Jurnal Kecamatan: Ciputat Kota: Tangerang Selatan Provinsi: Banten

Masjid Agung Al-Jihad

Masjid ini juga sering menjadi tempat melepas lelah bagi sebagian orang

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Terimakasih kepada hamba Allah yang telah menyumbangakan seperangkat alat shalat yang terdiri dari sajadah dan mukena beserta sebuah Al-Quran kepada Masjid Agung Al-Jihad, semoga amal ibadahnya diterima Allah SWT…

Beberapa menit kemudian…

“Bismillahirrahmanirrahim.. Kami sangat mengucapkan terima kasih kepada para penyumbang yang berada di jalan sekitar Masjid Agung Al-Jihad yang telah menyisihkan sebagian rezekinya untuk pembangunan Masjid Agung Al-Jihad ini”.

Masjid Agung Al-Jihad merupakan masjid tertua di Ciputat

Masjid Agung Al-Jihad merupakan masjid tertua di Ciputat.

Itulah hal yang sering aku dengar setiap kali melintas di Jalan Juanda, selalu tersedia tempat yang berbentuk seperti jaring yang disangkutkan pada dua buah drum yang ditujukan kepada siapapun yang ingin menyumbang untuk pembangunan Masjid Agung Al-Jihad. Pemandangan serupa adalah beberapa bapak-bapak yang sudah tua berdiri di pinggir jalan sembari mengulurkan tangan kepada orang-orang yang melintasi jalan dan angkutan-angkutan umum. Pemandangan seperti ini tidak baru saja aku lihat, tetapi sudah sangat lama hampir 4 tahun lamanya.

Masjid Agung Al-Jihad adalah sebuah masjid yang masih tersisa di Ciputat sejak masa penjajahan Jepang. Ketika itu bentuknya tidaklah sekokoh bangunan masjid seperti sekarang ini, hanya dengan dinding bilik bambu dan kayu saja, langgar atau surau sebutanya yang berarti musholla, yang hanya cukup ditempati kurang lebih sepuluh orang saja. Masjid Agung Al-Jihad ini dibangun dari tanah wakaf yang kemudian menjadi sebuah yayasan, namun banyak warga dan pimpinan dan keanggotaan masjid sendiri yang menginginkan dan sangat mengharapkan masjid agung ini bisa berdiri sendiri tanpa dinaungi oleh yayasan.

Shalat dzuhur berjamaah di Masjid Agung Al-Jihad

Shalat dzuhur berjamaah di Masjid Agung Al-Jihad.

Pembangunan lantai dua Masjid Agung Al-Jihad

Pembangunan lantai dua Masjid Agung Al-Jihad.

Nama Masjid Agung Al-Jihad diambil dari berbagai maksud dan artian. Agung berarti sebagai masjid besar pertama di Ciputat dan pusat dakwah yang sangat besar bagi Kota Ciputat. Al-Jihad diartikan sebagai suatu kebaikan, jalan kebaikan tepatnya. Dimana masjid ini didirikan sebagai sebuah masjid yang menyampaikan kebaikan dan membawa pengaruh positif kepada semua orang.

Sebagai masjid yang terbilang tertua di Ciputat dan menyimpan banyak sejarah mengenai Ciputat, Masjid Agung Al-Jihad adalah masjid yang paling sering menyiarkan Agama Islam, banyak sekali ulama-ulama yang berdakwah di masjid ini karena pada saat itu penduduk Ciputat dan sekitarnya masih terbilang awam mengenai Agama Islam, para penduduk mendapatkan pengajaran mengenai Agama Islam lebih mendalam serta belajar membaca dan menulis Al-Quran di Masjid Agung Al-Jihad. Kebanyakan pengurus masjid ini sebagian berasal dari dosen-dosen besar UIN Jakarta.

Buya Hamka merupakan sosok yang memiliki peranan penting pada Masjid Agung Al-Jihad. Sewaktu ia masih hidup banyak kontribusi yang beliau berikan untuk Masjid Agung Al-Jihad. Pada masa itu pun Masjid Agung Al-Jihad dijadikan sebagai sorotan sebagai tempat peribadatan yang memiliki dakwah sangat kental dan religius, hal tersebut disebabkan karena mayoritas penduduk Ciputat dan sekitarnya bahkan hingga menjadi Kabupaten Tangsel ini adalah kaum muslim. Bentuk atapnya yang menggunakan kubah kerucut menjadikan Masjid Agung Al-Jihad sebagai sorotan tersendiri. Ketika itu TVRI sering kali menjadikan Masjid Agung Al-Jihad sebagai masjid yang disorot untuk tayangan adzan maghrib di televisi tersebut.

Kotak amal Masjid Agung Al-Jiad yang berada di dalam masjid

Kotak amal Masjid Agung Al-Jiad yang berada di dalam masjid.

Tempat shalat pria dan wanita dibatas oleh tirai, seperti di masjid pada umumnya

Tempat shalat pria dan wanita dibatasi oleh tirai, seperti di masjid pada umumnya.

1974 renovasi kedua dimulai. Masjid Agung diubah menjadi bangunan kokoh dengan dinding-dinding yang terbuat dari bahan-bahan bangunan. Dipoles dengan warna hijau yang cerah, terlihat memukau. Layaknya sebuah konstruksi sebuah bangunan yang memerlukan perbaikan, seiring dengan berjalannya waktu, dinilai banyak terdapat kerusakan pada konstruksi bangunan dan membutuhkan banyak perlengkapan ibadah yang benar-benar memadai. Pada tahun 2004 renovasi ketiga pun dimulai. Pada renovasi ketiga ini para pengurus dan pengelola masjid merasa sangat membutuhkan orang yang dinilai paham betul mengenai konstruksi bangunan beserta keadaan bangunan tersebut, maka dibentuklah dewan pembangunan masjid yang dipimpin oleh Ir. Ramzi sebagai arsiteknya. Rencananya pembangunan Masjid Agung akan dibangun dua lantai. Perenovasian Masjid Agung yang ketiga ini masih berlangsung sampai degan saat ini dalam artian sudah hampir tujuh tahun lamanya perenovasian dan pembangunan tingkat dua pada Masjid Agung belum rampung juga. Semua hal tersebut didasari atas faktor dana yang dinilai belum memenuhi target pembangunan. Sedikitnya donatur mengharuskan pihak pengelola masjid bekerja dengan keras untuk memperoleh dana yang terbilang cukup banyak itu.

Masjid Agung Al-Jihad memiliki cerita sejarah yang tidak akan terlupakan, sekedar mengingatkan kejadian tahun 1984, saat terbakarnya gudang peluru marinir di Cilandak. Dentuman peluru tersebut terdengar hingga berbagai wilayah, salah satunya Cipuat dan sekitarnya. Dari pemaparan beberapa orang yang telah tinggal lama di dekat Masjid Agung, salah satu dinding bagian tengah Masjid Agung Al-Jihad rusak terkena dentuman peluru yang meledak. Hal tersebut mengakibatkan para penduduk sekitar mengungsi ke wilayah Jombang, Ciputat Timur dan Parung, Bogor. Pernyataan tersebut dibenarkan oleh Ir. Ramzi, ketua dewan pembangunan Masjid Agung Al-Jihad.

Masjid ini juga sering menjadi tempat melepas lelah bagi sebagian orang

Masjid ini juga sering menjadi tempat melepas lelah bagi sebagian orang.

Meskipun sampai dengan saat ini perenovasian dan pembangunan lantai dua Masjid Agung Al-Jihad masih terus berjalan, tak lantas menjadikan Masjid Agung Al-Jihad meniadakan kegiatan-kegiatan yang berlangsung setiap harinya. Masjid yang berada dalam wilayah yang sangat strategis ini, yaitu dekat dengan Pasar Ciputat dan wilayah padat penduduk dan keramaian kota, selalu membuat masjid ini terlihat sangat ramai. Ketika waktu sudah menunjukan untuk shalat, berbondong-bondong orang yang berada disekitarnya, seperti para pedagang, penjaga toko, dan orang-orang yang sengaja berhenti dari perjalanannya untuk mampir dan beribadah di masjid ini.

Ciputat bahkan Tangerang Selatan adalah kota dengan penduduk Islam terbesar, setiap jengkal terdapat masjid dan mushola. Hal yang harus kita sadari adalah menjaga keutuhan dan mengembangkan nilai dakwah Islam agar kehadiran masjid dan mushola yang tersebar di setiap titik wilayah memiliki daya tarik tersendiri serta memiliki sejarah yang akan tetap diingat massa layaknya Masjid Agung

About the author

Avatar

Dwi Anggraini Puspa Ningrum

Dwi Anggraini Puspa Ningrum (lahir 1990), lulusan UIN Syarif Hidayatullah, adalah seorang jurnalis yang bekerja di salah satu media massa nasional. Anggota Komunitas Djuanda, Tangerang Selatan, dan pernah menjadi salah satu partisipan dalam workshop AKUMASSA Ciputat, Tangerang Selatan.

2 Comments

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.