
Ia berangkat di pagi hari dan pulang ketika malam tiba. Bahkan, ketika dinas luar kota, dengan santainya ia pergi sendirian. Ia juga terbiasa mengendarai mobil sendiri. Di usianya yang sudah lebih setengah abad, baru sepuluh tahun terakhir ini ia bekerja di kantoran. Kini ia bekerja di salah satu majalah di Jakarta. Ia adalah ibu saya, sejak kecil ayah kurang berkenan jika ibu saya bekerja di kantoran. Ketika saya duduk di bangku SMA, akhirnya ayah mengizinkan ibu bekerja di balik meja.
Potret perempuan karir seperti ibu saya memang banyak dijumpai di negeri kita. Tak hanya di perkotaan, di desa-desa pun sudah banyak perempuan yang aktif di masyarakat sebagai tenaga intelektual yang tidak hanya mengurusi persoalan domestik, seperti memasak di dapur dan mengurus anak-anak.
Di negeri kita khususnya, hal ini tidak lepas dari peran R.A Kartini. Seorang pejuang hak perempuan yang dulu di jaman Belanda tidak bisa ngapa-ngapain, mereka dipingit dan tidak tahu perkembangan dan kemajuan zaman. R.A Kartini mendobrak itu semua, kelahirannya di Jepara, Jawa Tengah 21 April 1879 menjadikan tanggal tersebut diperingati sebagai Hari Kartini.
[Lanjutkan membaca Seandainya Kartini]
9 pembaca suka artikel ini.