Rumah Sakit Umum Daerah dr. Adjidarmo

Oleh / pada 20 Maret 2009 / di Rangkasbitung - Lebak, Banten // 29 Komentar

Patung dr. Adjidarmo
Patung dr. Adjidarmo

Persepsi kecil

Adjidarmo di Lebak. Setahuku adalah rumah sakit umum yang sering menjadi rujukan untuk seluruh penduduk kabupaten Lebak, yang dimiliki pemerintah setempat dan terakhir dipugar tahun 2005. Di tengah kesederhanaan bangunan yang terletak di sisi utara alun-alun kota, gedung bercat putih ini bukan tanpa memiliki persoalan. Kerap kali diliputi soal-soal, seperti kasus pelayanan yang kurang baik, dugaan korupsi rumah sakit, hingga pengunjung yang selalu mengabaikan peraturan yang juga menimbulkan soal-soal, seperti tidak mau dirujuk ke rumah sakit lain yang lebih lengkap peralatan medisnya sehingga menjadi beban Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Adjidarmo dari dulu sampai sekarang. Hanya persepsi dan catatan kecil dari penelusuran dokumen media massa di internet dan di lorong–lorong rumah sakit tempat banyak penunggu menanti. Mungkin, aku lebih suka memaknainya sebagai kepingan persepsi kecil saja.

RSUD dr. Adjidarmo tampak depan
RSUD dr. Adjidarmo tampak depan

Aku tidak menutup mata, akumassa mengantarkanku ke tempat ini lewat pengalaman masa kecil. RSUD dr. Adjidarmo menjadi tempat masyarakat kelas menengah ke bawah dalam berobat. Karena murahnya biaya pengobatan dibandingkan dengan rumah sakit lainnya, semisal rumah sakit Misi yang terletak di Jalan Multatuli, Menurut sumber yang tidak mau disebutkan namanya.

Dulu para dokter banyak yang tidak kuat bekerja lebih lama di RSUD dr. Adjidarmo, karena beberapa keterbatasan yang dimiliki rumah sakit ini. Dokter-dokter yang bertugas di RSUD dr. Adjidarmo pergi ke rumah sakit lain. Harapan mereka agar kehidupannya lebih baik. Sekarang, hanya beberapa dokter sajalah yang masih bertahan di RSUD dr. Adjidarmo.

Pembesuk yang ikut menginap di luar ruangan
Pembesuk yang ikut menginap di luar ruangan

Satu tahun yang lalu, ketika aku berkunjung menjenguk salah satu temanku yang sakit. Aku menemukan banyak hal. Aku melihat pengunjung di ruang Salak, para penjenguk yang merokok di dekat bangsal pasien yang sedang sakit. Ada juga seorang pasien yang menikmati rokok di ruangannya di mana ia dirawat, dengan jarum infus masih tertancap di pergelangan tangannya. Aku bertanya pada diriku sendiri. Aku tidak tahu ada apa dengan peraturan di sini. Menurut seorang dokter yang bertugas di RSUD dr. Adjidarmo, benar adanya kalau sudah terjadi ketimpangan dan sering terjadi hingga kini. Orang-orang yang datang ke Unit Gawat Darurat (UGD) sementara sakitnya tidak terlalu parah, biasanya membentak meminta pelayanan kelas satu. Tidak peduli dokter yang sedang sibuk merawat pasien yang sekarat. Setiap harinya pasien berjumlah 80–100 orang. Tenaga dokter satu orang per hari, bisa dibayangkan bagaimana sibuknya dokter itu. Sayang sekali aku hanya membayangkan lewat beberapa pesan singkat (SMS) yang disampaikannya padaku, ketika berada di saidjahforum tiga minggu lalu. SMS terakhir yang aku terima, berisi bahwa pasien di rumah sakit ini jarang bisa terlayani kecuali yang sakitnya sangat dan teramat parah. Itu karena keterbatasan tenaga medis, tulisnya.

Suasana pagi hari di lantai bangsal rumah sakit
Suasana pagi hari di lantai bangsal rumah sakit

Seminggu yang lalu aku mengunjungi UGD, dan kulihat pasien yang banyak, sampai-sampai mereka harus dibaringkan di lantai karena tempatnya tidak cukup untuk menampung seluruh pasien sementara dokternya hanya ada satu. Begitu sibuknya dokter, bergerak kesana-kemari. Diselingi jeritan, pasien berkata keras melontarkan makian agar ingin segera dilayani. Tapi dokter tidak menggubrisnya.

Aku bertanya pada seorang dokter, kenapa pasien yang menjerit-jerit itu tidak segera dilayani?

‘‘Kami tahu pasien mana yang harus kami prioritaskan, pasien yang menjerit-jerit itu jelas dia masih bernapas dengan baik. Tapi bagaimana dengan pasien yang hanya diam dengan nafas satu-satu atau sedang sekarat? Jadi kita harus tahu yang mana yang harus didahulukan, yang jelas pasien yang nafasnya satu-satu kan!’’, ujar dokter tersebut.

Bangunan baru rumah sakit umum Rangkasbitung
Bangunan baru rumah sakit umum Rangkasbitung

Aku hanya menduga, dokter itu memberi sebuah alasan karena ingin dianggap tidak membeda-bedakan. Bagi mereka, nyawa pasien adalah prioritas, walaupun terkadang menimbulkan masalah karena semua orang diperlakukan pelayanan yang sama. Dugaanku diperkuat oleh peristiwa ketidaksengajaan. Ada sorang pejabat, beliau masuk UGD dengan sakit yang tidak terlalu parah tetapi ingin diprioritaskan dalam pelayanannya. Tetapi dokter UGD asyik sendiri dan terkadang pejabat itu tidak segera ditangani. Aku melihat pejabat itu marah dan dia masuk ke ruangan manajemen Rumah Sakit. Selanjutnya aku tidak melihat dia keluar. Tetapi, sebaliknya aku melihat orang lain muncul mengenakan seragam berwarna hijau tua. Dia menghampiri kami, kedatanganya hanya untuk menyampaikan bisikan yang tidak dimengerti. Keduanya berjalan pergi meninggalkanku. Dokter itu dipanggil oleh pihak manajemen RSUD, dan semoga dia punya alasan yang kuat.

Temuan

Aku mendapatkan informasi dari hasil obrolan sana-sini. Malam jumat aku menemui dokter yang bekerja di RSUD dr. Ajidarmo. Kepergianku atas dasar niat mencari dan menindaklanjuti sebuah pengalaman dan SMS yang pernah aku dapatkan. Tentang detail penting atas data-data lisan berupa petunjuk kecil pada sebuah pengamatan. Berdasarkan keterangan pihak rumah sakit, penyakit yang umum diderita oleh penduduk kabupaten Lebak dan khusunya kota Rangkasbitung adalah Demam Berdarah, Diare, dan Muntaber. Ketiganya adalah penyakit yang sering ditangani oleh dokter-dokter di RSUD dr. Adjidarmo Rangkasbitung. Pasien yang datang banyak dari luar kota. Maklum saja, Lebak merupakan daerah yang sangat berjauhan satu sama lain. Bahkan daerah pedalaman Lebak seperti, Sarageni Cileles, Pudar Harendong, Cibadak, Cimarga, Cisimeut, Citorek dan sekitarnya. Terkadang mereka datang dengan seabreg keluarganya. Jumlah pengunjung yang banyak, membuat rumah sakit menjadi ramai dan riuh. Ramai bukan hanya karena pengunjung semata, tetapi karena ada pedagang hingga pembesuk yang hanya sekedar berjaga-jaga sambil main kartu dan gaple sambil menikmati secangkir kopi tiap malamnya.

Menjajakan kue di pagi hari dalam area rumah sakit
Menjajakan kue di pagi hari dalam area rumah sakit

Semuanya aku anggap peristiwa kecil atas ketakutan yang menjadi bagian dari hidup. Semuanya memiliki perspektif berbeda atas kebiasaan turun temurun itu. Kebiasaan pengunjung menginap ramai-ramai bersama sanak saudara sembari menunggu satu orang yang sakit. Pemandangan itu sudah menjadi hal biasa. Kebiasaan si pejabat yang aku lihat dengan kasat mata tentang panggil memanggil, lapor-melapor sampai kinipun masih terus berlanjut. Kedahsyatan atas pernyataan makian yang dihasilkan dari kesakitan pasien yang terlalu lama menunggu. Masalahpun tidak berhenti sampai di situ. Menjadi ironis atas kelalaian penjaga kendaraan bermotor di tempat parkir. Si pemilik kendaraan menjadi was-was karena adanya peristiwa kehilangan. Walaupun terjaga oleh satpam dan tukang parkir, tapi tetap saja ada yang kecurian dan kehilangan kendaraan tanpa diketahui oleh penjaga. Apalagi kalau masalah alas kaki (sandal dan sepatu). Seringkali aku keluar dari satu ruangan menggunakan alas kaki berlainan warna. Para pengunjung yang sering melepas alas kaki jika masuk bangsal pasien terkadang sandalnya hilang entah kemana.

Bangsal jika siang hari berubah fungsi
Bangsal jika siang hari berubah fungsi

Sebenarnya, aku tidak tahu harus menulis apa dan bagaimana akan masalah rumah sakit ini. Tapi permasalahan rumah sakit menjadi salah satu yang menarik bagiku ketika aku diminta untuk mengajar privat bahasa inggris oleh seorang dokter yang bertugas disana. Karena banyak membicarakan tentang hal kesehatan di daerahku dan permasalahan lainnya. Aku semakin banyak tahu tentang RSUD dr. Adjidarmo yang letaknya di jantung kota Rangkasbitung. Di samping kanan, dahulu berdiri rumah Max Havellar yang sekarang sudah dihancurkan untuk bangunan rumah sakit baru. Letaknya amat dekat dengan alun–alun. Sejarah berdirinya bangunan itu, aku belum tahu pasti dan memang masih simpang siur sumbernya. Walau sudah kucari di internet tapi tetap tidak ada. dr. Adjidarmo sebagai perintisnya itu merupakan bacaan awal atas penelusuran kecil pengalamanku di rumah sakit ini. Jika malam terlihat ramai oleh para pedagang yang bertransaksi dengan pembeli dan juga penjenguk pasien. Mereka berdagang sampai pagi hari, sama dengan si penunggu pasien. Menjelang malam hari, jika aku membesuk kawan yang sakit, tidaklah lupa untuk membeli kopi keliling yang bebas masuk ke dalam rumah sakit. Sambil menjajakan kopi hangat yang merangsang para pengunjung, aku dan mereka butuh air hitam itu untuk penyegaran tubuh atas kekagetan dan kepanikan. Sehabis begadang, menunggu sanak saudara yang dirawat inap di balik dinding putih dihiasi titik-titik darah nyamuk yang mati terpukul oleh telapak tangan. Semoga setelah dibangunnya gedung baru RSUD dr. Adjidarmo, semua kejadian-kejadian yang tidak layak terjadi di RSUD dr. Adjidarmo akan hilang. Standar prosedur meningkat dan peralatannya pun akan lebih canggih dengan biaya yang semurah mungkin untuk masyarakat. Semoga saja semuanya dapat terwujud dan RSUD dr. Adjidarmo menjadi lebih baik.


 


Tentang Penulis

Badrul Munir

Dilahirkan pada 16 April 1978. Menyelesaikan studi Hubungan Masyarakat di LP3I tahun 2000 dan studi Ilmu Dakwah di STITDA – Lebak tahun 2008-2009. Pengajar ilmu Bahasa Inggris di STKIP Banten & STIB Pandeglang. Pernah mengikuti workshop akumassa dan terlibat dalam produksi filem dokumenter Dongeng Rangkas.

29 Komentar pada "Rumah Sakit Umum Daerah dr. Adjidarmo"

  1. cik di tiro 20 Maret 2009 pukul 23:21 · Balas

    mantab……..saya suka cerita2 dari lebak

  2. mama 21 Maret 2009 pukul 12:02 · Balas

    kok ngga ada keterangan kapan RSUD dr.Adjidarmo dibikinnya,,,?’

  3. cak 21 Maret 2009 pukul 17:55 · Balas

    nanti ya di tulisan ke 2, sumbernya masih rumit…

  4. JH4rot 21 Maret 2009 pukul 21:20 · Balas

    wahh tu RSUD harus di perhatikan lg kayak nya.

  5. koordinator program aku massa, forumlenteng 25 Maret 2009 pukul 10:32 · Balas

    cerita dari lebak memang selalu menakjubkan ya. ayo teman2 dari situs lain, bergeraklah

  6. Abdullah 31 Maret 2009 pukul 10:54 · Balas

    Ya Alloh….

    Inilah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri di kota kelahiranku, merdekanya Indonesia belum menjadikan masyarakat Lebak “merdeka” yang sesungguhnya… !

    Haruskah kita terus “menyalahkan” sejarah pahit Lebak masa lalu, perbaikan kedepan ada ditangan kita. Saya, anda dan mereka…. semoga…

    Salam cinta bagi Lebak tercinta,

  7. Yudiarto 5 April 2009 pukul 13:01 · Balas

    Persepsiku ttg RSUD sama précis. Sebagai pelayanan kesehatan social tidaklah ubahnya seperti rumah sakit mewah yang hanya memperhatikan orang2 tertentu. Sebagai orang biasa,Saya sangat takut sekali andai kata sakit menimpa. Kepada orang2 yang duduk di belakang meja turun dong ke jalan dengarkan jeritan2 orang seperti saya jangan hanya petungtang petengteng . Saya ga mau terlantar gara2 sakit doang, pa lagi ttg pengalaman di RSUD serang yang rata2 dokter terbang, perawatnya serem2 dengan kemapuan jau dari harapan, iih… pokonya ngeri . Untuk penulis saya ucapkan terimakasih, sarannya hanya sat. sumbernya jangan satu pihak saja supaya beritanya seimbang. Di tunggu berita selanjutnya…ttg RSUD.

  8. mazroel 16 April 2009 pukul 16:16 · Balas

    Pokonya…. Lebak Harus berubah…… dan RSUD harus ada kemajuan….. Berjuang dan Berjuang…
    dan Berdoa semoga Allah menjadikan Lebak sebagai daerah yang baik dalam segala bidangnya …

    Amien…

    I LOVE LEBAK, Never Give Up….

  9. nico 17 April 2009 pukul 08:52 · Balas

    cerita rumah sakit memang selalu sedih dan mengerikan dari yang berduka hingga suster ngesot..sehat…sehat…sehat

  10. RIZKI MUTTAQIN 4 November 2009 pukul 09:49 · Balas

    takan ada perubahan yang terjadi
    tanpa kesadaran dari manusia-manusia yang telah di berikan otak dan fikiran oleh ALLAH S.W.T

    tak ada yang bisa menyalahkan satu tempat yang sedang bergerak..
    karna pergerakan tidak bisa bercabang,untuk mendapatkan hasil yang spesific.

    RIZKI MUTTAQIN JAYA KUSUMA

  11. ncie 8 Januari 2010 pukul 11:17 · Balas

    wduuuwh…… berat sekali membaca blog ini, sampai gak habis membaca seluruhnya. bagaimana memperbaiki situasi seperti ini??? banyak yg melanggar peraturan rumah sakit, SDM kurang.

  12. Hafiz 10 Januari 2010 pukul 00:07 · Balas

    sebenarnya kami berusaha untuk dapat mengakses blog ini lebih cepat. tp menmang kondisi banthwith setiap jaringan berbeda. jadi, kami sangat berharap kesabaran pembaca untuk loading artikel maupun materi lainnya.
    Persoalan SDM sebenarnya dimana-mana. Namun, persoalan pelayanan publik adalah sesuatu yang harus dipenuhi oleh negara. Jadi, bagi saya pelayanan pendidikan, kesehatan dan pemenuhan dasar bagi masyarakat adalah harga mati bagi pemerintah untuk memenuhinya. Pemakluman terhadap kondisi SDM adalah lagu lama yang seharusnya bisa dibaca oleh para pengambil kebijakan.
    Terimakasih atas tanggapannya.

  13. fd 11 Januari 2010 pukul 08:43 · Balas

    Saya senang dengan keberadaan Adjidarmo. Banyak orang terlahir dan terkubur, orang penting sampai tidak penting. Tempat ini kini “menyedihkan”, mungkin karena itulah fungsinya. gedung tempat tamasya do’a dan menunggu si sakit.

  14. CEFTRIAXON 10 April 2010 pukul 17:24 · Balas

    mantaap bos saya senang ketika da orang memandang semua dgn objective tidak memandang dengan perasaan benci dan sinisme dengan dunia medic terlebih karyawan rs.. saya senang.. karena kadang orang begitu egonya minta d dahulukan dan d perlakukan special.. padahal kita yakin semua orang d ciptakan dengan martabat yang sama.. and dont forget my brother nurse juga adalah ujung tombak dari pelayanan medic so… stop think to dokter and dokter.. jangan spelekan SDM kami… karena untuk gelar AHLI MADYA KEPERAWATAN ATO SARJANA KEPERAWATAN we has study hard…

  15. evan 12 Agustus 2010 pukul 13:00 · Balas

    utk saudara CEFTRIAXON, knapa yah di setiap rumah sakit yg saya pernah singgahi,perawat selalu merasa dirinya sama dengan dokter,selalu ingin disamakan dengan dokter, utk meraih gelar jelas saja perjuangan PERAWAT dan DOKTER berbeda, kami menempuh masa studi lebih lama dri anda, dan kami mendapat kapasitas pengetahuan yang jauuuuuh dari anda,anda perawat hanya melakukan kerja praktek memandikan pasien,ambil darah vena, dll saja sudah merasa tingkatan anda sama dengan dokter. begitu juga rekan2 anda perawat di daerah yang dengan semena2 dan dengan berani membuka PRAKTEK PRIBADI dengan kapasitas mengobati seperti dokter, apa anda punya surat ijin praktek dokter? anda tahu patogenesis,patofisiologi,pengobatan, dan komplikasi pengobatan? saya rasa hal itu tidak anda dipelajari di sekolah keperawatan anda toh, jdi jangan minta diri anda dianggap sama dengan dokter,karena kita masing2 punya peran dan kapasitas sendiri.jadi sadarilah itu dan terima lah dengan lapang hati. terima kasih.

    • ceftriaxon 15 Februari 2012 pukul 11:37 · Balas

      For evan : sory saya baru balas.. Jangan pandang setengah mata profesi kami.. Dokter tanpa perawat kalian bisa apaa..,patofis. Anatomidll merupakan illmu dasar Ɣªπƍ juga kami pelajari.. Memandikan drah pena dll adalah muatan lokal saja.. Pernah ada dokter coas ke puskesmassaya bekerja hah payahhh bikin resep saja salah.. Saya tdak minta di samakan Ɣªπƍ saya minta adalah ;Jangan anggap remeh kami. Masalah jamkesmas merupakan persyaratan administrasi Ɣªπƍ di terapkan pemerintah dan menjadi prosedur kami hanya melaksanakan protap.., memang akhirnya perawat juga Ɣªπƍ di salahkan., kalo evan kurang puas invite saya2701A721

  16. ade morgon 18 Desember 2010 pukul 20:15 · Balas

    malam gelap gulita,menjemput dini hari..anaku”aura”berumur 2thn sakit..dgn napas yg sangat menakutkan…suhu tubuh sangat tinggi.aku bergegas ke rs umum adji darmo,,,tempat pendaptaran hanya di huni 2 orng saja..
    ku katakan keluhan2 pd suster…
    suster hnya jwb ya tunggu….
    ya hanya itu yg ia katakan.
    kuturuti perintah suster itu,
    ku tnggu dan terus kutunggu…
    hari pun berganti.tapi suster hanya asik ngobrolllllllll dgn teman’y.
    meliat kelakuan suster2itu ,hmmz ingin rasanya ngadek suster itu pake golok.

  17. may 11 April 2011 pukul 03:18 · Balas

    keberadaan RS Adjidarmo RangkasBitung Banten sangat penting bagi masyarakat RangkasBitung Terutama Khusus Untuk keluarga yang tidak Mampu… Kenapa Pihak Rumah sakit selalu mempersulit untuk perawatan padahal Kami dari keluarga yang tidak mampu… pernah suatu kejadian kaka saya menderita penyakit kista yang pada waktu itu tepat nya 2010 kemarin penyakit nya kumat dalam keadaan yang sangat parah… perawat selalu mempertanyakan JAM KESMAS Tanpa mengurus si pasien terlebih dahulu..

  18. Putra 22 September 2011 pukul 03:27 · Balas

    Dear All…

    Setelah baca artikel ini Rumah Sakit Umum Daerah dr. Adjidarmo ( Rangkasbitung – Lebak, Banten ) yang dibuat Oleh Badrul Munir | Pada Jumat, 20 Maret 2009 jujur saya Tidak ada komentar dan sangat memprihatikan kondisinya (kalau memang benar) tapi inikan artikel di tahun 2009 coba sekarang dibuatkan artikel yang tahun 2011 pasti ada perubahan entah lebih baik atau lebih buruk lagi…

  19. x tran 22 Februari 2012 pukul 10:49 · Balas

    salam brother bapak bapak yang bersentimen terhadap rs mari kita sharing : jamkesmas jatah dri pemerintah adalah kelas 3 lantas kalo ruangan nya penuh gimanaaa : ?? apa harus yang sedang di rawat di ruangan di pulangkann ??? saya fikir ga adil juga… lantas pasti berfikir rs pilih pilih dalam merawat saya bertanya untung nya buat kami apaaaa…. mau jamkesmas umum atau apapun gajinya segitu aja.. mari berfikir secara cerdas dalam menilai sesuatu.. igd itu instalasi gawat darurat bukan ruangan tempat infus terus masuk rawat inap.. kalo pasien gawat darurat :( seperti anak yang panas tadi ) ya tempat nya igd karena gawat darurat..di igd pun harus periksa lab.. dll di observasi sampai keadaan umum baik lalu kalo ada ruangan kosong masuk ruangan.. makanya bapak dan ibu kalo ga faham nanya ( dengan sopan ) pasien punya hak bertanya sakit apaa terus di periksa apa hasilnya bagaimana obatnya di kasih apa saja kenapa belum masuk ruangan kalo di bilang penuh ga percayaa liat aja pak langsung ke ruangan.. namanya rsud tempat rujukan se lebak pasti penuhh ..masalah persyaratan jamkesmas menurut saya jika itu punya bapa tidak berbelit koo saya pun pake askes sama harus fc klaim askes bikin jaminan dll karena itu prosedur dr pemerintah jangan salahkan rs terlebih perawat kami hanya menjalankan protap pakk….sekali lagi kalo ga tau NANYA jangan diam ngedumel sendiri akh payahhh…..saya juga gak yakin kalo yang panas tadi tidak di apa apakan minimal infus ( kalo perlu ).. infus itu termasuk pertolongan medis … saran dari saya BERTANYA…….. jangan bikin kesimpulan sendiri cape rasanya bekerja gaji ga seberapa resiko tertular penyakit tinggi.. tapiii di omongin se olah olah profesi kami adalah profesi yang hina… akh payahhh nihhh… terima kasih…. mari berfikir secara cerdas ……….

  20. latif 24 April 2012 pukul 16:05 · Balas

    semoga RSUD dr ajidarmo lebih diperhatikan terurama dalam pelayanan serta kenyamanan baik buat pasien maupun pengunjung

    • x tran 24 Juni 2012 pukul 16:09 · Balas

      amin brader lingkungan yang nyaman membuat bekerja pun nyaman… pasien nyaman karyawan nyaman pngunjung nyaman…… dompet pun nyaman

  21. ibunya mei 23 Juli 2012 pukul 00:04 · Balas

    Akhir bln mei kmrn sy SC di adjidarmo…alhamdulillah playanannya mmuaskan,,sy pserta askes,jd nyaman2 aja..rs ini skr bgus ko…tp klo yg klas 3 ya ttp msih kya pasar..rameeee bgt,,kumuh pula…kita doakan smoga gedung yg lama jga dprbaiki spy nyaman…klo ga salah ini kan Prnah jd RS trindah dbanten??iya kan..pkonya pas awal2 gdung baru ddirikan deh

  22. wanti 24 Juli 2012 pukul 11:13 · Balas

    ketika saya di rawat, alhamdulillah pelayanannya cukup baik apalagi ketika saya masuk ICU perawatnya baik-baik padahal saya di rawat dengan jaminan persalinan.

  23. mendoanku71 16 September 2012 pukul 17:03 · Balas

    Buat ceftriaxon
    Mas dengan nama tersebut saja sudah anda tunjukkan siapa? ceftriaxon, cephalosporin generasi III, perawat praktek di rumah sudah sering memberikan, jujur, apakah dari hati mas dan kewenangan yang diberikan mas bisa memberikan obat tersebut tanpa intruksi medis? tunjukkan dalilnya jika memang bisa tanpa intriuksi dokter. Yang sederhana, diluar negeri anda memberikan asuhan keperawatan dan berkolaborasi dengan dokter, bukan dalam therapi dan diagnosis, asuhan keperawatan dari akper sd NERS. Undang undang keperawatan menjamin anda praktek sesuai dengan pendidikan yang diberikan, bukan memberikan therapi tetapi asuhan keperawatan, doktrin prolong arm yang keblabasan.
    Kami hormati profesi anda, selama anda berada pada batas kewenangan anda, masing masing memliki kewenangan dan batasnya, masing masing memiliki batas juga tanggung jawaab, dokter tanpa perawat sulit dalam asuhan keperawatan pasien, juga perawat tanpa dokter, tidak bisa menerapi tanpa intruksi dokter, jika anda menerapi, anda berhahdapan dengan Undang Undang kedokteran dimana melewati batas kewenangan dan seolah olah memberikan kesan sebagai medis/dokter. jadi hormati masing masing profesi, hormati batas dan kewenangan masing masing profesi, sehingga masing masing dapat berkerjasama dengan baik

  24. Nonk Ijuy Inayahtullah 24 Mei 2013 pukul 11:23 · Balas

    Sepertinya harus dibenahi lagi mengenai tatacara dan pengelolaan tata ruang, ketertiban RSUD,,, ^_^…

  25. yuliadi 10 Juni 2013 pukul 21:38 · Balas

    sebagian masyarakat pandeglang juga saat ini memilih rumah sakit adji dharmo rangkasbitung untuk berobat karena dinilai pelayanannya agak lebih baik dari RSUD pandeglang

  26. urang lebak 13 Agustus 2013 pukul 08:36 · Balas

    Silahkan kunjungi website kami di :

    http://rsud.lebakkab.go.id

    Terima kasih..

  27. DEDE MUCHTARUDDIN 27 Juni 2014 pukul 12:29 · Balas

    hanya masukan.
    1. RSUD ini merupakan pelanyan masyarakt lebak 1 satunya
    2. Tolong fasilitas medis dilengkapi
    3. Jangan dimsukan pedaga2 ruang rumah sakit
    4. Ceritanya asyik tlng di update

Tinggalkan Komentar

comm comm comm

www.akumassa.org adalah bagian dari program akumassa yang digagas oleh Forum Lenteng sebagai sebuah program pemberdayaan komunitas dengan berbagai media komunikasi, antara lain: video, teks, dan suara. akumassa memiliki strategi: penggerakan motivasi, memproduksi karya, pendokumentasian, berkelanjutan, pemberdayaan medium filem dan video, berbagi informasi serta merekam potensi lokal dengan cara berkolaborasi dengan komunitas dampingan.

akumassa:
Jl. Raya Lenteng Agung No.34 RT.007/RW.02
Lenteng Agung - Jakarta Selatan
DKI Jakarta 12610
Telp. (+6221) 78840373

www.akumassa.org // info@akumassa.org

© Agustus 2008 - 2009 ( akumassa )

// Forum Lenteng // Jurnal Footage // Arkipel // Dongeng Rangkas // Naga // Anak Sabiran // Radio akumassa //