Persiapan Pembentukan Pondok Seni di Randublatung

Oleh / pada 2 Januari 2012 / di Randublatung - Blora, Jawa Tengah // 8 Komentar

Berbicara tentang limbah mungkin sebagian orang yang tidak peduli terhadap lingkungan akan menutup telinga dan memejamkan mata. Kemudian mengalihkan suatu pembicaraan yang berhubungan dengan limbah. Lihat saja, limbah-limbah pabrik telah mencemari lingkungan sekitar yang berakibat buruk terhadap kesehatan manusia, pertumbuhan flora dan fauna. Memang, dampak pencemaran tidak langsung terlihat, namun setelah waktu yang relatif panjang dampak pencemaran akan terasa. Kondisi seperti ini bisa menyebabkan tumbuhnya penyakit baru yang sebelumnya tidak ada.

Bapak Ndrik sedang mengajarkan kerajinan tangan

Senin, 26 September 2011, sekelompok remaja Randublatung berkumpul di rumah Bapak Ndrik untuk membahas suatu proses belajar kreatif yang menghasilkan suatu karya kerajinan tangan. Di dalam diskusi ini dijelaskan bahan untuk membuat kerajinan tangan menggunakan limbah dari kayu jati yang dibuang setelah proses penggergajian di Perhutani. Kami berfikir dari pada limbah itu dijadikan kayu bakar, lebih baik dibuat kerajinan untuk hiasan rumah.

Para remaja belajar kerajinan tangan di rumah Bapak Ndrik

Bapak Ndrik orang yang memberi workshop, menjelaskan proses produksi seni itu tidak harus menggunakan bahan dasar yang besar, bahan sekecil apapun bisa digunakan sebagai alat produksi. Beliau sudah cukup lama berkecimpung membuat kerajinan tangan untuk hiasan rumah. Alat-alat yang digunakan juga cukup sederhana, gergaji triplek, carter, lem, dan lain-lain.

Peralatan yang digunakan

Dari alat yang sesederhana itu, Bapak Ndrik sudah mampu untuk membuat sebuah karya kerajinan dari limbah kayu jati. Produksi barangnya berupa, miniatur mobil antik, vespa, boneka, dan banyak lagi. Meskipun sudah cukup ahli dalam membuat miniatur, namun Bapak Ndrik belum cukup dikenal oleh masyarakat luas. Karena Bapak Ndrik hanya memproduksi bila ada pesanan. Aku dan kawan-kawan yang lainnya ingin belajar banyak dari Bapak Ndrik. Ditambah ada suatu ide yang muncul dari pikiran teman kami Efendi yaitu, kami akan membuat pondok seni di Randublatung. Suatu tempat untuk belajar, bertanya, dan bekerja bersama-sama.

Hasil kerajinan tangan

Di samping itu, kami memanfaatkan beberapa perkakas listrik yang didapatkan dari pelatihan pertukangan kayu di KKUP Kabupaten Blora. Aku dan sembilan orang lainnya, mengikuti pelatihan selama tiga hari. Kami mendapat materi perkenalan alat-alat pertukangan moderen. Program itu dibuat karena pemerintah Blora mempunyai rencana untuk membuat sebuah icon kota Blora.

Blora akan dijadikan kota Hanger (gantungan). Maka dua hari terakhir dalam pelatihan, semua anggota diwajibkan untuk membuat Hanger. Berbulan-bulan peralatan sumbangan dari pelatihan tersebut hanya ditaruh dalam ruangan dan tidak dimanfaatkan. Namun setelah ada diskusi pembuatan pondok seni maka alat-alat tersebut akan dimanfaatkan sebagai alat produksi. Mudah-mudahan terbentuknya pondok seni dapat mengekpresikan belenggu kreatifitas di dalam karya.

Be Sociable, Share!

Tentang Penulis

Septian Triyoga

Dilahirkan di Blora pada tanggal 20 September 1990. Ia menyelesaikan pendidikannya di SMK Katolik ST. Louis, Randublatung. Sekarang ia sibuk dalam kegiatan di Komunitas Anak Seribu Pulau.

8 Komentar pada "Persiapan Pembentukan Pondok Seni di Randublatung"

  1. popomangun 3 Januari 2012 pukul 08:30 · Balas

    bagaimana kiranya saya bisa berada disana untuk berpatisipasi dan mengeksplorasi kinerja limbah2 itu bersama randublatung ?

  2. exicrot 3 Januari 2012 pukul 08:40 · Balas

    hajaaaaar cuy…keep the spirit yogaaaa.

  3. Isrol Medialegal 3 Januari 2012 pukul 08:57 · Balas

    Memecahkan visual bisa berangkat dari sesuatu di lingkungan kita juga kawan2, seperti kawan2 di randu blatung. bagaimana mereka membuat karya seni dari bahan2 yang telah dipakai menjadi karya seni..silahkan cekidot kawan…(dari Facebook)

  4. Popo Mangun 3 Januari 2012 pukul 08:58 · Balas

    Isrol, ya.. juga seperti dirimu, menggunakan kertas poster film itu untuk mahakarya stencil yang aduhai indahnya bila perhatikan, semoga mas mathias muchus tidak berkelakar.. hhaha..(dari Facebook via Isrol Medialegal)

  5. Nugraha Pratama 3 Januari 2012 pukul 08:59 · Balas

    Yoi srol, yang gue tangkap mereka bukan rombongan recycle, tapi reuse. inspiratif. mereka hidup diantara limbah, pertanyaannya agar mereka tetap hidup apa penghasil limbah harus tetap bertahan ? #jengjeng (dari Facebook via Isrol Medialegal)

  6. Isrol Medialegal 3 Januari 2012 pukul 09:00 · Balas

    bung Nugraha Pratama, tentu tidak selalu bertumpu pada limbah saja. tapi..blora sangat banyak yang bisa di gali dari sisi seni visualnya kawan, secara catatan sejarahnya…http://id.wikipedia.org/wiki/Ajaran_Samin sedari dulu memang banyak inspirasi dari sana tentang budaya lokal dan apresiasi masyarakatnya terhadap seni kelokalannya (dari Facebook via Isrol Medialegal)

  7. Satukan Hati 5 Januari 2012 pukul 15:41 · Balas

    SEMANGAT!!! sbg pnduduk randublatung q ikut bangga sdkaligus berharap smg daerah kita akn mnjdi smkin maju&dikenal oleh msyarakat luas….amin

    peace!! (^_^)

  8. kikiepea 13 Januari 2012 pukul 16:12 · Balas

    senang rasanya mendengar kabar Randublatung di situs ini…. punk!

Tinggalkan Komentar

comm comm comm

www.akumassa.org adalah bagian dari program akumassa yang digagas oleh Forum Lenteng sebagai sebuah program pemberdayaan komunitas dengan berbagai media komunikasi, antara lain: video, teks, dan suara. akumassa memiliki strategi: penggerakan motivasi, memproduksi karya, pendokumentasian, berkelanjutan, pemberdayaan medium filem dan video, berbagi informasi serta merekam potensi lokal dengan cara berkolaborasi dengan komunitas dampingan.

akumassa:
Jl. Raya Lenteng Agung No.34 RT.007/RW.02
Lenteng Agung – Jakarta Selatan
DKI Jakarta 12610
Telp. (+6221) 78840373

www.akumassa.org // info@akumassa.org



© Agustus 2008 - 2012 ( akumassa )

// Forum Lenteng // Jurnal Footage // Dongeng Rangkas // Naga // Radio akumassa //