Jurnal Kecamatan: Lemahwungkuk Kota: Cirebon Provinsi: Jawa Barat

Review Observasi Lapangan dan Diskusi, Cirebon

Kawasan Pelabuhan Cirebon.

Review Observasi Lapangan Tanggal 15 – 17 Desember 2008 dan Diskusi Tanggal 18 Desember 2008

Diskusi Hasil Observasi Lapangan Di Kanoman
Malam hari, Yahya Malik mendapati Pasar Kanoman sepi. Hanya ada beberapa orang yang dia lihat berada di pasar tersebut. Sembari makan mie dan kacang, dia heran dengan hal yang berkaitan dengan kacang tersebut. Bagaimana tidak! Ada hadiah di balik bungkus kacang yang dia makan itu. Di pasar tersebut, dia bercengkrama dengan seorang pedagang yang mengeluh karena beberapa hari yang lalu dagangannya terkena operasi penertiban oleh Satpol PP Kota Cirebon. Akibat dari penertiban, kini pedagang tersebut beralih profesi menjadi juru parkir di Pasar Kanoman. “Ada bioskop pertama di kawasan kanoman, yaitu Bioskop Sampurna yang berdiri pada tahun 1968,” jelas Malik. Kemudian saya menambahkan penjelasan tersebut berdasarkan hasil observasi lapangan saya sendiri, bahwa bioskop tersebut ditutup pada tahun 1975. “Bioskop itu juga merupakan lokalisasi PSK yang sekarang pindah ke terminal dan tempat lainnya,” tambah pria yang pernah dilecehkan oleh makhluk halus bernama ini.

Pasar Kanoman

Pasar Kanoman.

Berdasarkan cerita yang dia dapat, di sekitar Kanoman pernah terjadi ‘gesekan’ antara pribumi dengan etnis Tionghoa. Di pasar tersebut, setiap ada kehilangan akan ada informasi dari kantor pasar yang diumumkan lewat pengeras suara. Di Pasar Kanoman, banyak warga Minangkabau yang berjualan.

Mahardika Yudha melakukan observasi di Museum Keraton Kanoman. Untuk masuk ke dalam, pengunjung dikenai biaya Rp. 5.000,-/orang. Ada kereta Paksi Naga Liman yang bentuknya mistis, kereta Jempana untuk Permaisuri, gamelan sekaten, kacip untuk memotong tembakau, mesin jahit (1811-1816), kelapa jenggi (dari Cheng Ho), sepasang wayang cepak. Dia sendiri baru kali ini tahu seisi Keraton Kanoman. Dalam setahun, Keraton mengadakan 22 acara.

Pintu Gerbang Keraton Kanoman

Pintu Gerbang Keraton Kanoman.

Kereta Jempana

Kereta Jempana.

Gong Sekaten

Gong Sekaten.

Putri mengemukakan pengalaman, saat dia dan Ipul melakukan observasinya di Pasar Kanoman. Melalui temannya yang bekerja di rumah makan, dia dikenalkan kepada seorang penjual daging ayam dan sayuran yang bernama Hj. Mini. Ibu yang berjualan sejak berumur 12 tahun tersebut bercerita bahwa dia pernah difitnah. Ayam jualannya disiram dengan formalin oleh orang yang syirik kepadanya. Ibu Mini menerangkan bahwa dia menjual lebih banyak ayam daripada sayuran. Ibu Mini berjualan di tempat yang dia miliki sendiri, dan cukup dikenal oleh masyarakat. Dari hasil berjualan dia dapat membeli rumah. Wanita yang beraktifitas sejak pukul 03.00 wib hingga pukul 18.00 WIB ini, memiliki pengalaman yang jika diceritakan semua dapat menjadi buku. Di tempat berjualannya, dia selalu menyediakan uang untuk pengemis. Ibu Hj. Mini bercerita kepada Putri dan Ipul tanpa adanya batasan-batasan. Hingga dia meneteskan air mata saat bercerita.

Saya sendiri hanya mendapatkan data berupa angka-angka yang cukup menarik. Di mana dari satu pedagang (sampel), Keraton Kanoman menarik iuran berupa karcis dagang Rp.1.300,-/hari, karcis dagang pada saat muludan Rp. 1000,-/hari selama 40 hari, sewa Hak Guna Tanah hingga tahun 2016 Rp.3.000.000,- untuk kavling ukuran 4×6 m, sewa kavling ukuran 3x4m saat muludan Rp. 400.000,- selama 40 hari. Luas tanah keraton yang dipakai untuk lahan pasar kurang lebih 12.500 meter persegi. Dari karcis dagang keraton mendapat Rp.862.500,-/365 hari (dari satu sampel). Pendapatan dari sewa Hak Guna Tanah sebesar Rp. 1.5 miliar, sewa kavling saat muludan sebesar Rp. 425.000.000,-.

Sedangkan P.D. Pasar Kota Cirebon menarik karcis dagang Rp. 3.700,-/hari, listrik Rp. 200, sampah Rp. 200, iuran Ikatan Pedagang Pasar Rp. 1.000,-/hari. Dari penarikan iuran, P.D. Pasar Kota Cirebon mendapat kurang lebih sebesar Rp. 1.861.500/365 hari (dari satu sampel). Tanggal 13 Desember 2008 sampai hari observasi saya, tanggal 15 Desember 2008, sampah di Pasar Kanoman belum diangkut karena tidak beroperasinya TPA. Kopi Luhur. Saat Panjang Jumat tanggal 10 – 12 bulan mulud, keuntungan bertambah karena pada tanggal tersebut merupakan puncak keramaian acara muludan.

Pasar Pagi

Pasar Pagi.

Setiap partisipan memiliki pengalaman sendiri dengan momen-momen yang terjadi saat observasi. Seperti halnya yang Abeng alami. Di mana saat melakukan observasi, motornya mogok sehingga dia harus menuju Kanoman dengan berjalan kaki. Siang itu, dia berjalan kaki dari Jl. Karanggetas-Kanoman. Memasuki Kanoman melalui gerbang sebelah selatan yang ramai. Waktu keramaian, pukul 07.00-10.00 dan pukul 14.00-18.00 WIB. Namun, kunjungan oleh turis relatif tidak ramai. Sama halnya dengan presentase tindak premanisme yang sangat rendah (sekitar 5%). Di Kanoman, pria yang kesehariannya sebagai pengajar seni rupa ini, bertemu dengan penjual rujak uleg yang bernama Ibu Atik. Dari interaksi ini, dia mendapat pernyataan bahwa hubungan etnis Tionghoa dan Jawa terjalin sangat baik. Banyak rumah dari etnis Tionghoa yang dikontrakan. Pukul 15.00, dia berinteraksi dengan penjual-penjual yang terkena penertiban oleh Satpol PP. Banyak keluhan bermunculan, yang salah satunya adalah karena pendapatan mereka berkurang. Ditambah lagi jika hujan deras, mereka akan pulang lebih awal daripada biasanya. Lain halnya dengan para tukang becak yang jasa angkutnya sangat laris saat hujan. Di atas pasar, ada tempat parkir khusus pedagang. Di pasar kanoman terdapat kios yang menjual benda-benda pusaka seperti besel (jimat). Banyak sekali pedagang yang menjual sandang seperti bahan mentah untuk kain, kebaya, baju anak-anak, sajadah, busana muslim, dan alat-alat jahit. Para pedagang ini, rata-rata tutup pada pukul empat sore. Abeng bertemu Usman, pedagang kain yang menjadi panitia Nadran (acara syukuran masyarakat pesisir Cirebon). Bapak Usman mengeluhkan tentang pendanaan acara tersebut. Menurut pernyataan dia, DISBUDPAR memberikan dana sebesar Rp.1.000.000,- dan Kopi Ayam Merak mendanai sebesar Rp.5.000.000,- dalam acara tersebut. Kemudian, Abeng pun bertemu dengan juru kebersihan yang bekerja sejak tahun 1985. Saat memasuki Keraton Kanoman, dia merasakan aura yang berbeda. Banyak tanda-tanda peninggalan sejarah yang salah satunya adalah benda-benda seni yang berasal dari negeri Cina.

Puluhan perahu nelayan yang mengikuti prosesi nadran

Puluhan perahu nelayan yang mengikuti prosesi nadran.

Sesaji dilarung oleh sesepuh. Masyarakatpun beramai-ramai memperebutkan sesaji dengan menceburkan diri ke laut

Sesaji dilarung oleh sesepuh. Masyarakat Pun beramai-ramai memperebutkan sesaji dengan menceburkan diri ke laut.

Kepala kerbau sebagai simbol persembahan kepala penguasa laut agar nelayan diberikan rejeki yang berlimpah dari laut

Kepala kerbau sebagai simbol persembahan kepala penguasa laut agar nelayan diberikan rejeki yang berlimpah dari laut.

Selain kepala kerbau, sesaji lainnya berupa makanan juga ikut di bawa menggunakan perahu replika untuk kemudian dilarung ke tengah laut

Selain kepala kerbau, sesaji lainnya berupa makanan juga ikut di bawa menggunakan perahu replika untuk kemudian dilarung ke tengah laut.

Lain pengalaman Abeng, lain pula pengalaman Atot. Pengajar Seni Musik ini, menceritakan pengalamannya mulai dari dia menaiki angkot D3. Berhenti di PT. B.A.T, kemudian melanjutkan ke Gereja sekitar pesisir dengan berjalan kaki. Dia bertemu seorang penjual kopi yang sangat modis. Setelah selesai solat di Masjid Agung Kanoman, dia menuju ke komplek perumahan warga sekitar Keraton Kanoman. Bertemu Pak Asep, seorang pekerja serabutan yang menceritakan banyak tentang sejarah keraton. Salah satu ceritanya adalah bahwa Sunan Gunung Jati tidak mempunyai keturunan dari Ratu Ong tien, Putri Negeri Cina. Kemudian, Atot memasuki Museum Keraton Kanoman. Di dalam museum dia melihat foto Sultan, Gamelan tua, peti, meriam, bedil, dan tiga kereta (kereta Sultan, Permaisuri dan replika kereta Sultan). Begitu memegang kereta Paksi Naga Liman, dia bergegas lari ke WC umum di pasar untuk buang air besar. Kemudian, dia kembali ke Keraton Kanoman. Di Keraton, dia makan anggur. Setelah itu, diminta untuk mencuri keramik Cina yang ada ki Keraton. Namun, dia takut tangannya akan menjadi pengkor (cacat). Dia memasuki kebun di halaman belakang Keraton yang terdapat sumur untuk keperluan memandikan benda pusaka. Lalu, menuju ke bangunan yang pertama ada di Keraton, bangunan awit-awitana tanah. Dia melihat kambing Keraton dan pohon bambu yang bernuansa horor. Dia pun melihat wanita cantik bernama Ratu Mawar yang turun dari mobil mercedez benz bersama adik dan kawannya. Ke dalam ruang Raja bersama abdi dalem, dia melihat sesajen dengan tempat berbentuk perahu, kursi usang Raja yang tidak boleh direparasi, air mancur sebagai AC pada jaman dahulu. Ada mitos tentang roh “macan putih” yang terdapat di ruang tersebut.

Sedangkan yang Kikie rasakan tentang Keraton Kanoman adalah keterasingan, mati gaya, serem, merasa berada di jaman raja-raja. Dia berpendapat bahwa ada kekurangan dana untuk perawatan Keraton. Menurut dia, pasar tidak seruwet yang dibayangkan. Tidak bangga berdarah Keraton. Tidak enak menjadi raja tanpa kekuasaan. Warga sekitar masih segan dengan Keraton.

Diskusi Hasil Observasi Lapangan Di Pelabuhan

Perjalanan Malik di daerah Si Api-api Pelabuhan, dia jajan kopi dan nasi goreng Rp. 5.000,- dan mengobrol dengan wanita komersil Rp. 50.000,-. Di tempat gelap dan remang-remang pinggir jalan ada germonya. Ada Bangunan Belanda, Klenteng Dewi Welas Asih, karena usianya yang sudah tua bangunan-bangunan ini menjadi sangat menarik.

Kawasan Pelabuhan Cirebon

Kawasan Pelabuhan Cirebon.

Di Muarajati (Pelabuhan Pos III), Diki dan Abeng melihat pembangunan yang bertahap di beberapa sektor. Dia bertemu Bapak Ujo Suharjo selaku Koordinator Keamanan. Berdasarkan pernyataannya, sejak tahun 2005 sudah tidak ada kapal penumpang berlabuh di pelabuhan tersebut. Setiap dua minggu sekali ada kapal muatan batu bara, minyak goreng, kayu (dolken). Ada pula kapal muatan aspal yang berasal dari Singapura. Pelabuhan Pos III ini direncanakan untuk menjadi Pelabuhan Sentral Jawa Barat. Kemudian, Mereka melanjutkan observasinya ke TPI Kejawanan. TPI Kejawanan merupakan tempat pemberdayaan nelayan yang ada di Kota Cirebon. Mereka bertemu Bpk. Bambang, Pembina KUD. Pada Pukul 08.00 s.d. 17.00 WIB ada pembongkaran muatan es untuk pengawetan. Mereka melihat pabrik kosmetik yang bahannya berasal dari kulit kepiting. Beberapa jenis ikan yang menjadi komoditi ekspor, di antaranya ikan kakap, kerapu, cumi-cumi. Berdasarkan observasi, harga ikan kakap Rp. 30.000,-/kg dan kerapu Rp. 40.000,-/kg. Banyak pemborong yang membeli per kwintal. Kapal yang digunakan untuk menangkap cumi sangat terang oleh lampu-lampu yang dipasang. Sedangkan, untuk menangkap ikan cucut digunakan jaring. TPI yang dibangun tahun 2003 ini, baru ramai pada tahun 2007.

Gerbang Pelabuhan Cirebon

Gerbang Pelabuhan Cirebon.

Dam Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Cirebon

Dam Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Cirebon.

Dari hasil pengorekan memori Desy, didapat beberapa hal yang bagi dia sendiri merupakan kenangan indah. Salah satunya adalah kenangan saat dia bersama Ayahnya mendapatkan hasil pancingan ikan yang besar dan banyak. Dia pun pernah melihat sunrise bersama teman-temannya. “Kami duduk-duduk di pondasi sebuah bangunan,” tambah Putri. Namun, mereka tidak hanya melihat hal-hal indah saja. Mereka pun prihatin karena banyaknya sampah yang mengotori pantai tersebut. “Ada pencari garam, orang pacaran dan keluarga yang sedang bertamasya,” deskripsi mereka. Ipul sendiri baru kali pertama datang ke Kejawanan, saat dia bersama teman-teman bersepeda untuk melihat sunrise. Untuk menaiki perahu, penumpang harus membayar sebesar Rp. 5.000,-/orang.

Kejawanan

Kejawanan.

Ada sedikit memori masa kecil saya bersama alm. Papa dan kakak, yang sampai sekarang masih terkenang. Saat itu, kami naik sepeda masuk ke dalam Pelabuhan Pos III. Namun, kami dihentikan dan tidak perbolehkan untuk keluar karena tidak dapat membayar tiket masuk. Tapi akhirnya, kami pun diperbolehkan keluar. Baru-baru ini, saya bersama teman-teman bersepeda ke Pelabuhan. Saat itu, sedang ada pembongkaran muatan batu bara. Sehingga terlihat sangat hitam dan kotor. Ada pula kapal karam yang dibiarkan saja.

Atot bersama Kikie jalan menuju ke Pelabuhan. Kaki atot yang kotor karena kubangan air di jalan, dia cuci di kolam kantor Satpol PP. karena ada teman yang menjaga gerbang pelabuhan, mereka tidak dipunguti biaya saat masuk. Ketika berada di warung tegal (warteg), ada dua wanita berjilbab yang cantik. Ke kantor Admiral, mereka bertemu Ibu Nunik (bag. Keuangan) dan Pak Dedi (Juru Bantu). Lalu, naik ke atas kantor dengan menggunakan tangga khusus. Dari atas, terlihat Kota Cirebon dan Lautnya. Namun, Atot-pria yang katanya ganteng ini, takut akan ketinggian. Atot pun bertemu teman lama (mantan preman) yang kini menjadi ABK. Kemudian, mewawancarai Pak Dedi dan Bu Nunik. Saat memasuki ruang pimpinan, dia merasa menjadi bos. Menurut Kikie, Pelabuhannya tidak jauh berbeda dengan Sunda Kelapa. Merasa beruntung mendapat narasumber seorang Pak Dedi. Pada tanggal 18 Desember 2008 pukul 05.00, sendiri melakukan pengambilan gambar landscape lautan dari atas kantor Admiral. Terdapat kapal muatan kayu yang berasal dari Kalimantan. Kemudian minum teh manis bersama kuli. Serem dengan cerita setan ‘Noni Belanda’. Setelah Maghrib, berjalan sendiri dalam sepi, gerimis, melihat gedung tua, dan lautan. Baginya, ini merupakan new sensation.

BERSAMBUNG…

About the author

Avatar

Eugenius Bayu Alfian

Dilahirkan di Cirebon pada tanggal 19 Oktober 1987. Ia telah menyelesaikan pendidikannya hingga jenjang SMA. Sekarang ia aktif di berbabagai macam organisasi, dan berwirausaha di bidang desain grafis dan multimedia.

1 Comment

  • INI DIA CATATAN AKU-MASSA. Perpaduan dari catatan harian yang sarat data maupun data empiris, penggambaran karakter massa dengan unsur wawancara personal, dan tidak ketinggalan menyenggol unsur jurnalisme. bravo bayu. kamu nulis yang rajin ya. pokoknya, aku-massa banget

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.