Jurnal Kecamatan: Pemenang Kota/Kabupaten: Lombok Utara Provinsi: Nusa Tenggara Barat

Mencari Ruang, Mencari Rumah

Setelah makan malam, kami duduk-duduk ngaso, merokok dan menikmati kopi di bangku bambu di teras rumah. Saat itu, selain saya, Siba, Ghozali, Dum, Imran, Hadi dan Oka, juga ikut serta Husnaini, saudara Siba yang lain, dan Tuan Guru, menemani kami ngopi.

Suasana ngaso di malam saya tiba.

Suasana ngaso di malam saya tiba.

Kepada kawan-kawan itu, tanpa basa-basi saya menjelaskan maksud kedatangan saya, yaitu untuk melakukan riset awal sebelum menjalankan proyek akumassa Chronicle di Lombok Utara. Proyek tersebut adalah kegiatan lanjutan dari Program akumassa Forum Lenteng (bekerja sama dengan Jatiwangi Art Factory dari Majalengka). Berbeda dengan kegiatan-kegiatan akumassa sebelumnya yang lebih mengedepankan pendekatan literasi media, proyek Chronicle menggunakan pola pikir dan kerangka kerja seni. Rencananya, Chronicle akan bermula di Lombok Utara untuk satu tahun pertama selama 2016. Komunitas yang terlibat, seperti pasirputih, kemudian akan melanjutkan proyek tersebut hingga menjadi suatu platform yang signifikan bagi konteks perkembangan aktivitas kebudayaan di wilayah lokalnya masing-masing.

Sebagai proyek seni, akumassa Chronicle di-ko-kuratori oleh Otty Widasari (Program Direktur akumassa Forum Lenteng) dan Arief Yudi (salah satu pendiri dan pegiat Jatiwangi Art Factory). Saya sendiri, bersama Siba dan Ghozali, nantinya akan bertindak sebagai fasilitator dalam proyek itu.

“Ayo, Ba! Jelasin yang dibilang Hafiz kemarin!” kata saya, menepuk paha Siba.

“Ya…, intinya, pokoknya sekarang kita sudah harus mulai berpikir untuk jangka panjang,” kata Siba akhirnya, setelah malu-malu mencoba menolak permintaan saya. “Kalau Bang Hafiz bilang, sekarang kita sudah harus berpikir untuk menjadi pemain utama untuk wilayah kebudayaan di NTB, bukan lagi cuma sebagai komunitas kecil-kecilan…”

“Kasarnya, kita akan mencoba membuat pasirputih sebagai ‘art space’ atau semacamnya,” sambung saya sementara orang-orang yang mendengarkan menyimak dengan penasaran. “Kalau bisa, sih, di sini nanti akan ada bioskop warga, dikelola oleh kawan-kawan pasirputih.”

“Wah, bener tuh! Ente bisa itu…, ngembangin Pekan Sinema!” seru Ghozali, berbicara ke arah Oka yang duduk santai bersandar ke dinding, tersipu-sipu. Pekan Sinema adalah program milik Komunitas pasirputih, berupa penayangan filem secara reguler setiap dua minggu sekali, yang sudah mereka jalankan sejak beberapa bulan lalu. Ke depannya, program ini akan berganti nama menjadi Bioskop pasirputih.

“Wah, iya! Kalau udah jadi bioskop, harus tiga kali seminggu, ya! Kalau bisa, setiap hari!” saya menimpali, tertawa.

“Waduh…!” seru Oka, tersenyum makin lebar, mendongakkan kepala dan menepuk jidatnya sendiri.

“Jadi, makanya kita sekarang harus mencari markas baru buat kawan-kawan. Udah coba dicari, kan…?” tanya saya, menoleh ke Ghozali. Dia mengangguk. “Sudah, ada beberapa calon…” jawabnya.

“Selain bioskop, mungkin, nanti teman-teman juga bisa bikin banyak program kegiatan di sana,” kata saya lagi. “Mau pameran seni, kah…? Diskusi mingguan, kah…? Workshop…, macam-macam. Kalau bisa, rumahnya yang agak besar, bisa sekaligus jadi kantor dan tempat menginap. Soalnya, dalam proyek ini nanti akan ada seniman-seniman, peneliti, penulis, macam-macam, yang kita undang untuk terlibat. Beberapa dari NTB, lainnya dari luar NTB.”

Mengulangi lagi penjelasan Siba, saya mengatakan bahwa keberadaan markas baru itu akan menjadi babak baru bagi Komunitas pasirputih untuk berperan sebagai organisasi egaliter non-profit yang aktif mengembangkan berbagai kegiatan kebudayaan. “Semacam menjadi ‘ruangrupa’-nya Lombok, deh! Atau kayak JaF, tuh…!” kata saya ke mereka. Ini adalah cita-cita untuk membangun poros kesenian di wilayah timur; inisiatif untuk terus mendesentralisasikan aktivitas-aktivitas kreatif ke berbagai daerah sehingga orang-orang tak melulu berkiblat ke Jakarta, Yogyakarta, dan Bandung (atau sekarang ini, Jatiwangi).

“Wah, ini seru, ini! Perlu bicara serius, kita!” kata Ghozali. “Ayo, Zik, ente masih kuat dan belum akan tidur, kan? Kita pindah ke atas aja…!” ajaknya.

Kami semua, kecuali Tuan Guru dan Bang Husnaini, menaiki tangga ke lantai atas pada bangunan yang sebelumnya saya katakan terletak di sebelah kiri. Barulah saya tahu bahwa ruangan itu adalah markas pasirputih, yang terbagi lagi menjadi empat ruangan kecil.

Suasana ruangan rapat, lantai 2, yang menjadi markas sementara Komunitas pasirputih.

Suasana ruangan rapat, lantai 2, yang menjadi markas sementara Komunitas pasirputih.

“Wah, asyik, nih, Ba…?!” seru saya, berjalan-jalan mengitari ruangan studio (seluas ± 3×3 m), lalu memperhatikan kertas-kertas karton berisi coretan-coretan hasil rapat yang ditempel di dinding ruangan rapat  (juga seluas ± 3×3 m). Di ruangan rapat itu, sebuah jendela berhadapan langsung dengan teras selebar ± 80 cm di luar, dan melaluinya kita bisa memandang atap-atap rumah tetangga.

“Yoi, Zik…!” seru Siba. “Lu ntar tidur di sini, ya…!” katanya lagi, menunjukkan sebuah kamar tempat tidur seluas ± 3×4 m.

“Sedaaap…!” tanggap saya. “Tapi…, itu kamar siapa?” tanya saya, menunjuk sebuah ruangan di sebelah ruangan rapat.

Pintu kamar sepupu Siba.

Pintu kamar sepupu Siba.

“Itu kamar Ilham, sepupu gue…” jawabnya. Pintu kamar itu tertutup rapat—dalam beberapa hari kemudian, saya nanti akan menyadari bahwa kamar itu lebih sering tertutup rapat sementara Ilham sendiri jarang ikut berkumpul, seakan menegaskan bahwa kamar itu adalah wilayah privat si penghuninya.

Tanpa menunggu lebih lama, kami sudah berkumpul lagi di ruangan rapat. Hadi dan Dum tiba-tiba datang membawa sedikit makanan kecil, dua bungkus rokok dan beberapa gelas kopi lagi. Singkatnya, hingga larut malam, kami terus berdiskusi tentang kriteria rumah yang layak untuk dijadikan markas: memiliki (minimal) dua kamar untuk menginap, satu ruangan studio/kantor, satu ruangan utama untuk kegiatan, kamar mandi bersih, air dan listrik lancar, serta suasana sekitar yang tidak terlalu bising, tetapi tetap terbuka dengan masyarakat sekitar. Maka, tulisan ini catatan tentang pencarian rumah baru itu.

About the author

Avatar

Manshur Zikri

Lulusan Departemen Kriminologi, FISIP, Universitas Indonesia. Anggota Forum Lenteng, pelaksana Program akumassa. Dia juga aktif sebagai sebagai kritikus film di Jurnal Footage, dan sebagai Kurator di ARKIPEL - Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.