih direncanakan, serta karya-karya mereka. Fuad Fauji dari Saidjah Forum (Lebak-Banten) menjadi pembuka presentasi ini dengan memutar video Ki Rabin yang diproduksi ketika workshop akumassa berlangsung di Kota tersebut. Setelah itu presentasi dilanjutkan oleh komunitas-komunitas yang lainnya. Karena mayoritas komunitas menggunakan medium video, maka banyak karya-karya video yang dipresentasikan. Misalnya video dari Komunitas SOCA tentang keadaan Tasikmalaya dan keinginan korban gempa di sana untuk memiliki rumah lagi,  ada pula video tentang keseharian para anggota Komunitas Ho’e yang merupakan pemain Jaran Thek (kesenian asli Ponorogo), video tentang sampah yang menumpuk di Tangerang Selatan oleh Komunitas Djuanda, dan masih banyak lagi. Ada dua komunitas yang mempresentasikan festifal yang sudah menjadi program reguler mereka, yaitu Gardu Unik, Cirebon dengan Festifal Jagakali, serta Anakseribupulau, Randublatung-Blora dengan Forest Art Festival. Uniknya, kedua festifal ini sama-sama mengembangkan isu lingkungan hidup, dan keduanya sedang mempersiapkan festifal mereka yang ke-3 tahun ini.

Hal unik lainnya adalah bagaimana tiap komunitas mempresentasikan program mereka. Kadangkala ada program yang dirasa aneh oleh komunitas lainnya. Misalnya presentasi kegiatan budidaya Jamur Tiram oleh Taruna Reka (Karang Ploso) yang cukup unik dan mengundang tawa. Juga presentasi dari Komunitas Djuanda (Ciputat-Tangerang Selatan) yang mempresentasikan program sensus di wilayah Tangerang Selatan. Apalagi Dwi Anggraini Puspa Ningrum, perwakilan dari Komunitas Djuanda mempresentasikan kegiatan yang mirip kegiatan pemerintah itu dengan irama yang sangat cepat seperti rapper (penyanyi rap). Namun setelah penjelasan di sesi tanya jawab, keanehan itu jadi bisa dimengerti. Pengembangan budidaya jamur tiram, misalnya, merupakan program Komunitas Taruna Reka dalam usaha kemandirian komunitas secara ekonomi. Juga bagi Komunitas Djuanda, program sensus yang mereka lakukan adalah aksi awal dalam mencapai cita-cita mereka menjadi Media Center di wilayah Tangerang Selatan.

Diskusi dan presentasi berjalan cukup khidmat tapi tetap menarik karena selain menyajikan karya dan ide, Nico Broer selaku moderator sering melemparkan lelucon-lelucon segar di tiap kesempatan.

Mayoritas komunitas memutarkan karya video mereka

Mayoritas komunitas memutarkan karya video mereka

Hari ketiga pun dimulai. Kali ini diskusi dibagi menjadi empat kelompok. Masing-masing komunitas bebas memilih tema yang menjadi kendala dalam menjalankan program-programnya. Tema-tema tersebut disimpulkan dari hasil presentasi hari sebelumnya, dimana muncul kemiripan persoalan atau kendala yang sering dihadapi tiap komunitas. Tiap-tiap kelompok diskusi dipandu oleh moderator dari Forum Lenteng dan Kampung Halaman.
Keempat tema tersebut adalah:
1. Pengadaan event dan festifal oleh Riezky Andhika Pradana dan Cicilia Maharani
2. Hubungan masyarakat oleh Otty Widasari dan Nico Broer
3. Hubungan dengan pemerintah oleh Hafiz
4. Membuka peluang ekonomi untuk komunitas oleh Andang Kelana dan Zamzam Fauzannafi.

Kelompok diskusi engenai hubungan masyarakat memilih tempat di bar

Kelompok diskusi mengenai hubungan masyarakat yang dipandu oleh Otty Widasari dan Nico Broer

pertemuan komunitas8

Kelompok diskusi mengenai event

Kelompok diskusi mengenai event dan festival dipandu oleh Riezky Andhika Pradana dan Cicilia Maharani

Kelompok diskusi mengenai ekonomi

Kelompok diskusi mengenai peluang ekonomi untuk komonuitas, dipandu oleh Andang Kelana dan Zamzam

Kelompok diskusi mengenai hubungan komunitas dengan pemerintah, dipandu oleh Hafiz

Kelompok diskusi mengenai hubungan komunitas dengan pemerintah, dipandu oleh Hafiz

Kemudian setelah makan siang, masing-masing perwakilan kelompok diskusi mempresentasikan apa yang telah mereka dapat pada diskusi tersebut. Kelompok diskusi mengenai hubungan masyarakat sedikit berbeda dalam menyampaikan presentasi mereka. Karena bukan hanya mempresentasikan hasil diskusi, mereka juga memiliki rencana bersama untuk bekerjasama membantu Sanggar Teratai (Indramayu) dalam membuat workshop video tentang child trafficking (perdagangan anak) serta pernikahan pada anak usia dini yang banyak terjadi di Indramayu. Temanya tetap seperti tema yang juga diusung oleh Sanggar Teratai, yaitu “Kembali Ke Sekolah”. Usulan ini disambut baik oleh semua anggota pertemuan.

Masing-masing perwakilan kelompok diskusi mempresentasikan hasil diskusinya

Masing-masing perwakilan kelompok diskusi mempresentasikan hasil diskusinya

pertemuan komunitas13

pertemuan komunitas14

Usainya diskusi pada hari ke-3 sekaligus menutup acara pertemuan antar komunitas ini. Malam harinya acara diisi dengan hiburan-hiburan yang beragam, mulai dari penampilan Grup Keroncong “Semoga Ayah Cepat Pulang” dari Cirebon yang rela menghibur tanpa dibayar, penampilan Jaran Thek dari Komunitas Ho’e (Ponorogo), serta performance art dari Komunitas Anakseribupulau.

Penampilan grup keroncong "Semoga Ayah Cepat Pulang"

Penampilan grup keroncong "Semoga Ayah Cepat Pulang"

Grup keroncong

Grup keroncong

Pertunjukkan Jaranan Thik oleh Komunitas Ho'e

Pertunjukkan Jaran Thek oleh Komunitas Ho'e

Jaranan Thik

Jaran Thek

pertemuan komunitas17

Performance art dari Komunitas Anakseribupulau

Performance art oleh Komunitas Anakseribupulau

Performance art dari Komunitas Anakseribupulau

Performance art oleh Komunitas Anakseribupulau

Lantunan lagu keroncong dengan musik yang mendayu-dayu berhasil membuat kawan-kawan berdansa, berjoget dan membangkitkan gairahku untuk menyanyikan dua lagu Keroncong, yaitu “Layang-layang” dan “Tanpamu”.

Berjoget bersama diiringi musik keroncong

Berjoget bersama diiringi musik keroncong

pertemuan komunitas21

Penampilanku bersama grup keroncong "Semoga Ayah Cepat Pulang"

Penampilanku bersama grup keroncong "Semoga Ayah Cepat Pulang"

Setelah acara hiburan selesai banyak partisipan yang masuk ke kamar dan beristirahat, karena hari sudah larut malam. Namun, ada pula yang masih mengobrol santai menikmati kebersamaan sebelum berpisah esok hari. Begitu pula kawan-kawan partisipan akumassa, mereka berkumpul untuk membicarakan program-program selanjutnya, termasuk rencana untuk menerbitkan buku dan jurnal akumassa dalam bentuk media cetak. Para partisipan akumassa dari berbagai daerah juga diberikan kartu jurnalis  yang diharapkan dapat mempermudah kinerja kawan-kawan dalam mencari informasi dan data untuk membuat tulisan maupun video.

Makan malam bersama

Makan malam bersama

Foto bersama perwakilan partisipan akumassa dari beragam lokasi program

Foto bersama perwakilan partisipan akumassa dari beragam lokasi program

Pagi harinya masing-masing kontingen kembali pulang ke daerah masing-masing setelah tiga hari tiga malam bersama berdiskusi, bercanda tawa, serta bertukar pengalaman. Mereka pulang dengan membawa ide segar untuk perubahan masyarakat ke arah yang lebih baik dan positif. Sampai jumpa di pertemuan berikutnya…


Foto: Agung Natanael


About the author

Riezki Andhika Pradana

Riezky Andhika Pradana (Kikies) seorang mantan jurnalis majalah anak-anak Ananda semasa kuliah di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta, Fakultas Komunikasi jurusan Jurnalistik, ia lulus pada tahun 2005. Salah satu karya videonya, Balada Hari Raya yang merupakan salah satu karya dari proyek Cerpen Untuk Filem yang masuk nominasi kategori filem pendek Konfiden 2007. Ia juga pernah menjadi pemimpin redaksi akumassa.org. Sekarang ia tinggal di Jogjakarta, dan menjadi wartawan di salah satu surat kabar lokal Jogjakarta.

Leave a Comment

13 Comments

  • wah…
    udah di tulis acara pertmua forum lenteng…
    wah jadi pengen kumpul2 lagi ne….
    dan smoga bsa ktmu dya lagi kalau di inderamayu…
    heheheheheee….
    tetap semangat . . .
    q dari anakseribupulau,,,,

  • Pertemuan yang menyenangkan. Melihat kawan2 komunitas mempresentasikan pikiran dan kemungkinan-kemungkinan kerjasama. Kerja berjejaring adalah kerja yang paling efektif dalam mengusung perubahan. Saya yakin kawan-kawan komunitas dapat mengembangkan ide-ide yang muncul dalam forum ini. Semoga kita bisa terus dapat bekerjasama.
    salam
    Hafiz

  • selamat semua atas suksesnya pertemuan ini. saya belajar banyak dari kawan-kawan, terima kasih. bravo!

  • atas nama redaksi, kami mengucapkan permohonan maaf kepada Komunitas Anakseribupulau, Blora dan Komunitas Pasir Putih, Lombok atas kesalah penulisan. harap teman-teman membaca lagi tulisan yang sudah direvisi ini. terimakasih

    red. akumassa

  • Kerja Jejaring akan terus tumbuh dan berkembang sehingga memperkuat posisi komunitas di peta dunia “persilatan”. Terima kasih, Kisanak. Tetap Semangat…!!!

  • Sukses untuk semua. Saidjah memang naif tidak menunjukan suatu hal tentang strategi kebudayaan yang kongkrit dalam pertemuan itu. Tetapi sampai saat ini saidjah konsisten memberikan kabar kecil dari lebak untuk semua. Saidjah tidak akan pernah memaafkan pertemuan itu jika tidak ada kelanjutan yang jelas. Sampai ketemu dilain waktu.
    -salam-

  • wow.thats really awesome…
    ini benar2 jejaring yang sangat bermanfaat
    kebesaran nama seperti Facebook takan berguna tanpa jejaring nyata seperti kalian,
    ini jelas
    ini bermanfaat
    ini solid
    dan ini gudang ilmu komunikasi
    selamat kawan

    -palet maut kosasih

  • Seneng banget ketemu n kenal ma tmen2 smua, Qta banyk blajar n bertukar fikiran. Tetap Semangat… Saudaraku. Semoga tahun depan pertemuan akumassa di Lombok… Amin…

  • aduch…
    aq belajar banyak dari kalian semua…
    tq utk semua….

    sampai ketemu dilain waktu dengan banyak hal yang sudah kita lakukan untuk orang2 sekitar kita…
    🙂