Geundar

Oleh / pada 27 Februari 2011 / di Rangkasbitung - Lebak, Banten // 2 Komentar

Awalnya tidak ada yang terasa aneh pada makanan ini. Bentuknya seperti opak atau sejenis kerupuk dengan bentuk persegi empat yang sering dijual di warung-warung rumahan di sekitar kampungku. Tapi ketika kucoba untuk memakannya, rasanya bukanlah opak atau kerupuk, walau renyahnya memang mirip. Jenis makanan ringan ini jarang sekali ditemukan di warung-warung, karena makanan ringan ini asli buatan ibu tiriku sendiri. Ia sering membuat makanan ringan itu ketika banyak sisa nasi yang sudah basi dan tidak bisa dimakan atau dihangatkan. Daripada dibuang, nasi basi tersebut diolah kembali dan diracik menjadi makanan ringan bernama Geundar.

Proses pembuatan nasi sisa menjadi Geundar

Proses pembuatan nasi sisa menjadi Geundar

Bentuknya seperti kerupuk dan rasanya lumayan enak untuk pengganjal perut ketika asyik menonton berita sore tentang semrawutnya negara ini dengan kasus-kasus yang mungkin dengan sengaja dibuat ngejelimet bagi masyarakat, agar terus menerus penasaran dengan berita tersebut, dan atau mungkin menjadi sebuah alat pengalihan konsentrasi masyarakat terhadap melonjaknya harga bahan-bahan pokok.

Pada suatu pagi, tidak sengaja aku bangun lebih awal, kira-kira pukul 6.30, WIB karena ‘panggilan alam’, aku harus berjalan ke kamar mandi dengan melewati dapur yang saat itu masih tidak tercium aroma makanan yang sedang di olah oleh ibu tiriku. Namun, aku lihat ibu tiriku sedang asyik menumbuk-numbuk gumpalan benda putih yang terlihat seperti nasi yang sudah jadi bubur dan mengeras di atas sebuah nampan besar yang terbuat dari anyaman bambu, yang sering disebut nyiru (nampan) oleh orang-orang Sunda.

Proses pembuatan Geundar oleh ibuku

Proses pembuatan Geundar oleh ibuku

Dengan rasa penasaran aku bertanya pada ibu tiriku,
”Naon eta Amah?” ( apa itu, Bu?) Tanya ku,

“Sangu haseum rek dijieun Geundar.” (nasi basi yang akan dijadikan Geundar), jawab ibu tiriku dengan cuek.

Tangannya terus menumbuk nasi dengan menggunakan sebuah tongkat pendek terbuat dari kayu yang sering juga digunankan untuk menumbuk sambal yang disebut halu dalam Bahasa Sunda.

“Oh Geundar nu eta tea?” (oh Geundar itu ya?) tanyaku kembali.
“He eh, eta nu sok didaharan ku maraneh sembari nonton TV.” (iya, itu makanan yang sering kamu makan sambil nonton TV).

Jawab beliau sambil tidak melihat kepadaku, karena sedang asyiknya menumbuk nasi. Sambil menahan sesuatu yang ingin aku keluarkan dari tadi, aku segera bergegas ke kamar mandi sambil tidak menghiraukan lagi apa yang ibu tiriku sedang kerjakan.

Geundar bukanlah rengginang, opak, atau sejenisnya. Geundar adalah makanan ringan yang terbuat dari sisa nasi basi yang seharusnya dibuang atau tidak dipergunakan lagi. Karena alasan sayang untuk dibuang itu, maka mayoritas para ibu rumah tangga di kampungku dan di kampung ibu tiriku yang letaknya cukup jauh dari perkotaan, sering membuatnya ke panganan lain bernama Geundar. Kebiasaan ini sudah menjadi sebuah tradisi, hingga hari ini, bahwa ketika ada nasi yang tersisa dan sudah basi maka dibuatlah Geundar. Aku cukup menikmati rasa dan renyahnya Geundar tersebut, apalagi ketika dibarengi dengan kopi hitam yang hangat dan sebatang rokok yang mengepulkan asap dari mulutku.

Geundar dijemur terlebih dahulu sebelum digoreng

Geundar dijemur terlebih dahulu sebelum digoreng

Proses pembuatan Geundar cukup memakan waktu lama. Nasi basi harus ditumbuk hingga menjadi seperti gumpalan adonan terigu, dan setelah itu dengan menggunakan botol bekas sirup pada bulan puasa, nasi yang menjadi seperti adonan itu diratakan di atas nampan. Setelah itu adonan dipotong-potong kotak-kotak dan dipisahkan ke nampan yang lain dengan dilapisi oleh plastik sisa belanjaan di pasar. Potongan-potongan Geundar itu siap untuk dijemur di atas genteng rumah dengan menggunakan tangga pinjaman dari tetangga.

Setelah seharian di jemur, Geundar tersebut dibawa ke penggorengan yang apinya masih menggunakan kayu bakar dan bukan menggunakan gas elpiji 3 kilogran hasil konversi pemerintah.

Kata ibu tiriku, “Ngagoreng Geundar mah ngaboroskeun gas bae, mendingan pake hau kayuna tinggal nyokot di hareup imah,” (menggoreng Geundar itu memboroskan gas saja, lebih baik pakai kayu bakar yang cukup diambil di depan rumah). Kebtulan di depan rumahku ada lokasi untuk penyimpanan kayu–kayu sisa penggergajian yang disebut kayu bahbir untuk bahan bakar pabrik tahu. Di sana ibuku bebas mengambilmya untuk keperluan memasak, tapi dengan meminta ijin terlebih dahulu kepada pemilik tentunya. Ibuku bebas mengambilnya, karena tanah yang dipakai untuk menyimpan kayu itu adalah milik bapakku.

Geundar yang telah dijemur dan siap digoreng

Geundar yang telah dijemur dan siap digoreng

Terkadang ketika Geundar sudah siap untuk disantap, terlintas dalam pikiranku, bagaimana hematnya orang tua jaman dulu dalam mengolah makanan. Mungkin karena keadaan juga yang membuat mereka jadi seperti itu, memanfaatkan makanan yang masih bisa dimakan walau seharusnya sudah dibuang. Tetapi dengan rasa keprihatinan terhadap makanan dan  keluangan  waktu untuk membuatnya, maka nasi basi pun dapat diolah menjadi makanan ringan untuk keluarga. Atau mungkin dikarenakan makanan ringan yang bergizi sudah di luar jangkaun kantong para ibu–ibu rumah tangga di kampungku, dan di berbagai kampung lainnya, maka nasi basi pun diolah kembali menjadi makanan ringan, walau   kadar gizinya sudah tidak ada sama sekali.

Memang menjadi sebuah ironi di negeri ini, ketika para orang-orang yang punya kursi dan kewenangan dengan enaknya menyantap makanan yang mewah, ternyata di kampung-kampung masih banyak masyarakat yang mengolah nasi basi menjadi makanan dan mungkin banyak yang lebih parah dari itu.

Tentang Penulis

Badrul Munir

Dilahirkan pada 16 April 1978. Menyelesaikan studi Hubungan Masyarakat di LP3I tahun 2000 dan studi Ilmu Dakwah di STITDA – Lebak tahun 2008-2009. Pengajar ilmu Bahasa Inggris di STKIP Banten & STIB Pandeglang. Pernah mengikuti workshop akumassa dan terlibat dalam produksi filem dokumenter Dongeng Rangkas.

2 Komentar pada "Geundar"

  1. daviddarmadi 27 Februari 2011 pukul 20:22 · Balas

    Geundar..uhmm..jadi pengen nyobain :)

  2. mamz 13 Maret 2011 pukul 11:33 · Balas

    gendar.. rasanya kayak nano-nano… vid

Tinggalkan Komentar

comm comm comm

www.akumassa.org adalah bagian dari program akumassa yang digagas oleh Forum Lenteng sebagai sebuah program pemberdayaan komunitas dengan berbagai media komunikasi, antara lain: video, teks, dan suara. akumassa memiliki strategi: penggerakan motivasi, memproduksi karya, pendokumentasian, berkelanjutan, pemberdayaan medium filem dan video, berbagi informasi serta merekam potensi lokal dengan cara berkolaborasi dengan komunitas dampingan.

akumassa:
Jl. Raya Lenteng Agung No.34 RT.007/RW.02
Lenteng Agung - Jakarta Selatan
DKI Jakarta 12610
Telp. (+6221) 78840373

www.akumassa.org // info@akumassa.org

© Agustus 2008 - 2011 ( akumassa )

// Forum Lenteng // Jurnal Footage // Arkipel // Dongeng Rangkas // Naga // Anak Sabiran // Radio akumassa //