Padangpanjang, Sumatera Barat

Pertemuan Sarueh Dengan INS Kayutanam

Pertemuan Sarueh dan INS Kayutanam
Avatar
Written by Elva Laila

Komunitas Sarueh dan beberapa murid INS Kayutanam

Sekembalinya dari Goro, di bundaran bawah dengan teman-teman, aku dan salah seorang temanku yang bernama Files langsung pergi ke ruang makan karena kami kehausan setelah kegiatan itu. Kami harus cepat, tidak boleh lama-lama di ruang makan, karena Muadzhin sedang menyerukan adzan kepada seluruh umat muslim agar segera meninggalkan aktivitas dunia dan bergegas menunaikan perintah yang mulia. Setelah selesai minum, kami berjalan menuju asrama kemudian berwudhu dan mengerjakan sholat. Setelah itu, entah kenapa, tiba-tiba aku ingin belajar di bundaran hijau depan asramaku karena pada hari Senin, 12 Maret 2012 besok, kami kelas 1 dan 2 akan melaksanakan mid semester genap dan anak kelas 3 akan melaksanakan UAS.

Sesampainya di bundaran, aku melihat Sisri dan Reni yang sedang duduk, “Assalammu’alaikum,” ucapku. Mereka pun menjawab salamku sambil menunggu mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang yang katanya ingin berkunjung ke SMA Institut Nasional Syafei (INS) Kayutanam. Aku duduk dan dengan rasa yakin berdoa kepada sang pemilik ilmu agar mudah  dalam meresap apa yang akan kuhafal.

Tak lama kemudian ada beberapa lelaki yang sedang mengendarai motor berboncengan, sepertinya adalah  orang yang telah ditunggu dari tadi oleh Reni dan Sisri. Tiba-tiba secara spontan salah seorang dari mereka mengambil gambar di sekitar lingkungan INS Kayutanam, termasuk bundaran hijau tempat di mana aku, Sisri dan Reni duduk.

Aku langsung menundukkan kepala karena ada sesuatu yang membuatku melakukan hal itu. Dengan percaya diri, Sisri dan Reni menghampiri dan bersalaman dengan mahasiswa ISI Padangpanjang tersebut. Aku mengira bahwa yang akan bertemu dengan mereka adalah dari Divisi Apresiasi Seni saja. Tapi ternyata OSIS juga. Dengan rasa segan aku pun berusaha pergi dan menghindar karena aku pikir bendahara tidak perlu ikut dalam pertemuan tersebut. Akan tetapi Asep selaku ketua Divisi Apresiasi Seni menahanku agar aku ikut serta dalam pertemuan yang sepertinya mengasyikkan. Mahasiswa tersebut menyalami kami satu per satu sambil menyebutkan nama mereka masing-masing, begitu pula dengan kami.

Pertemuan itu dibuka oleh Affan selaku koordinator Becak Bioskop dan disambung oleh Bang David yang kemudian memperkenalkan masing-masing anggota dari Komunitas Sarueh, Padangpanjang, yaitu  Angga, Harry, Fadly, Wisnu, David, Affan dan Dillon.

Setelah itu dilanjutkan oleh Abdul selaku ketua  OSIS SMA INS Kayutanam yang memperkenalkan nama dan jabatan masing-masing anggota OSIS yang hadir dalam pertemuan tersebut. Di antaranya Sisri sebagai anggota dari Divisi Apresiasi Seni, Sepriadi sebagai ketua Divisi Apresiasi Seni, Alizar Tanjung (Ial) sebagai wakil MPK, aku sebagai bendahara OSIS, Reni sebagai anggota dari Divisi Apresiasi Seni dan Khairul sebagai sekretaris OSIS.

Perbincangan kami semua dimulai dari maksud dan tujuan mahasiswa ISI Padangpanjang  berkunjung ke SMA INS Kayutanam yang dijelaskan oleh Bang Affan. Banyak hal yang diceritakan olehnya. Setelah itu, ia menegaskan bahwa Sarueh merupakan sebuah komunitas yang mampu berdiri sendiri dan mandiri, oleh karena itu Sarueh bukan organisasi atau komunitas dari ISI Padangpanjang.

Ternyata aku salah kira bahwa apa yang akan diberikan untuk siswa INS Kayutanam adalah dari organisasi yang diutus untuk melakukan suatu observasi di sekolahku. Dugaanku salah. Aku menjadi tertarik melanjutkan perbincangan yang tidak kuduga sama sekali sebelumnya. Karena kemandirian dari mereka yang mampu mendirikan Sarueh sebagai komunitas yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat dan tujuan menaikkan kembali citra bioskop di kalangan masyarakat yang pada saat sekarang ini sudah mulai kurang diminati.

Setelah selesai membicarakan mengenai Sarueh oleh Affan, David, Harry dan Angga  yang menurutku merupakan suatu informasi dan ilmu yang sebelumnya tidak kuketahui sama sekali, perbincanganpun dilanjutkan dengan tanya jawab tentang sejarah dan bagaimana sistem pendidikan yang diterapkan di SMA INS Kayutanam.

Aku menjelaskan pertanyaan yang diajukan oleh salah seorang dari mereka yang bertemu dengan Ridho dan menyebutkan bahwa SMA INS Kayutanam menggunakan tiga aspek dalam mendidik pelajar yang menimba ilmu di sini, yaitu, otak, hati dan tangan. Aspek otak yaitu pendidikan akademis yang memiliki jurusan yang sama dengan SMA lainnya yang ada di Indonesia. Aspek hati yakni pendidikan AKM (Akhlaq Mulia) yang salah satunya adalah pendidikan di Mesjid M. Natsir  SMA INS Kayutanam berupa qira’til qur’an, tadarrus, menghafal Al Quran dan tak lupa pula pendidikan asrama, yaitu bagaimana cara bergaul dengan teman, belajar memahami teman dan mencari arti persaudaraan sesama muslim. Dan aspek tangan yang merupakan pendidikan workshop dan sanggar,  di antaranya workshop seni kriya, seni keramik, seni ukir, seni kayu, elektonika, mesin, otomotif dan diskomvis (disain komunikasi visual-red). Sanggar INS antara lain sanggar silat, tari, teater, sastra, musik, musikalisasi puisi dan lukis.

Selain itu kami menceritakan secara singkat mengenai sejarah dan siapa yang mendirikan INS Kayutanam. INS merupakan ruang pendidikan yang didirikan oleh Engku Muhammad Syafe’I pada 31 oktober 1926 di mana pada saat itu Indonesia berada dalam masa penjajahan Belanda. Akan tetapi Engku Muhammad Syafe’I memiliki tekad yang sangat tinggi dan mulia, yakni menegakkan pendidikan bagi bangsa khususnya pemuda Indonesia yang memiliki semangat yang tinggi untuk kemerdekaan Indonesia dengan menempa ilmu di INS Kayutanam. Beliau memiliki filisofi di antaranya, “Jangan meminta buah mangga kepada pohon rambutan tapi jadikan semua pohon berbuah manis. Biarlah menjadi kepala semut daripada menjadi ekor gajah.”

Tak terasa sore pun berubah menjadi senja yang memaksa kami harus menghentikan perbincangan yang menurutku merupakan perbincangan yang mengesankan dan mendatangkan  manfaat. Dari pertemuan singkat itu mudah-mudahan menjadi pengalaman menarik bagi anak INS dan Sarueh

Pertemuan awal itu memacu saya dan teman-teman Sarueh untuk lebih semangat dalam acara nanti malam. Asep mengatakan kami sudah menyiapkan makanan kalau para ‘abang-abang’ mau makan bersama kami setelah magrib nanti. Kamipun memutuskan berpisah dengan mereka dan berjanji akan kembali lagi setelah magrib lalu makan bersama dengan teman-teman dari INS.

Kamipun pergi ke tempat sepupu Fadli Capaik yang bisa dipanggil One, yang tinggal tidak jauh dari INS Kayutanam, untuk beristirahat sejenak sambil menungu waktu magrib selesai. Sesampainya di kediaman One kami pun duduk di ruang tamu. Tak lama kemudian One menyediakan secangkir teh untuk masing-masing anak Sarueh, saya melihat Affan yang sedang sibuk dengan laptopnya mempersiapkan bahan-bahan untuk presentasinya nanti.

Maklum, mungkin ini kali pertama Affan melakukan presentasi di depan umum, makanya dia agak kebingungan dengan apa yang akan dibicarakan nanti. Bahan yang sudah dipersiapkan dari dua hari yang lalu, yaitu tentang apa itu Becak Bioskop, perkembangan film, sampai dengan perkembangan video sudah Affan susun dengan rapih. Lalu tak lama kemudian Affan menanyakan kepada Harry tentang bahannya yang hampir selesai.

Tak terasa waktu sudah menunjukan Pukul 19:00 WIB. Kamipun bersiap untuk pergi karena sudah berjanji dengan Asep tadi. Tapi Chapaik menahan kami pergi karena One telah menyiapkan hidangan makanan. Kami pun memutuskan pergi setelah selesai waktu Isya nanti. Setelah selesai makan waktupun sudah memasuki waktu Isya dan kami bersiap-siap untuk pergi ke INS. David mengajak Silvi, keponakan Chapaik untuk ikut dalam acara pemutaran film nanti di INS.

Kami lebih dulu berangkat menggunakan kendaraan bermotor dan Silvi pergi belakangan karena menunggu kendaraan jemputan. Setelah sampai di INS kami langsung memarkir motor di depan aula yang bernama Gedung Abdul Latif dan langsung mempersiapkan peralatan. Aula semakin lama semakin penuh dengan siswa-siswi yang ingin mengikuti acara pemutaran film.

Persiapan pemutaran film di INS Kayutanam

Acara dimulai oleh Asep yang membuka acara tersebut penuh semangat, dengan yel-yel “INS…!!! Jaya, jaya…!!! INS!!!” Melihat siswa-siswi yang begitu antusias dan penuh dengan semangat membuat kami lebih semangat. Lalu kepala sekolah INS membuka acara tersebut dengan resmi, dilanjutkan Ari, perwakilan dari Komunitas Sarueh sebagai moderator memperkenalkan anggota Sarueh satu-persatu.

Acara utama dimulai dengan pemutaran film  Benyamin S. berjudul Raja Copet. Lampu dimatikan dan proyektorpun memproyeksikan gambar-gambar ke tembok putih. Film dimulai dan serentak siswa-siswi maju ke depan karena ingin melihat lebih jelas film tersebut. Film yang berdurasi satu setengah jam ini mengudang tawa siswa-siswi pada malam itu.

Suasana pemutaran film dan diskusi media di INS Kayutanam

 

Angga

Lampu-lampu di aula dihidupkan kembali dan proyektorpun berhenti memproyeksikan gambar dari film Raja Copet yang dibintangi  Benyamin S. tersebut. Diskusipun dimulai oleh Ari selaku moderator, Affan selaku koordinator dari program Becak Bioskop, Capaik sebagai notulen dan saya sendiri selaku Koordinator dari program akumassa, duduk di tempat yang telah disediakan oleh panitia OSIS dan diskusi pun berjalan. Dimulai dengan Ari membuka sesi diskusi lalu  Affan yang menjelaskan apa itu Becak Bioskop sampai perkembangan film dan video.

Presentasi Becak Bioskop oleh Komnitas Sarueh di INS Kayutanam

Affan yang begitu sangat gugup mulai menjelaskan program Becak Bioskop sambil membaca bahan yang sudah disiapkan jauh-jauh hari. Selesai Affan menjelaskan, Ari membuka sesi pertanyaan. Serentak para siswa-siswi mengangkat tangan. Begitu banyak pertanyaan-pertanyaan sampai Capaik kebingungan menuliskan pertanyaan-pertanyaan pada malam itu.

Antusias salah satu peserta dalam sesi diskusi

Persoalan seputar perkembangan film dan video terus dipertanyakan, sesi pertanyaan sementera dipending dan dilanjutkan oleh saya yang menjelaskan bagimana bermedia yang baik dan bagaimana kita harus menyikapi persoalan media. Setelah selesai menjelaskan, sesi pertanyaan kembali dibuka dan sama seperti sebelumnya pertanyaan-pertanyaan terus bertubi-tubi menyerang kita.

Kamipun cukup senang melihat antusias siswa-siswi tersebut mengikuti sesi diskusi pada malam itu.  Sesi diskusi pun selesai ketika waktu menunjukan pukul 00:00 WIB. Walau sebenanya masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang belum diselesaikan. Tapi karena sudah malam akhirnya terpaksa acara tersebut kita tutup. Selesai acara, banyak siswa-siswi yang menanyakan bagaimana menulis dan ingin sekali diberikan pelatihan penulisan akumassa.

Karena mereka sangat senang menulis dan masih banyak lagi yang lainnya juga ingin menulis. Selain itu juga banyak koleksi tulisan mereka yang mereka simpan sendiri, dari mulai puisi sampai cerpen. Salah satunya adalah Elva yang begitu semangat ingin menulis dari awal pertemuan tadi sore. Saya menyuruh Elva untuk meceritakan awal mula pertemuan kita tadi sore.

Selesai acara Elva pun menunjukan tulisannya pada saya. Kemudian saya meneruskan tulisannya yang sedang kita baca bersama ini, karena Elva menulis hanya sampai pertemuannya berakhir waktu maghrib tadi. Saya berjanji akan memberikan workshop akumassa di INS Kayutanam setelah mereka bekerjasama dengan ketua OSIS dan mendapatakan izin dari kepala sekolahnya. Lalu, kamipun bersiap-siap pulang ke tempat One dan berpisah dengan siswa-siswi INS pada malam itu, sekitar pukul 01:00 WIB.

 

About the author

Avatar

Elva Laila

Siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) di Institut Nasional Syafei Kayutanam. Lahir di Kayutanam, 14 Februari 1996, siswa kelas 2 IPA ini sangat gemar sekali menulis. Kedudukannya dalam Organisasi Siswa atau OSIS adalah sebagai Bendahara.

7 Comments

  • wah..saya melihat banyak energi positif disini, bener zik sumpah kereeeeeeeeeeeeenn
    selamat buat sarueh, kalian hebat !

  • Mantab…! Ayah saya alumni INS Kayutanam…what a great school…
    Akan produktif kalau Sarueh lebih sering lagi bikin acara seperti ini di sekolah yang bersejarah ini.

    – salam Hafiz

  • Sekarang INS Kayutanam hidup segan mati ngak mau, dikarenakan dikelola oleh orang yang tidak mengerti pola Ruang Pendidik, hanya karena haus jabatan dan tidak mencintai cita-cita Angku Sjafei,Sekarang Alumni menyadari, Ahli Waris Elvira Sjafei juga merasa prihatin, legalitas telah dibuat, yang dibutuhkan donatur/orang-0rang yang peduli dengan INS Kayutanam, kasihan Nama besar INS dan pola pendidikan yang bagus diancurkan oleh orang-orang yang tidak peduli pendidikan.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.