Mamiq Kartini Pedagang ‘Pak Pung’

Matahari datang juga menghampiri kami dengan kehangatannya, menambah suasana pagi pedesaan dengan kilauan embun di pucuk-pucuk dedaunan. Walaupun semalam sempat terjadi hujan lebat yang membuat saya dengan kawan-kawan Komunitas Pasir Putih yang menginap di markas terperangkap selimut. Kopi hangat dan beberapa buah pisang goreng menemani diskusi pagi kami tentang agenda “akumassa” hari ini. Semua anggota terlihat begitu serius dalam mendiskusikan kegiatan yang kami rasa cukup padat. Hingga kadang terjadi perdebatan hangat di antara partisipan untuk memberikan ide yang terbaik.

Pak Pung, penjual arum manis di Pemenang, Lombok Utara

Mamiq Kartini, penjual arum manis (pak pung) di Pemenang, Lombok Utara

Dalam hiruk-pikuk aktifitas warga dan juga kesibukan kami, dari luar terdengar suara yang mengusik konsentrasi. Suara itu sangat sederhana namun terkesan begitu harmonis. Terdengar seperti kaleng-kaleng bekas yang dipukul (pang… ping… pung… ketipang… tipung…). Namun aneh, kali ini suara itu berirama indah. Mas Kikie menyapa “Suara apa itu, hampir setiap pagi jam 9 atau 10 pagi aku mendengar suara ini”. “Pedagang Pak pung,” jawab kami serentak. Sejenak suara itu hilang dan disambut oleh tawa gembira anak-anak kecil. Aku tengok lewat jendela rumahku yang belum tertutup rapi karena kacanya pecah. Tampak tubuh kurus tua kira-kira berumur 55 tahun sedang dikerumuni oleh anak-anak kecil. Dalam terik panas tampak senyum simpulnya keluar. Anak-anak kecil ini seperti dewi fortuna pembawa keberuntungan baginya. Betapa tidak, satu persatu anak-anak kecil itu mengeluarkan uang untuk membeli manisan yang dibawanya.

Pak tua berkacamata itu mengalungkan kaleng yang sudah dibentuk sedemikian rupa hingga menyerupai wadah kecil, yang di depannya dibentuk seperti persegi-persegi empat yang digunakan untuk menaruh kertas untuk membungkus manisan, uang, serta alat musik sederhana untuk mengeluarkan bunyi tadi. Aku sempat berpikir, mungkin ia pernah belajar musik dan terinspirasi oleh salah satu musisi terkenal, tapi hidup membuat pak tua itu belajar dan berkreatifitas.

Mamiq Kartini selalu ditunggu kedatangannya oleh anak-anak

Mamiq Kartini selalu ditunggu kedatangannya oleh anak-anak

Saya terus memperhatikannya. Ternyata  di jaman modern seperti ini, masih ada orang-orang yang mempertahankan hidupnya dengan cara yang begitu sederhana sekali. Mungkin ia tidak pernah belajar materi ekonomi, apalagi menghafal teori-teori dan prinsip-prinsip ekonomi. Tapi lihat, apa yang mampu dilakukan oleh orang tua itu. Menyenangkan hati orang lain dalam berdagang. Tak sedikit anak-anak kecil berteriak histeris akan kedatangannya, bahkan sampai mereka menangis. Ia seperti pengobat bagi anak-anak kecil. Di samping suara indah yang mampu ia hasilkan, juga karena manisannya yang disenangi oleh anak-anak kecil.

Istilah-istilah banyak muncul dari dagangan ini, ada yang menyebutnya arum manis, gule legong, sedangkan masyarakat Pemenang akrab menyebutnya Pak Pung. Entah karena apa kami memanggilnya dengan sebutan seperti itu. Apa karena manisan, gayanya yang khas atau karna suara yang dihasilkan itu.

arum manis, gule legong, atau pak pung (sebutan akrab bagi masayrakat Pemenang)

Arum manis, gule legong, atau pak pung (sebutan akrab makanan ini bagi masyarakat Pemenang)

Mamiq Kartini namanya, seorang pedagang gulali (manisan) yang akrab di mata warga, khususnya anak-anak. Ia berasal dari Dusun Kembang Kerang, Desa Aikmal, Lombok Timur. “Isiq te sango ibadah kance biaye anak te sekolah” (Menjual manisan untuk bekal ibadah dan biaya anak-anakku sekolah), tuturnya sambil melayani anak-anak yang sedari tadi menunggu manisannya. Bahkan dari hasil jualan, Mamiq Kartini berhasil mengantarkan salah satu dari anaknya sampai jenjang  sarjana dan kini menjadi dosen di Sumbawa.

Penghasilannya dalam satu hari mencapai 60-70 ribu rupiah. Baginya ini cukup untuk memberikan makanan dan mencukupi kebutuhan sehari-hari untuk keluarganya. Modal yang disiapkan antara Rp. 30.000 sampai Rp. 35.000 untuk membeli satu setengah kilo gula dan untuk biaya transportasi. Adapun rute jualannya dari Pemenang, Tanjung dan Desa Gili Indah (Gili Air, Meno dan Trawangan).

Mamiq Kartini dengan kotak

Mamiq Kartini mengalungkan kaleng dagangannya yang unik dan multifungsi

Aku kemudian mencoba menikmati manisannya. Keponakanku menarik-narik bajuku dari belakang, ternyata ia kepingin juga, akhirnya aku beli dua. Setelah melayani pembelinya, Mamiq Kartini kemudian membunyikan alatnya yang khas itu untuk menghibur anak-anak. “Silaq tiang lekaq juluq” (Mari saya jalan dulu) dengan lembut menegurku yang asyik bercanda dengan keponakanku sambil menikmati manisnya gula-gula.


 


Tentang Penulis

Muhammad Gozali

Dilahirkan di Karang Gelebeg pada tahun 1983. Ia tinggal di Karang Subagan, Desa Pemenang Barat, Lombok Utara. Ia kuliah di IAIN Mataram jurusan Syari’ah angkatan 2002. Sekarang ia menjadi guru swasta di Madrasah Tarbiyatul Islamiyah Kopang dan menjadi ketua Komunitas Pasir Putih.

Muhammad Sibawaihi

Dilahirkan di Desa Pemenang, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, pada tanggal 20 Mei 1988. Ia kuliah di IKIP Mataram jurusan Bahasa Inggris. Sekarang ia aktif mengajar sebagai guru di wilayahnya dan aktif di Komunitas Pasir Putih.

3 Komentar pada "Mamiq Kartini Pedagang ‘Pak Pung’"

  1. soemantri,gelar 23 Januari 2010 pukul 11:33 · Balas

    jadi teringat lagu elvie sukaesih, gula-gula mu… hobaaah…bang aker in da host… cihuy..

    membangkitkan romatis me di sd, saya mengenal manisan itu bebagai “abon manis atau rambut nenek” disuguhkan dengan sobekan koran dan hadiah belum beruntung bagi taruhan “pasangan cabutan dan nyoblos” seharga 100 rupiah, dengan hadiah utama sebuah TAMIYA (mobil2an baterai).

    manis, dan lumer dimulut..

  2. ambu bodas 23 Januari 2010 pukul 14:52 · Balas

    yang menarik dari tulisan2 ini adalah selalu membawa kita pada sebuah ingatan masa lalu ya?

    ingatan massa.

    tokoh Apu kecil dalam novel sastra Pather Panchali karya Bibhutibhusan Banerji, yang selalu menanti kedatangan tukang manisan lewat di depan rumah mereka bersama kakak perempuannya, Durga, walaupun seringkali mereka tidak bisa membeli karena tak ada uang. namun hanya dengan mendengar denting penanda kehadiran tukang manisan saja, bagi anak kecil seperti Apu dan Durga sudah menjadi sesuatu yang sangat menggembirakan, melebihi mimpi.

    mimpi yang tak pernah muluk di masa kecil sebatas melihat kedatangan penjual manisan saja, merupakan mimpi paling indah milik manusia.

  3. eta 25 Januari 2010 pukul 13:56 · Balas

    ga tau kenapa pada saat membaca ini saya merasa terharu dan ada perasaan romantisme dalam penulisan…

Tinggalkan Komentar

comm comm comm

www.akumassa.org adalah bagian dari program akumassa yang digagas oleh Forum Lenteng sebagai sebuah program pemberdayaan komunitas dengan berbagai media komunikasi, antara lain: video, teks, dan suara. akumassa memiliki strategi: penggerakan motivasi, memproduksi karya, pendokumentasian, berkelanjutan, pemberdayaan medium filem dan video, berbagi informasi serta merekam potensi lokal dengan cara berkolaborasi dengan komunitas dampingan.

akumassa:
Jl. Raya Lenteng Agung No.34 RT.007/RW.02
Lenteng Agung - Jakarta Selatan
DKI Jakarta 12610
Telp. (+6221) 78840373

www.akumassa.org // info@akumassa.org

© Agustus 2008 - 2010 ( akumassa )

// Forum Lenteng // Jurnal Footage // Arkipel // Dongeng Rangkas // Naga // Anak Sabiran // Radio akumassa //