Kelereng Mainan Maen Ball

Oleh / pada 24 Desember 2009 / di Rangkasbitung - Lebak, Banten // 4 Komentar

Sudah lama tulisan ini tersimpan rapi di sobekan buku kertas bergaris. Buku dengan gambar depan pemain bola dari inggris bekas semasa Sekolah Menengah Umum (SMUN) 3. Masa yang paling manis dalam perjalanan hidup. Butuh keberanian berucap bahwa aku sudah selesai menulis. Saat seseorang yang paling aku segani di Saidjahforum menanyakan apakah sudah selesai menulisnya? Aku menjawab belum, dan tidak. Ketidak tahuanku tentang menulis dan apa yang harus ditulis teruslah menghantui perasaan. Benar adanya jika perasaan itu susah dipercaya, tetapi aku sering mengikutinya. Hingga tiap harinya kusempatkan menyusun kata perkata, kalimat perkalimat, coret sana sini. Akhirnya  jadilah catatan kecil tentang permainan yang akan aku urai dengan tergagap-gagap.

kelereng

Satu minggu yang lalu di awal bulan peristiwa itu terjadi. Bulan Mei tepatnya. Sebuah penglihatan tertuju pada bola kaca kecil. Bentuknya bulat dengan ragam corak warna-warni di dalamnya. Sebut sajalah Kelereng. Biasanya mereka membeli dari pasar toko mainan milik Si Engkhoh. Saat permainan terjadi gerak bola kaca itu berputar-putar di atas tanah liat bercampur semen yang sudah rontok. Letaknya berdekatan dengan benteng tua bekas peninggalan Belanda. Aku kira jaraknya hanya 15 kaki saja. Tetapi aku tidak di situ. Aku berada di gang sempit, di tengah jalan berdinding tembok rumah warga. Gerak gaya bola kaca terpantul, membentur tembok rumah. Kecepatannya ditakar oleh tenaga si pemain. Ketika membentur gundukan kelereng lain, maka sulitlah menebak arah pantulannya. Terkadang berdekatan dengan musuh atau sebaliknya. Hati dan mata si penglihat tertuju dengan berdebar. Besarnya tenaga yang keluar dari jari-jemari tangan mereka tidak berpengaruh. Jika tidak mengunci targetnya maka tenaga akan terbuang percuma. Mengunci objek bukan mengunakan alat bantu canggih dalam permainan tetapi dengan satu mata setengah memejam. Mengunci kelereng musuh. Target atau objek akan terkunci. Dalam permainan begitu penting halnya. Permainan kelereng pada umumnya mungkinlah sama. Tetapi  di kampungku sebutannya berbeda. Maen Ball. Permainan kelereng yang hingga kini dimainkan banyak anak. Sangat berbeda jika kakek tua  dan muda-mudi ikut juga. Aturan dalam permainan kelereng:

- usia pemain bebas (tanpa mengenal status)
- dilarang bermain curang dalam hal bentuk apapun
- masing–masing pemain harus memasang taruhan yang telah dibuat dan tersepakati.

Sejumlah anak berbagai usia bermain kelereng bersama di sore hari

Sejumlah anak berbagai usia bermain kelereng bersama di sore hari

Kenapa sampai kini permainan itu ada. Menurut ayahku yang sudah menginjak umur 60 tahun, permainan itu sudah dari dulu ada. Sayang dia tidak tahu ceritanya saat pertanyaan tanpa henti keluar dari mulutku. Aku menyukainya sampai kini, ujarnya. Selepas bekerja di pasar itu terhenti sesaat. Pagi sudah terbiasa, tepat pukul 04:00 WIB aku melakukan rutinitas. Saat orang tertidur lelap. Kota kecil sepi senyap. Udara pagi seakan menyerupai dinginnya es. Tidaklah terlalu peduli jika air hujan datang dan embun pagi menggoda untuk melanjutkan tidur.  Ayam yang dibeli dari peternakan sekitar kota menunggu dan siap ditransaksikan. Semuanya selalu tidak terduga. Semuanya seakan selalu berpasang-pasangan. Ada pagi ada siang. Ada rugi ada untung. Bagiku ini sudah menjadi suatu pilihan hidup. Memutuskan untuk berhenti bekerja dari perusahaan MUG_BSD, SERPONG milik orang ‘Barat’. Di awal tahun 2007 aku mulai berjualan ayam potong. Terlepas dari itu semua, aku mensyukuri dengan apa yang sudah aku dapatkan sekarang . Lumayanlah “kanggo jajan mah aya wae sakedik” (untuk jajan sih, sedikit-sedikit saja ada) kata peribahasa Sunda.

Rasa capek dan letih mulai kurasakan sepulangnya dari berjualan ayam. Untuk melepaskan rasa capek dan letih itu, biasanya aku menghidupkan VCD buatan Cina, dan memutar lagu di piringan VCD format MP3. Satu CD bisa menampung banyak. Tidak peduli suaranya kadang ada yang meleot-meleot maklumlah CD bajakan di depan pertokoan besar. Musik reggae, Steven n Coconut Treez bandnya dari lagu terbaru berjudul Pantai. Menghayati atau merasakan tidaklah banyak tahu bedanya. Saat itu aku seakan-akan serasa lagi di pantai. Mungkin aku terlalu lelah, tapi begitulah adannya. Fantasi dibiarkan kesana-kemari. Rasa capek dan letih yang amat terasa perlahan mulai menghilang. Sambil mendengarkan musik, sesekali saya ikut menyanyikan lagu yang sedang diputar. Kaki ditempatkan di atas sofa kecil sedangkan kepala ada di lantai berbantal tangan. Cukuplah nyaman bagiku. Biasanya sehabis mendengarkan musik selepas pulang bekerja, aku langsung pergi ke Saidjahforum. Tempat di mana aku berkeluh kesah, bermain dan belajar apapun. Tapi, entah ada angin apa, rasa-rasanya saya pada waktu itu ingin sekali main ke rumah teman. Letak rumahnya tidak jauh dari rumah sebelah selatan jika dari tempat tinggalku. “Lho, bukannya ingin pergi ke Saidjahforum”, gumam hati. Ada apa ya? VCD kumatikan dan kuputuskan untuk melangkahkan kaki ke selatan tempat yang ingin saya tuju . Sesampainya  pandangan tertuju pada segerombolan orang mulai dari anak kecil , remaja, pemuda, sampai bapak-bapak yang sudah punya cucu 3 pun ada di sana . Lagi ada apa sih ?? tanyaku dalam hati. Perlahan tapi pasti, akupun mulai menghampiri gerombolan orang-orang. Belum beberapa jengkal aku melangkah. Tiba-tiba aku mendengar suara dari gerombolan itu. Namaku terpanggil “Aboy!”, “ya”, jawabku, sambil kucari di mana arah suara itu muncul. Ternyata orang yang memanggil nama tidak lain ialah teman, Anang (21) namanya . Akhirnya di antara kami pun timbul percakapan kecil di bawah pohon sirsak depan halaman rumah.

kelereng 4

Anang: “Boy miluan maen ball moal dia?“ (kamu mau ikut main ball)
Aboy:  “Maen ball di mana ?”
Anang: “Di dieu lah” (ya di sini)
Aboy: @%#????

Mana lapangannya? Dengan sedikit kebingungan, hatipun bertanya. Maen ball yang dimaksud temanku itu main kelereng. Tanpa berpikir panjang akupun langsung mengiyakan ajakan dari teman. Karena memang dari kecil aku sangat menyukai permainan itu.

Anang: “Eungges geura masang heula” (sudahlah ayo cepat pasang taruhannya)
Aboy: “Masangna pake naon, kelereng na geh teu boga” (mau pasang pake apa, kelerengnya tidak punya)
Anang: “Masangna lain pake kelereng Boy, tapi pake duit Rp.200,-“ (Pasangan taruhannya bukan dengan kelereng tetapi dengan uang Rp.200,-)
Aboy: “Owy..”

kelereng3

Aku pun langsung mengeluarkan sejumlah uang sebagai pasangan. Aku tidak  bisa membayangkan betapa senangnya aku pada waktu itu setelah sekian lama tidak pernah bermain kelereng lagi. Rasanya aku seperti kembali ke masa kanak-kanak dulu, seorang anak kecil yang senang bermain ke sana-ke mari tanpa mengenal waktu. Aku pun langsung memulai permainan yang aku gemari ini.

Kerumunan semakin banyak. Bergerombol di sana-sini. Orang tua higga anak-anak membongkok, berjongkok, berdiri, dan jalan bergegas menghampiri kelereng yang terkadang mampir di kotoran bebek. Gang tanah liat sedikit lembab mendadak bersih oleh tiap-tiap tangan si pemain. Sering sekali tangan mereka mengusap-usap benda yang menghalangi kelereng itu. Dibersihkan jika target terhalang oleh dedaunan atau kerikil kecil. Bunyi uang logam di kantong kemeja dan kantong celana pendek bergemerincing. Crek..crek..crek suaranya. Aku hanya menengadahkan tatapan dari bawah melihat pada si pemenang yang beranjak pindah mengambil kelereng ke sebelah utara. Hatiku sering iri. Lain kali akan aku balas, begitulah kata hati berucap.

kelereng5

Ternyata, waktu yang sangat panjang sudah membuat tanganku kaku. Aku sudah tidak bisa seperti dulu lagi, yang sangat mahir dalam bermain kelereng. Bahkan dari jarak 10 cm pun tidak pernah tepat mengenai sasaran. Tanpa terasa aku sudah kalah seribu rupiah dalam permainan, dan setetes demi setetes keringat pun sudah mulai berjatuhan dari atas daguku. Rasa capek, lelah plus senang mulai kurasakan, dan aku pun memutuskan untuk menghentikan permainan meninggalkan kerumunan yang masih terus bertahan.


 


Tentang Penulis

Firmansyah

Pria asli Lebak, Banten kelahiran 7 Juni 1988 ini akrab disapa Aboy. Terakhir ia menamatkan pendidikannya di SMAN 3 Rangkasbitung. Selain berwirausaha, sekarang ia aktif di kegiatan jurnalisme warga akumassa.org sebagai penulis aktif dan pemantau media lokal di Lebak, Banten. Di wilayah tempat tinggalnya, ia juga aktif bersama Saidjah Forum.

4 Komentar pada "Kelereng Mainan Maen Ball"

  1. kikie pea 25 Desember 2009 pukul 18:14 · Balas

    MASIH BANYAK PERMAINAN TRADISIONAL ANAK2 YANG DILUPAKAN SETELAH INVASI VIDEO GAME DAN ANAK CUCUNYA (DINGDONG, NINTENDO. SEGA, PS, GAME ONLINE, DLL)

    SEBUT SAJA TAKADAL, DAMPU, KASTI, GALASIN, GOBAKSODOR(GO BACK TO DOOR) DLL!!
    AYO SIAPA YANG MAU MENULISKANNYA DISINI MENURUT TRADISI KOTA KALIAN!

  2. ujang 25 Desember 2009 pukul 20:38 · Balas

    Firman kapan2 kita ngadu ya?

    • aboysirait 30 Desember 2009 pukul 15:13 · Balas

      boleh, kpn ne mang ujang???

  3. arastafara 7 Juli 2010 pukul 23:40 · Balas

    juragan2 sekalian ada yang tau dimana ga produksi kelereng?saya sangat menunggu jawabannya boleh lsng ke email saya.
    arastafara@yahoo.co.id

    terima kasih

Tinggalkan Komentar

comm comm comm

www.akumassa.org adalah bagian dari program akumassa yang digagas oleh Forum Lenteng sebagai sebuah program pemberdayaan komunitas dengan berbagai media komunikasi, antara lain: video, teks, dan suara. akumassa memiliki strategi: penggerakan motivasi, memproduksi karya, pendokumentasian, berkelanjutan, pemberdayaan medium filem dan video, berbagi informasi serta merekam potensi lokal dengan cara berkolaborasi dengan komunitas dampingan.

akumassa:
Jl. Raya Lenteng Agung No.34 RT.007/RW.02
Lenteng Agung - Jakarta Selatan
DKI Jakarta 12610
Telp. (+6221) 78840373

www.akumassa.org // info@akumassa.org

© Agustus 2008 - 2009 ( akumassa )

// Forum Lenteng // Jurnal Footage // Arkipel // Dongeng Rangkas // Naga // Anak Sabiran // Radio akumassa //