Rombong Seharga 6.000 Rupiah

Oleh / pada 15 Desember 2011 / di Surabaya, Jawa Timur // 8 Komentar

Sebuah pandangan ideal dicitrakan oleh media massa tentang kehidupan, tingkah laku dan pembangunan mimpi-mimpi di kota metropolis sangat berdampak besar bagi kalangan masyarakat yang tinggal di kota kecil atau pedesaan. Tetapi di sisi lain, kenyataannya tinggal dan hidup di sebuah kota itu tidak mudah, karena begitu keras dan harus kuat agar kita mampu bertahan hidup. Kota Surabaya cukup memiliki aspek untuk disebut metropolis, sehingga di sini jugalah terletak sebuah gambaran tentang apa itu surga-surga yang kadang tak terfikir dan bisa dilakukan di sini.

Rombong untuk berjualan gado-gado

Hal itu terbukti ketika aku sedang membeli makanan yang biasa saja yaitu, gado-gado.  Penjual gado-gado itu sering sekali melintas di depan rumah temanku. Kali ini aku memang ingin makan gado-gado. Penjual itu lewat dengan cepat, aku memberhentikanya. Kebetulan sekali dia baru berangkat, jadi bahan makanan yang digunakan untuk membuat gado-gadonya masih terlihat banyak. Sambil membuatkan gado-gado, aku sedikit berbincang dengan bapak tiga orang anak tesebut.

Pak Sutikan sedang membuat gado-gado

Aku bertanya tentang perjalannya berjualan makanan khas Kota Bandung ini,” Pak ini gado-gadonya ada komunitasnya gitu? Kok, Bapak berangkat bareng-bareng sama penjual gado-gado yang lain?”

“Oh, nggak Mas. Ini saya sendiri, cuma memang berangkatnya bareng-bareng soalnya kita kan satu terminal nyewa rombong ( Rombong sebutan dalam Bahasa Jawa yang berarti gerobak ).”

Beberapa Rombong lain terlihat berjejer

Aku kaget ternyata rombong yang digunakan untuk jualan adalah rombong sewaan. Karena sedikit aneh dan sesuatu yang baru buat aku, maka aku semakin ingin bertanya kepada bapak itu.

Namanya Sutikan, dia berjualan Gado-gado sejak tahun 2007. Sebelumnya Pak Sutikan pernah jualan berbagai macam makanan, seperti rujak dan siomay. Gado-gado adalah bisnis makanan yang baru dia jalani. Dia mengaku berganti dagangan karena ingin mencari peruntungan lain, karena Pak Sutikan memang cenderung cepat bosan menjalani suatu pekerjaan.

Pak Sutikan berasal dari Solo, dia berada di Surabaya sejak tahun 2000. Dia di sini sendiri, karena semua keluarganya berada di Solo. Selama di Surabaya, dia tidur di tempat penyewaan rombong itu. Ternyata banyak sekali yang menyewa rombong di tempat penyewaan itu dan tidak hanya rombong gado-gado saja yang disewakan. Tetapi ada beberapa macam jenis rombong yang disewakan untuk jualan, seperti siomay, bakso dan pentol.

Lalu saya bertanya “ Loh Pak, apakah rombong yang disewakan tidak tertukar dengan orang yang nyewa rombong lain ?”

Pak Sutikan bilang setiap rombong sudah memiliki identitas dan ciri khas penyewanya, jadi tidak mungkin tertukar. Seperti milik Pak Sutikan ini, rombongnya telah diberi tanda berupa tulisan ‘Gado-Gado’ dengan cat putih. Dia bilang setiap rombong yang dia sewa selalu diberi tulisan dengan cat warna putih. Setiap penyewa memiliki cara sendiri untuk menandai rombong yang disewa. Ada yang diberi stiker, ada juga yang tidak tulisi tapi sang pemilik sudah tau kalau itu rombong sewaannya.

Tanda Tulisan Gado-gado pada rombong Pak Sutikan

Markas juragan rombong itu telaknya tak jauh dari rumah temanku yaitu, daerah Ngagel Jaya, pemiliknya berasal dari Lamongan. Memang banyak teman-teman Pak Sutikan yang berjualan gado-gado dan menyewa dari juragan itu. Rombong yang di sewakan dengan harga Rp. 6.000 perhari ini sangat membantu Pak sutikan. Dia tidak memilki modal membangun sebuah rombong untuk jualan, karena sangat mahal. Jika dihitung-hitung, harga membangun sebuah rombong untuk jualan gado-gado bisa mencapai dua sampai lima juta per-rombong. Sungguh harga yang tidak saya duga untuk sebuah kotak kayu beroda.

Jika dilihat dari kejadian yang aku lalui tadi, membuat saya semakin mengerti bahwa kehidupan kota memang keras. Tapi di kota pulalah kita bisa membuat harapan dan kemungkinan itu menjadi nyata. Contohnya, bisnis penyewaan  rombong untuk jualan saja bisa membuat beberapa orang memiliki penghasilan dan bisa menghidupi keluarganya. Padahal sebelumnya aku mengira penjual gado-gado atau makanan yang menggunakan rombong memiliki rombongnya sendiri.

Hal ini menunjukan jika kita mau berbuat dan befikir sedikit lebih berbeda dalam memaknai arti kota, maka kita akan mampu melihat dan mengambil celah apapun  yang mungkin bisa dilakukan. Penyewaan rombong adalah salah satunya.

Tentang Penulis

Pijar Crissandi

Dilahirkan di Surabaya pada tanggal 9 Mei 1988. Sekarang sedang menyelesaikan studinya di Universitas Pembangunan Nasional Veteran, Jawa Timur. Kemudian ia juga sedang bekerja membuat ilustrasi dan Asisstent Boardcasters di Hard Rock Radio, Surabaya.

8 Komentar pada "Rombong Seharga 6.000 Rupiah"

  1. juvendy 15 Desember 2011 pukul 12:46 · Balas

    satu ya pedesss….. :D

  2. binyok 16 Desember 2011 pukul 03:04 · Balas

    wah aq juga bru tau ada persewaan rombong, good info PJ

  3. binyok 16 Desember 2011 pukul 08:25 · Balas

    eh kalo aq pengen jadi penulis lepasan di sini kira2 bisa ndak ceman2

    • akumassa 19 Desember 2011 pukul 14:59 · Balas

      Silahkan Mas Binyok, tinggal dikirim aja ke akumassa.forlen@gmail.com. File tulisan dan foto nya dipisah. Jangan lupa cantumkan nama asli Mas Binyok dan narasi/isi tulisan dari daerah atau tentang lokasi mana.

      Terima kasih, salam akumassa.

  4. p.karya 17 Desember 2011 pukul 13:31 · Balas

    bagus liputannya.. cuma sebaiknya ga pada kekota (pedagang)kasihan kota makin macet, mending hidupkan kampung dngan kemampuan yg dimiliki.. Sory buat akumassa buat liputan jg agar ada semangat hidup untuk yg di desa.. salam”

  5. albert bujangktapel 19 Desember 2011 pukul 16:01 · Balas

    liputnya keren..
    informatif, satu lagi terkuak ragam bisnis di indonesia..
    ndag tau deh ini sesuatu yang membanggakan, atau memalukan atau apa… tapi faktanya Indonesia kaya akan profesi/bisnis yang unik..!!

    namun yang dilakukan si penyewa, sangat kreatif sekali, dia mampu membca dan menanggapi semua masalah yang ada menjadi peluang…

  6. the draagg 2 Januari 2012 pukul 02:23 · Balas

    beli 2 porsi

  7. ahmad 18 Juli 2012 pukul 18:13 · Balas

    tlong kasih info nya ya..
    q mau sewa gerobak nih..
    mau jadi pengusaha
    di emailq jg gpp
    corp_jack@yahoo.com
    atw hp q.. 085735543211

Tinggalkan Komentar

comm comm comm

www.akumassa.org adalah bagian dari program akumassa yang digagas oleh Forum Lenteng sebagai sebuah program pemberdayaan komunitas dengan berbagai media komunikasi, antara lain: video, teks, dan suara. akumassa memiliki strategi: penggerakan motivasi, memproduksi karya, pendokumentasian, berkelanjutan, pemberdayaan medium filem dan video, berbagi informasi serta merekam potensi lokal dengan cara berkolaborasi dengan komunitas dampingan.

akumassa:
Jl. Raya Lenteng Agung No.34 RT.007/RW.02
Lenteng Agung - Jakarta Selatan
DKI Jakarta 12610
Telp. (+6221) 78840373

www.akumassa.org // info@akumassa.org

© Agustus 2008 - 2011 ( akumassa )

// Forum Lenteng // Jurnal Footage // Arkipel // Dongeng Rangkas // Naga // Radio akumassa //