Lebak, Di mana?

Oleh / pada 22 Desember 2008 / di Rangkasbitung - Lebak, Banten // 5 Komentar

Pada saat kami memulai riset akumassa untuk situs Lebak, kami berusaha mencari dari berbagai sumber tentang sejarah Lebak. Usaha pertama yang kami lakukan adalah melihat peta Lebak di Google Earth dan Google Map. Namun, yang kami temukan hanya foto satelit hutan belantara dengan satu kota yang tertulis yaitu Rangkasbitung.

de-haan-no-b-4594-lebak

Daerah Warung Gunung, Lebak, Sajira dan Parung Kujang, di mana pada tahun 1855 terdapat penanaman kembali 3.800 pohon jati, 30 Juni 1857.

Pengetahuan kami tentang Lebak hanyalah dari catatan-catatan yang tertulis dalam buku Max Havelaar karya Multatuli. Tidak lebih. Ada seorang kawan yang menunjukan kumpulan puisi Orang-orang Rangkasbitung karya W.S. Rendra. Tapi itu tidak secara spesifik menyebutkan peta demografi dan keadaan sosial Lebak. Juga ada buku Sekali Peristiwa di Banten Selatan karya Pramoedya Ananta Toer penerbit Lentera Dipantara, 2003.

multatuli-mitkiewicz

Multatuli.

Kemudian tim riset mencoba mencari kemungkinan materi Lebak dari berbagai sumber, di antaranya Perpustakaan Nasional, Wikipedia, Google, situs web Pemerintah Daerah Banten, dan situs web Arsip Daerah Banten. Dari sumber yang terbatas inilah Maulana M. Pasha dan Syaiful Anwar berangkat ke Lebak untuk bertemu dengan Fuad Fauji dan Helmi Darwan dari Saidjah Forum untuk memulai program akumassa di Lebak.

jb-5701-239-29-rangkas0

Presiden Soekarno dan rombongan meninggalkan Stasiun Rangkasbitung menuju kabupaten, 1957.

Lebak adalah salah satu wilayah di provinsi Banten. Sebelum reformasi wilayah ini termasuk dalam wilayah Jawa Barat. Setelah terbentuk provinsi Banten, beberapa kabupaten terbentuk di provinsi Banten termasuk Kabupaten Lebak dengan Ibukota-nya Rangkasbitung. Menurut Wikipedia, kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Serang dan Kabupaten Tangerang di utara, Provinsi Jawa Barat di timur, Samudera Hindia di selatan, serta Kabupaten Pandeglang di barat.

kit-90-6-36-pasar

Luas wilayahnya 3.120 km², dengan jumlah penduduknya 1,1 juta jiwa (2003). Kota ini dilintasi jalur kereta api Jakarta-Merak. Bagian utara kabupaten ini adalah dataran rendah, dan selatan merupakan kawasan pegunungan dengan puncaknya Gunung Halimun di ujung tenggara di perbatasan dengan Kabupaten Bogor dan Kabupaten Sukabumi. Sungai Ciujung yang mengalir ke arah utara, merupakan sungai terpanjang di Banten.

kit-204-82-63-stovia

Gedung sekolah pegawai OSVIA dengan lonceng menara pada atapnya di Serang, Banten.

kit-5701-246-75-angklung

Pemain-pemain angklung dari suku Badui hadir dalam rapat Raksasa “Persatuan” di Rangkasbitung, 29 Maret 1957.

Hari Jadi Kabupaten Lebak yang jatuh pada tanggal 2 Desember 1828 dengan Ibu Kota Warunggunung kemudian dipindahkan ke Rangkasbitung oleh Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada 17 Januari 1849.

kit-314-36-82-kereta-penumpang

Kereta api membawa 1.500 penumpang emigran asal Jawa ke Banten.

kit-532-87-65-ciujung

Sungai Ciujung.

sungai-ciujung

Sungai Ciujung.

Provinsi Banten sejak lepas dari Jawa Barat menjadi salah satu provinsi terkaya di Indonesia dengan berbagai industri strategis dan padat karya yang ada di wilayah ini. Banten lebih banyak dikonotasikan dengan para jawara (para jagoan silat) yang tubuhnya kebal dari sayatan benda tajam. Namun, Lebak sebagai salah satu tempat penting dalam sejarah Indonesia sering hilang dalam ingatan kita.

(Foto-foto dokumentasi dari Arsip Daerah Provinsi Banten)

Tentang Penulis

Hafiz

Hafiz dilahirkan di Pekanbaru, perupa dan pembuat video ini menyelesaikan studi Seni Murni di Institut Kesenian Jakarta tahun 1994. Ia salah satu pendiri Forum Lenteng (2003), dan menjadi ketua organisasi tersebut.

5 Komentar pada "Lebak, Di mana?"

  1. jh4rot 19 Februari 2009 pukul 11:29 · Balas

    wahhhhh….
    foto lamanya kren2…
    mantap….

  2. juring 16 Maret 2009 pukul 14:50 · Balas

    lebak rasanya lebioh indah seperti dulu.

  3. Tommy 5 November 2009 pukul 03:34 · Balas

    Setahu saya Kabupaten Lebak awal berdirinya di Lebak Parahiyang, karena posisi Lebak Parahiyang (dekat Leuwi Damar) tidak strategis dipindahkan ke Rangkas Betoeng (hutan bambu betung yg direngkas dibangun menjadi kota). Pemindahan ke Rangkasbetoeng karena lebih dekat ke sungai Ciberang yg terhubung kesungai Ciujung sebagai sarana lalu lintas ke Keresidenan Banten sebagai pusat pemerintahan. Karena bencana alam terjadi kerusakan gedung kabupaten di Rangkasbetoeng maka terpaksa dipindahkan sementara ke Waroeng Goenoeng. Setelah dilakukan perbaikan dan dirasa aman kembali lagi ke Rangkasbetoeng.

    Itulah sebabnya mengapa nama kabupatennya LEBAK tetapi ibu kotanya RANGKASBETOENG. Bandingkan dengan semua kabupaten yg ada di Indonesia nama kabupaten dan ibu kotanya selalu sama. Kab. Pandeglang ibu kotanya Pandeglang, kab. Bandung ibu kotanya Bandung. Hanya Kab.Lebak ibu kotanya Rangkas Bitung.

    Tanggal 2 Desember sebagai hari jadi kabupaten Lebak ditetapkan saat bp.Drs.H.Oman Syahroni menjabat bupati Lebak 1986 mungkin diambil dari sumber yang sama dengan sumber anda. Walaupun sebenarnya di Musium Arsip Nasional Jakarta ada buku yang membahas kabupaten Lebak mulai dari bupati pertamanya R.Soeta Angoen-Angoen dan di musium London ada arsip kesultanan Banten karena merupakan negara sahabat kerajaan Inggris yang dapat dijadikan referensi sejarah kab.Lebak. Tetapi rasanya sudah tak terlalu penting lagi memperdebatkan masalah itu krn kita akan mundur kejaman feodal dan perpecahan mudah terjadi, yang penting kab.Lebak yang di Rangkasbitung sekarang sudah memiliki hari ulang tahun yang baru mulai dirayakan 2 Desember 1986 berkat usaha bp.Drs.H.Oman Syahroni dibantu para stafnya dan team dari DPRD kab.Lebak. Sebelum itu kita tak pernah merayakan hari ulang-tahun kab.Lebak.

  4. koordinator program aku massa, forumlenteng 6 November 2009 pukul 12:08 · Balas

    sdr Tommy yang baik
    terima kasih atas informasinya yang sangat bermanfaat.
    kami sangat membutuhkan komentar2 semacam ini, juga kalau anda berminat untuk mengkontribusikan tulisan anda di situs ini, kami sangat terbuka dan senang untuk memuatnya.
    terimakasih.

    otty widasari

  5. muhammad tahya 30 November 2009 pukul 01:26 · Balas

    Saya pernah tinggal di Rangkasbetung (1960-1967), sejak SR(SDN.1) hingga SMP (Neg.1 Rksbt), ciberang dan ciujung adalah tempat mandi dan bermain, di baduy ada saudara angkat, kakak sepupu masih tinggal di Rksbtg.
    Rangkasbetung, buat saya segala-galanya. Suka dan duka saya alami di Rksbtg. Terimakasih kpd Akumassa yg telah mengangkat kembali kenangan saya ketika di Rksbtg. Semoga jasa anda mendapat pembalasan yg setimpal dari Allah Ta’ala. Amin.

Tinggalkan Komentar

comm comm comm

www.akumassa.org adalah bagian dari program akumassa yang digagas oleh Forum Lenteng sebagai sebuah program pemberdayaan komunitas dengan berbagai media komunikasi, antara lain: video, teks, dan suara. akumassa memiliki strategi: penggerakan motivasi, memproduksi karya, pendokumentasian, berkelanjutan, pemberdayaan medium filem dan video, berbagi informasi serta merekam potensi lokal dengan cara berkolaborasi dengan komunitas dampingan.

akumassa:
Jl. Raya Lenteng Agung No.34 RT.007/RW.02
Lenteng Agung - Jakarta Selatan
DKI Jakarta 12610
Telp. (+6221) 78840373

www.akumassa.org // info@akumassa.org

© Agustus 2008 - 2008 ( akumassa )

// Forum Lenteng // Jurnal Footage // Arkipel // Dongeng Rangkas // Naga // Anak Sabiran // Radio akumassa //