Jurnal Kota: Depok Provinsi: Jawa Barat

Membayar Sepuluh Tahun Ketidakhadiranku

The left one is a photo of me in 2013, and the right one is a photo of me in 1993, in front of the kindergarten Al Kautsar.
Avatar
Written by Jayu Julie
Kehadiranku di Depok di ingatanku adalah tentang masa kecil yang kulalui dengan sangat semestinya. Dari mulai tahun pertama usia pendidikanku di TK Kuncup Melati sampai kandasnya cita-citaku untuk masuk ke SMPN 3 Depok bersama sahabat karibku. Sepuluh tahun yang lalu aku menutup cerita kehidupan masa kecilku di kota Cornelis Chastelein ini. Setelah itu aku pun tidak bermukim lagi di kota Depok.

Dan sekarang, sepuluh tahun kemudian, aku kembali ke Depok dengan sebuah kebetulan untuk menapak tilas dan lebih mengenal lagi Kotamadya (sekarang menjadi Kota Administratif) mungil yang kian berkembang ini.

Kiri foto aku tahun 2013 dan kanan foto aku tahun 1993 di depan TK Al Kautsar.

#1 Mozaik Sebelum ‘Tak Hadir’

Bosan bermain di TK Kuncup Melati, aku meminta pindah sekolah ke TKIT Al Muhajirin di Jalan Borneo Raya. Alasannya sederhana, karena di sana mainan tamannya lebih banyak dan lebih lengkap. Selain itu sahabat karib sekaligus tetangga rumahku pun telah lebih dulu bersekolah di sana. Setiap pagi aku dijemput ayah karibku itu, naik vespa biru tua menyusuri Jalan Lamandau dan Borneo hingga sampai di sekolah baru.

Beranjak SD, aku disekolahkan di SDN Mekarjaya 18 yang letaknya di Jl. Sonokeling Raya lagi-lagi bersama Tyara sahabat karibku itu. Depok menjadi sangat erat denganku kala itu, karena aku menemukan tempat-tempat dan pengalaman menakjubkan yang membuatku tidak bisa melupakannya. Rumahku berada tepat di seberang Masjid dan Madrasah Al Kautsar Depok di Jalan Barito Raya, juga tak jauh dari SMPN 3 Depok. Dan di belakang madrasah itu, aku menemukan got kering yang menyambung ke saluran gorong-gorong masjid yang juga kering. Gorong-gorong itu juga menyambung ke gorong-gorong stadion Mahakam di belakangnya. Jika musim hujan tiba, got itu menjadi sumber penyebab banjir karena gorong-gorongnya dipakai untuk menampung sampah-sampah. Sumpah deh, kawasan rumahku itu langganan banjir! Nah, got kering ini kujadikan markas untuk main gundu dan main kartu gambar sehabis pulang sekolah. Sampai-sampai penjaga madrasah mengenalku dan kerap berteriak, “Aduh… Neng Ayu maen mulu di got!!! Bilangin mamahnya, nih!!” Kalau sudah begitu aku kabur sambil menyelamatkan gundu dan kartu gambarku.

SDN Mekar Jaya 18.

Sore hari, kadang-kadang aku bermain sepeda di pelataran SMPN 3 Depok dengan hanya memakai celana pendek dan kaos dalam saja. Hobiku di sana adalah mengganggu anak-anak SMP yang sedang berkegiatan ekstrakulikuler PMR. Ketika mereka sedang berlatih baris-berbaris, dengan santainya aku bersepeda di depan mereka sambil standing up dan mengganggu jalannya latihan. Yaah, namanya juga anak kecil. Lain waktu aku mengajak Tyara untuk bermain rollerblade di Komplek Siak yang tak jauh dari rumah. Di komplek ini memang terhitung sepi dan aman dari kendaraan. Selain itu Jalan Siak juga menyambung dengan jalan menuju Stadion Mini Mahakam di Jalan Rasamala.  Jangan salah, Depok juga memiliki stadion olahraga kebanggaan, loh! Bangunan stadion ini sebenarnya memenuhi standar gelanggang olahraga dengan tribun betonnya yang cukup besar dan luas lapangan rumputnya yang cukup besar. Tapi sayang, kondisinya malah tak terurus, tribunnya kotor dan kumuh, bau pesing dan banyak coretan-coretan kotor. Ruangan-ruangan di bawah tribun pun tak dipergunakan dengan semestinya, malah digunakan sebagai pemukiman penduduk yang mungkin saja ilegal karena ruangan itu merupakan ruangan untuk kantor pengurus dan gudang. Walaupun begitu, bagiku stadion ini merupakan tempat yang asik untuk bermain. Di lapangan ini aku sering bermain bulu tangkis bersama sepupuku, layangan, sepeda, bola sepak ataupun hanya berguling-gulingan di rumput keringnya. Hingga akhir tahun 2000 saat kelas 5, aku dan keluargaku harus pindah keluar kota dan dengan terpaksa aku menguburkan keinginanku untuk melanjutkan sekolah di SMPN 3 Depok. Buku cerita masa kecil dengan Depok pun kututup sampai di sini.

#2 Mozaik Setelah Kembali

Sepuluh tahun kemudian, ternyata mozaik keduaku dengan Depok secara ajaib pun terekat. Aku tergabung sebagai partisipan akumassa Depok bersama Zikri, Fauzi, Ageung, Lulus, Barjo , Merre dan Reza. Dengan begitu tentu saja mau tak mau aku harus mengenal lebih dalam tentang kota yang pernah aku tinggali selama bertahun-tahun ini. Aku harus mengingat dan menapak tilas masa-masa kecilku dulu, memetakannya, lalu mencari tempat sirkulasi massa yang bagus untuk direkam. Maka jadilah; ‘Depok, aku kembali!’

Tak disangka, di mozaik kedua ini aku kembali menemukan tempat dan pengalaman-pengalaman menakjubkan seperti dulu. Di mana aku melihat kota masa kecilku ini melalui bingkai kamera, berbicara dan melebur dengan orang-orang yang baru saja kukenal di tempat baru tersebut, dan juga lebih peka dengan interaksi sosialnya. Depok telah sebegini berkembang, Margonda yang dulu aku ingat masih berupa ruko-ruko kecil yang berderet jarang-jarang, kini telah berganti menjadi deretan gedung-gedung metropolis. Semua bangunan hampir tak memiliki celah dan saling merapat garang. Kota yang pertama kali dihuni oleh 12 marga Protestan ini kini telah terisi dengan ribuan penduduk dari berbagai macam suku, asal daerah, dan latar belakang. Aku menyaksikan dengan detail hasil perkembangan ini ketika syuting untuk video ‘Cemerlang’.

Oh ya, aku ingat ketika aku duduk di kelas 4 SD, sekolahku mengadakan program nonton bersama di bioskop dalam rangka peringatan G-30S/PKI. Waktu itu Ibu Nur, wali kelasku bilang kalau kita sebagai anak-anak bangsa tidak boleh melupakan sejarah Indonesia, sekelam apapun sejarah itu. Maka dengan berbondong-bondong, aku dan teman-teman kelasku berjalan kaki menuju Bioskop Gloria yang letaknya tak jauh dari pasar Agung Depok. Bioskop itu suram, kotor dan bau pesing. Bangku-bangkunya sudah banyak yang rusak. Tapi semua itu tidak menyurutkan rasa penasaran kami untuk menyaksikan film yang diputar.

Bekas gedung bioskop Gloria yang terletak di Pasar Agung Depok

Waktu itu film yang kami tonton adalah film propaganda karya sutradara Arifin C Noer yang dikeluarkan resmi oleh pemerintahan Orde Baru. Menurut wali kelasku, saat itu sekolah dasar diwajibkan membuat program khusus menonton film tersebut setiap tanggal 30 September. Dan kali kemarin ketika aku ingin meriset bioskop itu untuk pembuatan video akumassa, sepupuku berkata bahwa bioskop itu sudah lama tidak ada dan telah menjadi pool metromini. Sangat disayangkan karena perlahan bioskop-bioskop lokal di Depok tergerus oleh kepopuleran bioskop mentereng di mall.

Serta merta rekaman ingatanku pun berputar ke sepuluh tahun yang lalu, dan membuatku ingin merekam hal baru tentang Depok masa kini. Bingkai kamera tidaklah menyempitkan jarak pandang, akan tetapi men-zoom-kan yang jauh. Melalui video-video yang kami buat justru aku lebih melihat dan mengenal Kota Depok dari dekat. Menjadikan bagian dari massa yang melebur dan berinteraksi dengan orang-orang yang sebelumnya tidak kubayangkan akan kusentuh sosialnya, seperti preman-preman terminal di Lapo saat syuting untuk video ‘Terminal’.

Mozaik terekat, menjadikanku kembali bertemu dengan Depok secara ajaib. Melihat lebih dekat melalui bingkai kamera dan melebur menjadi bagian massa. Aku, massa dan Depok tercinta.

About the author

Avatar

Jayu Julie

Dilahirkan di Garut pada tanggal 4 Juli 1989. Sekarang sedang menyelesaikan studi akhirnya di Universitas Islam Negri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Fakultas Manajemen Akuntansi. Selain itu ia juga aktif sebagai akuntan Forum Lenteng dan aktif di komunitas Suburbia.

1 Comment

  • Wahh.. di barito, saya tinggal di mahakam dulu sampe SMA kelas 3. Thanks ya foto Glorianya.. itu tempat berjasa buat saya nonton film dari kecil sampe sekarang jadi blogger review film.. hehehe

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.