Darivisual Kecamatan: Pemenang Kota/Kabupaten: Lombok Utara Provinsi: Nusa Tenggara Barat

Pertemuan Jabo dan Zakaria

Avatar
Written by Otty Widasari

Tulisan ini adalah bagian dari buku Sebelas Kisah dari Tenggara yang ditulis oleh Muhammad Sibawaihi, Otty Widasari, dan Manshur Zikri, diterbitkan oleh Forum Lenteng pada tahun 2016. Dimuat kembali di situs web AKUMASSA dalam rangka rubrik “Darivisual”.

Manajemen seni pertunjukan. Itulah yang dirasa Zakaria paling dibutuhkan saat ini oleh sanggar seni tradisional yang dipimpinnya. Zakaria menarikan seni tradisional Rudat sejak kecil. Dia juga memainkan peran penting dalam Teater Komedi Rudat sejak remaja, mengikuti sang kakek. Zakaria selalu memerankan Sang Pangeran dalam sebuah lakon tunggal yang selalu dimainkan oleh Seni Rudat Setiabudi, Sanggar Panca Pesona, begitu pula kakeknya dulu. Istri Zakaria-lah pemeran Sang Putri, yang juga diperankannya sejak remaja. Demikian pula ibu sang istri dulu. Begitulah tradisinya. Bahkan, peran-peran pun dilakonkan secara garis keturunan. Entah kenapa. Yang pasti, Rudat adalah bagian dari kehidupan Zakaria selamanya. Sang Pangeran dan Putri, menikah dalam lakon Komedi Rudat, dan menikah dalam kehidupan sebenarnya. Zakaria mengingat semuanya hanya melalui mata dan telinga. Melihat dan mendengar. Setiap gerakan, setiap syair, hanya yang tak tertulis semata.

Jabo dan Zakaria pertama kali berdiskusi tentang Tari Rudat tanggal 5 Februari 2016. (Sumber foto: arsip AKUMASSA).

Kunjungan kali kedua Jabo ke Sanggar Seni Panca Pesona tempat Zakaria melestarikan Tari Rudat. Kunjungan tanggal 7 Februari 2016. (Sumber foto: arsip AKUMASSA).

Jabo dan Zakaria berdiskusi dengan Pak Karmin (Kepala Sekolah SMPN 1 Pemenang saat itu) tentang kesenian tradisional di sekolah-sekolah, tanggal 10 Februari 2016. (Sumber foto: arsip AKUMASSA).

Seni Tradisional Rudat yang berisi nyanyian dan tarian yang diiringi oleh musik gendang dan gerakannya mengandung unsur beladiri silat ini, konon merupakan tradisi yang dibawa dari Jawa, yang tumbuh dan berkembang sebagai upaya penyebaran agama Islam oleh Wali Songo. Kata Rudat berasal dari bahasa Arab, raudatun, yang berarti ‘taman bunga’.  Kesenian ini kemudian berkembang pesat di Lombok. Saya coba menyarikan tulisan Muhammad Imran di jurnal online Komunitas Pasirputih, yang berpendapat bahwa hingga sekarang belum ada referensi yang jelas mengenai sejarah Rudat di Lombok. Dalam tulisannya, Imran menyampaikan tentang sebuah makalah yang berjudul ”Memperkenalkan Tari Rudat Lombok Nusa Tenggara Barat” (Kanwil Depdikbud NTB, Proyek Pengembangan Kesenian NTB, 1985/1986, hal. 1) yang menyebutkan, Kesenian Rudat dikenal di Lombok semenjak tahun 1912, diperkenalkan oleh beberapa orang yang baru pulang dari Mekkah. Pendapat lain mengatakan bahwa sejarah Rudat juga tertulis dalam buku “Ensiklopedia Musik dan Tari Daerah Nusa Tenggara Barat”, yang menyebutkan bahwa kesenian Rudat ini merupakan perkembangan dari Dzikir Saman dan Burdah, yang keduanya bersumber dari kesenian Arab. Dzikir Saman adalah lantunan dzikir yang dilagukan, disertai gerakan pencak silat. Sedangkan Burdah adalah nyanyian yang dibawakan sambil menari dengan gerakan pencak silat dalam posisi duduk. Masyarakat juga percaya, Rudat diadopsi dari budaya Parsi yang dibawa para pedagang Islam melalui India, kemudian ke semenanjung Melayu, kemudian dibawa oleh pedagang dan penyebar agama Islam di Banjar, Kalimantan, ke Lombok. Rudat dijadikan sebagai media dakwah penyebaran Agama Islam. Selain itu, masih banyak pendapat lain tentang sejarah Rudat di Lombok.

Bagaimanapun, teks dalam Seni Tradisional Rudat yang dimainkan oleh Rudat Setia Budi, Sanggar Panca Pesona, pimpinan Zakaria, dilantunkan dalam dua bahasa sekaligus. Bahasa yang terdengar seperti bahasa Belanda, yang dipakai untuk aba-aba baris berbaris a la militer sebelum dan sesudah tarian dimainkan, dan bahasa Arab yang dipakai sebagai syair nyanyian. Kedua bahasa tersebut tak dikuasai dengan fasih oleh Zakaria. Hanya berdasarkan apa yang dia dengar sejak kecil, itulah yang ada sekarang. Konon, ada kitab yang tertuliskan semua syair tersebut. Namun, kitab itu hilang entah kemana. Tak satu pun anggota sanggar yang mengetahui syair yang sebenarnya. Zakaria adalah salah satu orang yang paling peduli akan hal itu. Sejak muda, dia sudah berusaha dan terus-menerus mengulik, mencari referensi untuk menyempurnakan syair-syair Rudatnya, dengan kesadaran penuh bahwa syair miliknya ini tidak sempurna secara bahasa. Dengan pengetahuan terbatas mengenai manajemen organisasi modern, Zakaria berusaha mengelola arsip yang ada. Bahkan, dia masih memiliki dokumentasi video yang dibuat sebuah yayasan dari ibukota, yang pada tahun 1994 melakukan riset dan pemetaan seni-seni tradisi di Lombok. Demi mendukung usahanya, Zakaria terus mendatangi orang-orang atau organisasi yang sekiranya bisa membantunya memberi pembelajaran tentang ilmu Manajemen Seni Pertunjukan. Salah satunya, Zakaria kerap mengunjungi teman-teman dari Komunitas Pasirputih untuk berdiskusi mengenai hal itu, sekaligus meminta bantuan mereka untuk mengelola arsip. Zakaria sadar betul bahwa seni tradisi ini membutuhkan pembaharuan. Pertentangan tak jarang terjadi antara Zakaria dengan beberapa anggota lainnya. Hal ini disebabkan sulitnya bertahan hidup sebagai seniman Rudat. Umumnya mereka hanya tampil bila ada undangan. Itu pun kebanyakan adalah undangan pentas di pesta perkawinan, di samping beberapa undangan lain seperti perhelatan politik dan semacamnya. Situasi tersebut, ditambah kebutuhan secara ekonomi yang tidak pasti bisa dipenuhi oleh Rudat, membuat mereka sedikit waspada terhadap orang-orang yang datang bertujuan penelitian atau kerja kolaborasi dengan metode pemberdayaan. Ada sedikit rasa khawatir, kalau-kalau harta karun warisan leluhur ini dicuri, ditiru, dan bisa dikembangkan di daerah lain. Namun pemikiran Zakaria sama sekali berbeda. Bagi Zakaria, alangkah baiknya jika ada orang-orang yang menaruh perhatian serta berinisiatif mengembangkan seni tradisional mereka di daerah lain, karena itu merupakan aksi distribusi pengetahuan budaya yang akan memberikan kebaikan bagi seni tradisional Lombok.

Sebagai sutradara teater, Syamsul Fajri Nurawat atau yang biasa dipanggil Jabo, adalah sebuah tantangan untuk mengundurkan egonya sebagai seniman, dan kemudian mengedepankan seni tradisi yang makin memudar ini ke tengah masyarakat yang lebih luas.

Kampung Terengan adalah sebuah kawasan yang dikenal memiliki banyak kelompok seni tradisional Rudat. Dari beberapa kelompok seni Rudat yang ada di Terengan, Jabo tertarik untuk mengajak kelompok Seni Rudat yang dipimpin Zakaria. Alasan utama Jabo memang karena keterbukaan Zakaria terhadap pembaharuan dan dedikasinya terhadap pilihan berkeseniannya yang mengagumkan.

Lalu pertemuan mereka menghasilkan sebuah diskusi tentang tindakan berwacana yang membayangkan seni tradisional—yang selama ini tampaknya diperlakukan sebagai barang antik—bisa hadir di masyarakat secara baru. Sebagai pelaku seni tradisional, kalau selama ini yang mereka tahu bahwa karya mereka hanya bisa hadir di masyarakat saat ada undangan, maka kali ini usahanya adalah membalikkan daya dari seni tradisi sebagai katalisator interaksi sosial yang bersifat kultural. Bersama-sama Jabo, Zakaria dan sanggarnya mengkreasi sebuah dramaturgi yang memang dalam konteks sosiologis dikemukakan bahwa teater dan drama memiliki makna yang sama dengan interaksi sosial dalam kehidupan manusia.

Jabo dan Zakaria melakukan survey lokasi di Pelabuhan Bangsal tanggal 13 Februari 2016 untuk persiapan proyek “Pemenang Merudat” dalam rangka AKUMASSA Chronicle. (Sumber foto: arsip AKUMASSA).

Maka, dimulailah pertunjukkan-pertunjukkan Rudat kolaborasi Jabo dan Seni Rudat Setiabudi, Sanggar Panca Pesona. Selalu memulai aksinya dengan berjalan dari satu titik di tengah Kota Pemenang, dan berakhir di Bangsal. Semua penari mengenakan kostum yang bernuansa militer berwarna cerah. Berbaris dengan aba-aba yang terdengar mirip bahasa Belanda. Kemudian mulai menarikan gerakan Pencak Silat sambil melantunkan syair yang terdengar seperti salawat, atau doa dan pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Dalam komposisi tarian dan nyanyian tersebut, Zakaria berperan sebagai Perawi, atau pelantun lagu. Perawi sendiri dalam artian umum adalah orang yang menerima dan menyampaikan hadis Nabi. Sepanjang perjalanan menuju Bangsal, aksi Rudat bagai menyapa dan mengajak warga untuk apa pun demi kebaikan. Entah mengajak bergembira dan bersalawat bersama, ataupun mengajak warga Pemenang untuk menang dan kembali ke Bangsal.

Pelaksanaan “Pemenang Merudat #1” tanggal 14 Februari 2016 di Pelabuhan Bangsal. (Sumber foto: arsip AKUMASSA).

Pelaksanaan “Pemenang Merudat #1” tanggal 14 Februari 2016 di Pelabuhan Bangsal. (Sumber foto: arsip AKUMASSA).

Pelaksanaan “Pemenang Merudat #1” tanggal 14 Februari 2016 di Pelabuhan Bangsal. (Sumber foto: arsip AKUMASSA).

Maka, dalam kolaborasi teater modern Jabo dan seni tradisional Rudat Zakaria, orang-orang bertemu di sana bukan dalam konteks cost and benefit. Interaksi sosial yang terjadi adalah karena adanya keterikatan dan kekerabatan sosial. Motif audiens untuk melihat seni tradisi ini bukan lagi karena sebuah tontonan yang terikat tata cara, melainkan karena kejadian itu sendiri. Peristiwa warga menonton merupakan bagian dari Rudat itu sendiri. Tidak dibatasi oleh panggung dan protokol acara. Individualisme yang biasanya menonjol dalam sosok pelaku teater modern tereduksi di sini. Jabo si sutradara teater seperti bertemu kembali dengan konstruksi-konstruksi seni tradisional, yakni Rudat. Pertemuan ini terjadi dalam kerangka berpikir yang baru, yaitu dengan metode strategi sosial. Kemudian, yang terjadi berikutnya adalah kesadaran penuh di antara keduanya bahwa perspektif baru tersebut tidak serta merta harus mengubah Rudat menjadi sesuatu yang sama sekali baru. Rudat selamanya adalah Rudat. Karena, jika kembali kepada konteks sosiologis, dramaturgi itu sendiri berada di antara interaksi sosial dan pembelajaran tentang manusia sebagai sebuah fenomena.

Performans Jabo sebagai bagian dari pelaksanaan “Pemenang Merudat #2” tanggal 21 Februari 2016 di Pelabuhan Bangsal. (Sumber foto: arsip AKUMASSA).

Pelaksanaan “Pemenang Merudat #2” tanggal 21 Februari 2016 di Pelabuhan Bangsal. (Sumber foto: arsip AKUMASSA).

Saat lapangan bola tepi pantai tengah lengang karena itu adalah saatnya jeda menuju putaran kedua, babak penyisihan Bangsal Cup, barisan Rudat pun berbaris masuk ke tengah lapangan dan melantunkan syair dinamis mereka, dan warga kembali menikmati kemewahan hidup masyarakat pesisir yang merenten mempolong (‘bersaudara’) ini.

About the author

Avatar

Otty Widasari

OTTY WIDASARI adalah seorang seniman, penulis, sutradara, dan kurator. Saat ini, ia menjabat sebagai Direktur Program Pendidikan dan Pemberdayaan Media (AKUMASSA) di Forum Lenteng.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.