Jejak Pabrik Tahu Di Kebon Kelapa

Oleh / pada 22 Januari 2009 / di Rangkasbitung - Lebak, Banten // 10 Komentar

“Persetan!” suara growl khas musik underground terdengar kurang jelas, kepalanya mengangguk angguk mengiringi irama musik yang bergemuruh seperti suara kereta api yang menyesakan dada. Meski keberadaannya sekarang sudah tergilas oleh tembang–tembang cinta milik Ungu, Peterpan, dan lain-lainnya. “Buat saya, underground tetap hidup dalam hati, walau usia saya sudah mencapai lima puluh tahun kelak, ungkapnya mantap.” (Iron, 32 tahun, yang kesehariannya berjualan tahu di pasar Rangkasbitung).

Profesi yang dia jalani sekarang ini tidak terlepas dari peranan orang tuanya yaitu Moh. Tata. Pria asal Bogor yang pertama kali mendirikan pabrik tahu di Muara Kebon Kelapa, daerah paling ujung jalan Kitarung diakui berdiri sejak tahun 1972. Sekitar 1971, pada usia 55 tahun ayahnya berhenti sebagai juru tulis di perkebunan karet milik pemerintah, di Bogor. Kemudian ia pindah ke Ciminyak di kecamatan Cimarga, kampung halaman istrinya yang bernama Parmi. Selang satu tahun, bapak sebelas anak ini memutuskan untuk fokus ke wirausaha home industry, mendirikan pabrik tahu bermodal nekad, karena sebetulnya dia sama sekali tidak mengetahui pengelolaan tahu. Dibantu anak–anaknya terutama Iron, akhirnya mereka mendirikan pabrik di atas tanah seluas 10 X 14 meter persis di bantaran sungai Ciberang.

Muara Kebon Kelapa sendiri pada waktu itu keadaannya mirip seperti perkebunan, pohon kelapa begitu nampak mendominasi daerah ini. Pohon bambu banyak tumbuh di  pinggir–pinggir sungai, selebihnya lahan ditumbuhi pohon cengkeh dan karet milik warga, berbaur dengan pemukiman yang terpisah satu sama lain. Walaupun begitu, katanya tempat ini dinilai strategis karena selain daerah bantaran sungai, juga dekat dengan pusat keramaian (kota) yang jarak tempuh dari pasar saja sekitar satu kilo meter. Sebagai anak paling dekat dan paling dipercaya untuk mengelola pabrik tahu, Sholeh (saudara kandung Iron) tahu persis bagaimana kondisi pabrik pada saat itu.

Dua orang pekerja yang membenahi atap pelindung bahan baku tahu (kacang). foto di ambil di pabrik tahu Kebon Kelapa
Dua orang pekerja yang membenahi atap pelindung bahan baku tahu (kacang). foto di ambil di pabrik tahu Kebon Kelapa

“Dengan modal pas–pasan kami rintis usaha ini dari nol, dengan menggunakan alat–alat yang sangat sederhana sekali. Saya ingat betul bagaimana Mang Kardi harus memikul air turun naik sungai. Kemudian bapakku sering minta tolong untuk  membantu membuat tahu yang digiling di atas batu bulat dengan ketebalan 20 cm dan berdiameter 70 cm. Dengan bertenagakan manusia, karena menggiling tahu pada waktu itu tidak cukup ditangani oleh satu orang, terkadang saya juga sering kali merasa kewalahan.”, ujar Sholeh.

Dari tahun ke tahun usaha ini terus mengalami peningkatan, dampak ini tidak saja membawa pengaruh bagi dirinya tetapi juga penduduk sekitar ikut merasakan. Banyak penduduk sekitar yang ikut bekerja di pabrik tahu milik Moh. Tata. Seiring dengan banyaknya permintaan dari pasar, tahun 1990 Moh. Tata mengambil pinjaman dari bank untuk membeli mesin diesel, tujuannya untuk memperingan pekerjaan dan meningkatkan produksi. Hasil itu ternyata bisa meningkatkan produk yang biasanya hanya mendapatkan 10 bak. Setelah memakai mesin diesel hasilnya bisa mencapai 30 bak. Tahun 2000an untuk alasan efisiensi, Moh. Tata membeli mesin dinamo, karena dengan alat itu semua bisa dikerjakan dengan tenaga listrik seperti menyedot air dari sungai, menjalankan mesin gerinda, dan penerangan.

Pekerja sedang menggoreng tahu di salah satu pabrik dekat pabrik tahu milik Moh. Tata
Pekerja sedang menggoreng tahu di salah satu pabrik dekat pabrik tahu milik Moh. Tata

“Hal ini jelas membantu saya meminimalkan keuangan. Pabrik tahu milik Moh. Tata sekarang ini karyawannya adalah anak dan cucunya sendiri”, kata Sholeh yang waktu itu sempat berboncang di tempat terpisah, pada 19 Januari 2009.

Bisnis home industry pembuatan tahu terus mengalami kemajuan, hal itu dapat dilihat dari  jumlah pabrik tahu dari tahun ke tahun yang terus bertambah, yang kini mencapai 12 pabrik tahu. Aku dan kawan-kawan kini sering menyambangi pabrik itu dengan membeli tahu goreng seharga Rp. 5000,- jika ada acara sampai larut malam. Letaknya yang tidak jauh, berdekatan satu sama lain, memanjang dari Kali Mati sampai bantaran sungai Ciberang yang berakhir di Pengaduan yaitu tempat bertemunya sungai Ciujung dan Ciberang. Salah satu Pemilik pabrik di dekat muara sungai itu, dulunya adalah karyawan di pabrik tahu milik Moh. Tata.

Sebuah Proses

“Seingatku alat–alat pembuat tahu itu terdiri dari, gerinda (alat penggiling), kape, dinamo, cetakan, jidar (penggaris), pisau ember, pengaduk, drum, kuali/kekenceng (wajan besar). Alat-alat itu dibeli dari Serang. Bahan baku tahu, kacang kedelai yang dipilih biasanya kacang impor dari Manila (Thailand) karena kualitasnya bagus dan bisa membuat tahu bertahan sampai tiga hari. Biasanya, selain beli di pasar mereka beli kacang di ci Heny di Kampung Jeruk. Alasan memilih kacang impor, adalah karena kacang kedelai lokal hanya bisa bertahan sehari, besoknya sudah basi dan terasa pahit. Jikalau dilihat dari harganya cuma beda Rp.500,- rupiah.” Iron menambahkan.

Mula-mula kacang direndam dengan air yang dihasilkan dari PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) dari jam lima sampai tujuh petang hingga mengembang. Kemudian kacang dimasukkan ke gerinda untuk digiling selama setengah jam, lalu direbus setengah jam juga, dan disaring supaya keadaan tahu steril. Dari ampas (bahan oncom) kemudian dicampur air biang tahu yaitu berupa cairan berwarna putih diaduk selama setengah jam. Selanjutnya dimasukkan ke cetakan yang tertutup, kemudian diperas dengan dua batu besar sebesar tabung gas ukuran 12 kg. Proses itu selama setengah jam, seterusnya batu diturunkan dan dibalik kemudian cetakan dibuka. Setelah selesai, hasil cetakan di iris sesuai potongan, selesai dipotong, kemudian direbus kembali memakai campuran air biang dan kunyit untuk tahu kuning. Sedang untuk tahu serpong cukup di bungkus kain dan disimpan di meja cetak yang ditekan dengan batu kecil, supaya sisa airnya turun. Setelah tercetak tahu kemudian diangkat, kainnya dibuka, kemudian direbus memakai air biang saja. Setelah matang tahu diangkat, dan akhirnya tahu bisa dipasarkan ke pasar pagi. “Sedangkan beberapa kawan seperjuangan sebagian menyebar ke beberapa tempat, misalkan stasiun kereta, dalam kereta ekonomi jurusan Serang, Merak, Jakarta, dan terminal-terminal di sekitar kota Rangkasbitung,” ujar Iron dan kawannya.

Cara pembuatan oncom, ampas tahu yang selesai digiling dimasukan ke dalam karung lalu dicuci dan dipres sampai kering, diayak, kemudian dikukus selama enam jam, lalu diangkat dan dicetak. Diamkan satu hari satu malam sampai timbul kembang, kemudian dipotong-potong, dan baru bisa di pasarkan.

Para pekerja sedang memeras sari pati kedelai untuk diendapkan
Para pekerja sedang memeras sari pati kedelai untuk diendapkan

Sekali pembuatan bisa mencapai 50 kg yang menghasilkan 14 bak. Dan kalau hari-hari senggolan, seperti hari raya Idul Fitri, Idul Adha, Maulid Nabi bisa mencapai 30 bak. Harga tahu Rp.150,-, harga oncom per cetak dihargakan Rp.500,-. Dalam 1 kwintal bisa menghasilkan 30 bak.

Mati tumbuh

Menurut penjelasan Iron bersaudara, pada tahun 2006 Moh. Tata meninggal dunia. “Selanjutnya pengelolaan pabrik tahu sepenuhnya dipercayakan kepada saya dan Iron, walaupun begitu, tanggung jawab sepenuhnya tetap ada di tangan saya”, ujar Sholeh. Iron anak kesepuluh dari sebelas bersaudara yang mempunyai nama asli Yadi, mulai ikut membantu Sholeh sebatas berjualan tahu di pasar tahun 1998-1999, itupun jarang dilakukan. Karena pada saat itu, ia lagi gandrung–gandrungnya dengan musik underground, bahkan dia dijadikan ikon komunitas underground di kawasan itu. Nama komunitasnya KUG (Kitarung Underground). Pengakuan jujurnya mengatakan, musik pada saat itu adalah segala–galanya buat dia. Demi musik, dia rela melakukan apa saja termasuk meninggalkan pekerjaannya. Seiring waktu yang mati berganti, tumbuh kembang, umur kian bertambah, kebutuhan banyak, dan tanggung jawab pada keluarga semakin besar, akhirnya ia memilih full di profesinya sebagai penjual tahu. Mulai dari pengolahan tahu di pabrik sampai berdagang ke pasar. Penghasilannya cukup untuk menghidupi satu anak dan istrinya. Di tengah kesibukannya menjalani profesi, ia masih bisa meluangkan hobinya bermusik ria. Musik menurutnya sebagai media yang bisa melepaskan dari kepenatan menjalani persoalan persoalan sehari–hari di pabrik dan pasar.

Waktu berjalan tidak terasa, kami sudah menghabiskan lima jam lamanya berbicara di bangku kayu warung, milik Mak Mimi. Iron dan keempat kawannya tidak jadi nge-band. Niat awal malam itu mengajak beberapa kawannya dari pabrik tahu untuk bermain band akhirnya diurungkan, karena sudah larut malam.


 


Tentang Penulis

Helmi Darwan

Dilahirkan di Lebak, Banten pada tanggal 9 Juni 1976. Pria yang berwirausaha ini termasuk salah satu pendiri Saidjah Forum dan Perpustakaan Ramandha. Pria yang akrab disapa Mamz ini juga aktif dalam mengembangkan kegiatan sosial dan budaya masyarakat muda di Rangkasbitung.

10 Komentar pada "Jejak Pabrik Tahu Di Kebon Kelapa"

  1. koordinator program aku massa, forumlenteng 23 Januari 2009 pukul 13:58 · Balas

    tenang mi..bentar kagi gue cariin jodoh buat lo!! tunggu aja. biar ga stress lagi liat ponakan dan terbakar terus oleh keinginan memiliki sendiri momongan.

  2. rob 25 Januari 2009 pukul 22:14 · Balas

    hmmm.. boleh tuch

  3. welian 29 April 2009 pukul 14:53 · Balas

    mohon informasinya, saya hubungi dengan siapa klu mau tanya ttg infms tahu
    karena tertarik utk berjualan tahu.

    salam

    welian

  4. Rahmat Mulyadi 19 April 2010 pukul 05:19 · Balas

    Usulan, jangan digusur tuh kampung Muara Kebon Kelapa. nanti kemana? dipindahkannya, lalu kalau penduduk sudah pindah, mau dibuat apa? tempat itu? maaf ini sekedar usulan jangan dooong pak bupati, janagn digusuuuuuur. kasian mereka, mohon maaf sebelumnya dan sesudahnya. wasalam
    ======
    salam kangen buat Aa Ozaq di kampung Muara Kebon Kelapa, yang rumahnya berdekatan dengan pabrik tahu….Wasalam . (Rahmat Mulyadi) Cirebon Jabar.

  5. Rahmat Mulyadi 19 April 2010 pukul 05:43 · Balas

    Pembangunan di Kota Rangkabitung sangat baik, jalan-jalan sudah bagus terutama didalam kota.Syukur alhamdulillah Bapak Bupatinya sangan memperhatikan pembangunan,sehingga jalan-jalan disanasini sudah hitam beraspal,mudah-mudahan apa yang sudah ada bisa dipelihara dengan baik oleh pemerintah dan rakyatnya. Amiiin

  6. Rahmat Mulyadi 19 April 2010 pukul 06:10 · Balas

    Maaf Numpang Imformasi.
    Salam kangen buat (Ahmad Abdurrozaq Firdaus/Aa Ozaq)
    Alamat: Muara Kebon Kelapa,dan rumahnya ada disekitar kawasan Pabrik Tahu Muara Kebon Kelapa, tepatnya berhadap-hadapan dengan rumah (Bapak Guru Acip)siapa saja yang kebetulan kenal tolong disampaikan, dan suruh menghubungi kealamat (Email Lanangnukas@gmail.com) (http;//www.bimaindah)
    (http;//tamanbimapermai.blogspot.com)
    (http;//Majlis Al-Istiqamah)
    Rahmat Mulyadi Taman Bima Permai Jln, Sena III Blok A 11 Cirebon Jabar.Wasalam

  7. Rahmat Mulyadi 21 April 2010 pukul 15:20 · Balas

    Bahan Renungan dan Kajian

    MANUSIA SETELAH MATI MENURUT AL-QU’AN

    Tuhan menciptakan makhlukNya tidaklah sia-sia. Begitu pula kehidupan makhluk tersebut tidak dibiarkannya, melainkan diberikan petunjuk-petunjuk dan aturan-aturan untuk kesejahtraan makhlu itu sendiri …..

    Bagi manusia, ada empat macam petunjuk yang diberikan oleh Allah, yakni :
    1 . tabe’at(instink),
    2 . panca indra,
    3 . akal,
    4 . agama ( wahyu ),
    setelah dilahirkan, manusia sudah dibekali tabi’at yang dibawanya. Misalnya :
    lapar,
    haus,
    menangis dan lain sebagainya.
    Sesaat setelah dilahirkan, biasanya anak manusia akan menangis, dan setelah mulutnya diberi madu, maka dia akan langsung menghisapnya. Kepandaian menangis dan menghisap tadi adalah suatu petunjuk dari Allah.

    Kemudian datang petunjuk yang kedua yakni panca indra. Dengan petunjuk ini,
    maka manusia dapat melihat berbagai benda yang ada di alam ini, mendengar suara,
    menciuam,
    meraskan pahit,
    manis,
    bahkan sakit,

    petunjuk pertama dan kedua yang tersebut diatas, di samping diberikan kepada manusia, juga diberikan kepada binatang. Sejak lahir, binatang sudah dapat merasakan lapar, haus, dan sebagainya. Dia akan langsung menghisap bila sang induk menyusuinya. Begitu sang induk akan menyusui dan memelihara anak-anaknya sampai mereka dewasa. Dan ini semua adalah tabi’at ( instink ) yang diberikan Allah kepada binatang.
    Selain itu, Allah pun memberikan panca indra kepada binatang. Yakni : berupa penglihatan,
    Pendengaran,
    Penciuman,
    Dan yang lainnya, sehingga binatang dapat
    Melihat,
    Mendengar,
    Mencium,
    Merasakan,
    Bahkan merasa sakit,

    Sedangkan petunjuk yang ketiga adalah akal. Akal inilah yang diberikan kepada manusia sebagai pembeda. Dengan akal, manusia dapat menimbang yang baik dan yang buruk, atau antara benar dan salah. Dengan akal, manusia dapat mengatur hidupnya, untuk mencapai hidup yang sejahtra.

    Pertanyaannya, apakah akal ini akan mampu atau sudah cukup untuk mengatur hidup manusia ?

    Sejarah yang telah mampu mengatakannya kepada kita, tak ada manusia yang selamat jika ia memperalat dan mempedomani akalnya saja. Sebab akal hanyalah merupakan alat pertimbangan nilai antara baik dan buruk.karena itu harus ada penilai-penilai lain yang mampu menentukan mana yang baik dan mana yang buruk,agar akal dapat bekerja dengan secara benar dalam tugasnya sehari-hari berdasarkan kekuatan dan petunjuk ilmu.”

    Selain itu, didalam menimbang sesuatu tak jarang akal dipengaruhi nafsu yang dapat menjurumuskan manusia lebih memilih kepada pertimbangan yang sesat. Dengan demikian, maka akal belum dapat menjamin manusia untuk menuntunnya kearah hidup yang sejahtra dunia akhirat.

    Karena itu, Tuhan menurunkan petunjuknya yang ke empat berupa agama(wahyu).Agama dalam hal ini adalah petunjuk Tuhan yang diberikan kepada HambaNya melalui para Nabi, dan agama yang benar adalah Islam.

    Al-Qur’an sebagai pedoman umat islam merupakan wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad sebagai pedoman hidup manusia yang tidak disangsikan lagi kebenarannya. Dengan mengikuti Al-Qur’an, manusia akan selamat baik di dunia maupun di akhirat.
    “ sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus, ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir. “
    ayat tersebut menunjukan bahwa Allah telah memberikan petunjuk kepada manusia berupa jalan yang lurus, atau tuntunan yang telah ditetapkan Allah untuk dilakukan. Walau ayat ini telah menyuratkan dengan jelas, tetapi diantara manusia ada yang mengikuti dan ada pula yang mengingkarinya.

    Denjgan diberi petunjuk akan dan wahyu, maka manusia merupakan makhluk yang akan dimintai tanggung jawab oleh Allah atas segala perbuatannya semasa hidup di dunia. Dan pertanggungjawaban ini akan dituntut Allah pada waktu manusia dihadapkan ke pengadilanNya di Padang Makhsyar(Hari Kiamat).Pada waktu itu, manusia tidak akan dapat mengingkari atau menutupi segala perbuatannya semasa dia hidup di dunia. Apalagi Allah akan menghadirkan beberapa saksi sebagai penguat yakni:
    Anggota badan,
    Bumi tempat dia melakukan perbuatan,
    Dan catatan yang dibuat oleh malaikat(Raqib dan Atid).

    Di padang makhsyar besok pada Hari Kiamat, anggota badan manusia seperti lisan, tangan, kaki, dan yang lainnya akan menjadi saksi atas segala perbuatan yang dilakukannya saat manusia hidup di dunia. Seumpama seorang melakukan pencurian, maka ketika dihisab di padang Makhsyar, Tangan, Kaki, dan anggota badan yang lainnya akan menjadi saksi atas perbuatan tersebut. Perhatikan firman Allah dalam Al-Qur’an(QS.Nur:24):“
    Pada hari menjadi saksi atas mereka, lidah, tangan, dan kaki mereka, tentang segala apa yang telah mereka kerjakan. “

    Selain itu, Allah juga akan menghadirkan bumi tempat di mana orang itu melakukan perbuatannya. Seumpama seseorang melakukan maksiat dirumah kosong, di pinggir danau, atau di pinggir sungai, maka

    tempat-tempat itu akan di ajukan Allah sebagai saksi atas perbuatan maksiat itu.
    Sebagai saksi ketiga adalah buku catatan yang ditulis oleh malaikat(Raqib dan Atid).Firman Allah dalam Al-Qur’an:“

    Dan tiap-tiap manusia, Kami ( Allah ) gantungkan segala perbuatan dikuduknya dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah buku yang dijumpainya terbuka. Bacalah bukumu, cukuplah dirimu sendiri menghitung apa yang kamu kerjakan.”

    Demikian dengan adanya saksi tersebut keadilan Tuhan pun berlaku, sehingga amat sulit bagi manusia untuk melepaskan tanggungjawab atas segala perbuatan.

    Setelah itu barulah manusia divonis, apakah dengan nikmat dimaksud kesurga, atau dengan laknat ke Nereka. Itu semua tergantung kepada perbuatannya masing-masing.

    Mohon Maaf atas kekuarangannya.sekedar bahan renungan dan kajian,agar kita sadar setelah ini? wasalam

  8. Rahmat Mulyadi 21 April 2010 pukul 15:34 · Balas

    MISTRI SANG MAUT

    Sampai kini, ajal atau maut masih merupakan mistri yang teramat menakutkan bagi sebagian orang. Padahal, cepat atau lambat maut pasti akan datang menjemput siapa, kapan dan dimana saja …..

    Ajal atau maut adalah suatu kepastian yang tak dapat ditawar-tawar lagi, jika saatnya tiba, tak ada seorangpun yang mampu menundanya. Sebaliknya, bila saatnya belum tiba, tak seorangpun ada yang meminta disegerakan.

    Pada detik-detik terakhir kehidupan, seseorang bisa jadi merasakan kegelisahan dikarenakan hal-hal menakutkan yang dijumpainya. Atau sebaliknya Dia merasakan kerinduan yang teramat sangat untuk bisa berjumpa dengan tuhannya. Yang pasti, tiap orang akan merasakan apa yang namanya maut !Imam Muhammad bin Ali atau yang lebih terkenal dengan sebutan Al-Jawad pernah berkata di hadapan para muridnya ; Demi Dzat yang telah mengutus Muhammad sebagai Rasul. Orang yang siap menghadapi kematian, kapan dan dimanapun adalah orang yang telah siap dengan bekal yang cukup. Dan persiapannya itu jauh lebih bermanfaat dari obat yang paling mujarab bagi seorang pasien yang sakit. Sengguh, apabila mereka tahu besarnya nikmat yang akan mereka peroleh setelah kematian, niscaya mereka akan mencari dan mencintainya lebih dari usaha si sakit yang mencari obat guna kesembuhan dirinya.Abu darda sendiri menyikapi kematian dengan mengatakan bahwa dirinya mencintai kematian karena kerinduan pada ( RabbNya ). Begitupun dengan sufi wanita yang termasyhur, ( Rabi’ah Al-Adawiyah ). “ telah lama kulalui siang dan malam dengan kerinduan untuk menjumpai Allah Azza wajalla, “ begitu senandung Rabi’ah dalam menyikapi kematian.

    Sementara Imam Muhammad sendiri berkata, “ Apabila mereka tahu dan benar-benar sebagai kekasih Allah, niscaya mereka akan menyukainya. Karena, setiap kekasih akan mencari kekasihnya. Dan bagi kekasih Allah, kehidupan di akhirat lebih baik ketimbang di dunia.”Jika selama hidup di dunia kita sebagai orang yang shalih, maka malaikat maut pun akan bingung di dalam melaksanakan tugasnya. Pertama-tama, malaikat maut akan mencabut dari mulutnya, namun karena mulut itu selalu dipergunakan untuk berdzikir malaikat maut pun akan mengadu kepada Allah.“

    Yaa Allah, lisan si … fulan ….. tidak mengijinkanku untuk mencabut nyawa tuannya, “ kata malaikat maut.“ kalu begitu, cabutlah nyawanya dari tempat lain,” perintah Allah SWT.“ Malikat maut kemudian datang dari arah tangannya. Tetapi tangan kembali protes, “ jangan kau cabut nyawa tuanku dari tempatku, karena dengan tangan ini tuanku selalu bersedekah, beramal jariah, mengurusi anak-anak yatim dan mengusap usap kepala mereka. Begitu juga dengan kaki, mata, telinga, semuanya protes akan kedatangan malaikat maut yang hendak mengambil nyawa tuannya. Akibatnya, kembali kepada Allah guna menyampaikan kesulitannya.

    Allah SWT berfirman ; “ wahai malaikatku, tulislah namaKu di telapak tanganmu dan tunjukan kepada roh si Mukmin. Seketika itu juga dia akan rindu dengan apa yang dilihatnya dan dengan rela meninggalkan jasadnya.

    Ibnu ‘Arabi sendiri menggolongkan maut menjadi ( dua ). ( Pertama ), al-Maut al-Idhthirari, yakni : mati secara terpaksa atau mati yang tidak dikehendaki oleh tuannya. Meski dia tahu bahwa dia tak dapat mengelak, sebab kematian adalah suatu kepastian yang tak dapat di tunda dan tidak hanya terjadi pada manusia, tetapi juga berlaku kesetiap benda hidup yang ada di dunia nan fana ini. Sedang yang ( kedua ), adalah al-Maut al- Ikhtuyari atau mati secara rela, sang tuan dengan hati yang rela dan ikhlas menyambut kedatangan malaikat maut yang menjumputnya.

    Kelompok kedua adalah manusia yang mencari ajal. Bukan manusia yang dicari oleh ajal. Mereka mengannggap kematian bukan penderitaan, melainkan sebagai pertemuan dua kekasih. Atau kekasih yang nisbi hendak bertemu dengan kekasih yang Maha Mutlak, mereka siap menempuh jalan apapun yang mungkin bisa mengantarkannya, walau perjalanan itu penuh liku-liku cobaan yang luar biasa beratnya.

    Oleh karena itu, jika kita dengar ada sekelompok manusia yang berani mati demi tegaknya agama Allah, maka itulah sebenarnya isyarat bahwa dia telah memilih al-Maut Al-Ikhtiyari. Baginya, kepentingan sang kekasih di atas segala kepentingannya. Dan kepada kelompok ini, Allah memanggil mereka dengan sebutan al-Nafsal Muthmainnah, jiwa-jiwa yang damai.

    Bagi orang yang berlaku seperti tersebut di atas, maka, maut baginya adalah sebuah nikmat, maka, dengan secara sadar dia akan mencari dan mendambakan kehadirannya. Subhanallah !

    Mohon Maaf atas segala kekuarangannya, ini sekedar bahan kajian dan renungan, agar kita sadar setelah ini?

  9. mamz 26 April 2010 pukul 22:55 · Balas

    buat bung rahmat mulyadi.
    setahu saya ozaq itu tinggal d kampung jeruk dekat markas saidjah forum. Dan yang d depan rumah guru acip bukan nya azis radar banten. insya allah saya sampaikan salam anda bung.

  10. Rahmat Mulyadi 28 April 2010 pukul 15:38 · Balas

    (Bang mamz). Betul sekali Azis itu pamannya.Ozaq/Ahmad Abdul Razaq Firdaus. anak dari Ibu Siti Masithah.tolong ya bang mamz.suruh menghebungi saya ke no.08567352172/ke alamat Email.http;//lanangnukas@gmail.com. terima kasih bang sesudah dan sebelumnya. Amiin wasalam (Rahmat Mulyadi)Taman Bima Permai Jl. Sena III Blok A 11 Cirebon Jabar…

Tinggalkan Komentar

comm comm comm

www.akumassa.org adalah bagian dari program akumassa yang digagas oleh Forum Lenteng sebagai sebuah program pemberdayaan komunitas dengan berbagai media komunikasi, antara lain: video, teks, dan suara. akumassa memiliki strategi: penggerakan motivasi, memproduksi karya, pendokumentasian, berkelanjutan, pemberdayaan medium filem dan video, berbagi informasi serta merekam potensi lokal dengan cara berkolaborasi dengan komunitas dampingan.

akumassa:
Jl. Raya Lenteng Agung No.34 RT.007/RW.02
Lenteng Agung - Jakarta Selatan
DKI Jakarta 12610
Telp. (+6221) 78840373

www.akumassa.org // info@akumassa.org

© Agustus 2008 - 2009 ( akumassa )

// Forum Lenteng // Jurnal Footage // Arkipel // Dongeng Rangkas // Naga // Anak Sabiran // Radio akumassa //