Purworejo, Jawa Tengah

Mungkinkah Itu Harta Karun?

Hari itu Rabu, aku masih berada di kampung nenekku yang berada di Desa Hargorojo, Purworejo, Jawa Tengah. Pukul 08.45 WIB aku bangun dari tidur, badanku masih terasa lemas setelah beberapa hari demam dan tensi darah tinggi setelah makan durian. Aku memutuskan untuk jalan-jalan sekalian berolahraga untuk mengeluarkan keringat, teringat rencana untuk melihat temanku mendulang di kali yang jaraknya lumayan jauh dari rumah nenekku. Secara kebetulan di jalan aku berpapasan dengan temanku yang ingin pergi mendulang emas, tapi dia ingin mengambil handpone-nya yang tertinggal di rumahnya terlebih dahulu.

Kali yang menjadi tempat mendulang emas

Kali tempat teman-temanku mendulang emas

Karena aku belum merasa segar pagi itu, bahkan kepalaku terasa berat, maka aku berjalan menuju kali dengan langkah pelan dan santai. Tidak lama kemudian temanku menyusul, sesampainya di kali aku melihat keadaan sekeliling kali yang jauh berbeda saat aku kecil dulu. Ternyata di kali itu ada dua temanku lainnya yang sedang mendulang juga. Aku pun mendekati keduanya dan melihat hasil dulangan mereka. Sesudah melihat hasil dulangan mereka yang belum dipakai, aku memutuskan untuk mencoba mendulang, kegiatan  yang telah lama tidak aku lakukan.

Setelah mengambil alat dulang milik temanku, aku mencari tempat untuk diambil tanahnya sebelum didulang, saat mendulang memoriku teringat masa kecilku yang sering mendulang di kali bersama teman-teman seumuranku. Memang semasa duduk di bangku SD dan SMP aku sering mendulang, yahh… walaupun hasil yang ku dapat tak seberapa, namun aku tetap mendulang untuk senang-senang sekaligus main di kali dan menjadikan mendulang sebagai kegiatan yang positif untuk belajar bekerja.

Biji emas kecil hasil mendulang di kali

Biji-biji emas kecil hasil mendulang di kali

Setelah selesai mendulang, ternyata aku mendapatkan tiga bijih kecil emas. Dulang (nama alat untuk mendulang emas) dan emasnya aku berikan kepada temanku yang mempunyai dulang tersebut agar ia bisa meneruskan kegiatan mendulang emasnya. Sembari duduk-duduk di batu aku melihat kelincahan teman-temanku dalam mengayunkan dulang, tak lama kemudian keluarlah obrolan-obrolan dan guyonan, lumayan untuk penghilang lelah dan sebagai hiburan. Karena waktu sudah siang dan aku ingin mengecek tensi darahku lagi, aku memutuskan untuk pulang lebih dahulu.

Mendulang adalah kegiatan mencari emas di kali dengan menggunakan alat yang dinamakan dulang. Sejak aku kecil kegiatan mendulang memang sudah ada dan menjadi pekerjaan pemuda Desa Hargorojo, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, yang menganggur dan tidak merantau ke kota. Namun sekarang masyarakat desa yang mendulang sudah jarang dan hanya ada beberapa saja, karena kebanyakan dari mereka lebih memilih merantau ke kota-kota besar.

Kedua temanku sedang mendulang emas

Kedua temanku sedang mendulang emas

Teman-temanku yang sering mendulang bisa mendapatkan 1,5 – 2 gram per minggu, dengan harga yang kini mencapai Rp.195.000/gram, padahal dulu waktu aku kecil dan masih hobi mendulang, harga emas hanya sekitar Rp.60.000/gram. Emasnya pun tidak langsung dijual dalam bentuk batangan kecil-kecil, tapi harus diberi air raksa terlebih dahulu, supaya menyatu dan kelihatan besar. Setelah diproses menggunakan air raksa emas tersebut berubah warnanya menjadi silver, dan setelah dibawa ke pembeli,  emas tersebut dibakar hingga kembali menjadi kuning seperti layaknya emas pada umumnya.

Temanku mengambil tanah untuk mendulang emasnya

Temanku mengambil tanah untuk didulang dan mendapat emasnya

Menurut penglihatanku selama aku tinggal dan sering mendulang pada masa kecil dulu, memang potensi emas di kali ini cukup besar. Dari aku SD emas-emas di kali ini sudah banyak dan hingga saat ini emas-emas itu tak kunjung habis. Setiap mendulang emas, para pendulang bisa mendapatkan butiran-butiran kecil emas murni yang terlihat seperti pecahan dari emas batangan, jika beruntung mereka bisa mendapatkan emas batangan kecil, potongan kalung, gelang dan cincin. Asal-usul emas batangan kecil-kecil dan berbagai perhiasan lain yang didapat saat mendulang tersebut sampai saat ini menjadi teka-teki.

“Emas-emas iki seko ngendi?” (Emas-emas tersebut berasal dari mana?)
“Opo iyo nang kali iki ono harta karune?” (Apa mungkin di kali ini ada harta karun?)
“Nak ono harta karune, terus nang endi harta karune?” (Kalau ada harta karun, terus di mana harta karunnya?)

Tempat untuk menyimpan hasil dulangan

Tempat untuk menyimpan hasil dulangan

Inilah yang menjadi pertanyaanku dan teman-teman yang sampai sekarang belum terjawab. Entah sampai kapan teka-teki tentang keberadaan induk emas itu akan terungkap, mungkin jika ada orang yang dapat meneliti semua pertanyaan ini, akan terjawablah secara logis. Menurut cerita temanku yang sering mendulang emas, mereka pernah disyuting dan diwawancarai oleh beberapa wartawan televisi swasta untuk menanyakan sumber emas itu berasal. Pernah juga ada mahasiswa dari Jogjakarta yang datang untuk meneliti tanah di kali ini, namun teman-temanku tidak tahu hasilnya, karena tidak ada laporan dari hasil penelitian mahasiswa tersebut kepada masyarakat desa.

About the author

Avatar

Choiril Chodri

Pria kelahiran 1990 ini sedang menyelesaikan studinya di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan aktif diberbagai komunitas, di antaranya Div. Produksi di Komunitas Djuanda, Div. Media di Masyarakat Peduli Karakter Bangsa dan Wakil Ketua di Ikatan Mahasiswa Purworejo Jakarta Raya (Imapurjaya). Selain di kampusnya, beberapa karyanya pernah dipamerkan di Jakarta 32 ruang rupa di Galeri Nasional Indonesia 2010 dan Pameran fotografi 484, Cikini dan pernah presentasi khusus video akumassa di Festival Film Dokumenter (FFD) Taman Budaya, Yogyakarta, 2010.

4 Comments

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.