Pemenang - Lombok Utara, NTB

Pemutaran Hasil Karya Peserta Workshop Filem Pendek

“ Apa perbedaan Anak Cabe dengan Anak Lombok? “

“ Anak Cabe tidak bisa bikin filem, Anak Lombok bisa bikin film!“

Sepenggal kalimat ini menjadi warna yang berbeda saat itu di Wilayah Utara (sapaan akrab bagi Kabupaten Lombok Utara– Red). Puluhan pelajar dan mahasiswa dari berbagai sekolah di seputaran Kabupaten Lombok Utara dengan semangat yang sama, hadir di Gedung Serbaguna Kantor Camat Pemenang untuk dapat mengenal lebih dekat tentang dunia film yang biasanya hanya mereka lihat dan nikmati saja dilayar Televisi. Kegiatan Workshop Film Pendek ini tidak hanya diadakan di Kabupaten Lombok Utara saja tapi di beberapa kabupaten, antara lain; Lombok Timur, Lombok Tengah, Lombok Barat dan Kodya Mataram. Acara ini selain untuk memberikan ruang kajian, juga menjadi ruang silaturrahmi dan komunikasi antar pelajar dan mahasiswa serta bagi komunitas-komunitas yang bergerak di bidang audio visual.

Gozali (Ketua Komunitas Pasir Putih) memberikan penjelasan kepada siswa sebelum pemutaran berlangsung

Gozali (Ketua Komunitas Pasir Putih) memberikan penjelasan kepada siswa sebelum pemutaran berlangsung

Acara Workshop Film Pendek untuk wilayah Lombok Utara tersebut memang terselenggara berkat kerjasama antara Komunitas Pasir Putih dengan MAC (Multimedia Art Community) STMIK Bumi Gora Mataram. Budi Triono selaku ketua MAC (Multimedia Art Community) melihat bahwa Komunitas Pasir Putihlah yang dapat diajak untuk menjadi Mitra Lokal pelaksanakan workshop ini di wilayah Lombok Utara setelah mendapat informasi dari Kampung Halaman. Setelah itu, kami dihubungi oleh kawan-kawan dari MAC (Multimedia Art Community) menjadi mitra lokalnya seperti juga Komunitas Rumah Sungai untuk wilayah Lombok Timur dan komunitas-komunitas yang lain untuk menangani kegiatan ini di wilayah kabupatennya masing-masing. Setelah beberapa kali kami dihubungi, akhirnya mereka langsung datang ke Sekretariat Komunitas Pasir Putih untuk membicarakan apakah kami bersedia atau tidak untuk menjadi Mitra Lokal sekaligus Panitia Pelaksana.

Workshop Filem Pendek ini merupakan rangkaian dari LIFF (Lombok Indie Film Festival) yang akan diadakan bulan Desember 2010 bertempat di Taman Budaya NTB. Kegiatan Workshop Film Pendek ini diadakan di setiap Kabupaten/Kota di NTB.

Acara workshop diisi dengan materi, menonton filem, diskusi, persiapan produksi, produksi, hingga editing. Puncaknya, kami menggelar pemutaran karya-karya filem pendek para pelajar ini di berbagai sekolah bersangkutan.

Pembukaan Workshop Filem Pendek, dihadiri oleh Wakil Bupati Lombok Utara

Pembukaan Workshop Filem Pendek, dihadiri oleh Wakil Bupati Lombok Utara

Setelah jam kuliah selesai, aku bergegas kumpul bersama anggota Komunitas Pasir Putih di sekretariat kami, untuk membicarakan persiapan pemutaran. Waktu itu lebih banyak membahas tentang sistem kerja, karena ini merupakan acara pemutaran pertama yang kami lakukan dengan roadshow ke berbagai sekolah. Untuk persiapan awal rekan-rekan akan menjalankan surat  pemakluman (perijinan-Red) ke sekolah peserta workshop. Aku ditugaskan untuk mengkoordinir pengiriman surat tersebut. Dari lima kecamatan di Kabupaten Lombok Utara, sekolah peserta workshop tersebar di tiga kecamatan yaitu; Kecamatan Pemenang, Tanjung dan Gondang.

“Arao, begaq berat a ni” (Wah, lumayan berat nih) kataku pada Jatul yang senyum-senyum di sampingku.

Tita selaku ketua menambahkan, “Nanti Hadi dibantu sama Hana, Jatul dan Doni,” spontan aku tersenyum melihat ke arah Jatul.

Jatul pun menjawab “Jangan pernah merasa Ente sendiri saudaraku, dan di sinilah kita banyak mendapat pengalaman berkomunikasi dengan orang lain”.

Pernyataan Jatul itu sempat membuatku jengkel, karena aku tidak pernah bermaksud menolak. Tapi betul juga kata Jatul, ini menjadi bagian yang menarik bagiku dan akhirnya akupun tersenyum padanya. Sedangkan untuk mengurus perlengkapan diserahkan kepada anggota Komunitas Pasir Putih lainnya, yaitu Sibak, Aleks, Maldi dan Fauzan. Adapun untuk seksi acara dipegang oleh Gozali, Sahar dan Tita. Wiwin sendiri tidak dapat berperan aktif karena sedang persiapan akad nikahnya.

Pemutaran ini diadakan satu minggu setelah kegiatan workshop dan berjalan selama empat hari, yaitu pada Selasa, Rabu, Kamis dan Sabtu dengan jadwal sebagai berikut :

  1. Selasa, 19 Oktober 2010, 16.00 WITA, di  MA Tarbiyatul Islamiyah Kopang
  2. Rabu, 20 Oktober 2010, 10.00 WITA, di MA Hidayaturrahman NW Menggala  dan 16.00 WITA  di STKIP Hidayaturrahman NW Menggala
  3. Kamis, 21 Oktober 2010 , 10.00 WITA , di SMAN 1 Gangga
  4. Sabtu, 23 Oktober 2010 , 10.00 WITA di SMAN 1 Tanjun dan 16.00 WITA di SMKN 1 Tanjung

Selain untuk bersilaturrahmi dengan semua sekolah di Kabupaten Lombok Utara, kami juga ingin memperlihatkan kepada pihak sekolah hasil yang dicapai anak didik mereka atas apa yang telah didapat selama kegiatan workshop. Acara ini dibuka dengan pemutaran video akumassa Pemenang. Kemudian dilanjutkan dengan memperkenalkan beberapa hasil karya temen-temen KPP (Komunitas Pasir Putih) lainnya, berupa video dan video klip, kemudian memperkenalkan email akumassa dan karya akumassa (imej, teks dan audio visual). Setelah itu acara dilanjutkan dengan agenda inti, yaitu pemutaran filem hasil karya para peserta dari masing-masing sekolah. Kami juga menyerahan sertifikat para peserta workshop kepada pihak sekolah. Sekaligus memberikan kesempatan kepada siswa peserta workshop dari sekolah tersebut untuk mempresentasikan karyanya kepada teman-temannya.

Banyak hal menarik yang kami temukan selama kegiatan pemutaran berlangsung. Sekolah yang pertama kali kami datangi adalah Pondok Pesantren Tarbiyatul Islamiyah Kopang. Tepat jam tiga siang kami sudah standby di sana. Kedatangan kami disambut oleh Kepala Tata Usaha, Bapak Surya Pranata, S. Pd. “Maaf pak, kami tengah dalam tahap renovasi dan anak-anak juga sedang Sholat Ashar jadi nanti kita mulai jam empat sore saja. Oya, Pak Gozali mau pakai ruangan yang mana dan kelas berapa saja yang kita kerahkan untuk kegiatan ini?” Tanya beliau sambil menyiapkan air minum.

“Begini saja Pak Surya, kita pakai ruang aula saja dan kalau bisa semua kelas, agar mereka tahu karya teman-teman mereka,” tutur Gozali (Ketua Komunitas Pasir Putih).

Ketika tengah ke aula seorang guru mendekat “Maaf Pak Gozali ruang ini kita pakai, memang ada apa?” Tanya guru tersebut membuat aku terheran.

Gozali pun menjelaskan kepada guru tersebut apa yang akan kami kerjakan. Gozali juga merupakan guru di madrasah ini tapi dia tidak tahu kalau beberapa guru belum mengetahui kegiatan ini. Guru tersebut mengangguk dan meminta waktu setengah jam untuk masuk. Akhirnya acara dilaksanakan tepat jam setengah lima sore. Alhamdulilah proses pemutaran berjalan juga, walaupun banyak gangguan seperti gagalnya kami memutar filem dengan proyektor. Pemutaran filem justru hanya memanfaatkan laptop, sehingga banyak siswa yang tidak dapat menonton dengan baik. Belum lagi sound system terganggu, sehingga banyak waktu yang terbuang. Artinya, target dari pemutaran kami tidak tercapai.

Para peserta mempresentasikan karya filem pendeknnya

Para peserta mempresentasikan karya filem pendeknnya

Ketika evaluasi, Gozali mengingatkan “Sebenarnya, apa yang disampaikan Mas Roni ST ketika kita pemutaran di Taman Budaya cukup menjadi pelajaran berharga. Bahasa Filem dan video adalah bahasa audio dan visual, jadi jangan sampai kedua hal tersebut terganggu sehingga pesan yang ada tidak dapat tersampaikan dengan baik. Saya berharap semoga ini menjadi pengalaman yang berharga untuk kita semua. Sekarang, acara pemutaran kita selanjutnya mohon dipersiapkan lebih baik lagi,” tuturnya.

“Mohon juga kepada rekan-rekan semua agar kita bekerja sesuai dengan divisi masing-masing, jangan saling memasuki agar pekerjaan kita tidak kacau,” tambah Sibawaihi dengan seriusnya.

Hari ke dua, kegiatan pemutaran kami adakan di Pondok Pesantren Hidayaturrahman NW Menggala. Tepat setengah sembilan pagi kami sampai di lokasi dengan perlengkapan yang lebih matang. Kedatangan kami disambut baik oleh pihak sekolah dan langsung diumumkan lewat pengeras suara agar semua santriwan dan santriwati masuk ke ruang aula. Selesai acara, kami juga sempat berdialog dengan guru beserta santri peserta workshop agar apa yang diperoleh selama workshop dapat dikembangkan sebagai kegiatan ekstrakulikuler mereka dan mempersiapkan diri untuk mengikuti LIFF (Lombok Indie Filem Festival).

Pada hari dan tempat yang sama, acara pemutaran kami lanjutkan, tapi kali ini untuk mereka yang kuliah di STKIP Hidayaturrahman NW Menggala. Tepat 16.00 WITA kami sudah menginjakkan kaki di kantor kampus dan disambut oleh Pak Muja (nama panggilan. Red) selaku TU di kampus tersebut. “Mohon maaf pak, mahasiswa yang kemarin ikut workshop sedang PKL. Jadi, mereka tidak ada di kampus saat ini,” sapa Pak Muja sembari membagikan air minum.

“Jadi, sekarang bagaimana?” Tanya Jatul kepada Gozali.

Gozali berpikir sejenak dan berkata kepada Pak Muja, “Kalau begitu, kami hanya menyerahkan sertifikat saja Pak dan pemutarannya nanti bisa dilakukan oleh pihak lembaga sendiri”. Dengan demikian, kami tidak dapat melaksanakan pemutaran.

Pada hari ke tiga, acara pemutaran kami adakan di SMAN 1 Gangga. Sekolah ini menjadi sekolah tujuan pemutaran kami yang paling jauh. Lokasi sekolah ini berada di pusat Kecamatan Gangga. Sedangkan Kecamatan Gangga sendiri berada di antara Kecamatan Tanjung dan Kecamatan Kayangan yang berjarak sekitar tujuh belas dari Sekretariat Komunitas Pasir Putih. Jumlah peserta dari sekolah ini sebanyak enam orang, diambil dari kelompok teaternya. Kami tiba tepat jam sembilan pagi untuk menyiapkan perlengkapan untuk pemutaran Filem Pendek. Proses pun berjalan dengan lancar, siswa sangat antusias mengikuti acara sampai selesai dan kami sempat berdiskusi dengan para guru untuk menindaklanjuti kegiatan ini. “Terbayar sudah kegagalan kita kemarin,” kata Aleks, membuat kami tersenyum meninggalkan SMA tersebut.

Penyerahan sertifikat kepada peserta

Penyerahan sertifikat kepada peserta

Hari ke empat pemutaran dilaksanakan di SMAN 1 Tanjung. Dengan sisa-sisa pengalaman menarik kemarin kami melangkah dengan senyum cerah memasuki gerbang sekolah. D,i sinilah aku pernah belajar selama 3 tahun dan aku terkenal cukup nakal di mata guru-guru. Selain aku, ternyata ada juga teman-teman komunitas yang merupakan alumni SMAN 1 Tanjung, antara lain Hana, Jatul dan Fauzan. Guru-guru yang pernah mengajariku masih bertahan sampai kini dan aku bertemu dengan mereka

Teman-teman yang lain sempat ngiri “Kok acara pemutaran jadi acara reuni-an sih?” Gerutu mereka sambil mengajak kita bergegas memulai acara. Bagaimana tidak, perasaan terharupun mulai muncul senang dan bahagia yang tidak bisa terbayangkan karena kami rata-rata dicap anak nakal waktu masih sekolah dan kini dapat menunjukkan sesuatu kepada sekolah yang kami cintai.

Terlepas dari semua itu, tiba-tiba saja suasana jadi berbeda. Sejam lebih kami mengatur semuanya tapi tidak dapat dimanfaatkan dengan baik dan satu-satu siswa ke luar karena panas dan lelah menunggu, seperti tembang yang dinyanyikan Ridho Rhoma, Menunggumu. Akhirnya acara berjalan sangat tidak kami harapkan, sound milik Gozali jebol dan laptop pun hampir lima yang ke luar tapi tidak bisa beroperasi. Belum lagi listrik yang tidak bersahabat, banyak tangan bergumul menjadi pekerja dan sekali lagi menunggu di tengah cuaca yang tak berpihak, membuat kami panik dan stres. Rencana ke Pantai Sira setelah acarapun tidak dapat terlaksana.

Panitia dan peserta workshop

Panitia dan peserta workshop

Sore harinya acara dilanjutkan ke SMKN 1 Tanjung. Kali ini kami berhadapan dengan bahasa alam, hujan besar menjadi tantangan kami. Tapi kami tetap langkahkan niat menembus hujan untuk melaksanakan pemutaran ini. Alhamdulillah, langkah kami dan wajah kesal teman-teman karena kejadian pagi itu di SMAN 1 Tanjung terobati juga. Acara berjalan lancar dan semua tertata dengan rapi, sehingga dalam sambutannya salah seorang guru mewakili pihak sekolah berharap acara seperti ini tetap dilaksanakan dan mereka siap mendukung. Di SMKN 1 Tanjung inilah acara terakhir Pemutaran Workshop Filem Pendek ini kami laksanakan. Masing-masing rekan-rekan Komunitas Pasir Putih tentu sudah menyimpan banyak pelajaran dari awal hingga akhir proses pemutaran ini. Termasuk aku. “Pengalaman adalah guru terbaik” dan aku berharap tetap semangat, saudara-saudaraku jangan pernah menyerah.

About the author

Avatar

Syamsul Hadi

Dilahirkan di Karang Subagan, Desa Pemenang Barat, Kecamatan Pemenang, Lombok Utara, pada tanggal 22 Juli 1989. Ia kuliah di IKIP Mataram Jurusan Psikologi Pendidikan. Ia juga aktif di komunitas Pasir Putih divisi Dokumentasi dan Pengarsipan serta mengisi kegiatan ekstrakulikuler Teater di Madrasah Tarbiyatul Islamiyah Kopang.

9 Comments

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.