Jurnal Kecamatan: Padangpanjang Timur Kota: Padangpanjang Provinsi: Sumatera Barat

Ditangkap Satpol PP

Kisah ini berawal ketika saya bermain teater untuk ujian mahasiswa semester tujuh  Jurusan Teater di kampus saya, Institut Seni Indonesia (ISI), Padangpanjang.  Alhamdulillah acaranya berjalan lancar. Saya bermain teater berpasangan dengan Robert, dia adalah mahasiswa Jurusan Teater angkatan 2008 dan saya adalah mahasiswa Televisi dan Film yang menyukai teater.

Gedung tempat pementasan teater

Gedung tempat pementasan teater

Walaupun  kurang berbakat dan akting yang  pas-pasan, tapi saya bangga bisa dipercaya bermain teater. Saat itu saya memainkan peran Lingga dengan naskah berjudul ‘Sebelum Bebas’. Di naskah ini, Lingga adalah mantan wartawan korban ketidakadilan zaman Orde Baru. Ia menginginkan kebebasan yang diimpikan. Mungkin cerita Lingga tidak jauh berbeda dengan pengalaman saya sehabis bermain teater  kemarin.

Suasana Pasar Padangpanjang di waktu malam

Suasana Pasar Padangpanjang di waktu malam

Saat itu hari sudah larut malam, jam kira-kira menunjukan pukul 21.00 WIB. Rencananya kami mau makan malam di Pasar Padangpanjang. Karena jarak kampus dengan pasar Padangpanjang tidak terlalu jauh, saya dan pacar saya (sebut saja Mawar), Yudi (nama samaran) dan Melati (nama samaran) pergi ke pasar dengan berjalan kaki. Awalnya saya merasa kurang nyaman di sepanjang perjalanan, kebetulan saya sedang bertengkar dengan Mawar yang kemudian Yudi dan Melati berjalan lebih cepat. Mungkin mereka merasa risih melihat kami bertengkar. Setelah ke luar gerbang kampus, suasana agak sepi, sepanjang perjalanan saya bertengkar karena Mawar merasa dicuekin karena saya sibuk latihan bermain teater dan akhirnya saya meminta maaf.

Setelah tiba di pasar, banyak sekali orang-orang yang memperhatikan kami berdua, tapi saya mencoba cuek. Lalu kami menghubungi Yudi dan Melati. “Lagi di mana, Cuy? “  panggilan akrab untuk Yudi, ”Ini udah di warung nasi goreng dan ayam bakar,” jawab Yudi melalui telepon. Kami berdua pun bergegas pergi ke sana.  Yudi dan Melati sudah memesan nasi goreng dan ayam bakar, mungkin mereka sudah kelaparan menunggu kami berdua. Kemudian Mawar pun memesan nasi goreng dan ayam bakar. Karena dapat nasi bungkus dari Indah sang sutradara teater, jadi saya tak ikut makan bersama.

Warung nasi goreng dan ayam bakar, tempat kami kencan bersama

Warung nasi goreng dan ayam bakar, tempat kami kencan bersama

Ketika sedang asyik-asyiknya menyantap makanan, entah kenapa Yudi dan Melati bertengkar. Uniknya, setiap saya dan Mawar bertengkar dan baikan, tak lama kemudian mereka berdua pasti ikut-ikutan bertengkar. Tidak tahu apa alasannya, mungkin karena sering ‘double date’ (dua pasang kekasih yang kencan bersamaan).

Aku dan kekasihku berusaha agar mereka berhenti bertengkar, mereka pun berdamai dan kami berempat melanjutkan santap makan malam.

Selesai makan, kami berempat berencana pulang ke kost. Sambil berjalan Mawar berkata bahwa kepalanya agak pusing dan badannya lemas. Sepanjang jalan orang-orang memperhatikan kami berempat. Saya dan Yudi mampir sebentar ke sebuah kedai untuk membeli rokok. Mawar dan Melati kami suruh  jalan lebih dulu karena tidak enak diperhatikan orang di pasar. Setelah membeli rokok, kami berdua pun bergegas menyusul Mawar dan Melati. Mereka mengeluh di sepanjang jalan karena merasa kurang nyaman diperhatikan orang-orang di pasar. Biasa orang ‘Village‘ (sebutan kami bagi orang yang kampungan).

Setelah sampai di sebuah gang atau jalan menuju tempat kost, kami melewati taman kota yang gelap. Kami berempat takut sehingga memutuskan untuk melewati jalan altenatif. Tanpa sengaja Yudi melihat ada sepasang kekasih di dalam taman. Padahal setahu kami ada peraturan bahwa di atas jam sepuluh malam warga dilarang masuk ke area taman, apalagi berkencan. Tapi kali ini kami berempat mengacuhkannya.

Batas waktu pengunjung taman

Batas waktu pengunjung taman

Setelah masuk ke jalan yang mengarah ke tempat kost kami, Mawar merasa tidak sanggup lagi berjalan karena kepalanya tambah sakit dan badannya semakin lemas. Sambil berjalan Mawar bersandar di badan saya sambil memegang tangan saya. Yudi dan Melati berjalan lebih dahulu, jarak antara mereka dengan kami berdua agak jauh. Setelah berjalan kira-kira sepuluh meter, tiba-tiba datang dua orang mengendarai motor dan berhenti tepat di depan saya. Ternyata kedua orang itu adalah anggota Satpol PP (Satuan Polisi Pamong Praja yang bertugas menegakkan Undang-Undang Peraturan Daerah-red) dan kami pun terkejut.

Lokasi tempat saya dan kekasih ditangkap oleh Satpol PP

Lokasi tempat saya dan kekasih ditangkap oleh Satpol PP

Mereka bertanya pada kami, “Mau ke mana kamu? “

“Mau pulang ke tempat kost, Pak!”

“Dari mana?”

“Habis makan malam di pasar, Pak.”

“Ngapain kalian berdua-duan di tempat gelap seperti ini?”

Enggak kok, kami berempat. Itu teman saya udah duluan!”

Alaah… banyak alasan kamu!”

“Yah, sumpah, Pak!”

“Kalian ini sudah melanggar Undang-Undang Perda.”

“Apaan tuh Pak?”

“Kalian asli mana?”

“Saya dari Bogor dan teman saya ini asli Jambi.”

“Kuliah di mana?”

“STSI…”

“Oh… kalian harus dibawa ke kantor untuk diperiksa lebih lanjut.”

Emang saya salah apa? Perasaan kami berdua enggak ngelakuin apa-apa!”

“Saya dapat laporan dari masyarakat sekitar, kalian tadi di sepanjang jalan mesra-mesraan, peluk-pelukan, cium-ciuman dan kalian sudah melanggar aturan Perda.”

Hah! enggak, Pak! Laporan tadi  itu enggak benar . Teman  saya sedang sakit kepala dan badannya lemas, makanya sambil berjalan dia bersandar ke badan saya. ”

Lalu Yudi dan Melati  datang,

“Kenapa, Pak? Mereka ini teman saya,” ucap Yudi.

“Kalian sudah melanggar aturan Perda, di atas pukul 22.00 WIB pasangan yang bukan muhrim dilarang berkeliaran, jadi kalian harus dibawa ke kantor untuk diperiksa lebih lanjut.”

“Memangnya enggak bisa damai di tempat aja, Pak?”

“Enggak bisa, soalnya saya sudah melapor orang-orang di kantor untuk menjemput kalian”

Mobil Satpol PP yang membawaku

Mobil Satpol PP yang membawa Mawar

Tidak lama kemudian datang mobil Patroli Satpol PP yang akan membawa kami berdua.  Melati naik mobil patrol dan saya naik motor Satpol PP lainnya. Padahal saya ingin sekali merasakan naik mobil petugas dan duduk di belakang, mungkin karena kebanyakan pasukan jadinya tak cukup jika saya naik mobil. Entah mengapa kedua teman saya Yudi dan Melati tidak ikut digiring ke kantor mereka. Yudi sempat bertanya kepada petugas tadi, tapi salah satu dari mereka berkata “Sudah kalian enggak usah ikut, kalian pulang saja.”

Kantor Satuan Polisi Pamong Praja Padang Panjang

Kantor Satuan Polisi Pamong Praja Padang Panjang

Setibanya di kantor Satpol PP, saya ditanyai data lengkap oleh petugas. Tampangnya tampak galak, awalnya agak takut juga melihatnya. Petugasnya menanyakan nama lengkap dan alamat saya. Setelah mengetahui bahwa saya kuliah di ISI, sudah tidak aneh menurutnya, karena sudah banyak anak ISI yang ‘mampir’ ke sini.

Ketika Mawar ditanyai data lengkapnya, ia pun berbohong. Mungkin karena ketakutan dia mengaku bahwa dia juga kuliah di ISI dan kost di Padangpanjang. Namun ketika ditanya alamat kostnya dia tidak bisa menjelaskan alamat lengkapnya. Akhirnya saya yang menjelaskan ke Petugas itu bahwa sebenarnya dia kuliah Di Universitas Andalas, Padang dan kost di sana. Mawar tampak ketakutan dibentak-bentak  karena dia berbohong. Saya tidak bisa berbuat apa-apa melihatnya. Kemudian KTP, handphone dan barang-barang kami diperiksa. Kata mereka takut ada video pornonya. Karena kebetulan handphone saya sudah ketinggalan jaman maka tidak begitu lama diperiksanya, namun karena handphone Mawar terlalu canggih maka agak lama pemeriksaannya. Setelah beberapa lama diperiksa, petugas pun menyerahkan handphone itu. Saya pikir sudah selesai pemeriksaannya. Tapi ternyata si Petugas itu tidak tahu cara membuka kunci tombol di handphone Mawar. Saya berusaha menahan tertawa. Saat itu serba salah jadinya, mau tertawa takut dimarahi, mau ditahan malah sakit perut. Maka dengan sekuat jiwa dan raga saya menahan untuk tidak tertawa sedikit pun. Setelah Mawar membuka kunci tombolnya, Petugas itu melanjutkan memeriksa handphone tersebut, sambil bertanya apakah di handphone Mawar ada video porno atau tidak. “Enggak ada lah, Pak!” jawab Mawar. Di handphone itu hanya ada foto-foto saya. Setelah selesai memeriksa handphone tersebut, kami berdua diperiksa lebih lanjut di ruang yang  terpisah.

Ruang tempat kami di interogasi

Ruang tempat kami diperiksa

Setelah masuk ruangan tersebut, Saya ditanya kuliah di mana dan mengapa bisa ditangkap. Petugas itu berkata, “Jika kamu memang tidak bersalah, mungkin hanya sebentar keluarnya, asalkan kamu jujur dan jawaban kamu dan teman kamu itu sama. Jadi, untuk sementara kamu tunggu dulu di sini. Saya akan memanggil Petugas yang akan mewawancaraimu.”

Tidak lama setelah Petugas yang pertama itu keluar, Saya disuruh untuk menunggu di luar. Ternyata malam itu bukan hanya saya yang ditangkap Satpol PP. Tampak  ada tiga orang yang ditangkap. Yang satu berpasangan dan yang satu lagi tenyata PSK. Tidak lama kemudian datang teman saya, Yogi, Fandi dan Yoga. Mungkin rencananya ingin menolong dan ingin tahu masalahnya seperti apa sampai saya tertangkap Satpol PP.

Kantor Satpol PP

Kantor Satpol PP

Awalnya saya dan ke tiga teman saya ngobrol-ngobrol sambil menghibur saya, ternyata Yoga adalah residivis Satpol PP juga. Kami berempat pun tertawa histeris sampai kena marah Petugas. Tidak lama kemudian, Saya dipanggil masuk lagi ke kantor. Ternyata saya mengenali orang yang mewawancarai, tetapi lupa namanya. Dahulu saya pernah berkenalan di kampus ketika acara peresmian UKM Pers. Saya pun berpura-pura tidak kenal. Mungkin dia juga lupa pada saya. Abang itu bernama Jhon dia menanyakan kenapa saya bisa tertangkap oleh Satpol PP. Saya  pun menjelaskan kenapa bisa tertangkap. Saya dituduh melakukan hal yang asusila di jalan,  padahal saya hanya membantu pacar saya yang sedang lemas dan tidak enak badan. Setelah itu BangJhon menanyakan sejauh mana kami berhubungan. Awalnya saya tidak mau mengaku, tapi Abang itu terus-terusan mengancam jika saya tidak jujur, saya akan menjalani proses pemeriksaan yang lama. Akhirnya saya menjawab jujur bahwa selama berhubungan dengan Mawar paling jauh hanya sekedar berciuman saja, kami pacaran kira-kira hampir 3-4 bulan. Saya berkenalan dengan Mawar sewaktu di Padang. Saat itu dia sedang ujian drama di Taman Budaya Padang. Saya dikenalkan oleh Fandi, Yudi dan Culil yang kebetulan menjadi kru drama mereka.

Setelah itu Bang Jhon bertanya apakah saya menyukai musik Jamrud? Mulanya saya kaget tiba-tiba abang itu bertanya tentang Band Jamrud, grup musik cadas yang berasal dari Bandung. Saya jawab “Ya, lumayan Bang kebetulan dulu waktu SD saya suka banget lagu Jamrud,” jawab saya.  Hal ini mengingatkan saya ketika ayah membelikan VCD untuk karaoke-an di rumah, selain lagu-lagu lawas, ia juga membeli CD Jamrud. Walaupun kurang begitu tahu semua judul lagunya, tapi ada beberapa lagu yang saya tahu. Akhirnya kami berbincang tentang perkembangan musik Jamrud. Bang Jhon bertanya lagi,

“Kamu suka nonton filem porno nggak?” tanya Bang Jhon.

“Kadang-kadang, Bang Memang kenapa, Bang?”

“Saya punya filem porno di handphone saya, kamu mau lihat?”

“Enggak, Bang!” jawab saya.

Tapi dia tetap menyuruh saya, “Coba lihat, bagus enggak punya Abang?”

“Lumayanlah, Bang!” tanggap saya.

Karena terlalu lama membahas hal yang kurang jelas, saya bertanya,

“Bang, sudah beres wawancaranya?”

“Belum!” Jawabnya.

Saya kaget mendengarnya, setelah sekian lama kami membincangkan hal yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan persoalan saya tertangkap. Ternyata Abang itu menawarkan saya untuk menikahi pacar saya malam itu juga, saya pun kaget mendengarnya, sambil menelan air ludah, saya bertanya ”Serius itu, Bang?” Abang itu menjawab “Iya, kami punya wewenang menikahkan kalian di sini karena kalian sudah melanggar Perda”.

Ruang dalam kantor Satpol PP

Ruang dalam kantor Satpol PP

Sambil memasang muka memelas saya berkata, “Memangnya tidak bisa diberi kelonggaran, Bang? Padahal saya hanya melanggar waktu saja dan saya juga tidak melakukan apa-apa kok. Kalau saya menikah sekarang, mau dikasih apa nanti istri saya, Bang? Memangnya tidak bisa ditawar lagi, Bang?”

Abang itu bertanya lagi apakah saya kenal dengan Fadly dan Rian.

“Kalau tidak salah, Fadly saya kenal, tapi kalau Rian mungkin tidak. Mereka berdua anak teater kok, angkatan 2008. Memangnya ada apa, Bang?”

“Mereka berdua teman Abang, mereka juga sering main ke sini”.

“Maksud Abang ketangkap?”

“Mereka sering membantu kami di sini.  Ya sudah saya hubungi mereka.”

Sambil menunggu telepon tersambung, Abang itu juga bertanya apakah saya mengenal Pak Katil.

“Oh, saya kenal, Bang, dulu dia dosen saya!” lalu Bang Jhon keluar.

Bang Jhon, salah satu anggota Satpol PP yang menangkap saya

Bang If, salah satu anggota Satpol PP yang menangkap saya

Tak lama kemudian, Rian datang dan menyapa saya. Ternyata saya mengenalinya, tapi kurang begitu akrab. Lalu Bang Jhon masuk lagi dan menanyakan apakah saya ke sini hanya berdua saja.

Saya pun menjawab, “Iya, tapi tadi di jalan sebenarnya berempat.”

Lho, kok hanya kalian saja yang  ke sini? Mana teman kalian, nggak ditangkap? Kenapa mereka berdua nggak ikut ke sini?”

“Nggak tahu, petugas yang menangkap saya bilang kalau teman saya enggak usah ikut”.

“Aduh mereka seharusnya ikut, telepon teman kalian!”.

“Bang, handphone saya dipegang teman Abang yang di depan tadi.”

“Ya sudah saya ambilkan, nanti kamu coba hubungi teman kamu itu, suruh dia kesini kalau tidak bisa, mau enggak mau, kamu dan pacar kamu itu terpaksa harus tidur semalaman di sini sampai besok pagi!”

Tanpa berpikir panjang, saya menghubungi Yudi dan Melati. “Cuy, buruan ke sini bantuin gue.” Kemudian Yudi dan Melati datang. Melati langsung dipanggil masuk ke ruangan bersama Mawar. Saya dan Yudi menunggu di luar.

Tak lama kemudian Yudi dan Melati keluar sambil tersenyum-senyum dan akhirnya kami berempat bisa pulang malam itu juga dengan syarat kembali lagi besok pagi jam 08.00 WIB dengan membawa materai  Rp.6000 untuk surat perjanjian. Kami pulang bareng bersama Bang Jhon yang kebetulan juga harus pulang. Di tengah jalan, Bang Jhon menawarkan untuk makan dan kami berempat ditraktir makan di rumah makan Kubang. Disana kami banyak berbincang banyak. Tak terasa hari sudah larut malam dan kami memutuskan untuk pulang.

Rencana awalnya Mawar dan Melati menginap di kamar kost Yudi, namun batal. Akhirnya mereka saya suruh tidur di kost mantan pacar saya ketika baru masuk kuliah dulu. Mereka terpaksa tidur di tempat mantan saya yang letak kostannya tidak jauh dari rumah Bang Jhon. Setibanya di sana, saya pun mengenalkan Mawar kepada mantan pacar saya itu. Setelah meraka masuk kamar, kami pun berpisah untuk pulang.

Sesudah sampai di kost, masih ada kesialan yang berikutnya. Ternyata kunci kamar terbawa oleh Fandi. Kami pun menghubungi Fandi yang ternyata sedang ada di Bukittinggi bersama temannya. Kami terpaksa menunggu di luar kamar sampai Fandi datang. Setelah satu jam menunggu akhirnya Fandi datang. Kami pun beristirahat setelah kelelahan.

Keesokan harinya kami bangun kesiangan. Seharusnya jam 08.00 WIB sudah berada di kantor Satpol PP, tetapi jam 09.00 WIB kami baru berangkat. Kami pun bergegas menjemput Mawar dan Melati dan pergi ke kantor Satpol PP. Setibanya di sana, kami berempat langsung mencari Bang Jhon. Ketika baru berdiri di depan pintu, petugas Satpol PP menahan saya masuk sedangkan yang lainnya dibiarkan masuk. Saya kaget saat itu, ternyata saya baru sadar kalau saya memakai celana pendek. Saya lupa kalau pagi itu adalah hari Jum’at dan harus ke kantor Satpol PP lagi. Saya disuruh pulang lagi untuk mengganti pakaian saya. Setelah itu saya kembali ke kantor dan diperbolehkan masuk. Ketika ditanya oleh petugas, ternyata dia pernah tinggal di Bogor dan menjadi pemain sepakbola di sana. Kami berempat pun dipanggil ke dalam ruangan dan membuat surat perjanjian. Di surat tersebut tertulis:

Apabila saya yang bernama Chandra  Zefry Airlangga dalam waktu 6 bulan melakukan pelanggaran lagi, maka akan dikenakan sangsi.

Lalu saya menandatangani surat tersebut. Sambil menceramahi saya agar tidak mengulangi kejadian itu lagi, Bang Jhon berkata jika saya mengulanginya lagi maka dia tidak bisa membantu lagi. Akhirnya kami berempat pulang.

Bang Jhon sempat menitipkan pesan, “Alangkah baiknya kalian pulang secepatnya ke Padang.”

Kami berempat serentak menjawab “Iya Bang, kami sebentar lagi pulang sehabis Sholat Jum’at. Terimakasih sudah membantu kami”.

“Ya sudah tidak apa-apa kok, sekali lagi kalian jangan mengulangi kejadian tadi malam, khususnya buat Angga. Kalau sampai Angga mengulanginya lagi, nanti Angga Abang kawinkan!”

“Iya Bang!” Lalu kami berempat pulang ke kost dan bersiap-siap ke Padang.

Namun ternyata Yudi masih ingin bermain dengan Melati dan mereka memutuskan untuk ke Bukittingggi. Mungkin mereka masih stres karena peristiwa semalaman di introgasi oleh Satpol PP. Setelah adzan Isya mereka pulang. Saya menunggu di kostan Yudi sebelum pulang ke Padang. Karena takut ketahuan Bang Jhon kalau sebenarnya kami baru saja pulang.

About the author

Chandra Zefry Airlangga

Chandra Zefry Airlangga biasa dipanggil Angga, merupakan lulusan ISI Padangpanjang. Pemuda kelahiran 20 January 1990 ini, aktif berkegitan di Komunitas Sarueh, yang sebelumnya juga pernah mengikuti workshop akumassa Padangpanjang yang diadakan oleh Forum Lenteng. Dia juga berkontribusi dalam program Pemantauan Media Berbasis Komunitas sebagai pemantau perwakilan dari Padangpanjang Sumatera Barat.

Leave a Comment

36 Comments

  • haha lucu banget lewat jam 10 ditangkep Satpol PP.
    Tapi oke juga ya, satpol pp nya nggak mau diajak ‘damai’.

  • yuhuuu….
    akhirnya angga berani jg nulis ini…setelah diancam kita2…klo ga nulis sendiri bakal ditulis dengan vulgar oleh fandi…wkwkwkkwkwkkwkwkwk
    SERRUUU NYET…sering2 aja yuaaa…hahahaha…pizzzzz…

  • hahaha
    angga..angga..
    jauh2 datang dari bogor..
    di tangkap sat pol PP lagi di padangpanjang
    hahahahaha
    tapi keren ternyata nyampe di kantor pamong
    pada residifis semua….
    hahahahaha

  • sumpah ini lucu banget.
    angga banget.
    trus ketahuan ya satpol pp itu ga ada kerjaannya. jadi masalah dicari-cari haha…
    dan satu lagi
    kunci kebawa fandi sampe bukittinggi,
    kenapa di padangpanjang peristiwanya selalu seperti itu ya? nungguin fandi berjam2 di depan kostan. gue kira itu pengalaman gue doang…fandiiii…fandii..

  • da senengnya ada malunya,ya itu perasaan w….
    senengnya jadi jg tulisn w bwt akumassa, malunya semua org jadi tau klo w pernah di tangkep satpol pp sumapah malu bgt n jdi trauma ampe sekarang klo w kluar malam2 ma cw…
    thank’s yach tmen2 yang udah nyemangatin w bwt nulis….wkakakkak

  • cK..Ck..Ck…
    koQ buk Sud mu baru tau ya..??
    napa ga’ langsung akting ja jd lingga dpan POLPP na ngga… itu pengalaman… mudah2an lain kali ga ketangkep lgi… heheheheheh…. ^_^

  • kayaknya gw kenal tuch ama tokohnya….
    apa lagi yudi lumayan akrab gw…

    tapi nyet, penting y jujur amat…
    hahahaha….

    kasian gw nyokap lo… kalo tau pasti sedih banget, jauh jauh nyekolahin lu k sini tapi malah “singgah” di kantor satpol PP…

    :peace: mode on

  • yang menarik dari tulisan ini adalah gaya penulisannya yang mirip dengan gaya penulisan di yellow paper, dengan menyamarkan identitas orang yang menjadi oknum dalam kisah. mengingatkan saya pada sebuah rubrik bertajuk ‘Nah Ini Dia’ di sebuah koran kuning ibukota yang pada masa sebelum reformasi menjadi koran dengan oplah tertinggi di Indonesia. entah secara sadar atau tidak, si penulis menggunakan gaya bahasa yang sangat erat berkaitan dengan kisahnya yang menyangkut dengan tindak yang dianggap sebagai kriminal oleh penegak hukum. dan dari alur cerita kemudian pembaca akan mengalami ambiguitas tentang siapa yang berperan sebagai ‘oknum’, antar yang dianggap sebagai ‘pelaku dengan penegak hukum. pembaca akan punya pengertian dobel tentang alasan penangkapan dan apakah benar mereka melakukan aksi penegakan hukum, mengingat citra penegak hukum yang asal-asalan…

    good work, Angga…kamu lumayan juga

  • sebelumnya minta izin tertawa selanjutnya saya hanya bisa tertawa. tuturan imforasi tidaklah jauh berbeda dengan kegalakan satpol pp di lebak. sayang setau saya di lebak kegalakanya sudah berkurang karen yang di tangkap seorang jawara. sekali lagi terimakasih atas detail kronologi yang mengangumkan dari Padang Panjang. Bravo untuk saudara Angga.

  • Ini gimana ya cara memfoto-nya?
    Pas hari ketangkep-nya atau sesudahnya?
    Kok ampe satpol PP yang menangkap mau difoto juga,

  • bwt dino : kebetulan aku ikut angga dan teman2 yang lain ke satpol pp bwt motret utk tulisan dia ini… foto diambil jauh sesudah peristiwa angga ditangkap pol pp ini…awalnya angga trauma bgt bwt kembali ke kantor satpol pp, tp ya krn kita paksa2 akhrnya dia bareng kita jg ke satpol pp…lagian di satpol pp juga orangnya ramah2 kok..biasa aja…dan kebetulan bg joni yg introgasi angga, sebenarnya jg dah kenal lama sama aku, hanya saja malam itu dia lg ga ada…dan yang baru datang ya bang iff di atas, dia yang nangkap angga di jalan…gt lho…hehe

  • tu lah kau ga…
    ini serambi mekah..
    not bogor…
    kalau masih mau ngulang,, pake vespa gila lo aja jalan malamnya…
    jangan lupa knlapotnya di pasang..

  • makanya ga…
    ini serambi mekah…
    bukan bogor tercinta lu…
    ntar kalau mau jalan malam, pake vespa buntut lu aja…
    tapi jang lupa,knlapotnya di pasang dulu…

  • makasih buat masyarakat koja ( tanjung priuk)yg telah menyadarkan polpp… buat sby jgn ragu2 tuk membubarkan lembaga preman tuch…..

  • dendam ma polpp ya beng ….heheheheheehehehe…. jadi inget ketika ngadain event musik di alun2 ujung2’y di palak minta uang keamanan 800,000 ma preman berseragam tuch… mna duit pas2-an yuaaa…

  • dasar tu pamong..wa.waw… blm ada bukti dh men tngkap aja….. sialan… klw aq ampt kau yngkap awas kau y… nyesal kau s umur hidup….. apa yg kau bnggain pamonk…. krja mu cma fitnh org… ga brguna…… fuck.. pantek

  • hahhahahahaah!!!!wkwkkwkwkwk asli gokil,,cadas apalah namanya…… MASA’ cuma pergi makan berujung POL PP weeeeeeeeeew…. malang ato emang takdir ga?????
    makanya liat sikon,,,gimana daerah dan peraturanya,,, bukan berarti kita nyantai lingkungan juga ikutan nyantai,,, baca sikon dan hargai peraturan setempat…
    tapi,, ceritanya sangat sangat lucu dan menarik …

  • Minus gan. Penggunaan bahasanya standard dan kaku, nama samaran pun terlalu dipaksakan dengan kehadiran “yudi”. Awalnya nama agan juga di samarkan, tapi setelah bikin perjanjian ama satpol pp malah ada nama agan, konsepnya jadi ngambang, dicermati lagi ya gan, nulis jangan asal-asalan ya gan, hindari penambahan suasana yang sekiranya gak penting buat dibaca.

    *kritik dan saran (y)

  • Sebenarnya bukan barang lagi jika satpol pp ini melakukan kesalahan dalam menjalankan tugasnya. Hal itu juga di dorong dengan kurangnya pengetahuan satpol pp dalam prosedur-prosedur tugasnya tanpa melupakan hak-hak dasar yang dimiliki masyarakat. Bahkan sang penulis sampai harus merelakan handphonenya (dan pacarnya) digeledah dan urusan privasi (berpacarannya) harus sampai ditanyakan. Saya mengapresiasi sang penulis karena mau menuliskan dan berbagai pengalamannya yang menurut masyarakat malu-malui. Toh, sang penulis, menurut ceritanya tidak melakukan kesalahan sama sekali.

    Yang saya mau tanyakan adalah, bagaimana caranya membuat pacar penulis akur dengan mantan pacar, sampai-sampai menginap bareng dalam satu kamar kost?? Hal itu yang malahan jarang terjadi di dalam kehidupan anak muda saat ini.