Pemenang - Lombok Utara, NTB

Kampung Halamanku

Di kamar ini aku dilahirkan

Di balai bambu buah karya bapakku

Di kampung ini aku dibesarkan

Di belai mesra lentik jari ibu ku

Aku dengar lirik syair lagu Iwan Fals “Balai Bambu” yang mengalun dari Radio Komunitas Pesona FM Pemenang.

Kolam di Kampung Halamanku

Kolam di Kampung Halamanku

Sambil menikmati secangkir kopi dan sebatang rokok, aku teringat kenangan-kenangan indah masa kecil di Karang Bedil, Kampung yang berada di sebelah selatan Kecamatan Pemenang. Sebuah kampung yang diapit oleh sawah dan bukit-bukit, menyimpan suasana pedesaan yang nyaman dan asri.

Rumahku berdekatan dengan sawah yang sekarang tanahnya telah digali untuk pembuatan batu bata, sungguh sayang sekali. Anjing pun berkeliaran di dekat rumahku dan gonggongan mereka membuat suasana malam menjadi sangat menyeramkan. Sehingga aku agak lama untuk memejamkan kedua mataku.

Di pelupuk mataku terus terbayang masa-masa kecil yang dikerumuni anjing-anjing liar tersebut. Matanya tajam seperti ingin menggigitku, hingga aku pun meneteskan air mata. Aku berteriak sekeras-kerasnya, namun teriakanku membuat gonggongan itu semakin ramai di sekeliling ku. Aku terdiam sambil terisak dan duduk sambil mengusap kedua mataku. Anehnya, anjing-anjing itu lalu meninggalkanku. Aku cukup trauma dengan kejadian itu.

Hampir tiap aku mendengar suara-suara itu aku teringat dengan masa lalu. Tapi, anehnya adikku yang masih berumur sebelas tahun, malah senang mendengar suara anjing yang meraung-raung seperti serigala itu. Kadang-kadang dia tersenyum dan sesekali seperti mengejek saat melihat tingkahku yang ketakutan, mungkin baginya agak kurang wajar.

Air kolam terlihat penuh saat musim hujan tiba

Air kolam terlihat penuh saat musim hujan tiba

Aku akan merasa tertolong kalau musim penghujan tiba. Suasana yang membuatku sedikit terjaga karena anjing-anjing itu tidak banyak ‘berkomentar’ di malam hari. “Mun dek ya pada takut leq nyet sang,” (mungkin mereka takut dingin) pikirku kegirangan. Yang lebih menarik lagi malam-malam ku seperti di elus-elus suara katak yang ramai dan terdengar berirama. Aku pun tersenyum “Ni baroq suasana a keren maraq leq studio musik, lamun tebin nu marak idap leq tengaq gawah” (Ini baru suasana yang keren seperti di studio musik, tapi kalau kemarin itu seperti hidup di tengah hutan).

Suara katak-katak tersebut datang dari ladang yang sudah menjadi kolam kalau musim penghujan tiba. Biasanya 2 sampai 3 bulan setelah musim penghujan kolam itu berisi ikan. Kolam musiman ini hanya dihuni oleh ikan-ikan kecil seperti Ikan Betok, Ikan Ampes, Ikan Mujair dan Ikan Kepala Timah. Menariknya, ada juga sebagian masyarakat yang melepas benih Ikan Lele, Ikan Emas dan ikan-ikan yang lain. Maksud mereka agar setelah 2 bulan ke depan kami dapat memancingya bersama-sama. Suasana yang ngangenin banget. Sudah  tidak sabar tanganku ini memegang kail ikan ingin cepat-cepat memancing.

Hal semacam ini ingin selalu kami lestarikan, karena akan membuat kita banyak belajar dari alam. Bukankah alam butuh kita untuk menjaga kelestariannya? Khotbahku dalam hati. Walaupun demikian ada sebagian orang seolah-olah tidak mau tahu tentang hal semacam ini. Dengan membuang sampah sembarangan yang sering kali menimbulkan banjir dan akhirnya wabah penyakit pun datang.

Sumur yang digunakan untuk membantu menambah volume air kolam

Sumur yang airnya digunakan untuk membantu menambah volume air kolam

Hingga kami putuskan untuk membuat sumur yang kemudian disedot airnya ke kolam itu. keadaan ini menuntut kami harus membeli mesin penyedot air untuk mengisi kolam tersebut. Setelah 1 bulan berjalan, ternyata air sumur itu pun tak mampu memecahkan keresahan kami. Bagaimana tidak, debet air sumur tidak mampu memenuhi kolam yang begitu besar. Sementara, sungai di dusun ku lumayan jauh dari kolam itu. Dan kini kami hanya menunggu datangnya musim penghujan selanjutnya.

Sedikit demi sedikit air itu mulai surut dan bercampur dengan lumpur. Tinggal memulai langkah-langkah akhir yaitu menggamaq, sebuah kebiaasan yang dilakukan masyarakat untuk mencari ikan dengan tanpa bantuan alat (tangan kosong). Kebiasaan ini menimbulkan kesan-kesan menarik, karena kami mencari ikan sambil perang-perangan dengan lumpur dan sisa-sisa ikan justru lebih banyak kami dapat pada saat kolam mulai lebokan (berlumpur). Asyiknya lagi binatang-binatang kolam yang tak bisa ditangkap dengan pancing atau pun dengan jaring, seperti Kerujuk (Kepiting), Lindung (belut) bisa kita peroleh dengan sangat mudah. Tinggal satu pertanyaan “Kita mau kotor atau tidak?”

Pembuatan

Bagian kolam yang kering kering, kini dipasangi conblock

Kami saling bermandi lumpur ketika menangkap belut-belut yang licinnya luar biasa itu, sampai-sampai tangan kami saling beradu, saling remas-meremas, bahkan yang tertangkap tangan kami sendiri, tawa lepas pun tak tanggung-tanggung lagi hingga tempat itu dipenuhi dengan canda dan tawa. Bukan hanya anak-anak, remaja dan orang tua pun ikut meramaikan suasana yang menambah rasa kekeluargaan. Sebagian kelompok menyiapkan ember untuk tempat ikan-ikan tangkapannya. Tidak diragukan lagi tempat-tempat ikan itu penuh dengan tangkapan mereka. “Ka beak buek ang ya tiak tih, ita pesta juluk jelo ni” (Ayo anak-anak habiskan saja, kita pesta hari ini) teriak seseorang yang sibuk memikul hasil tangkapannya untuk dibawa pulang. Sungguh akhir-akhir yang menyenangkan.

Tapi, semuanya menjadi pesta yang singkat bagi kami yang merindukan hal-hal semacam itu. Kolam itu kini kering dan ditumbuhi rumput-rumput liar. Sapi-sapi pun di-getang (diikat) di sekitar kolam. “Syukurlah tidak ada ikan, rumput pun jadi” tutur beberapa peternak sapi di gubuk ku. Aku tidak egois, tapi kondisi ini membuat ku geram karena hobi memancingku pun tidak bisa tersalurkan. Akhirnya aku cuma bisa duduk di bibir kolam, sambil sesekali menatap langit dan berharap hujan.

Bagian kolam yang kering dan berumput dijadikan tempat makan sapi

Bagian kolam yang kering dan berumput dijadikan tempat makan sapi

Tiba-tiba aku mendengar teriakan temanku ”Leks, teh ta meta bilok” (Leks, ayo kita cari bambu kecil). Aku pun tercengang, karena aku belum mengerti apa yang mereka rencanakan dengan mencari bambu kecil. Aku teringat kalau bambu kecil itu selain untuk membuat Joan (Kail), juga bisa digunakan untuk membuat permainan Tulup (Sumpit) yang pelurunya dibuat dari Tanaq Malit (Tanah Liat). Tanah itu dibulatkan seukuran lubang bambu tersebut. Setelah lama berpikir, aku pun balik berteriak “Beaq-beaq anti ku, ku milu. Mbe lain ta?” (teman-teman tunggu aku, aku mau ikut. Kita mau ke mana?). “Tonek keq leq meling, teh sang milu wah” (ngomong terus dari tadi, ayo sudah ikut saja) sapa temanku sambil menggandengku.

Sebelum jalan, kami harus menyiapkan makanan dan air minum untuk perjalanan ke bukit yang menempuh jarak 1 kilometer dari gubuk kami. Setelah semuanya kami rasa siap, tanpa ragu lagi kami langsung berangkat mendaki. “Mudahan ita mauq biloq anuk bagus” (semoga kita dapat bambu kecil yang bagus-bagus) sapa temanku yang mulai tersengal-sengal karena kelelahan. Aku sengaja membuat lelucon-lelucon, agar teman-temanku tertawa dan untuk menghilangkan rasa capek setiba di bukit nanti. Lelahku terbayar setelah melihat bambu-bambu kecil yang berderet rapi di pinggir sungai Bukit Terengan sebelah selatan kampungku. Tanpa pikir panjang kami berebut mendekatinya untuk memilih bambu yang bagus. Soalnya kami sama-sama gengsi bila bambu yang kami dapat dikatakan jelek. “Aku harus jeli nih milih bambu yang mantap” pikirku sambil terus menyibak bambu-bambu itu tanpa merasa gatal.

Setelah semuanya merasa dapat bambu yang bagus, kami langsung memotongnya sesuai dengan ukuran Tulup (Sumpit) yang panjangnya bisa setengah meter atau satu meter, dengan kata lain semele-mele (semau-mau gue). Yang penting nyaman dan aman ketika membawanya. Setelah Tulup itu jadi, kami membuat kelompok perang-perangan (tembak-tembakan). Aturannya dilarang menembak bagian kepala. Setiap permainan yang kami buat ada unsur aman dan nyamannya. Apa pun permainannya, kami hanya ingin tersenyum dan tertawa bersama di kampung halaman tercinta.

 

About the author

Avatar

Mukhlisin Alexis

Pernah akttif di Komunitas Pasir Putih.

1 Comment

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.