Jurnal Kecamatan: Pabean Cantikan Kota: Surabaya Provinsi: Jawa Timur

House of Sampoerna

salah satu ruangan di House of Sampoerna
“Selamat datang, Pak, di Museum House of Sampoerna,” ujar penjaga pintu museum, lemah gemulai dengan aromanya yang sedikit menyerupai obat gosok, alias balsam. Cahaya redup kekuningan turut menghiasi ruangan tersebut. Air mancur di tengah ruangan sempat menghalangi laju tur saya, sehingga memaksa saya berjalan ke sebelah kiri ruang pembuka dan berhenti sejenak melihat beberapa lukisan yang ukurannya 5 meter kali 4 meter setengah. Di bawahnya terdapat dipan lapak tembakau kasar yang ukurannya lumayan besar dan beberapa karung berisi tembakau dan cengkeh. Lukisan dan dipan tersebut mempunyai relasi yang sangat kuat. Dalam lukisan itu, ada seorang kakek tua yang sedang duduk menghisap sebatang rokok lintingan, sedangkan di sebelah lukisan tersebut, terdapat pula lukisan yang menggambarkan petani tembakau yang mengangkut sekarung tembakau yang telah selesai dijemur.

Kedua benda itu, antara lukisan dan tembakau kasar, belum tersentuh oleh mesin-mesin industri. Semuanya tampak tradisional alias handmade. Selain itu, terdapat juga beberapa foto hitam putih, yang di dalamnya terdapat citra seorang perempuan yang sedang duduk sambil melinting kertas berisi tembakau dengan alat tradisional yang terbuat dari kayu. Di belakang perempuan itu, terlihat para pekerja melakukan hal yang sama.

h-37

Bergeser ke kiri sedikit, kita dapat melihat sebuah alat pemanggang tembakau yang terbuat dari tanah liat dan tampak seperti pos satpam, memiliki atap genteng berukuran 6 meter kali 4 meter. Alat tersebut hanya memiliki dua jendela kecil, satu di tengah untuk memasukkan tembakau kemudian satu lagi terletak di bawah, berguna untuk memasukkan kayu bakar. Jika Anda menoleh sedikit ke kiri, Anda akan menemukan sebuah kotak televisi touch screen yang merupakan video penjelasan sejarah keluarga pendiri Sampoerna dan sejarah bangunan museum.

h-4

Liem Seeng Tee, kelahiran 1893 di Provinsi Fujian, Tiongkok, berlayar bersama ayahnya ke daratan Singapura. Mereka berlayar sebagai pengungsi yang meninggalkan tanah kelahirannya di Cina Selatan atas dasar harapan mendapat kehidupan baru di tahun 1898. Pada akhirnya, Liem Seeng Tee bersama ayahnya melanjutkan pelayaran ke Jawa Timur. Tidak lama setelah mereka menetap di Surabaya, sang ayah terjangkit virus malaria dan kemudian menitipkan Liem kepada seorang warga Cina. Ayahnya meninggal dunia pada saat Liem berusia 5 tahun.

Di masa penjajahan Belanda, Surabaya merupakan kota terbesar setelah Jakarta. Basis perdagangan yang pesat di tahun 1800-an, membuat orang tua angkat Liem memberikan pelajaran-pelajaran tentang berdagang. Pada saat beranjak remaja, Liem mencoba survive dengan berdagang makanan kecil di atas kereta Surabaya-Jakarta dan sempat bertukar dagangan dengan pedagang Arab.

Perubahan yang pesat terjadi ketika ia menikahi seorang putri Tionghoa Siem Tjiang Nio. Pada saat itu, ia bekerja sebagai peracik dan pelinting tembakau di Lamongan. Atas dasar kemampuannya yang alami, ia dapat menciptakan sebuah racikan tersendiri. Liem akhirnya berhenti dari pekerjaannya dan menyewa warung kecil bersama istrinya. Sang istri berjualan bahan makanan, sedangkan Liem mencoba berjualan rokok hasil dari racikan dan lintingannya sendiri. Alhasil, racikannya digemari orang-orang dan kemudian di tahun 1913 Liem mendirikan Handel Maatschappij Liem Seeng Tee. Kemudian berubah nama menjadi NV Handel Maatschappij Sampoerna.

h-1

Atas keberhasilan usahanya, pada tahun 1932 ia membeli sebuah panti asuhan milik Belanda. Kemudian ia mengubah panti tersebut menjadi sebuah pabrik rokok sekaligus tempat tinggal. Liem sempat membuat sebuah bioskop di tempat tersebut, yang sempat pula didatangi oleh Charlie Chaplin di akhir tahun 30-an. Kedatangan Jepang pada tahun 1942 membawa kehancuran bagi perusahaan sekaligus keluarganya. Liem ditawan dan harta kekayaannya disita oleh pihak Jepang. Pabriknya dikuasai penjajah dan hasil industrinya diserahkan untuk tentara Jepang yang sedang berperang.

Rasa penasaran makin terasa ketika melihat etalase yang terbuat dari bambu yang berdiri dengan tegak; di situ berbagai macam campuran bahan baku rokok Dji Sam Soe. Terpaku melihat bahan baku ter-display dengan rapi, efeknya tak terbayangkan di kepala, betapa rumitnya membuat takaran untuk sebatang rokok Dji Sam Soe di era Pak Liem. Bicara sekarang, rokok sudah sangat mudah dibuat karena adanya bantuan mesin. Tapi, sepertinya racikan rokok di era Pak Liem lebih ‘ajaib’ rasanya dibandingkan pembuatan massal dengan mesin.

h-3

Karena rasa penasaran yang menyelimuti pikiran, kaki saya melangkah membawa saya berada di ruang tengah. Terlihat di sebelah kiri ruangan terdapat foto-foto yang terpajang di dinding, gambar di dinding tersebut adalah pejabat perusahaan Sampoerna di tahun 2005. Ada lima foto yang terpajang, salah satunya Putera Sampoerna yang sempat membuat sebagian orang dan media tercengang. Saya juga sempat kaget atas keputusannya pada tahun 2005, menjual saham perusahaan terbesar Sampoerna Group kepada perusahaan rokok kapitalis terbesar Philip Morris. Bagi perusahaan sebesar Philip Morris, tidak masalah menandatangani kontrak jual beli saham Sampoerna, mungkin menurutnya tindakan membeli saham tersebut merupakan keuntungan yang berlipat. Padahal, selidik demi selidik, dan mendapat kabar dari beberapa teman yang mengetahui bahwa dalam beberapa tahun ke depan rokok di seluruh dunia akan dinaikkan pajaknya oleh masing-masing negara. Terbayang berapa nanti harganya? Sepengetahuan yang teringat, di Eropa khususnya Jerman, harga rokok bisa mencapai 56 ribu bila dikonversi ke dalam rupiah. Dan bila bicara rasa, tembakau Indonesia lebih harum dibanding tembakau yang lain. Teringat sebuah pengalaman saat di Eropa, selagi saya asik menghisap rokok kretek di udara dingin bulan Mei, datanglah seorang perempuan dan dia mengajak berkenalan hanya untuk meminta rokok yang saya hisap. Bayangkan betapa wanginya tembakau Indonesia.

Di bawah foto-foto yang terpajang terdapat etalase yang berisi koleksi korek kayu seorang anak laki-laki Belanda yang pernah tinggal di Indonesia, walaupun tidak terlalu banyak tetapi koleksi tersebut cukup menarik. Korek-korek tersebut bukan saja berasal dari Surabaya melainkan ada dari Spanyol, Belanda dan Jepang, ditambah dengan desain korek tersebut yang bisa membuat kita membayangkan situasi di jaman itu. Hanya dari Indonesia yang berdesain gambar seekor binatang, sedangkan dari Jepang misalnya, bergambar kapal perang angkatan laut Jepang. Dan kabarnya koleksi tersebut diminta oleh pemilik museum di negara Belanda. Bisa dibayangkan ketika jaman Jepang, anak tersebut mungkin sempat lolos dari penawanan bangsa Eropa di masa pendudukan Jepang di Indonesia, karena menurut keterangan yang ada di etalase, koleksi tersebut ditemukan di Belanda.

h-31

Saat saya menoleh ke belakang, terlihatlah beberapa foto orang-orang yang pernah menjabat di P.T. Sampoerna edisi 2006. Disitu terdapat pula foto Philip Morris dengan senyumannya yang lebar.

Sebelum saya beranjak ke ruangan selanjutnya, masih di ruangan yang sama, di pojok kanan saya melihat tampilan yang agak mirip dengan susunan tampilan sisi pojok kiri, hanya saja di situ terdapat foto yang cukup besar wajah Sri Sultan Hamengkubuwono X kesultanan Yogyakarta sedang merokok dan di bawah foto besar itu ada beberapa foto kegiatan Sri Sultan sedang menginspeksi sebuah anak pabrik dari PT Sampoerna di Jawa Tengah. Tetapi pabrik tersebut memiliki desain dan merk tersendiri. Foto-foto tersebut menimbulkan kesan Sri Sultan adalah pemilik anak pabrik PT Sampoerna di Jawa Tengah.

salah satu ruangan di House of Sampoerna
salah satu ruangan di House of Sampoerna

Sebelum saya beranjak ke lantai 2, saya baru sadar saat saya akan beranjak ke ruangan berikutnya, kalau ternyata ruangan ini cukup besar dibandingkan dengan ruang yang sebelumnya. Mungkin di ruangan inilah tempat pertunjukkan teater waktu tahun 1930-an diadakan. Mungkin karena video yang ada di ruangan pertama tidak menjelaskan dimana letak teater tersebut. Ruangan di mana tempat saya berdiri sekarang terdapat beberapa alat berat, seperti plat master untuk mencetak bungkus rokok Dji Sam Soe, ukuranya lumayan besar dan plat master tersebut dapat mencetak kurang lebih 20 bungkus untuk sekali naik. Dari 4 roll gulungan plat tersebut salah satunya ditaruh di luar.

Di belakang gulungan master tersebut terdapat lemari kaca yang di dalamnya, terdapat display rokok-rokok produksi PT Sampoerna baik yang diekspor maupun rokok untuk untuk dalam negri. Yang menarik adalah rokok-rokok tersebut ada yang disediakan untuk lembaga pemerintahan di luar negri. Desainnya simpel, hanya saja ada logo garuda yang menggantikan lambang ‘A’ di setiap sudut kotak rokok. Pada tiap batang rokok juga terdapat lambang garuda. Sugestinya, bila menghisap rokok ini seolah merasa didukung oleh negara.

untuk pemerintah di luar negri, desain kotak rokok berlogo Garuda

Untuk pemerintah di luar negri, desain kotak diberi logo Burung Garuda.

Bila melihat ke sebelah kiri, terdapat sebuah mesin cetak yang tidak begitu besar tetapi butuh lebih dari 8 orang untuk memindahkannya. Saya baru pertama kali melihat mesin cetak yang seluruh bagiannya terbuat dari besi. Di atas logam besi yang berdiri menjulur ke depan terdapat tulisan Original Heidelberg.

h-33

Di sekeliling mesin tersebut, ada beberapa tong kecil yang berisi tinta-tinta mesin cetak yang berwarna merah, kuning dan hijau kelam. Lalu ketika berbalik, saya sempat tertawa,oleh sebuah pemandangan yang agak jomplang setelah melihat sesuatu yang tampak kokoh, yaitu seperangkat peralatan marching band terpajang lengkap dengan kostumnya. Kostum tersebut berwarna putih-putih dengan atributnya berwarna merah yang khas, dengan logo Sampoerna dan burung garudanya. Tetapi yang menarik perhatian saya adalah lemari kaca yang terletak di sebelahnya. Dalam lemari tersebut terdapat foto-foto kelompok marching band ketika mereka berpentas di lomba marching band internasional di Amerika Serikat. Tidak hanya foto, tetapi paspor, ID card, tiket pesawat serta piagam dan medali menghiasi lemari tersebut. Kalau tidak salah di tiket pesawat itu tertulis antara tahun 90-95 dan atas nama seseorang yang tidak saya ingat tetapi namanya tidak asing atau banyak dipakai oleh nama-nama orang daerah Jawa Timur. Ternyata saya telah melewati keterangan yang ada di dalam lemari tersebut. Keterangan tersebut menjelaskan bahwa semua personil marching band adalah karyawan pabrik PT Sampoerna yang berada di Jawa Timur. Wah, pantas saja PT Sampoerna pernah mengiklankan rokoknya di televisi dengan membuat parade marching band diatas tebing dengan personil yang memenuhi bisa satu rangkaian gerbong kereta Gaya Baru Malam.

karyawan PT Sampoerna pernah mengikuti lomba marching band internasional

motor merk Djawa produksi Denmark

Masih di ruangan yang sama, saya melihat sebuah warung yang berlogo Dji Sam Soe lengkap dengan jajanannya. Di depan warung tersebut terparkir sebuah motor berwarna merah dengan merek Djawa. Saya baru tahu kalau sejak dahulu kala orang Jawa sudah dapat membuat sepeda motor. Tapi ternyata sepeda motor itu bukan buatan orang Jawa. Ada keterangan yang menyebutkan bahwa motor ini dibuat oleh orang Eropa yang berkunjung ke Indonesia dan katanya motor tersebut dilisensikan oleh perusahaan Denmark dengan merek Djawa.

Maaf saya lupa korelasinya antara sepeda motor merk Djawa dengan Pt Sampoerna. Di belakang warung Dji Sam Soe, terdapat tangga menuju lantai dua, ketika saya menaiki tangga tersebut terpampang poster-poster yang menempel di dinding. Maaf saya juga lupa poster apa yang terpajang saat itu, tapi terbayang yang saya ingat adalah display lantai dua yang menjejerkan alat-alat tradisional pelinting rokok yang sama seperti di dalam foto ketika baru memasuki museum ini. Alat pelinting ini biasanya digunakan oleh pekerja wanita. Sedangkan para laki-laki sibuk mengangkut tembakau dan hasil produksi lainnya.

Tampaknya semua ruangan di museum Sampoerna ini telah saya kunjungi. Hanya saja toilet dan ruangan staf yang tidak sempat saya kunjungi. Ketika saya hendak keluar pintu utama museum, Adel, Andang Mas Ben, Bram, Wibi, Akbar dan Paul sedang duduk di ruang pertama sebelah kiri. Jika ingin keluar gedung saya kira ruangan yang cukup lengkap dengan meja, sofa, lemari dan meja kerja itu adalah tempat menunggu. Ternyata pojok ruangan tersebut merupakan display ruang tamu keluarga Liem lengkap dengan karpetnya.

h-22

Dinding tembok terdapat foto keluarga Liem yang sedang merayakan ulang tahunya, tidak hanya dia tetapi anak-anak hingga cucu-cucunya yang sedang berulang tahun memenuhi satu dinding yang sama. Di lemari yang berukuran cukup besar terdapat koleksi baju Nyonya Liem, mulai dari kebaya hingga gaun, tapi sayang dasternya tidak ikut terpajang. Selebihnya dari ruangan itu tampak biasa saja sama seperti ruangan kantor detektif Sherlock Holmes

Setelah saya dan teman-teman keluar museum, Mas Beni mengajak kita ke sebuah café dan galeri yang berada di sisi kiri museum Sampoerna. Café tersebut tidak membuat saya tertarik sampai-sampai saya tidak mengingat nama menu yang dihadirkan. Tidak hanya café, tetapi toko yang menempel di depan café tersebut juga tidak membuat saya tertarik. Toko merchandise tersebut memiliki barang-barang yang biasa saja, tidak beda halnya dengan sebuah distro, tetapi hanya saja semua desainnya memiliki label P.T. Sampoerna.

Kunjungan terakhir saya adalah sebuah galeri yang berada di belakang café. Bangunannya memiliki berbagai ruangan, dan tiap ruangannya dihiasi oleh lukisan abstrak dengan bahan mix-media. Akhirnya kita berjalan ke mobil menuju kembali ke Rotten Apple, tempat sementara kami berada di Surabaya.

About the author

Avatar

Bagasworo Aryaningtyas

Dilahrikan di Jakarta pada tanggal 24 Maret 1983. Ia pernah kuliah di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta. Selain menjadi video maker, pria yang sering terlibat dalam berbagai macam workshop ini juga aktif di Forum Lenteng sebagai assisten Biro Penelitian dan Pengembangan (Litbang).

7 Comments

  • Wahwah…mantab sekali tulisan ini!

    Sangat sangat informatif bagi seorang penghisap gudanggaramfilter menulis ttg sampoerna. Tapi kalo gak salah, yg saya tahu Tribes of Hamengkubuwono baru sampe X (dibaca 10) kok tertulis diatas XI (dibaca sebelas) ini saya yg salah baca karena keterbatasan saya akan angka2, atau memang salah ketik?
    Thx! Sukses akumassa akan informasi2nya yg ringan, mendidik dan memublik!

  • ooop,,,tahan….khan ada editor naskah…brarti salah sapa tuh….sial lo pe…ditunggu kabarnya…

  • maaf akan ketidaktelitian editor redaksi mengenai hamengkubuwono XI. editor memang kurang teliti melihat kurangnya pengetahuan penulis tentang hal tersebut, ditambah dengan kepercayaan yang besar dari editor mengenai pengetahuan si penulis, menganggap bahwa si penulis sudah tahu tentang semua yang ditulisnya, sampai hal ini terlewat. sekali lagi maaf.

  • emang kerreen..
    q dari smp kenal n hafal banget ma tempat nie mpek kuliah pun gag da bosend”x xamperin tempat nie..
    nie jadi tempat pelarianq jga klo gie sumpek mikirin tugas ma mikirin baxak masalah..

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.