Rebak Jangkih

Oleh / pada 13 Januari 2010 / di Pemenang - Lombok Utara, NTB // 3 Komentar

Biasanya aku selalu bersembunyi jika acara begawe (hajatan berupa pesta perkawinan, sunatan, dsb-red) usai, karena aku takut terkena coret-coretan di wajah pada acara  tradisi Rebak Jangkih.

rebak jangkih

rebak jangkih

rebak jangkih

rebak jangkih

Tradisi Rebak Jangkih (membalik tungku yang digunakan untuk memasak) merupakan kegiatan yang dilakukan setelah acara begawe, seperti mencuci piring ,panci, membersihkan lokasi, pokoknya semua kegiatan membereskan perlengkapan ketika acara begawe selesai. Setelah itu para pekerja di acara begawe itu menyiapkan dulang (kumpulan makanan yang dikumpulkan menjadi satu untuk dimakan bersama) yang disajikan dengan cemper (nampan besar tempat menampung makanan). 

rebak jangkih

rebak jangkih

rebak jangkih

rebak jangkih

Acara ini biasa juga dilakukan di tempat yang lain khususnya di Pulau Lombok, seperti di  Dasan Jurung, Lombok Timur, Kecamatan Pemenang, Gangga dan beberapa desa dan kampung  yang bersebelahan dengan kampungku.

rebak jangkih

rebak jangkih

rebak jangkih

rebak jangkih

Tradisi menorehkan kuseng (gosongan dari pantat wajan) ini mereka lakukan biasa-biasa saja, tetapi tradisi ini sangat berbeda di keluargaku setelah selesai bekerja. Bahkan ada beberapa orang yang belum selesai, tanpa tahu siapa yang memulai tiba tiba saja ada yang lari, berteriak dan tertawa-tawa. Lucu sekali melihat wajah mereka penuh dengan kuseng. Yang lebih parah lagi mereka sampai keluar jalan dan mencoret siapa saja orang  yang lewat.

rebak jangkih

rebak jangkih

rebak jangkih



 

 

Be Sociable, Share!

Tentang Penulis

Imam Safwan

Ia adalah penggagas Teater NOL (North Of Lombok), salah satu pengajar di SMP 3 Tanjung, dan pernah beberapa kali membuat film dan video klip musik dengan modal seadanya.

3 Komentar pada "Rebak Jangkih"

  1. Mira 13 Januari 2010 pukul 09:10 · Balas

    wah sungguh tradisi yang unik dan lucu sekali.. Haha
    melihat foto-fotonya saya jadi ingat artikelnya mas eko, “Tontonan Kolonial yang Menjadi Tradisi”

  2. Gozali 13 Januari 2010 pukul 10:24 · Balas

    Kita juga pernah ngelakuin acara ini sampai nyebar ke kampung sebelah. waktu itu acara pernikahan kakak, setelah acara begawe selesai waktu bersih-bersih paman langsung ngambil kuseng terus dicorat-coret ke orang-orang. Kalau sudah gila’2an, siapapun dia… siap tidak siap… mau tidak mau… “Pokok a dek kanggo serengen” (pokoknya tidak boleh marah) karena hari ini hiburan untuk membuang lelah katanya. Salah seorang keluarga yang mau berangkat ke kantor desa lewat depan rumah, dia tidak ingat ada acara beginian tiba-tiba sudah dikepung ma orang-orang bekuseng, dia takut terus lari sampai ke kampung sebelah, ketangkep kita coret udah wajahnya kayak badut goreng… Haha. Eee… dia malah nggak jadi ke kantor desa tapi ikut2an coret yang lain. Ayo siapa mangsa selanjutnya?

  3. Imam FR 15 Januari 2010 pukul 19:51 · Balas

    esay foto yang lucu dan sangat menggelitik..

Tinggalkan Komentar

comm comm comm

www.akumassa.org adalah bagian dari program akumassa yang digagas oleh Forum Lenteng sebagai sebuah program pemberdayaan komunitas dengan berbagai media komunikasi, antara lain: video, teks, dan suara. akumassa memiliki strategi: penggerakan motivasi, memproduksi karya, pendokumentasian, berkelanjutan, pemberdayaan medium filem dan video, berbagi informasi serta merekam potensi lokal dengan cara berkolaborasi dengan komunitas dampingan.

akumassa:
Jl. Raya Lenteng Agung No.34 RT.007/RW.02
Lenteng Agung – Jakarta Selatan
DKI Jakarta 12610
Telp. (+6221) 78840373

www.akumassa.org // info@akumassa.org



© Agustus 2008 - 2010 ( akumassa )

// Forum Lenteng // Jurnal Footage // Dongeng Rangkas // Naga // Radio akumassa //