Hidup di Tepian Sungai

Oleh / pada 20 Februari 2012 / di Rangkasbitung - Lebak, Banten // Belum ada komentar

Air yang masuk ke dalam studio M2

Keluargaku hidup di tepian sungai di Lebak mempunyai alasan untuk mengkhawatirkan kedatangan musim hujan, sebab pada musim itu aliran sungai yang tenang menjadi bengis. Musibah selalu mengintai. Rupanya pada saat itu. Ketika musim kemarau berakhir, hujan banyak timbul di dekat laut (daerah yang berdekatan dengan Lutan) Lebak selatan, kemudian berkembang lebih hebat dan mendatangkan bencana bila melanda pedalaman daratan. Sungai Ciujung sendiri seakan hantu di dalam gelap yang berwujud gemuruh keruh sungai. Derasnya hujan dan tumbuhnya kekelaman sewaktu awan tebal menutupi langit, membuat suasana di tiap harinya bagaikan saat menjelang kiamat, gelap. Prahara semakin dekat. Pada saat itu aku tertidur lelap setelah bekerja sebagai penjaga cuci pakaian. Opang (sang boss), selalu memintaku untuk memantau aliran sungai karena hujan saat ini sangat mengkhawatirkan. Hujan pun tak pernah surut. Kulihat di tiap harinya tidak ada sekecil pun langit biru yang sanggup mengintip di sela-sela gumpalan awan hitam yang sulit tercabik-cabik oleh matahari. Banjir menenggelamkan rumah-rumah di tepian sungai Ciujung.

Kampung Lebak Sambel

Kampung Lebak Sambel terendam

Kampung Muara

Kampung Muara yang terendam

Kampung Kebon Kopi

Kampung Selahaur terendam

Terdengarlah bunyi gemuruh serta bunyi hujan angin selama dua hari tanpa henti. Banjir itu seperti digerakan mesin tenaga matahari, tenang dan bertenaga. Pada umumnya berdasarkan hukum Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), hujan yang tiada henti tercipta karena hasil panas dan uap air yang disedot dari permukaan laut, dan dihamburkan membabi buta berhari-hari. Dalam keadaan itu tidak ada seorang ahli akan berkeras pendapat bahwa manusia tunduk kepada hukum kelestarian yang hina. Seperti halnya hukum sebab akibat sebelum ada manusia. Kebanyakan kaum terdidik masyarakat Lebak tetap mempertahankan pandangan suram. Bahwa masyarakat Lebak tidak akan mampu lestari akibat kodratnya sebagai Romusa, mudah diperdaya oleh pemangsa pemilik modal. Apakah pesimisme ini dapat dibenarkan? Itu harus dilihat lagi. Walaupun keluargaku memiliki kecenderungan suka berdagang serta naluri sebagai pekerja, aku dan yang lainnya penghuni tepian sungai mungkin juga membuat rencana untuk hidup lebih lama seperti matahari.

Lebak Pasar

Tampian Sungai

Jalan Kitarung

Kali Mati

Warga Lebak yang mujur mungkin dapat memperoleh tempat pelarian sementara dengan membangun rumah pada dataran yang lebih tinggi. Namun untuk sebagian warga Lebak yang mendiami dan tetap tinggal di dekat sungai dapat dibayangkan bahwa kiranya akan ada jalan keluar yang lebih demokratis dan lebih ekonomis. Sungai yang hampir mudah ditemui di Lebak hanyalah materi terbesar setelah perbukitan. Perbukitan dalam sangkaan tidak memiliki kesuburan tanah seperti daerah Pandeglang secara mutlak menguasai hidup masyarakat Lebak yang bernafas dengan udara, seperti halnya air menguasai hidup manusia dan ikan. Padahal menurut logika sederhanaku sebagai orang awam, tanpa pengikisan oleh hujan dan pengausan batuan, tidak akan ada tanah tempat tumbuhnya tanaman di sekitar daratan Lebak.

Beberapa kali isu pemindahan masyarakat yang mendiami tepian sungai Ciujung tidak mempengaruhi keluargaku yang sudah sangat lama tinggal di tepian sungai Ciujung. Malahan sebaliknya isu itu ternyata mempersubur tepian sungai penuh manusia. Entah dari mana titik-titik pemukiman baru bermunculan tiada habisnya. Jauh sebelum bencana banjir lima tahunan berakhir, hasil suatu bencana langit, masyarakat Lebak jelas harus belajar mengelola tanahnya dengan baik, jika tak ingin memusnahkan diri sebelum saatnya. Aku disesak oleh berbagai masalah, dan masalah tempat bukanlah yang terkecil. Teringatlah sebuah bacaan esai karya Arthur Beiser; “Masa silam memboroskan sumber alam, masa kini mencari sumber baru. Masa depan akan mengungkap, apakah sumber alam ditemukan pada waktunya. Walaupun demikian, jika pada suatu ketika manusia dapat mengambil keputusan bahwa ia akan hidup sebagai makhluk cerdas semata-mata, dan bukan sebagai makhluk yang separuh cerdas, separuh naluri pemangsa.” (Kumpulan Esai Arthur Beiser tahun 1980 berjudul The Earth, halaman 166).

Mengingat potensi yang tak terhingga tentang kehidupan di tepian sungai. Demikianlah catatan sederhana atas musibah yang menimpa keluargaku pada saat banjir besar pada tanggal 14 Februari 2012 datang.

Tentang Penulis

Firmansyah

Pria asli Lebak, Banten kelahiran 7 Juni 1988 ini akrab disapa Aboy. Terakhir ia menamatkan pendidikannya di SMAN 3 Rangkasbitung. Selain berwirausaha, sekarang ia aktif di kegiatan jurnalisme warga akumassa.org sebagai penulis aktif dan pemantau media lokal di Lebak, Banten. Di wilayah tempat tinggalnya, ia juga aktif bersama Saidjah Forum.

Tinggalkan Komentar

comm comm comm

www.akumassa.org adalah bagian dari program akumassa yang digagas oleh Forum Lenteng sebagai sebuah program pemberdayaan komunitas dengan berbagai media komunikasi, antara lain: video, teks, dan suara. akumassa memiliki strategi: penggerakan motivasi, memproduksi karya, pendokumentasian, berkelanjutan, pemberdayaan medium filem dan video, berbagi informasi serta merekam potensi lokal dengan cara berkolaborasi dengan komunitas dampingan.

akumassa:
Jl. Raya Lenteng Agung No.34 RT.007/RW.02
Lenteng Agung - Jakarta Selatan
DKI Jakarta 12610
Telp. (+6221) 78840373

www.akumassa.org // info@akumassa.org

© Agustus 2008 - 2012 ( akumassa )

// Forum Lenteng // Jurnal Footage // Arkipel // Dongeng Rangkas // Naga // Anak Sabiran // Radio akumassa //