Jurnal Kecamatan: Tanah Abang Kota: Jakarta Pusat Provinsi: DKI Jakarta

Bermula Ketika Selesai: Kisah Ketika Pulang dari Konser Salam Dua Jari

Written by Gesyada Siregar
Orang-orang mulai membubarkan diri dari Gelora Bung Karno.  Di samping kiri menuju pintu keluar beberapa panitia membagikan roti dan air kepada pengunjung untuk berbuka puasa.  Sambil ikut antrian, sayup-sayup aku dengar lagu Kill the DJ Bersatu Padu Coblos Nomor Dua dari luar.  Bukannya konser sudah selesai? Pikirku, dan suaranya pun datang dari luar.  Arus antrian akhirnya membawaku ke pintu keluar dan kutemukanlah segerombolan orang berseragam merah sedang berjoget-joget heboh ditemani lagu Kill the DJ tadi.  Suara berasal dari mobil yang dimodifikasi sedemikian rupa, sehingga dapat menampung bambu-bambu bekas bendera yang mereka kibar-kibarkan selama konser tadi.  Pesta belum berhenti bagi mereka rupanya.  Setelah musik usai, terdengar suara pria melalui pengeras suara memberikan pengumuman yang selalu diulang dua kali, “Untuk rombongan dari Bekasi, sehabis ini kita akan ke DPR.. Untuk rombongan dari Bekasi, sehabis ini kita akan ke DPR.. Untuk rombongan dari anu dan ini, boleh langsung pulang….  Sekali lagi, boleh langsung pulang…”

DSC_1882

Bambu-bambu bendera yang banyak ditinggalkan sementara di jalan dimanfaatkan orang-orang untuk duduk seraya menunggu waktu berbuka puasa.  Momen ini merupakan peluang bagi beberapa pedagang untuk menawarkan barang dagangan mereka.  Sesaat, pemandangan itu biasa saja, sampai sepasang anak muda datang dan berbungkuk untuk memungut sampah di antara bambu-bambu tersebut.  Mereka bukan petugas kebersihan tampaknya, terlihat dari pakaian yang mereka kenakan.  Dalam hati, aku menjadi malu karena tidak berinisiatif seperti mereka. Segera aku mencoba ikut-ikutan membungkuk canggung namun tidak jadi, karena setelah perhitungan cepat di kepalaku, jika aku mulai memungut satu sampah, pasti akan keterusan dan pulang lebih larut.  Buru-buru aku berjalan mencari gerbang keluar GBK sebelum tergoda desakan moral lebih jauh.

DSC_1885

DSC_1887

Tentunya, tidak hanya aku sendiri yang memilih untuk pulang ketimbang menunggu waktu berbuka di GBK.  Bersama ratusan orang, kami berbondong-bondong keluar ke jalan raya.  Ada yang mungkin mencari tempat berbuka puasa yang lebih nyaman di mall sekitaran Senayan, atau ada yang ingin cepat-cepat sampai di rumah untuk menonton debat capres-cawapres yang akan diadakan pada malam harinya.

Ramainya jalanan menjadi panggung tersendiri bagi seorang pendemo yang melakukan aksi berjalan mondar-mandir di atas atap jembatan penyebrangan.  Tepat di bawah area performansnya, kalimat-kalimat tentang golput di atas kain putih besar terpasang.  Entah apa maksudnya, namun ia cukup menarik perhatian para penyebrang, yang satu-dua dari mereka menyempatkan waktu untuk menepi dan mengeluarkan kamera mereka ke arah si pendemo. Di bawah kain protes si golput, terdapat spanduk kampanye dari pasangan capres cawapres Prabowo-Hatta.  Tidak hanya satu, namun tiga spanduk dalam berbagai ukuran dipasang berderet. Beberapa meter lagi di bawah spanduk, puluhan pengendara roda dua dan empat dengan riang menyanyikan lagu Slank, Salam Dua Jari, seraya mengibarkan bendera yang menandakan mereka pendukung Jokowi dan Jusuf Kalla.  Orang-orang yang mereka boncengi serta yang menumpang di atas bus juga tak lupa melambaikan dua jari kepada kami yang berdiri di pinggir jalan.  Dua jari-dua jari itu tak lepas dari tangan mereka, bahkan sampai mereka lenyap dari jarak pandangku.  Hanya dalam sepetak kecil Jakarta, dapat kutemukan berbagai pernyataan pilihan untuk pemilu tahun ini.

DSC_1896

DSC_1893

Antrian  di Halte Transjakarta rupanya kelewat padat.  Baru terbayanglah olehku besarnya kapasitas Stadion Gelora Bung Karno, dan tidak berimbang jika massanya ditumpahkan ke jalan raya seberangnya.  Coba saja Stadion tersebut bisa terbang atau punya roda.  Atau tiap bangku bisa dipasang jet  dan menjadi kendaraan pribadi masing-masing penonton.  Atau terdapat tali flying fox dari pinggir stadion yang bisa mengantarkan kami satu persatu ke rumah.  Atau lapangan bola berubah jadi karpet terbang ala Aladin.  Terlalu banyak kemungkinan transportasi massal ajaib yang bisa dipikirkan untuk menghiburku di tengah keramaian itu.  Senayan menebar rezekinya untuk kendaraan umum lain; aku harus naik bus kota untuk sampai ke stasiun kereta dan jika aku tidak cepat-cepat, kondisi akan semakin penuh saja.

Setelah diyakinkan sang kenek bahwa Kopaja ini akan melewati Stasiun Sudirman, aku menaiki bus tersebut bersama beberapa calon penumpang lain.  Syukurlah ada tempat duduk yang masih tersedia, mengingat jalanan yang padat akan memperpanjang waktu tempuh yang seharusnya pendek dari Senayan ke Stasiun Sudirman.  Kudapati penumpang yang duduk di kanan dan kiriku memakai atribut pendukung capres nomor urut dua, dari baju kotak-kotak, kaos bersablon wajah Joko Widodo dan Jusuf Kalla, dan pin kecil yang tersemat di pakaian mereka.  Sambil menunggu sampai, aku berandai-andai di manakah posisi mereka di stadion yang begitu luas tadi.

DSC_1894

Bus kami tertahan macet di dekat Semanggi.  Menoleh ke kiri, kutemukan rombongan pengendara motor pendukung Jokowi lagi.  Mereka masih mengacungkan dua jari kepada siapapun yang mau melihat di jalan.  Para ibu bahkan mengajarkan anak kecil mereka untuk menekuk tiga jarinya dan mengacungkannya ke bus sebelah.  Euforia dari stadion GBK ternyata belum pudar, bahkan mungkin makin menggila pada tiap ruas jalan.  Isi Kopaja yang kunaiki pun berlomba-lomba mengintip ke jendela untuk melacak sumber keberisikan atau asal dari pucuk bendera-bendera yang menyembul.   Sudah-sudah, mohonku dalam hati, karena pendukung Jokowi yang juga penggemar Slank menjadi berdesak-desakkan di  sampingku dan bau badan  mereka cukup menyengat.

DSC_1907

Bus akhirnya bisa berjalan lagi, dan tak lama, sang kenek mengingatkan kami bahwa stasiun sudah dekat.  Aku bergegas, dan ketika sampai, aku turun bersama penumpang lain.  Kami masih harus berjalan menuruni tangga untuk menuju stasiun.  Tepat di depanku, tiba-tiba muncul seorang pendukung Jokowi lagi, terlihat dari sablonan kaosnya.  Aku tidak ingat jika dia berasal dari Kopaja yang sama denganku, mungkin saja ia dari angkutan lain.  Ia berjalan cukup cepat dan mendahuluiku.  Kami berpisah ketika aku mampir dulu di sebuah toko depan stasiun untuk membeli air minum.  Sambil membayar air minum, aku melamun tentang jumlah pendukung Jokowi-JK yang kira-kira akan aku temui lagi, padahal, jarak dari GBK sudah semakin jauh.

DSC_1909

Prediksiku akan segera terjawab.  Aku memasuki stasiun dan men-tap tiket elektronikku.  Kebetulan sekali, kereta menuju Bogor sudah tersedia, sehingga aku tidak perlu menunggu lama-lama.  Keberuntunganku bertambah karena bangku yang kosong ternyata masih banyak di sana.  Dasar sindrom anak kereta, walaupun sepi, aku dan beberapa penumpang lain secara insting setengah berlari untuk mencapai kursi yang tidak diduduki. Dan sekali lagi, aku bertemu dua wanita pendukung Jokowi sedang duduk di depanku mengobrol seru dengan teman di seberangnya.  Aku masih tak habis pikir dan terpukau dengan beragamnya domisili pengunjung yang hadir di konser tersebut.  Ya, saat mereka ada di stadion, orang-orang ini hanya terlihat sebagai satu kumpulan massa, kepala-kepala hitam kecil, dua jari-dua jari yang diacungkan di udara.  Jujur, aku merasa biasa saja ketika berada dalam stadion.  Tidak ada bedanya dengan menonton konser yang lain atau menonton bola.  Namun, menyaksikan bahwa semangat mereka tidak terhenti di GBK saja, tetapi hingga dalam perjalanan mereka pulang ke rumah, dan bahwa sebagian dari mereka mempunyai asal kediaman yang sama denganku, baru memberikan sensasi merinding untukku.

About the author

Gesyada Siregar

Gesyada Annisa Namora Siregar lahir di Medan pada tahun 1994. Sedang menempuh pendidikan di jurusan Seni Murni, Fakultas Seni Rupa, Institut Kesenian Jakarta. Menjadi co-founder dari Taman Baca Bulian, sebuah taman baca berskala komunitas di Jakarta Selatan dan Ketua Himpunan Mahasiswa Seni Murni FSR IKJ periode 2013-2014.

Leave a Comment