Oleh Riezky Andhika Pradana | Pada Selasa, 26 Januari 2010
* * *

Di sebuah tempat, tampak beberapa anak sedang bercanda dan bermain dan berlari-larian. Tak lama kemudian datanglah seorang pemuda yang bersahaja menegur mereka:

Pemuda: Hey…Hey.. berhenti- berhenti! Sini, kalian tahu ini tempat apa?

Anak-anak:  Tempat Sembahyang.

Pemuda:  Sembahyang umat apa?

Anak-anak: Buddha.

Pemuda:  Bagus, di tempat sembahyang atau di tempat peribadatan lain, tidak boleh dijadikan tempat bermain, paham?

Anak-anak:  Paham.

Pemuda: Kalau Umat Islam sembahnyangnya di mana?

Anak-anak:  Masjid.

Pemuda:  Pintar-pintar , ingat, peliharalah dan jagalah tempat peribadatan setiap agama, ngerti?

Anak-anak:  Yaa…

Pemuda:  Kalian main di tempat lain saja yaa!!

Anak-anak: Iyaaa…

Berikut cuplikan dialog dari salah satu adegan dalam film Sunan Kalijaga yang dibintangi Dedy Mizwar. Film  yang diproduksi tahun 1984 itu mengandung pesan toleransi antar agama.  Pada umumnya, toleransi diartikan sebagai pemberian kebebasan kepada sesama manusia dan masyarakat untuk menjalankan keyakinan-NYA atau mengatur hidup dan menentukan nasibnya masing-masing. Sikap toleransi membangun kesadaran yang mantap bagi masyarakat untuk saling menghargai dan membangun Indonesia.

Vihara

Vihara Jaya Wijaya, tempat sembahyang Umat Buddha di Dusun Tebango

Toleransi antar umat beragama sangat terasa kental di Lombok Utara. Penanda-penanda dan simbol agama tampak jelas dilihat mata dan didengar telinga. Suara lantunan ayat suci Al-Qur’an menjelang adzan selalu bersahut-sahutan di udara lewat corong speaker Masjid dan Musholla. Pura dan Banjar umat Hindu beserta aktifitasnya juga tampak di sepanjang jalan. Semua ini nampak amat harmonis, hampir  tanpa ada sejarah hitam pertikaian antar umat beragama di Lombok Utara.

Ketika melewati Vihara dan perkampungan Umat Buddha di Dusun Tebango, Pemenang, Lombok Utara, aku teringat akan dialog dalam film Sunan Kalijaga tersebut. Vihara tersebut dibangun kembali pada tahun 2008 atas bantuan (Pemerintah-red) Cina. Sebelumnya tempat tersebut dinamakan Pemaksan, Cetya dan akhirnya pada tahun 1983 menjadi Vihara. Dusun itu tenang, sederhana dan bersahaja. Disanalah bermukim 148 kepala keluarga dengan jumlah kurang lebih 850 jiwa yang beragama Buddha. Kebanyakan dari mereka berprofesi sebagai buruh tani, namun setelah tahun 2000-an banyak dari mereka yang bekerja di sektor pariwisata.

Dusun Tebango

Dusun Tebango

Energi positif di Tebango

Pak Sukarman selaku Kepala Dusun Tebango mengantarkanku ke seorang Dharmaduta yang bernama Metawadi. Pria kelahiran 1979 ini mempersilakan kami duduk di berugaq rumahnya. Hampir setiap rumah di Lombok memiliki berugaq (seperti saung) yang berfungsi sebagai ruang sosial. Di belakang berugaq tampak sanggar dengan patung Sang Buddha dan lukisan beberapa Bikhu tempat beliau bersembahyang. Sehari-harinya Metawadi bertugas sebagai pengajar Agama Buddha dan Konseling di SMP 1 Pemenang dan kini masih menyelesaikan studi pascasarjananya jurusan manajemen. Dari obrolan-obrolan sederhana, akhirnya beliau menceritakan sejarah masuknya ajaran Buddha di Pemenang.

Menurutnya, pada tahun 1301 M, sempat terjadi musibah besar di Lombok, saat itu masyarakat belum punya agama. Dalam kebingungan karena faktor kemiskinan dan sebagainya, kemudian datanglah seorang dari Majapahit bernama Dhang Hyang Dwijendra yang akhirnya dikenal sebagai Dhang Hyang Semeru. Beliau berkata, jika ingin mendapat ajaran dariku maka kumpulkan masyarakat di sebuah tempat. Oleh masyarakat peristiwa berkumpul tersebut disebut Tebeng (kumpul:sasak) dan Tebango berarti berkumpul untuk mendapatkan pencerahan. Dhang Hyang Semeru mengajarkan kepada masyarakat yang terasa sampai sekarang yaitu bersinergi dengan alam, baik alam halus maupun alam manusia. Setiap hari Jumat ditaruh sesajian di tiap sudut kampung yang bernama Sanggah. Inti ajaran beliau adalah menanamkan kepercayaan kepada Shiwa Guru sebagai manifestasi Tuhan. Menurutnya Dhang Hyang Semeru beraliran Shiwa Buddha yang akhirnya oleh masyarakat sekitar dikenal dengan sebutan Budhapaksa yang berakulturasi dengan Hindu. Budhapaksa memiliki sebuah kitab bernama Kidung Kahuripan yang tidak semua orang boleh tahu. Bentuk upacaranya saat itu adalah Pujawali di sebuah tempat bernama pemaksan yang berada di atas bangunan vihara sekarang. Bahkan saat itu mereka masih merayakan Hari Raya Galungan dan Kuningan. Uniknya mereka tidak mau dianggap Hindu, “Kami adalah Budhapaksa,” kata mereka saat itu.

Metawadi Sang Dharmaduta

Metawadi Sang Dharmaduta

Sanggar tempat sembahyang

Sanggar tempat sembahyang

Dari beberapa literatur yang saya temukan, menurut Babad Lombok yang berpengantar bahasa Jawa Kuno (Kawi), agama pertama orang Lombok adalah Wratsari (suatu bentuk agama asli Sasak pada waktu lampau, seringkali disebut Buda bukan Buddha). Ketika ditanyakan mengenai sejarah Wratsari, Metawadi mengaku kurang paham masalah tersebut. “Tetapi jika digali lebih dalam, tentunya akan kembali ke Budhapaksa,” tuturnya. Sedangkan menurut Babad Lombok yang disalin pada tahun 1972, seperti yang ditulis Radjimo Sastro Wijono dalam tulisannya “Rumah Adat dan Minoritasisasi” dikatakan bahwa agama Wratsari dibawa oleh pendeta Gurundeh dari Buda Klin.

Di Babad Lombok terdapat mukadimah bertutur mengenai Nabi Adam dan Hawa:

Sepeninggal Nabi Adam, para iblis melakukan propaganda besar-besaran untuk menyesatkan umat manusia. Iblis-iblis ini mengatakan kepada umat manusia bahwa mereka sudah bertemu dengan Nabi dan mendapat pesan dari Nabi Adam untuk manusia. Isi pesan tersebut ialah barang siapa yang hendak bertemu dengan Nabi Adam hendaklah ia mendirikan sanggah, sanggar serta sesaji. Babi, anjing, tuak dan brem dihalalkan semua. Ajaran ini kemudian disebut wratsari, dibawa oleh Pendeta Gurundeh dari Buda Klin. Maka banyaklah umat manusia yang terseret ke dalam ajaran iblis.

Artinya, kalau menurut keterangan dari babad, dapat diduga bahwa sebelum datangnya orang-orang Jawa semasa akhir kerajaan Majapahit, masyarakat yang memeluk Agama Buda sudah ada. Agama asli masyarakat Lombok ini dalam perkembangannya sampai sekarang sering juga disebut Agama Buda (dalam penulisan sering ditulis bode, bodo, bude) atau Buda Keling, atau agama nenek moyang, atau Agama Majapahit.

Sanggah yang terdapat di setiap sudut kampung

Sanggah (tempat menaruh sesajian) yang terdapat di setiap sudut kampung

Bergantinya Orde Lama ke Orde Baru berpengaruh besar terhadap struktur masyarakat Lombok, termasuk pada masyarakat Buda. Sejak tahun 1969 program Pembangunan Lima Tahun (PELITA) Negara menghegemoni bahkan mengintervensi kehidupan masyarakat dalam beragama. Negara hanya mengakui lima agama seperti yang kita pelajari di bangku sekolah. Sedangkan agama-agama Nusantara warisan nenek moyang dianggap penyembah pohon, pemuja setan, atheis, PKI dan sebagainya. Masyarakat diwajibkan memeluk agama seperti yang tertulis dalam KTP (Kartu Tanda Kependudukan) agar aktivitasnya bisa dikontrol oleh Negara.

Pada tahun 1970-an masuklah seorang tokoh agama Buddha yang berasal dari Cakra Negara, Mataram bernama Komang Gede Dharma Susela yang mengajarkan inti ajaran Buddha yang sebenarnya. Dalam Agama Buddha ada beberapa hari penting yang diperingati di antaranya : Hari Magha Puja, Hari Waisak, Hari Asadha dan Hari Kathina. Dalam memperingati hari-hari tersebut mereka melaksanakan puja bakti. Sampai saat ini puncak keharmonisan Umat Buddha di Dusun Tebango terjadi setiap bulan sepuluh pada malam bulan purnama penuh. Saat itulah mereka mangadakan Tradisi Kathina. Umat Buddha di mana saja mereka berada, meski hidupnya dalam keadaan ekonomi lemah, sebaiknya berusaha untuk ikut berdana di hari Kathina, dana dapat berbentuk barang atau uang, meskipun nilainya kecil asal disertai dengan keyakinan, berarti benih-benih kebaikan telah ditanam. Mereka kumpul makan bersama dan tidur di mana saja di sebuah dusun diatas bukit yang berpenduduk 67 kepala keluarga. Dusun itu bernama Tebango Bolot.

Bawi (babi), binatang ternak yang banyak dipelihara warga Tebango

Bawi (babi), binatang ternak yang banyak dipelihara warga Tebango

Di Dusun Tebango ini banyak saya jumpai bawi (babi) yang dipelihara di rumah-rumah, namun menurut Metawadi hanya sekitar sepuluh kepala keluarga dan kalangan tua saja yang masih mengkonsumsi babi, sedangkan banyak kalangan muda yang sudah belajar agama tidak lagi mengkonsumsinya. Metawadi sendiri tidak mengkonsumsi babi dan binatang berkaki empat karena memang itu tidak dianjurkan oleh agama Buddha. Metawadi adalah seorang yang selalu membangun sinergi, tidak hanya dengan manusia tetapi dari alam yang paling rendah sampai alam tertinggi. Obrolan pun berlanjut ke perbincangan yang ‘lebih dalam’ sampai beberapa jam kemudian. Tak lama kemudian adzan maghrib bergema dari corong speaker Masjid terdekat, meminta saya untuk memenuhi panggilanNya. Setelah berpamit untuk bergegas pulang, saya teringat akan kisah pertemuan antara Syekh Siti Jenar dengan Ki Ageng Pengging di pulau Jawa yang berdiskusi masalah ’spiritualitas’. Walaupun Ki Ageng Pengging pemeluk Shiwa Buddha dan Syekh Siti Jenar pemeluk Islam, tapi pada ujung-ujungnya, esensi spiritualitas yang mereka dalami adalah sama. Obrolan hangat ini berakhir dengan rencana diadakannya workshop video di halaman Vihara yang disambut dengan hangat oleh Pak Kadus (Kepala Dusun).

Your email:

 


8 pembaca suka artikel ini.
Bagi dan Sebarkan:
  • PDF
  • Print
  • email
  • RSS
  • Facebook
  • MySpace
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Ping.fm
  • Digg
  • Reddit
  • del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Tumblr

Artikel terkait:

  1.           Perang Melawan Krisis Energi, Menggali Potensi Listrik di NTB
  2.           Asal Muasal Masjid Jami’ul Jama’ah Karang Pongsor
  3.           akumassa di Pemenang Barat, Lombok Utara
  4.           Video Aku Massa Cirebon: Keramaian di Pasar Kanoman Membuat Keraton Terasing Dari Masyarakat
  5.           Di Utara Pulau Lombok: Komunitas Pasir Putih dan akumassa Pemenang
Anda dapat meninggalkan respon, atau jejak balik dari situs anda.

Komentar (4)

 

  1. ref.... mengatakan:

    ikut sundul aja gan…

  2. chelle mengatakan:

    Gw baru tahu profil orang sana. Interesting Kikie! Terima kasih ya.. Keep up the good work and keep sharing us your writing! ;)

  3. lola_2713 mengatakan:

    Inget waktu jaman kuliah dulu pas lagi Matkul Sejarah Nasional Indonesia I, dosen gue di pertemuan pertama nanya “Antara Hindu dan Budha, mana yang masuk terlebih dahulu?” waktu itu gue ma temen2 gue kompak bilang “Hindu” eh diketawain ma dosen gue dia bilang “Budha tapi ga berkembang di Indonesia sampe akhirnya masuk Hindu, baru stelah di India terjadi perubahan baru masuk lagi ke Indonesia” jadi ga heran gue kalo di Tebango ada yang namanya Wratsari yang disebut Buda dan lebih cenderung ke Budha dari pada Hindu..,

    Indonesia mang Amazing yak?

  4. clara angelina mengatakan:

    Menlu Italia, Franco Frattini pernah mengatakan di Roma bahwa Indonesia merupakan Laboratorium kerukunan beragama yag baik .. semoga aja pujian ini gak ngebuat masyarakat indonesia ga terlena dan tetap mawas diri karena kerukunan beragama bersifat dinamis yang mudah berubah. tentunya kita juga berharap kerusuhan bernuansa SARA yang pernah terjadi di beberapa daerah beberapa tahun lalu tidak akan terulang lagi.Indonesia akan jauh lebih indah jika penuh warna akan perbedaan2 tersebut, khan sm seperti semboyan kita bhinneka tunggal ika ..

Tinggalkan pesan balasan

ACARA

  • The Loss of The Real

PESAN

Tentang Perubahan Iklim Dunia

Kami mengajak kawan-kawan komunitas untuk berpartisipasi dalam melakukan gerakan kesadaran terhadap perubahan iklim ini. Komunitas-komunitas merupakan yang paling terdepan dan secara langsung menghadapi perubahan yang dialami oleh masyarakat. Jadi, mulailah kita berubah dari kebiasaan yang merusak lingkungan. Kita pasti bisa menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan bumi yang sudah semakin panas ini.

  • Forum Lenteng Channel on Youtube

PROMOSI

  • Sinau Art Course

POTRET

ARTIKEL ACAK

      Pemutaran Video Akumassa Ciputat, Dimulai

      (Ciputat, Tangerang Selatan)

      Penonton menyaksikan video tentang Situ Gintung dalam acara Pemutaran Video akumassa Ciputat
      [caption id="attachment_3285" align="alignnone" width="470" caption="Penonton menyaksikan video tentang Situ Gintung dalam acara Pemutaran Video akumassa Ciputat"][/caption] “Pemberitahuan kepada seluruh warga RT. 001 RW. 07 bahwa hari ini akan dilak ...

      (Ada 5 komentar pada artikel ini)

      English Section

      (Pengantar)

      . . . Under Construction, Coming Soon . . . ...

      (Ada 0 komentar pada artikel ini)

      Perempuan dan Pabrik

      (Sukabumi, Jawa Barat)

      Perempuan dan Pabrik
      'Perempuan Perkasa', ya, begitulah sebutan yang pantas bagi mereka kaum hawa yang rela menghabiskan waktunya untuk bekerja dan bekerja. [caption id="attachment_5528" align="alignnone" width="470" caption="Salah satu pabrik di Sukabumi yang didominasi ...

      (Ada 2 komentar pada artikel ini)

      Agustusan di Alun-Alun Kabupaten

      (Rangkasbitung - Lebak, Banten)

      merah-putih
      Itulah hari kemerdekaan kita! Aku, kamu dan mereka sudah pasti terbawa pada kehangatan suasananya jika hari itu tiba. Ada gairah yang selalu coba dilukiskan oleh setiap individu. Anak-anak, muda-mudi, orang tua, semua larut dalam gairah yang sama. G ...

      (Ada 1 komentar pada artikel ini)

      partisipan akumassa padangpanjang

      (Padang Panjang, Sumatera Barat)

      gusnita-linda2
      Program akumassa di Padangpanjang diikuti oleh sepuluh orang partisipan diantaranya lima orang perempuan dan lima orang laki-laki. Selain itu, selama program akumassa ini berjalan, ada beberapa orang observer. Partisipan [caption id="attachment_736" ...

      (Ada 10 komentar pada artikel ini)

      Buruh dan Asap

      (Sukabumi, Jawa Barat)

      buruh
      Sukabumi, saat mendengar nama salah satu kota di Jawa Barat ini pasti banyak hal yang melintas di benak anda.   [caption id="attachment_5370" align="alignnone" width="470" caption="Buruh batu kapur, hal lainnya yang juga ada di Sukabumi"][/caption] M ...

      (Ada 2 komentar pada artikel ini)

STATISTIK

    • Artikel:  368
    • Komentar:  2,031
    • Halaman:  13
  • KUNJUNGAN

    Saat ini: 44

    Total: 68999

  • www.akumassa.org adalah media informasi komunitas yang digagas oleh Forum Lenteng Jakarta
    untuk merekam informasi tentang persoalan lokal dalam konteks sejarah dan kekinian yang diproduksi oleh komunitas.

    FB | TWEET
    RSS | Kontak | Jaringan | Forum Lenteng | Jurnal Footage | DariVisual | Context Creative Media