Jurnal Kecamatan: Pondok Aren Kota: Tangerang Selatan Provinsi: Banten

Ada Majelis Souvenir di Jurang Mangu

Jamaah majelis Rasulullah
Avatar
Written by Renal Rinoza
Iring-iringan sepeda motor berdatangan tepat pukul 21.00 WIB. Sebuah jalan sempit yang berlokasi di Panti Asuhan Al-Ikhwaniyyah Kampung Ceger, Jurang Mangu Timur, Kecamatan Pondok Aren, Tangerang Selatan pada malam itu ramai sekali, dalam rangka menghadiri ceramah yang ingin disampaikan oleh ulama panutan mereka yaitu Habib Munzir Al-Mussawa dan KH. Saifudin Amsir. Para jamaah berdatangan dari segala penjuru Jabodetabek. Tabligh Akbar dilangsungkan di sebuah lapangan yang cukup untuk menampung sekitar 3000 jamaah dan diperkirakan jamaah yang memenuhi Tabligh Akbar tersebut berkisar 5000 orang termasuk bagi mereka yang tidak mendapatkan tempat di lapangan. Bagi para jamaah yang tidak mendapatkan tempat di lapangan, panitia telah menyediakan sebuah layar berukuran 3×4 meter yang merekam penyampaian ceramah melalui media audio visual.

Jamaah majelis Rasulullah

Jamaah majelis Rasulullah.

Tabligh Akbar ini diselenggarakan oleh Barisan Muda Ceger (BMC) dalam menyambut Maulid Nabi Muhammad Saw. Antusiasme jamaah yang berdatangan tak lekang oleh kondisi jalan yang becek dan sempit untuk ukuran 5000 orang. Segala kekurangnyamanan ini rupanya tak menyurutkan antusiasme dalam mendengarkan ceramah Habib pujaan mereka.

Jamaah berjumlah ribuan orang

Jamaah berjumlah ribuan orang.

Jamaah yang tidak dapat masuk, menyaksikan khotbah sang habib dari layar audio visual yang telah disediakan panitia

Jamaah yang tidak dapat masuk, menyaksikan khotbah sang habib dari layar audio visual yang telah disediakan panitia.

Sebelum saya mengupas lebih jauh Tabligh Akbar Majelis Rasulullah Saw ini menurut saya ada baiknya kita tengok dulu bagaimana konteks historis para habib yang dalam masyarakat kita benar-benar dikultuskan sebagai seorang yang alim.

Fenomena Habib di Indonesia bukanlah hal yang baru, mereka telah hadir sejak ratusan tahun silam di bumi Nusantara melalui saluran perdagangan. Di kalangan masyarakat Indonesia, gelar ‘Habib’ dinisbatkan secara khusus yang mempunyai garis keturunan langsung Nabi Muhammad SAW melalui Fatimah Az-Zahra dan Ali bin Abi Thalib ra. Dari garis keturunan inilah berkembang anak cucu Nabi Muhammad SAW yang hijrah dari Basrah Iraq ke Hadramaut Yaman. Di antara keturunan yang masih bertahan di Hadramaut ialah Alwi Al-Awwal sedangkan dua putra dari Ubaidilah yaitu Jadid dan Ismail tidak memiliki keturunan. Melalui nasab Alwi Al-Awwal inilah mereka menamai dirinya kaum Alawiyin. Keturunan mereka berhasil menguasai dan menjadikan Hadramaut sebagai kota yang terang benderang dengan cahaya iman yang sebelumnya banyak kesesatan di kota ini.

Habib Munzir Almussawa

Habib Munzir A l-Mussawa.

Setelah bermukim lama di Hadramaut kaum Alawiyin ini kemudian menyebar dan menyiarkan Islam ke beberapa daerah di sepanjang pantai timur Afrika, India dan lalu masuk menyebar ke Asia Tenggara. Dari India kaum Alawiyin terutama keluarga Abdul Malik ini melanjutkan perjalanannya ke Nusantara dan dari sinilah kita dapat melihat asal muasal keturunan yang menyebarkan Islam di Nusantara. Untuk pertama kalinya mereka mendarat di pesisir pantai Aceh yang selanjutnya menyebar ke berbagai daerah Nusantara lainnya. Mereka menyebar dan menetap ke beberapa daerah seperti di Batavia, Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang dan Surabaya. Persebaran etnis Arab Hadramaut ini tidak hanya di enam kota tersebut tetapi juga menyebar ke beberapa daerah di Jawa lainnya seperti di Sumenep Madura, Bangil Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, Besuki dan Banyuwangi bahkan ada yang sampai ke Sulawesi.

Dari beberapa keturunan silsilah bani Alawiyyin ini banyak kita kenal keluarga Alatas, Assegaf, Alkaf, Alaydus, Al-Habsyi, Al-Haddad, Syahab, Al-Jufri, Al-Mussawa, Al-Hadi, Bin Syekh Abubakar, Bin Smith, Bin Yahya, Al-Zahir, Shihab, Bin Aqil, Al-Aidid, Albar, Jamalullail, Assiry,  Al- Attas, Bawazier, Al Masyhur, dan sebagainya yang mempunyai garis nasab pada Alwi Al-Awwal bin Ubaidillah bin Imam Ahmad bin Isa Al-Muhajir bin Muhammad Al-Naquib bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’far Al-Shaddiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain al-Sibthi bin Ali bin Abi Thalib.

Sayangnya penyampaian ceramah Habib Munzir Al-Mussawa tidak dapat kami ikuti dari awal dan aku pun hanya mendapatkan sepenggal ceramahnya saja, karena Habib Munzir tidak dapat berlama-lama dan malam itu juga beliau bertolak ke Cikampek untuk berceramah lagi di sana. Ketika Habib Munzir berpamitan dan turun dari atas panggung, tanpa ada yang mengomandoi para jamaah langsung menyerbu Habib Munzir untuk bersalaman dan terlihat penjagaan yang sangat ketat oleh pengawal beliau untuk menghindari Habib dari kerumunan jamaah. Pengawalan tersebut tak ubahnya seperti pengawalan para pejabat dan pesohor lainnya, mungkin ini dapat dimaklumi untuk melindungi Habib Munzir dari hal-hal yang tidak diinginkan. Ditengah-tengah kerumunan yang ingin bersalaman secara spontan aku langsung memotret Sang Habib sebisa mungkin untuk mendapatkan gambar beliau hingga ia masuk ke dalam mobilnya.

Acara Tabligh Akbar tak berhenti di situ. Setelah Habib Munzir berpamitan untuk bertolak ke Cikampek, Tabligh Akbar pun dilanjutkan dengan dengan tausyiah dari KH. Saifudin Amsir, ulama asli Betawi yang sangat disegani dan dihormati karena kealiman dan keilmuannya.

Banner ucapan selamat datang bagi para jamaah

Banner ucapan selamat datang bagi para jamaah.

Para jamaah dengan khidmat mendengarkan tausyiah KH. Saifuddin Amsir yang dalam ceramahnya mengangkat persoalan aqidah umat Islam saat ini. Menurutnya jaman sekarang dan akan datang banyak sekali terjadi kesesatan-kesesatan yang melanda sebagian umat. Beliau prihatin dengan kondisi umat Islam dewasa ini yang terjebak dalam kemusyrikan seperti mengaku-ngaku dirinya sebagai nabi dan bahkan Tuhan sekalipun. KH. Saifudin Amsir bergumam dengan khas Betawinya membuat para jamaah tertawa. Sepanjang jalan masuk menuju lokasi Tabligh Akbar sudah banyak ditemui berbagai umbul-umbul dan spanduk yang bertuliskan ahlan wasahlan tepat terbentang di atas Jalan Ceger Raya Pondok Aren, jalan yang menjadi penghubung utama ke lokasi Tabligh Akbar karena di jalan inilah baik jamaah yang berdatangan dari arah barat seperti Sudimara, Ciputat dan Serpong maupun yang berdatangan dari arah timur seperti Ciledug, Bintaro dan DKI Jakarta bertemu dan masuk ke lokasi Tabligh Akbar di Jalan Panti Asuhan Al-Ikhwaniyyah. Beberapa meter dari lokasi Tabligh Akbar dapat kita jumpai aneka penjual souvenir dan aksesoris seperti jaket, tasbih, gelang, stiker, poster, minyak wangi, buku-buku kumpulan ceramah, shalawat, gantungan kunci, DVD Ceramah, helm, rompi, baju koko dan sebagainya. Berbagai aneka souvenir tersebut dijual berkisar antara Rp.3.000,- hingga Rp.300.000,-. Para pedagang yang berjualan di Tabligh Akbar ini terbagi atas pedagang resmi dan tidak resmi. Tetapi dari keseluruhan pedagang sama-sama berjualan setiap kali acara yang digelar oleh Majelis Rasulullah SAW.

Antusiasme jamaah membeli souvenir yang dijajakan

Antusiasme jamaah membeli souvenir yang dijajakan.

Banyak pedagang yang berjualan di acara ini, slah satunya penjual parfum

Penjual minyak wangi.

Ada tiga pedagang yang mengusik keingintahuanku karena barang-barang yang mereka jual menarik bagiku, rasa penasaran itu pun segera terjawab setelah aku berbincang-bincang dengan ketiga pedagang tersebut. Mereka menjual produk yang sama namun bagiku ada beberapa yang membedakannya. Perbedaan mengenai pedagang resmi dan tidak resmi bagiku tidak masalah, toh keduanya sama-sama menggantungkan pundi-pundi keuntungannya dari kocek para jamaah yang tergoda untuk membeli aneka barang yang dijual. Dari ketiga pedagang tersebut, aku berkenalan dan berbincang-bincang dengan Pak Sudarso bersama Istrinya Bu Mutamakin yang berasal dari Wonosobo dan Purwodadi Jawa Tengah. Suami istri ini sudah 3 tahun berdagang aneka souvenir yang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya tergantung di mana lokasi Tabligh Akbar maupun Majelis Akbar mingguan diselenggarakan. Bagi mereka itu sudah biasa dan tidak ada masalah, asal lokasinya masih berada di sekitar Jabodetabek.

Pak Sudarso dan Bu Mutamakin, penjual souvenir

Pak Sudarso dan Bu Mutamakin, penjual souvenir.

Pak Sudarso dan Bu Mutamakin mengatakan kepadaku bahwa mereka berjualan tidak di acara satu habib seperti Habib Munzir saja, melainkan kegiatan-kegiatan habib lainnya seperti Habib Hasan bin Ja’far Assegaf pimpinan Majelis Nurul Mustofa, Kebagusan Jagakarsa, Jakarta Selatan, dan peringatan haul Habib Anis bin Alwi Al-Habsyi di Solo, Jawa Tengah. “Loh.. tadi katanya berjualan cuma daerah sekitar Jabodetabek saja?”. Pertanyaan inilah yang terlontar ketika Pak Sudarso menjelaskan kemana saja ia berjualan. Dengan tenang dan suara agak pelan ia mengatakan bahwa Habib Anis bin Alwi Al-Habsyi adalah habib yang sangat dimuliakan karena mendiang Habib Anis mempunyai keluhuran budi yang tinggi dan pada peringatan haul-nya (tahun di mana beliau meninggal), di daerah Pasar Kliwon, Solo, ribuan jamaah banyak yang berdatangan, aku pun memaklumi alasan Pak Sudarso berdagang ke sana. Tentu saja secara akumulatif keuntungan berdagang bertambah naik. Pak Sudarso bersama istri juga tak ketinggalan berdagang di berbagai peringatan Haul habib-habib lainnya seperti Habib Husein bin Abubakar Alaydrus Luar Batang yang terkenal dengan Masjid Luar Batang yang letaknya tidak jauh dari pelabuhan Tanjung Priok Jakarta Utara. Masjid Luar Batang terkenal sebagai situs cagar budaya yang bersejarah dan keramatnya. Pak Sudarso juga menceritakan kepadaku bahwa ia berdagang pada perhelatan Haul habib-habib lainnya termasuk peringatan Haul Habib Ahmad bin Alwi Al-Haddad yang tersohor dengan julukan Habib Kuncung yang dimakamkan di Kalibata, Jakarta Selatan.

Stiker Majelis Rasulullah

Stiker Majelis Rasulullah.

Kalau dikalkulasi, omset berdagang yang diperoleh Pak Sudarso berkisar Rp.600.000,- per hari. Omset tersebut sudah cukup untuk modal belanja aneka jenis souvenir di grosiran. Bahkan kata Bu Mutamakin untuk aksesoris seperti gelang, dibuat sendiri dan manik-maniknya tinggal beli di Pasar Batu Mulia, Rawa Bening, Jatinegara, Jakarta Timur, Pasar Tanah Abang, dan Pasar Asemka, Jembatan Besi, Jakarta Barat, yang lokasinya tidak jauh dari Stasiun Kota.  Pasar-pasar tersebut memang khusus menjual berbagai aneka batu-batuan, perhiasan, ATK, Tas, casing handphone, mainan anak, dan sebagainya, yang dijual secara partai besar alias grosiran. Omset yang didapat oleh Pak Sudarso ternyata juga dapat disisihkan untuk menabung, mungkin uangnya dapat membiayai anak bungsunya yang masih menimba ilmu di sebuah pesantren di Desa Selo Grobogan, Jawa Tengah, katanya sambil menambahkan bahwa desanya di Selo asal muasalnya diambil dari nama Ki Ageng Selo dan dengan bangga Bu Mutamakin bergumam bahwa ia adalah keturunan Ki Ageng Selo. Aku bertanya-tanya dalam hati siapa Ki Ageng Selo ini? Oh, ternyata berdasarkan Babad Tanah Jawi yang kutelusuri, ia adalah seorang keturunan Raja Brawijaya, raja terakhir Majapahit. Ki Ageng Selo ini termasyhur dengan kesaktian mandragunanya yang dapat menaklukan petir dan bagi masyarakat Jawa, kesaktian Ki Ageng Selo ini diabadikan dalam ornamen pintu masuk Masjid Agung Demak.

Helm yang dijual berkat kerjasama antara Majelis rasulullah dengan BMC

Helm yang dijual berkat kerjasama antara Majelis rasulullah dengan BMC.

Aku berkutat pada aneka jenis dagangan dan cerita-cerita menakjubkan dari pengalaman mereka berdagang sambil menambah pengetahuan baruku tentang daya magis para habib. Seperti terkesima aku mendengarkan cerita supranatural yang berisikan berbagai macam karomah dan betapa keramatnya habib-habib tersebut di samping cerita mengenai Ki Selo tadi. Kakiku berhenti di sebuah lapak yang hampir sama menjual barang-barang seperti yang dijual oleh Pak Sudarso dan Bu Mutamakin. Bedanya, di sini aku penasaran dengan harga-harga barang tersebut. Kebetulan yang berjualan juga sepasang suami istri. Namanya Bu Hj. Sri Wahyuningsih. dan H. Sugiarso yang kulihat sedang sibuk melayani calon pembeli. Ibu Hj. Sri Wahyuningsih ini sangat antusias menjawab segala rasa penasaranku mengenai apa-apa saja yang dijual berikut harga-harganya. Dengan lugas ia menjelaskan jenis-jenis  produk yang dijual berikut harganya. Untuk DVD ceramah, harganya berkisar Rp.15.000,- hingga Rp.20.000,-. Tasbih berkisar dari Rp.10.000,- hingga Rp.15.000,-. Gelang harganya serba goceng alias Rp.5.000,-, Siwak berkisar antara Rp.5.000,- hingga Rp.10.000,-, berbagai merek minyak wangi non alkohol harganya berkisar Rp.5.000,- hingga Rp.10.000,-. Aku tersenyum-senyum melihat satu per satu nama mere-mereknya. Ada merek lima waktu, sarah jelita, kenanga, mistik hitam, jovic, hugo bos, spalding, eternity, paris Hilton, piere cardin, vanilla, adidas, dan melati putih. Barang dagangan yang dijual Bu Hj. Sri juga meliputi beraneka stiker, pin dan gantungan kunci yang harganya berkisar Rp.5.000,-. Tak lupa Bu Hj. Sri juga menjual barang-barang yang unik dan menarik bagiku seperti gaharu atau dupa cendana yang harganya sekitar Rp.20.000,-. Menurut Bu Hj. Sri, gahru ini berasal dari Mekkah dan ia membeli di sebuah grosir di kawasan Condet Jakarta Timur. Aku terkaget-kaget ketika tahu ada sebuah gelang dan tasbih yang kayunya dipercaya berasal dari peninggalan Nabi Nuh dan Nabi Musa as. Gelang dan tasbih ini harganya tentu saja sesuai dengan predikat yang disandangnya, yaitu kayu peninggalan Nabi Nuh dan Nabi Musa. Bu Hj. Sri berani menjual di lapaknya dengan harga Rp.50.000,- untuk gelang dan Rp.300.000,- untuk tasbih. Menariknya lagi dengan bangga ia menyebut bahwa gelang dan tasbih tersebut didatangkan secara ekslusif dari Maddinah. Masya Allah aku benar-benar terpana oleh penjelasan bu Hj. Sri yang dengan mantapnya menjajakan barang dagangannya dan aku rasa ia sudah menerapkan ilmu marketing yang jitu. Ehmmm.. tak usah repot-repot belajar ilmu marketing di bangku kuliah kali ya? Ujarku dalam hati.

Outlet resmi penjual aksesoris Majelis rasulullah

Outlet resmi penjual aksesoris Majelis rasulullah.

Ibarat sayur tanpa garam rasanya, apabila aku tidak bertandang ke sebuah lapak berikutnya yang menjual aneka souvenir, aksesoris dan pernak-pernik Majelis Rasulullah Saw. Rupanya segala perlengkapan tersebut dijual dalam outlet resmi milik Majelis Rasulullah Saw. Kios Nabawi namanya, kios yang baru berdiri dua tahun lalu ini beralamat di Jalan Pancoran Barat II, Kalibata, Jakarta Selatan.  Kios Nabawi menjual berbagai macam atribut mulai dari jaket yang harganya berkisar dari Rp.95.000,- hingga Rp.100.000,-, Rompi dibandrol seharga Rp.75.000,-, stiker/skotlet berkisar Rp.3.000,- hingga Rp.10.000,-, helm ekslusif Majelis Rasulullah Saw yang diproduksi oleh pabrikan BMC. Dan dengan bangganya crew Kios Nabawi menambahkan kalau helm ini adalah hasil kerjasama antara Majelis Rasulullah Saw dengan pabrikan BMC dan kualitas helmnya sesuai SNI, kira-kira begitulah ia menjelaskan padaku. Helm ini dipatok seharga Rp.90.000,- hingga Rp.115.000,-. Hatiku tergerak penasaran dan terlontarlah pertanyaan berapa omset yang diperoleh Kios Nabawi dalam setiap kegiatan semacam ini. Sambil berpikir kedua crew Kios Nabawi, langsung saja menembak omset keuntungan yang didapat berkisar 1 juta rupiah ke atas dan hasil keuntungannya dialokasikan untuk produktivitas Majelis Rasulullah Saw dalam berdakwah. Tidak hanya mempunyai outlet saja, Majelis Rasulullah SAW juga menjahit sendiri jaket di konveksi milik Majelis, begitu ujar crew Kios Nabawi.

Malam pun semakin larut, tak terasa malam minggu ini membuatku terdampar di sebuah perhelatan Tabligh Akbar yang tak pernah sedikit pun terencana dan tiba-tiba saja berlangsung secara spontan, dan apa yang aku lihat ini merupakan kerumunan massa yang anonim. Terlepas dari sepakat atau tidak sepakatnya aku mengenai acara tersebut, terutama mengenai ‘sosok habib’ yang selama ini—dan hingga saat ini belum mendapatkan tempat di hatiku—namun, di sini ada sebuah pengalaman dan pengetahuan baru seperti kisah tasbih dan gelang peninggalan Nabi Nuh dan Nabi Musa AS tadi, di mana daam pikiranku terus berkecamuk mengenai kesahihan benda itu.

About the author

Avatar

Renal Rinoza

Renal Rinoza lahir di Jakarta, 8 Maret 1984. Tahun 2004 kuliah di Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, lulus tahun 2010 dan di tahun 2007 sempat kuliah Filsafat Barat pada Program E.C Ilmu Filsafat Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara Jakarta. Aktif di Komunitas Djuanda, sebuah kelompok studi sosial dan budaya berbasis media yang mengembangkan potensi media komunikasi seperti teks, video, fotografi dan material media komunikasi lainnya. Menulis kajian sinema, video dan kebudayaan visual di jurnalfootage.net. Bersama akumassa.org, menulis aneka tulisan feature berbasis jurnalisme warga dan bergiat sebagai Peneliti/Pemantau Program Pemantauan Media Akumassa di daerah Kota Tangerang Selatan.

16 Comments

  • Wah senang membaca tulisan ini. Syiar agama terus berkumandang dikalangan anak muda sekarang. Namun, mungkinkah para Habib yang dicintai itu bisa memberi nasihat kepada umatnya untuk lebih tertib di jalanan seperti menggunakan helm dan tidak arogan kalau lagi di jalanan? Atau memberi nasihat kepada para penyelenggara untuk memikirkan pula orang-orang yang juga pengguna jalan yang baru pulang kerja dan ingin bertemu dengan keluarga tapi diusir dan dihambat oleh ketidak tertiban umatnya Habib? Setahu saya, menjalankan agama itu tidaklah arogan. Karena topi putih/kofiah yang dipakai para umat yang bersepeda motor itu tidak dapat menggantikan helm kalau mereka kecelakaan. Saya berharap para Habib bisa memberikan pengarahan kepada umat yang mencintainya itu. Salam Hafiz

  • Kmaren qta cpek cari souvenir, Renal kirim dong souvenirnya ke Lombok untuk temen2 yg blon kbagian. tulisannya Good coz ni salah satu dari skian bnyak pngalaman2 menarik yang dapat dijdikan plajaran bagaimana skap yg baik dlm kehidupan sosial kmasyarakatan, So agama juga mningkatkan kpedulian bermasyarakat kita kan?? Yang saya dengar istilahnya itu Rahmatan Lil ‘Alamin

  • ehm, ehm, k renal..hahaha
    bagus, bagus…
    jadi dah ngerti niyh asal iil, jadi g enak yng mo mcem2..hehe, mkasih dah d kash tau yaa..
    o iya k renal, iL pngen mngkritik tulisan ini boleh?? mash ada yang salah tuh tulisannya…hehe, (Alatas d tulis dua kali)
    ka, tulisan ini modelnya kya bkin cerita berdsarkan pengalaman apa gmna?, bukannya klo crta gtu subjek msti d crtkan dr awal ya??
    well, keep writing brother!

  • Setahu saya sih Mas, Habibnya sudah menganjurkan, bahkan menyediakan helm tersediri agar jamaahnya mau memakai helm. Namun terkadang jamaahnya saja yang menyepelekan…. Helm(i)

  • semoga anda secepatnya sepakat mengenai acara tersebut, terutama mengenai ‘sosok habib’ yang selama ini—dan semoga mendapatkan tempat di hati anda…

    beliau itu bukan Habib Munzir .. tapi Rasulullah saw … *tp koq ane kadang masi males mo datang d majelisnya yee..*hehe.. fatehahnye yyee… biar turun taufikk ^^

  • Assalamualaikum … ma,ap bos saya mau nanya kalau bli jaket mr dimana ya yang dekat saya di wilayang tangerang tepatnya jalan raya mauk km7 kalau ada boleh dong alamt lengkapnyapliss….?

  • APAKAH ADA KETURUNAN AHLUL BAIT?

    Dlm Al Quran yang menyebut ‘ahlulbait’, rasanya ada 3 (tiga) ayat dan 3 surat.

    1. QS. 11:73: Para Malaikat itu berkata: “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait. Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah”.

    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna ‘ahlulbait’ adalah terdiri dari isteri dari Nabi Ibrahim.

    2. QS. 28:12: Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusukan(nya) sebelum itu; maka berkatalah Saudara Musa: ‘Maukahkamu aku tunjukkan kepadamu ‘ahlulbait’ yang akan memeliharanya untukmu, dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?

    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna ‘ahlulbait’ adalah meliputi Ibu kandung Nabi Musa As. atau ya Saudara kandung Nabi Musa As.

    3. QS. 33:33: “…Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu ‘ahlulbait’ dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”.

    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya QS. 33: 28, 30 dan 32, maka makna para ahlulbait adalah para isteri Nabi Muhammad SAW.

    Sedangkan ditinjau dari sesudah ayat 33 yakni QS. 33:34, 37 dan 40 maka penggambaran ahlulbaitnya mencakup keluarga besar Nabi Muhammad SAW. yakni para isteri dan anak-anak beliau.

    Jika kita kaitkan dengan makna ketiga ayat di atas dan bukan hanya QS. 33:33, maka lingkup ahlul bait tersebut sifat dan maknanya menjadi universal terdiri dari:

    1. Kedua orang tua Saidina Muhammad SAW, sayangnya kedua orang tua beliau ini disaat Saidina Muhammad SAW diangkat sbg ‘nabi’ dan rasul sudah meninggal terlebih dahulu.

    2. Saudara kandung Saidina Muhammad SAW, tapi sayangnya saudara kandung beliau ini, tak ada karena beliau ‘anak tunggal’ dari Bapak Abdullah dengan Ibu Aminah.

    3. Isteri-isteri beliau.

    4. Anak-anak beliau baik perempuan maupun laki-laki. Khusus anak lelaki beliau yang berhak menurunkan ke-‘nasaban’-nya, sayang tak ada yang hidup sampai anaknya dewasa, sehingga anak lelakinya tak meninggalkan keturunan.

    Bagaimana tentang pewaris tahta ‘ahlul bait’ dari Bunda Fatimah?. Ya jika merujuk pada QS. 33:4-5, jelas bahwa Islam tidaklah mengambil garis nasab dari perempuan kecuali bagi Nabi Isa Al Masih yakni bin Maryam.

    Lalu, apakah anak-anak Bunda Fatimah dengan Saidina Ali boleh kita anggap bernasabkan kepada nasabnya Bunda Fatimah?. ya jika merujuk pada Al Quran maka anak Bunda Fatimah dengan Saidina Ali tidaklah bisa mewariskan nasab Saidina Muhammad SAW.

    Kalaupun kita paksakan, bahwa anak Bunda Fatimah juga ahlul bait, artinya kita mau mengambil garis dari perempuannya (Bunda Fatimah), maka untuk selanjutnya yang dijadikan patokan nasab seharusnya pemegang waris tahta ahlul bait diambil dari anak perempuannya bukan dari anak lelakinya seperti Fatimah dan juga Zainab, bukan Hasan dan Husein sbg penerima warisnya.

    Dengan demikian sistim nasab yang diterapkan itu tidan sistim nasab berzigzag, setelah nasab perempuan lalu lari atau kembali lagi ke nasab laki-laki, ya seharusnya diambil dari nasab perempuan seterusnya.

    Bagaimana Saidina Ali bin Abi Thalib, anak paman Saidina Muhammad SAW, ya jika merujuk pada ayat-ayat ahlul bait pastilah beliau bukan termasuk kelompok ahlul bait. Jadi, anak Saidina Ali bin Abi Thalib baik anak lelakinya mapun perempuan, otomatis tidaklah dapat mewarisi tahta ‘ahlul bait’.

    Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

    ليس مِن رجلٍ ادَّعى لغير أبيه وهو يَعلَمه إلاَّ كفر بالله، ومَن ادَّعى قوماً ليس له فيهم نسبٌ فليتبوَّأ مقعَدَه من النار ))، رواه البخاريُّ (3508)، ومسلم (112)، واللفظ للبخاري

    “Tidak ada seorangpun yang mengaku (orang lain) sebagai ayahnya, padahal dia tahu (kalau bukan ayahnya), melainkan telah kufur (nikmat) kepada Allah. Orang yang mengaku-ngaku keturunan dari sebuah kaum, padahal bukan, maka siapkanlah tempat duduknya di neraka” (HR. Bukhari dan Muslim).

    Kesimpulan dari tulisan di atas, bahwa pewaris tahta ‘ahlul bait’ yang terakhir hanya tinggal bunda Fatimah. Berarti anaknya seperti Saidina Hasan dan Husein maupun yang perempuan bukanlah pewaris tahta AHLUL BAIT.

    Kalaupun ada anggapan kini ada yang ngaku keturunan nabi atau rasul, ya mereka mengambil nasab yang zigzag dari Bunda Fatimah lalu ke anak lelakinya Saidina Ali seperti Saidina Hasan dan Husein. Yang pasti, Saidina Hasan dan Husein adalah ‘keturunan’ Saidina Ali bin Abi Thalib. Terlebih lagi jika merujuk pada QS. 33:4-5 dan hadits tersebut, maka tetap saja yang ngaku-ngaku sebagai keturunan nabi saat ini adalah keturunan Saidina Ali bin Abi Thalib bukannya keturunan Saidina Muhammad SAW.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.