Paju, Korea Selatan

Tujuh Hari Pesta Dokumenter di Perbatasan Korea

Selama tujuh hari, 22-28 September 2011, Kota Buku Paju (Pajubookcity) yang merupakan kota perbatasan Korea Selatan dengan Korea Utara diramaikan oleh rangkaian acara 3rd DMZ Korean International Documentary Festival. Sesuai namanya, Pajubookcity memang didesai sebagai one-stop publisher, segala proses penerbitan buku, mulai dari desain, produksi, packaging, logistik, hingga distribusi, dikelola di Pajubookcity.

3rd DMZ Korean International Documentary Festival

Pajubookcity

Ini merupakan kali pertama aku menghadiri festival filem skala Internasional. Dan aku dibuat kaget dengan acara pembukaan 3rd DMZ Korean International Documentary Festival yang begitu mewah dan dihadiri oleh berbagai kalangan, termasuk para pejabat pemerintah.

Pembukaan 3rd DMZ Korean International Documentary Festival

Pembukaan 3rd DMZ Korean International Documentary Festival

Para tamu undangan dari berbagai negara diangkut dengan tour bus dari penginapan, Hotel Jijihyang, menuju stasiun kereta. Sebelum rangkaian kereta khusus tamu festival datang menjemput, kami ditemani oleh marching band militer yang mengalunkan nada-nada semangat. Dua orang tentara tersenyum kepadaku. Dan diiringi senja, kereta pun tiba. Kami pun berangkat menuju Stasiun Kereta Dorasan, tempat acara pembukaan 3rd DMZ Korean International Documentary Festival digelar. Stasiun Dorasan merupakan stasiun paling utara dari jalur kereta Kyongui. Sepanjang perjalanan kawat-kawat berduri yang membatasi Korea Selatan dengan Korea Utara menjadi pemandangan kami. Tapi suasana di dalam kereta tidak menciptakan ketegangan apa pun. Pesta filem dokumenter disesaki gembira.

Tour Bus

Marching Band

Di gedung aula Stasiun Dorasan, hidangan makan malam disajikan untuk para tamu. Kemudian, acara pembukaan dimulai dengan tarian dan sambutan dari pemerintah kota serta Direktur Festival, Cho Jae-Hyun. Setelahnya, filem After The Apocalypse karya Antony Butts, diputar sebagai filem pembuka 3rd DMZ Korean International Documentary Festival. Filem berdurasi 64 menit ini menghadirkan kisah para warga Semipalatinsk, Kazakhstan, yang menjadi korban tes nuklir Uni Soviet di tahun 1949-1989. Hingga kini mereka masih memiliki resiko memiliki bayi cacat akibat radiasi nuklir. Selain filem After The Apocalypse, acara pembukaan juga diramaikan oleh artis Korea yang sepertinya sangat terkenal, karena banyak gadis Korea yang bersorak histeris ketika si penyanyi beraksi di panggung. Aku terdiam karena keterbatasan bahasa. “Mungkin ini Afghan-nya para cewek Korea,” pikirku.

Esok harinya, 23 September 2011 hingga 28 September 2011, gelaran filem dokumenter yang jumlahnya sekitar 102 filem diputar di 7 ruang bioskop Cinus Eche, Eche Edutainment Mall, Pajubookcity. Termasuk filem dokumenter Dongeng Rangkas,  hasil kolaborasi akumassa dan Saidjah Forum. Dongeng Rangkas termasuk dalam kategori Asian Prespective, diputar pada hari Minggu, 25 September 2011 [baca di sini] disertai sesi tanya jawab.

Cinus Eche Edutainment Mall

Cinus Eche Edutainment Mall

Pemutaran Dongeng Rangkas dan sesi tanya jawab bersama para sutradara

Festival filem ini didukung dan didanai oleh pemerintah. Sebuah dukungan yang tidak didapat oleh Indonesia. Maka tidak heran, seluruh Pajubookcity dihiasi oleh publikasi festival dalam bentuk spanduk dan poster dengan ukuran besar. Filem-filem pun diputar di gedung bioskop mewah dan berlokasi di mall. Koordinasi antara para panitia penyelenggara aku rasa cukup baik. Padahal sebagai sebuah festival, umurnya masih sangat muda, 3 tahun. Filem-filem yang diputar dalam 3rd DMZ Korean International Documentary Festival mayoritas mengangkat isu sosial, politik, sejarah, perdamaian, kemanusiaan, dan sebagainya. Begitu pula sesi presentasi yang digelar. Salah satunya forum diskusi “Asian Way of Documentary”, dimana akumassa menjadi wakil dari Indonesia untuk mempresentasikan perkembangan dokumenter di Indonesia dan program akumassa sebagai program community development  yang berbasi medium video dengan pendekatan dokumenter.

Sesi diskusi "Asian Way of Documentary"

Di hari terakhir, malam penganugerahan pun digelar di Eche Art Hall, Eche Edutainment Mall. Acara dimulai pukul 19.00. Dibuka oleh tarian dan sambutan, persis seperti rangkaian acara pembukaan. Namun, karena penerjemah Korea-Inggris pada acara penutupan ini kurang bekerja dengan baik, aku pun sulit memahami apa yang sedang dibicarakan dalam pidato serta oleh pemandu acara. Aku dan teman-teman hanya bisa tersenyum saat banyak warga Korea tertawa terbahak-bahak.

Malam penganugerahan 3rd DMZ Korean International Documentary Festival

Filem terbaik yang keluar sebagai pemenang 3rd DMZ Korean International Documentary Festival adalah The Tiniest Place, karya Tatiana Huezo dari Meksiko. Setelah acara penganugerahan, kami pun digiring ke ruang bioskop untuk menyaksikan filem pemenang ini. Sayang sekali sutradaranya tidak dapat hadir. Ia hanya menyampaikan rasa bahagia dan terimakasih karena telah menang melalu video. Filem The Tiniest Place mengangkat kisah sekelompok warga desa di El Salvador yang menata kembali hidup mereka sebagai korban selamat pasca perang. Aku merasa filem ini memiliki bahasa visual yang unik, karena meskipun membicarakan kekejaman perang, tapi tidak ada satu pun adegan perang yang ditampilkan selama 104 menit durasi filem. Tata suara filem yang dibuat sangat baik dan visual yang memakai filem 35mm membuat The Tiniest Place menjadi filem yang manis sebagai penutup rangkaian acara 3rd DMZ Korean International Documentary Festival.

Pajubookcity

Arsitektur Pajubookcity

Arsitektur Pajubookcity

Malam terakhir di Kota Paju dihiasi oleh gerimis kecil. Seakan mengucapkan selamat jalan kepadaku serta kawan-kawan Forum Lenteng dan Saidjahforum yang akan pulang keesokan harinya. Pesta filem dokumenter pun usai. Tapi mimpi anak bangsa kembali dimulai. Selamat untuk Dongeng Rangkas dan teman-teman akumassa.

 

About the author

Avatar

Mira Febri Mellya

Perempuan kelahiran Jakarta pada tanggal 22 Februari 1990 ini telah menyelesaikan studi strata satu di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta. Sebelumnya ia telah aktif sebagai fasilitator program worskhsop akumassa di beberapa kota bersama komunitas dampingan. Sekarang ia menjadi wartawan aktif di majalah Gatra.

3 Comments

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.