Jurnal Kecamatan: Rangkasbitung Kota/Kabupaten: Lebak Provinsi: Banten

Agustusan di Alun-Alun Kabupaten

miniatur Jembatan Dua di atas mobil hias
Avatar
Written by Achmad Bayquni
Itulah hari kemerdekaan kita! Aku, kamu, dan mereka sudah pasti terbawa pada kehangatan suasananya jika hari itu tiba. Ada gairah yang selalu coba dilukiskan oleh setiap individu. Anak-anak, muda-mudi, orang tua, semua larut dalam gairah yang sama. Gairah merdeka! Walau dalam bingkai persepsi yang berbeda-beda, tentunya. Semua orang ingin melihat merdeka itu dari mana-mana arahnya. Akan tetapi aku lebih senang melihat daerahku merdeka dan dilihat secara langsung dengan mataku sendiri, bukan dengan mata orang lain. Geliat daerah Lebak mungkin akan menjadi pijakan awal ketika melihat merdeka itu. Lihat dan berhenti sejenak di setiap persimpangan yang membingungkan di jalan-jalan kota Lebak, kecamatan Rangkasbitung, gerobak dari kayu tambal sulam yang didapat saat menepi dan hanyut di sungai Ciujung, ikut memeriahkan suasana penjualan pernak-pernik simbol Agustusan.

merah-putih

Seminggu sebelumnya, kegiatan perlombaan dan pertandingan di tiap sudut RT sudah dimulai. Ada lomba balap kelereng, balap karung, tarik tambang, memasukkan paku kedalam botol, dan masih banyak lagi jenis perlombaan yang disajikan. Bervariasi. Panitia perlombaan biasanya dipegang oleh pemuda-pemudi setempat. Mereka diberi tanggung jawab untuk merencanakan sekaligus melaksanakan kegiatan-kegiatan tersebut oleh Ketua RT.

Kekhasan lain yang terasa adalah ketika menghias kampung. Bendera merah putih sudah barang tentu dipasang di setiap rumah. Belum lagi bendera kecil-kecil yang terbuat dari kertas minyak yang ditempelkan pada benang lantas dipasang zig-zag dari satu tiang listrik ke tiang listrik lainnya sepanjang jalan utama perkampungan. Gapura dibuat pada tiap gang masuk utama di tiap kampung. Puncaknya, sebuah pohon pinang lengkap dengan hadiah yang tergantung di atasnya, menancap gagah di atas tanah.

Nah, acara itu hanya untukruang lingkup kampung atau RT. Biasanyasetiap tahun, semua warga mengikutiupacara pada pagi hari dialun-alun Kabupaten. Mulai dari anak sekolah, Dinas dan Instansi Pemerintah, TNI, Polri, Satpam, Hansip, dan pemuda penganguran sekalipun. Upacara itu sendiri biasanya berakhir sekitar pukul 10.30.

marching band berada di garis depan pawai

Marching band berada di garis depan pawai.

Usai itu, saat yang ditunggu-tunggu akan tiba. Pawai keliling kota! Para penikmat pawai alias penonton, bahkan sudah memadati trotoar dipinggir jalan sejak pukul setengah sepuluh pagi. Ibu-ibu rela menggendong anak mereka yang baru bangun sakit. Ingusnya meleleh sambil menangis menahan panas. Semuanya hanya untuk menonton hal yang wajib ada pada saat Agustusan, Pawai.

Marching Band menjadi garis depan ketika pawai. Terompetnya kadang memecahkan telinga jika posisinya berada di depan corong terompet yang datang dari tengah jalan. Dahulu, saat aku masih SD, Marching Band hanya diwakili oleh Group dari SMU terpilih. Sekarang, itu sudah tidak berlaku lagi. Dari tingkat SD hingga SMU sudah ada Marching band, bahkan tiap satu sekolah memiliki satu marching band. Yang menarik dari hal tersebut adalah bahwa ketahanan fisik anak sekolah usia dasar ternyata sama kuat dengan para seniornya di SMP dan SMU, sebab jarak tempuh mereka sama jauhnya! Hampir habis jalan kota ini dikelilingi dengan jalan kaki. Dahsyat…!Dan pihak yang paling repot selain guru pembimbing marching band SD adalah ibu dari anggota marching band tersebut. Mereka (Ibu) nyaris mengikutinya sambil membawakan minuman sebab khawatir anaknya dehidrasi atau menggelepar pingsan.

drigen

Saat itu, sesekali aku mencoba bertanya pada penonton tentang arti dari Marching Band. Mumu, sepupuku usianya 30 tahunan. Kebetulan ada disampingku saat aku memotret. Ketika kutanyakan apa arti marching band, Mumu menjawab, “Marching band adalah wanita cantik yang suka bawa-bawa tongkat, kadang tuh tongkat dimainkan sambil diputar-putar diatas kepala dia.Mirip ‘Si Buta dari Goa Hantu’, jalannya selalu di depan anak buahnya yang memainkan musik trat… trettt… trooott… brang… brengg… brong… dag… dig… dug…!!! Begitulah suara yang terdengar hingga memecah suara kendaraan yang jarang melintas di jalan aspal kota karena diblok oleh Polisi.

Instansi Pemerintah sendiri biasanya selalu membuat Mobil Hias. Ornamen hiasan dari mobil itu berisi hal-hal yang terkait dengan Instansi tersebut. Saat foto ini diambil, terdengar teriakan dari kerumunan anak kecil usia 6-8 tahun,  “Dak…dak, deuleu, jambatan dua diangkut diluhur mobil…”.(Hey teman, lihat, ada jembatan diangkut di atas mobil).

miniatur Jembatan Dua di atas mobil hias

Miniatur Jembatan Dua di atas mobil hias.

Organisasi kepemudaan juga tak luput untuk memeriahkan pawai. Seperti yang dilakukan oleh teman saya, Helmi. Ditengah teriknya matahari siang yang menghanguskan kulit, ia benar-benar ikhlas berjalan kaki dengan menggunakan seragam hitam. Kata Helmi, selain ikut memeriahkan pawai juga dapat honor. “Demi kebudayaan!” ujarnya tak nyambung dengan konteks.

helmi

Sejak sekitar tiga tahun yang lalu, ada satu hal baru yang selalu wajib menjadi peserta pawai yakni satu mobil yang di atasnya duduk para finalis Saijah-Adinda di Kabupaten Lebak. Wajah-wajah Lelaki dan Wanita terpilih itu benar-benar bisa memberikan kesejukan di tengah teriknya panas matahari siang ini. Meski belum sementereng lomba Abang-None Jakarta, aku yakin Saijah-Adinda sedang mencoba untuk bisake arah sana. Muka manis dan lucu cukup membuat mataku sejuk tetapi tidak cukup menghentikan keringatku yang terus mengalir dari punggungturun perlahan ke liang pantat.

para saidjah-adinda

Peserta pawai silih berganti, berjalan memamerkan apapun demi mengungkapkan arti kata merdeka. Ah, Betapa berharganya sebuah kata “merdeka”. Pertanyaannya cuma satu, apakah kamu sudah “merdekaaaaaaa”?. Hingga tulisan ini saya coba kirim ke meja redaksi di gubug derita pinggir kali, suasana Rangkasbitung sepi senyap. Menurut ibu-ibu yang ngerumpi tiap pagi sambil biasanya menyapu halaman rumah karena musim kemarau panjang terdengar di waktu Agustusan yang belum tiba waktunya. “Boro-boro Agustusan aa’, mikirin harga sembako pada naik menjelang bulan puasa sudah pusing tujuh keliling. Sudah begitu kalau sudah naik ngga mau turun lagi. Itu sih nggak jauh beda dengan pindah harga”. Ingat dengan masa sekolah dulu ada seloroh lucu. Susu pada naik ko kacang malah turun yah. Aku hanya bisa tersenyum dari beranda dengan taman kering, mendengar samar si ibu yang gegas mengambil air untuk menyiram bunga melati di halaman rumah.

Achmad Bayquni

AKUMASSA Lebak, 8 Agustus 09
Saidjah Forum, Rangkasbitung, Lebak, Banten

About the author

Avatar

Achmad Bayquni

Dilahirkan di Lebak, Banten, pada tanggal 15 Semptember 1979. Ia telah menyelesaikan pendidikannya hingga tingkat D3. Sekarang ia beriwirausaha dan aktif di komunitas Saidjah Forum.

1 Comment

  • catatan yang menarik,

    saya mengenali satu wajah dari foto di atas, barisan karang taruna kitarung yang sedang nyengir lebar. yang saya tahu dia seorang penulis yang tulisan2nya cukup menjadi favorit saya. tapi tiba2 tulisan-tulisan sendu-nya menghilang dari akumassa…kemana ya?janagn nyengir aja!!

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.