Video akumassa: Membongkar Konsep-Konsep Sentral

Oleh / pada 30 Maret 2009 / di Padangpanjang, Sumatera Barat // 26 Komentar

Memang agak merinding ketika mata tergiring pada proses kreatif masa kini yang ibarat berada di sebuah rel-rel yang sebelumnya terjaga rapi, namun telah dihuni oleh kereta-kereta yang berkecepatan tinggi sambil melompat keluar rel sesuka hati dan mengambil jalur lain. Bahkan di sana sini kini terdapat kereta-kereta yang terkadang mengendap-endap cari penumpang di pangkalan ojek, terminal bus atau di bandara.

suanana-pd-pajang
Presentasi Video akumasa di bioskop Karia, Padang Panjang.

Presentasi Video Akumassa di Sinau, Cirebon.
Presentasi Video akumassa di Sinau, Cirebon.

Memang agak merinding ketika mata tergiring pada proses kreatif masa kini yang ibarat berada di sebuah rel-rel yang sebelumnya terjaga rapi, namun telah dihuni oleh kereta-kereta yang berkecepatan tinggi sambil melompat keluar rel sesuka hati dan mengambil jalur lain. Bahkan di sana sini kini terdapat kereta-kereta yang terkadang mengendap-endap cari penumpang di pangkalan ojek, terminal bus atau di bandara.

Suasana proses workshop Akumasa di Saidjah Forum, Lebak.
Suasana proses workshop akumasa di Saidjah Forum, Lebak.

Kereta itu juga bisa tampil seperti gerobak dan terkadang tanpa diduga ia menjadi pedati, bahkan kereta itu bisa tidak menyadari kalau ia dikatakan kalkulator. Analogi akan hal ini jelas membawa kita pada kesadaran akan makin liarnya –katakanlah seniman– saat melahirkan produk kreatif yang menjadikannya sulit untuk diidentifikasi. Ditambah dengan makin mencairnya hierarki dan batas-batas yang sudah tidak terlalu meributkan ini kereta atau sepeda ataupun kaos kaki, tapi lebih pada persoalan apa yang bisa ditangkap di balik kecairan itu. Bagi mereka yang masih setia dengan sebuah definisi-definisi dengan niat baik untuk meletakkannya dalam kotak-kotak kategori, jelas akan dipusingkan dengan liarnya proses kreatif yang ada. Sebut saja para komunitas teater yang merasa “dirugikan” ketika medium mereka dicaplok oleh praktik yang disebut dengan performance art kemudian digiring ke dalam rel seni rupa. Sehingga tarik menarik antara teater dengan performance art hingga kini masih sangat terasa. Begitu juga dengan video art yang di dalamnya terintegrasi antara bunyi (auditorial), gerak (kinestetik) dan rupa (visual) malah lebih sering direpresentasikan dan dielaborasi dalam persitiwa seni rupa.

Suasana proses workshop Akumassa di Lenteng Agung, Jakarta.
Suasana proses workshop akumassa di Lenteng Agung, Jakarta.
Ki Rabin, video Akumassa Lebak.
Ki Rabin, video akumassa Lebak.
Lapau, video Akumassa Padang Panjang.
Lapau, video akumassa Padang Panjang.
Kalau Cowok Gue, video Akumassa Lenteng Agung, Jakarta.
Kalau Cowok Gue Nginep Gimana?, video akumassa Lenteng Agung, Jakarta.

Namun apa itu dan apa ini suatu kategori bisa menjadi tidak esensial walau di lain hal bisa menjadi penting ketika menyimak bagian-bagian tertentu dari akumassa yang dikomodifikasi dalam medium video. Hal yang boleh dikatakan aplikatif dalam konsep akumassa yang lahir dari buah pikiran Forum Lenteng Jakarta ini, salah satunya adalah menggeser posisi-posisi sentral dalam dunia kreatif.

Teman Nelayan, video Akumassa Cirebon.
Teman Nelayan, video akumassa Cirebon.
Gelanggang Banca Laweh, video Akumassa Padang Panjang.
Gelanggang Banca Laweh, video akumassa Padang Panjang.

Hal ini seperti menohok pandangan konvensional dalam seni yang selama ini memposisikan seniman/pelaku seni sebagai sebuah sentral. Salah satu posisi sentral itu hadir akibat di sana terdapat ‘jiwa-rasa’ yang menopang gerak kontemplasi dan menelurkan ‘meta narasi’ yang terus bertransformasi ke dalam sebuah ‘wacana seni’ dan sebagainya. Dari sini terkonstruksilah sebuah gambaran yang terproyeksi dari satu titik ke titik lainnya yang mana seniman menjadi proyektornya. Alhasil ketika seniman memantulkan huruf A maka ia sejatinya harus di baca A dan begitu seterusnya. Seiring perjalanan waktu kepercayaan macam ini tentu diyakini mulai memudar ketika modernisme sebagai penjaga posisi sentral itu sendiri menjadi ‘paradigma’ yang makin kelihatan pincangnya. Posisi sentral itu mulai dipertanyakan akibat mesin proyektor telah berbalik arah, terbolak-balik dan semakin banyak titik untuk memproyeksikan dan menangkap gambar. Belum lagi hal yang sudah sama-sama diketahui adalah tumbangnya hierarki trans-budaya dunia yang hempasannya mengajak agar bisa memaknai bahkan memberi ruang gerak untuk menafsir ulang kembali setiap kerangka pemikiran maupun praktik kreativitas di peradaban masing-masing.

Negosiasi di Atas Air, video Akumassa Cirebon.
Negosiasi di Atas Air, video akumassa Cirebon
Antara Pasar Minggu - Depok, video Akumassa Lenteng Agung.
Antara Pasar Minggu – Depok, video akumassa Lenteng Agung.
Babi versus Anjing, video Akumassa Padang Panjang.
Babi versus Anjing, video akumassa Padang Panjang.

Kendati seniman sebagai sentral masih memiliki akar yang kuat akibat belum ditemukannya ‘pandangan baru’ saat posisi sentral itu hendak direformasi, namun ini kurang lebih bisa terjawab saat makin masuk ke dalam gagasan yang dikemas dalam akumassa tadi. Secara naratif akumassa memang bisa dimengerti seperti memaknai ruang dan waktu alias ‘masa’ yang berhubungan dengan waktu tertentu dan ‘masa’ yang bersandar pada kumpulan masyarakat. Dalam komodifikasinya dua persoalan ini jelas akan berjalan bersamaan dan memiliki alur yang terstruktur secara alamiah. Dengan menggunakan medium video, seniman/pelaku seni yang selama ini diperlakukan sebagai sentral digeser sejauh mungkin dengan menempatkan kumpulan massa (masyarakat) sebagai representasi kondisi sebenarnya. Sehingga yang tampak dalam video akumassa adalah unsur-unsur objektifitas realitas tanpa dramatisasi dari si seniman. Atau seperti memberikan pilihan-pilihan lain terhadap subversi intuisi seniman yang menjelaskan kondisi atau bagaimana sesuatu terjadi.

akumassa memang berniat menawarkan sebuah kerangka pemahaman dan aturan-aturan referensi tentang bagaimana dunia dikonstruksi oleh massa. Persahabatan, saling percaya, tolong menolong, acuh tak acuh, khusyuk, berteriak, senyum tak percaya, bahagia, tampil apa adanya di layar video. Dengan kata lain tampilan yang lahir di layar video adalah transformasi dari pandangan massa sebenarnya bukan pandangan sang seniman/pembuatnya. Kemudian publik yang menyaksikan video tersebut nantinya sadar ataupun secara tidak sadar matanya akan bertukar menjadi mata massa dan berganti posisi ke sebuah kumpulan massa dalam ruang dan waktu tertentu. Sehingga pemirsa berkesempatan penuh untuk menegasikan dimensi sosial dalam ‘teks’ video dengan makna tanpa meragukan kealamiahan relasi-relasi maupun dialog didalamnya.

Pertanyaannya adalah di mana posisi si seniman atau sang kreator di sini? Jelas dalam akumassa ini tidak ditemukan, karena seniman di sini selain hanya sebagai penyanggah mata massa agar mampu merekam dan menangkap realitas. Paling banter seniman hanya memilih kumpulan atau aktivitas massa mana yang akan ia pilih dan dalam rentang waktu tertentu, selepas itu massa-lah yang akan bercerita banyak.

Jembatan Dua, video Akumassa Lebak.
Jembatan Dua, video akumassa Lebak.
Mak Uniang, video Akumassa Padang Panjang.
Mak Uniang, video akumassa Padang Panjang.
Prejectionist, video Akumassa Padang Panjang.
Prejectionist Tua, video akumassa Padang Panjang.

 

Video akumassa dan Perluasannya

Pada 24 Januari-1 Maret 2009  merupakan waktu yang bisa dikatakan sangat membahagiakan bagi komunitas Sarueh Padang Panjang. Sebab saat itu mereka didatangi sambil mendapat tantangan dari Forum Lenteng Jakarta untuk membuat sebuah video akumassa. Secara teknis, program workshop video ini tentu tidak terlalu menyulitkan bahkan asing bagi anggota Sarueh, karena mereka terdiri dari mahasiswa jurusan Pertelevisian Sekolah Tinggi Seni Indonesia Padang Panjang. Namun hal yang bisa di katakan baru bagi mereka adalah konsep akumassa itu sendiri yang mana bisa terlihat mengejutkan sebagian dari mereka akibat ‘menihilkan’ kompleksitas teknis dan wawasan yang telah dimiliki anggota komunitas Sarueh. Memang benar, dan itulah yang terjadi. Program akumassa yang saya tangkap memang tidak terlalu sibuk dengan matematisasi teknis pengambilan gambar. Salah satu latar dari ini adalah membangun kepercayaan diri bagi siapa saja untuk tidak takut menggunakan dan bermain dengan media video akibat di kangkangi segudang fitur kamera, etika, komposisi, sudut pandang yang menghadang. Singkat kata, siapa saja bisa menggunakan kamera dan membuat video termasuk anak kecil.  Namun harus segera disadari bahwa konsep macam ini bukan sebagai usaha untuk menutupi ketidakmampuan teknis yang sebenarnya merupakan bagian yang telah disadari penting sebelumnya.

Penambang Kapur di Buki Tui, video Akumassa Padang Panjang.
Penambang Kapur di Bukit Tui, video akumassa Padang Panjang.
Sementara Kami di sini, video Akumassa Lenteng Agung.
Sementara Kami di sini, video akumassa Lenteng Agung.
Tepian Sungai Ciujung, video Akumassa Lebak.
Tepian Sungai Ciujung, Video akumassa Lebak.

Kendati dalam pelaksanaan akumassa di komunitas Sarueh terlihat sederhana secara teknis, namun bukan berarti tidak ada hal yang menantang. Kekeliruan sangat bisa terjadi di sini ketika sentaralistik sang kreator masih menggebu-gebu. Alhasil kebiasaan ini akan menelurkan karya yang sangat subjektif dan bisa mengkonstruksi realitas yang arbitraris. Belum lagi masalah posisi pengambilan yang kalau tidak peka akan menampilkan karakteristik fotografi atau sekedar reportase dan dokumentasi. Sehingga mata massa yang diharapkan akan mewakili realitasnya menjadi tersembunyi akibat ketidaktepatan menata dan memilih sudut pandang.

Harus diakui akumassa memang memberikan tantangan tersendiri bagi perkembangan dunia kreatif di Indonesia. Sebab perkembangan sebuah pergerakan memang diawali oleh temuan-temuan yang tersadar dari sikap revolusioner. Walau awalnya ini bisa membuka sebuah keterpinggiran namun akan menjadi terhormat ketika ia berotasi ke tengah dari pada bernostalgia di garis dominan namun siap terpelanting kepinggir akibat gagasan-gagasan yang revolusioner itu.

Ibrahim
(Penggiat Komunitas Belanak, Padang)

Tentang Penulis

akumassa forum lenteng

Website: http://akumassa.org/

www.akumassa.org terbit didasari atas gagasan tentang jurnalisme warga, masyarakat khususnya pekerja kreatif muda (usia 20-30 tahun) yang dapat memanfaatkan teknologi modern dan internet global ini sebagai media informasi alternatif dan juga untuk melengkapi maupun memeriksa fakta-fakta yang diberitakan dalam media. Apa yang dikerjakan oleh Forum Lenteng selama ini, adalah sebuah usaha mengumpulkan narasi-narasi kecil tentang kota, Jakarta khususnya. Narasi-narasi yang dituturkan ’sendiri’ oleh masyarakatnya. Karena selama ini berita-berita yang diketahui oleh masyarakat berada pada kuasa media massa besar. Dengan gagasan tersebut di atas Forum Lenteng berinisiatif untuk membuat media massa alternatif berbasis jaringan internet dalam bentuk blog yang diaplikasikan ke dalam program dan ide akumassa. Isi dalam artikel-artikel yang terbit dalam www.akumassa.org berisi tentang kepingan-kepingan kecil akan sejarah dan peristiwa di tiap kota dampingan ataupun kota di luarnya.

26 Komentar pada "Video akumassa: Membongkar Konsep-Konsep Sentral"

  1. cak rob 30 Maret 2009 pukul 17:12 · Balas

    dashyat….

  2. Tohjaya Tono 30 Maret 2009 pukul 19:51 · Balas

    Apakabar kawan kawan akumassa! haha …salut dengan gagasan ini
    Gagasan kawan kawan tentang reformasi cukup menarik. Dalam hal ini saya juga tergelitik untuk ingin mengajukan pertanyaan-pertanyaan kenapa posisi profesi seniman di indonesia muncul.
    Sampai saat ini saya juga sedang mencari bahan bagaimana bangunan bangunan pendidikan kampus seni itu berdiri di Indonesia terutama awal dekade kampus ITB muncul dan juga ASRI juga berdiri. Teman saya juga pernah berjanji untuk memberi sebuah tulisan atau makalah kalau tidak salah sardjoko( kalau salah diralat kalau anda mendapatkannya kirim ke tohjayatono@gmail.com) sampai saat ini saya belum mendapatkannya. kalau ada kawan yang mempunyai data berdirinya kampus-kampus dan berangkatnya apa, bagaimana dan untuk apa metode metode pendidikan itu berjalan di tanah kita. Dengan demikian kita bisa merunut bagaimana profesi itu bisa muncul dan di butuhkan pada peradabannya. Pertanyaan seniman sebagai sentral akar yang kuat saya harap bisa terjawab dan cair dengan membedah ‘pandangan baru’ posisi sentral yang hendak direformasi. Selamat berjuang kawan kawan akumassa!

  3. Tohjaya Tono 30 Maret 2009 pukul 20:22 · Balas

    Ralat: Apakabar kawan kawan akumassa! haha …salut dengan gagasan ini
    Gagasan kawan kawan tentang reformasi cukup menarik. Dalam hal ini saya juga tergelitik untuk ingin mengajukan pertanyaan-pertanyaan kenapa posisi profesi seniman di indonesia muncul.
    Sampai saat ini saya juga sedang mencari bahan, bagaimana bangunan bangunan pendidikan kampus seni itu dibutuhkan di Indonesia terutama sebelum dekade kampus ITB muncul dan ASRI juga. Teman saya juga pernah berjanji untuk memberi sebuah tulisan atau makalah (kalau anda mendapatkannya kirim ke tohjayatono@gmail.com) sampai saat ini saya belum mendapatkannya. kalau ada kawan yang mempunyai data berdirinya kampus-kampus dan berangkatnya apa, bagaimana dan untuk apa metode metode pendidikan itu berjalan di tanah kita. Dengan demikian kita bisa merunut bagaimana profesi itu bisa muncul dan di butuhkan pada peradabannya. Pertanyaan seniman sebagai ‘sentral akar yang kuat’ saya harap bisa terjawab dan cair dengan membedah ‘pandangan baru’ posisi sentral yang hendak direformasi. Selamat berjuang kawan kawan akumassa!Salam Reformasi!

  4. d1v12Art 31 Maret 2009 pukul 13:22 · Balas

    wow..

    klo bleh,,gw kasi judul baru ni tulisan

    “perspektif perupa dalam sastra terhadap akumassa”

    hkhkhkhkhkhk….
    keren bg..tulisannya…

    klo bleh nambahin

    gw sebagai partisipan akumassa

    akumassa adalah adalah sebuah konsep baru dalam dunia audio visual yang pendekatannya lebih ke dokumenter, dan akumassa mencoba untuk memperkecil wilayah subjektif si pembuat terhadap bingkaian yang akan diframming

    dan semoga saja akumassa ini bisa dikembangkan dan dipakai oleh mereka pengkarya dokumenter, karena konsep akumassa bukan milik pratisipan saja..
    namanya saja akumassa..aku massa, berarti milik aku dan massa yang lainnya..

  5. jh4rot 31 Maret 2009 pukul 14:11 · Balas

    wahhh ada foto gw
    asikkk…

  6. Hafiz 31 Maret 2009 pukul 16:25 · Balas

    Akumassa bukan saja tentang bagaimana melepaskan sentral seniman yang selama sering lebih banyak “menipu” masyarkat dengan estetika sendiri, tapi merupakan cara lain melihah wajah kita sendiri dengan lebih jernih. Lihatlah seniman kita sekarang, semua berlomba-lomba membuat monumen diri sendiri. Tidak banyak seniman kita yang berusaha untuk memproduksi ilmu pengetahuan (knowlegde producing). Asik sendiri. Jadi, kalau bicara tentang Akumassa, ini hanyalah salah satu cara lain untuk melihat fenomena dan persoalan-persoalan kecil di sekitar kita. Untuk itulah sebenarnya Akumassa bukan untuk memproduksi seniman. Tapi, memproduksi informasi dengan perspektif yang dicoba dengan cara yang beda.
    Untuk data tentnag ASRI dan ITB, Anda silakan datang ke kampus-kampus itu untuk bertanya. Karena dari sanalah kelihatan keseriusan untuk membongkar dan keseriusan dalam menjalankan riset.

    Salam
    Hafiz

  7. koordinator program aku massa, forumlenteng 1 April 2009 pukul 11:00 · Balas

    ibrahim anak baik,
    mungkin posisi seniman kali ini tidak perlu dipertanyakan lagi, darling. karena kita bercerita tentang kita dan orang2 sekitar kita. itu saja.

  8. hafiz 1 April 2009 pukul 15:34 · Balas

    Ibrahim yang baik, tidak perlu merasa lancang. Seniman tetap perlu dibicarakan, tapi mungkin dalam perspektif yang berbeda. Masih perlukah kita menempatkan diposisi yang spesial? Padahal apa bedanya seniman dengan penjual sate atau pegawai bank. Kan selama ini kalangan seniman sendiri yang selalu menganggap dirinya beda. Dan selalu merasa tersanjung dibilang sama masyarakat sebagai orang “gila”. Ada suatu kata yang menarik dalam pernyatan Salvador Dali tentang orang gila: hanya ada satu yang membedaka saya dengan orang gila yaitu saya tidak gila” Dlam hal ini gerakan perubahan dalam kesenian eropa juga sebenarnya mencoba melepaskan hal-hal yang sentral itu. Seperti gerakan surrealisme yang di sini “hanya” dikenal sebagai gerakan visual (yang aneh2) padahal itu sebuah gerakan politik kebudayaan melawan burjuasi dan moralitas kalangan elit tertentu di eropa. Jadi, sebenarnya kesenian bukan hanya berhenti ada individu-individu yang asik pada wilayah estetika atau wahyu/inpirasi belaka. Kesenian juga wilayah kenyataan-kenyataan sosial yang seharusnya seniman ada di dalam itu. Terminologi seniman dalam akumassa memang tidak dipakai. Karena memang Akumassa mencoba menghilangkan dominasi sentral dari individu-individu tertentu. Yang diutamakan adalah kolaborasi dan bekerjasama, sharing knowledge. Juga, bukan berarti mengabaikan individu-individu untuk menjadi dirinya sendiri. Tapi, minimal dengan kerja bersama ini kita bisa membagi pengalaman ke masyarkat dengan cara berasama-sama pula. Kalau pun nanti ada kawan-kawan di sini (partisipan akumassa) ingin menjadi seniman, minimal ada pengalaman society yang konkrit yang dialami dalam proses berkarya dan memproduksi informasi dalam akumassa.

    salam
    Hafiz

  9. din 1 April 2009 pukul 15:41 · Balas

    Karena baru beberapa waktu mengenal Akumassa kami masih blm Faham Visi & misinya ..

  10. Tohjaya Tono 1 April 2009 pukul 17:37 · Balas

    hehe wah ramaaii ck ck ck!! hihihi..Aku senang diskusi bisa jadi lebih hidup karena aku berdiri dari massa dan aku bagian dari massa tak menjadi penonton pasif yang akhirnya nanti menjadi gila padahal tidak…Salam Reformasi! Aku pikir bung Ibrahim tak perlu minta maaf heheh…di sini kita berdiri bersama sama ..bukankah suasana itu yang kita inginkan sampai pada titik faham tentang visi apa yang dilakukan kawan kawan yaitu menghilangkan dominasi sentral?!

    Salam

    Tono

  11. omjojon 2 April 2009 pukul 06:56 · Balas

    gak tau ini nyambung apa gak. yang jelas proses berkesenian kita mungkin sekarang sudah seharusnya turun gunung dan sudah bukan waktunya mendem di gua adiluhung yang membuat kita tertidur dan melupakan kenyataan-kenyataan realitis yang kita dapati disekitar kita dan masyarakat. pada kasus akumassa ini misalnya sipembuat karya video mak.uniang tentu bukan seorang yang melulu suntuk dengan hal-hal berhubungan audio visual tapi dia juga manusia yang kalau lapar dia akan mencari nasi di dapur atau mencarinya ke warung-warung nasi terdekat jadi apa yang membedakan si pembuat video mak uniang dengan mas tris (salah satu penghuni kontrakan di matrial yang terkadang mendapat pesanan membuat lemari dan kursi)jika nantinya sipembuat video ini kesohor dan filemnya banyak diminta dan diputar diseluruh belahan dunia itu hanya imbas dari sikap apresiasi masyarakat atas karya kita.

  12. Tohjaya Tono 2 April 2009 pukul 16:49 · Balas

    hihihi omJojon salam kenal…nama ente mirip pelawak top ibu kota. Ya menurutku sukur alhamdullilah jika ada yang meng apresiasi. Biarlah karya itu lepas seperti busur,ia sudah menjadi subyek. Tanya deh ama hafiz kalo tak percaya hiihi. Publik akan menilai karya itu bohong apa tidak. Video mak Uniang tidak seperti ayam goreng buatan MC Donald memproduksi massal. Tiap hari bisa sampai membunuh ayam sampai ribuan atau bahkan jutaan lebih tiap hari untuk kepentingan koorporasi besar bernama kapitalisme. Hushh!!! husshh!!!
    Aku jadi teringat affandi, ya dia lebih senang berada di pinggir melihat kenyataan lalu mencatatnya sebagai bagian dari hidupnya hehehe hidup bareng ma teman-temanya di sanggar ngobrol2 ampek tak ada batas waktu mungkin kalau kuliah lebih dari 10 sks….Aje gile seniman banget yakkkh?! Esok nya juga tak tau kemana kawan2 nya berjalan kemana. Tak seperti si Ibu Arab pemilik kontrakan matrial di lenteng agung lupa pohon rambutannya kalo sudah berbuah berwarna merah nampak menggiurkan dipandang mata….untung ada si Min ngingetin sang pemilik kontrakan. Si Fadhil penghuni kontrakan dilarang ngambil buahnya karena buah rambutannya sudah di lirik pedagang pasar, alhasil si fadhil gigit jari dehhh….huhahahahahaha. Oh ya Jon…Aku juga sering memakinya siiiiiii… dasar Arab pelit!!! Otaknya dagang mulu…hihihi

  13. koordinator program aku massa, forumlenteng 2 April 2009 pukul 18:36 · Balas

    ibrahim, anak yang baik,
    itu bukan peringatan, melainkan bagian dari diskusi terbuka kita di blog kita bersama ini. dan aku salut sekali dengan tuisanmu yang sampai sekarang masih memegang rekor diskusi terbuka paling ramai dan berbobot. kami menunggu tulisan2mu berikutnya.salam aku massa

  14. linda gusnita 2 April 2009 pukul 21:07 · Balas

    allowww om ……
    seneng de liat tulisan om di aku massa ini….
    tq bgt….
    apapun itu ttg aku massa yg pastinya aku massa nyadarin gw akan kepedulian gw dengan lingkungan sekitar….bravo bwt tmn2 aku massa ….

  15. d1v12Art 2 April 2009 pukul 22:42 · Balas

    wow…..
    keren………

    orang-orang baik berbicara menurut kebenarannya dan tuhannya…
    heheheeh……..gw ngaur……ya…..hahahahahaha……………..

    seniman..
    menarik juga tuh..

    gw mo nanya..
    apa bedanya orang yg nganggap dirinnya seniman diluaran sana..(jangan marah ya..)
    dengan orang yang mencoba meraih gelar seniman: S.sn (sana sini nonkrong)dalam bangku perkuliahan..yang memiliki batasan gerak,,antara tugas dengan karya..karya apa tugas ya..??
    apakah tugas itu karya? or tugas tetap tugas..yg pencapaiannya hanya untuk nilai ( A/B/C/D/E)

    trus…
    seniman adalah pelaku seni (benar ngga ya..?hahahaha)
    bagaimana dengan tukang sate, yang membuat ketupat dengan daun kelapa yang hasilnya menurut gw ada nilai seninya, karena tukang sate pasti bikinnya dengan keindahan mata dan rasa yang dimilikinya, seperti yg bg Hafiz bilang “Padahal apa bedanya seniman dengan penjual sate atau pegawai bank”
    trus..dengan tukang perobat (benar ngga ya) yang bikin lemari, kursi,meja..yang disebut pekerja..apakah itu bisa disebut seniman? Karena di kampus tercinta gw STSI Padangpanjang (tetep bangga dunk,hkhkhkhk) disini ada namanya jurusan kriya,,yang kul.Seninya(hahaha)berhubungan dengan palu,gergaji,paku,kayu balok. Dan TA nya(bukan titip absen ya,hhahaha)bikin lemari, kursi, lampu dinding, dll. Maap ya..malahan klo gw bleh milih..lebih bagus yang dijual di prabot. Nah..gmn ke senimannya???? or apakah karya seorang seniman hanya milik mereka/ kalangan tertentu?

  16. hafiz 4 April 2009 pukul 11:25 · Balas

    Semua profesi itu sama saja menurut saya. Persoalannya adalah seniman sering menganggap dirinnya “beda” di tengah masyarakat. Ini yang menjadi problem. Jadi, kreatifitas bisa saja untuk siapa saja. Apakah itu berjalan di wilayah seni atau bukan, itu tetap saja dianggap sebagai kreatifitas. Jadi, seorang penjual bakso atau pembuat kriya, dia tetap saja memproduksi kreatiitas. Sekarang apakah kita memasukan kreatifitas itu “relate” dengan masyarakat? Ini yang menjadi penting. Seorang penjual bakso “relate” dengan masyarakat.
    Menurut saya, tugas kuliah tetap bisa dianggap karya. Juga bisa dianggap bukan karya. Jadi, anda bisa memilih apakah anda melihat itu sebagai sesuatu yang punya ikatan dengan diri anda sendiri. Jadi, marilah kita memproduksi kreativitas.

    Hafiz

  17. proses 6 April 2009 pukul 01:28 · Balas

    Saya ditawarkan teman saya untuk membuka blog ini, dimana ia tidak mau mengasi tau saya tentang apa itu aku massa. Ketika saya buka pertama kali saya tertarik untuk membaca (Video akumassa: Membongkar Konsep-Konsep Sentral). Setelah saya baca, mungkin ini bisa membantu saya untuk memahami aku massa, dan ada beberapa point yang saya anggap penting

    1. video akumassa adalah unsur-unsur objektifitas realitas tanpa dramatisasi dari si seniman
    2. Seniman sering menganggap dirinnya “beda” di tengah masyarakat
    3. Akumassa mencoba untuk memperkecil wilayah subjektif si pembuat
    4. Akumassa bukan saja tentang bagaimana melepaskan sentral seniman yang selama ini sering lebih banyak “menipu” masyarkat dengan estetika sendiri

    Saya sangat menyukai yang nama-nya audio visual, sepengetahuan saya film terbagi tiga fiksi, eksperimental, dan dokumenter (ini diluar media yang kita gunakan). Fiksi tidak lepas dari interpretasi imajinatif si pembuat. Dokumenter dikenal dengan realita. Eksperimental memiliki struktur yang dibentuk oleh insting subyektif si pembuat terhadap gagasan, ide, emosi, serta pengalaman batin mereka.
    Tapi bagi saya fiksi, dokumenter, eksperimental tidak lepas dari subjektifitas si pembuat.
    Bagaimanakh dengan dokumenter? Yang mengutamakan kata realita? Karena ketika si pembuat melihat sebuah realita, subjektifitasnya akan tetap ada. Dan itu bukan realita lagi secara tidak sengaja sudah ada pengadegan yang ada dalam fikiran si pembuat, sebuah estetika gambar dan cerita yang di tawarkan si pembuat. Seakan memaksa penonton bahwasanya realita itu adalah seperti sebuah settingan struktur yang diinginkan oleh si pembuat.

    Bagaimana dengan aku massa?
    Beberapa judul karya aku massa yang saya copy di bawah ini

    1. Jembatan Dua, video akumassa Lebak.
    2. Lapau, video Akumassa Padang Panjang.
    3. Teman Nelayan, video akumassa Cirebon.

    Saya melihat karya ini sebuah realita yang cukup terabaikan oleh pandangan keseharian mata manusia yang bersentuhan di daerah tersebut. Hasil pemahaman saya ternyata kata realita itu muncul lagi. Sebuah realita, berarti kata riset itu tetap ada. Ketika riset kita melihat berbagai realita yang ada. Secara tidak langsung otak manusia sudah bekerja, si pembuat sudah mulai memikirkan seperti apa karya yang akan dibuat. Sebuah estetika bahkan semiotika gambar sudah terkotak-kotak dalam imajinasi si pembuat. Karena sepulang riset, si pembuat sudah membayangkan bentuk visualisasi rangkaian shot yang akan di transformasikan ke kamera. Visualisasi? Tidak lepas dari sebuah imajinasi. Artinya subjektifitas akan tetap ada, pengadeganan dibenak si pemegang kamera akan tetap ada, bloking kamera sudah ditentukan ketika riset, jika bloking sudah ditentukan kata dramatisasi untuk estetika visual dan cerita itu akan tetap ada.
    Dan itu menurut pemahaman saya yang mencoba memahami aku massa sesuai dengan apa yang saya baca, pengalaman, pengetahuan saya dan sebuah kata proses yang masih saya jalani.
    Semoga saya mendapat sanggahan yang membantu saya untuk lebih memahami apa itu aku massa?

    terima kasih

  18. koordinator program aku massa, forumlenteng 6 April 2009 pukul 09:32 · Balas

    mas/mbak proses yang baik,
    terimakasih atas komennya.
    tentu saja semua poin yang anda sebut di bagian akhir tidak bisa dihindari, karena dengan membuat video saja kita sudah melakukan sebuah pembingkaian terhadap sebuah persoalan, dan secara otomatis terlibat dengan semua perangkat yang menjadi aturan main si kamera video itu sendiri.
    dalam proses kerja aku massa, kami meminimalisir subjektifitas dengan cara kerja kolaborasi. tidak ada karya individual di sini. setiap ide dan konsep karya dibuat oleh lebih dari 3 orang selalu, bahkan jumlah pekerjanya lebih dari 10 orang yang mana semua terlibat dari awal riset, membingkai persoalan menjadi sebuah ide video sampai eksekusinya. dalam proses produksi kita menghindari subjektifitas teknifikasi medium, sebagai contoh: teknik pembesaran atau pengecilan objek ambilan, sperti yang selalu kita lakukan saat kita di belakang kamera, di mana kita memiliki otoritas penuh terhadap objek ambilan (subjektifitas). dengan cara itu kita mencoba kemungkinan kamera akhirnya hanya akan mewakili mata massa, bukan mata kamerawan atau sutradara. termasuk di antaranya sudut pengambilan gambar. begitu seterusnya sampai proses penyuntingan gambar.

    aku massa bukan sebuah kerja yang ingin menggurui atau menafikan semua definisi yang sudah ada. ini adalah salah satu cara kerja melihat masyrakat yang juga kita berada di dalamnya, melalui sudut pandang massa sendiri. diharapkan maka dari sana akan menyeruaklah isu2 lokal indonesia yang selama ini tidak diproduksi oleh media, karena dengan memandang melalui sudut pandang massa, maka kita kan membaca sekumpulan narasi2 kecil dalam kehidupan sosial kita sendiri.

    salam

  19. koordinator program aku massa, forumlenteng 6 April 2009 pukul 09:37 · Balas

    masih untuk mas/mbak proses,
    mungkin juga kita bisa membaca proses kerja ini sebagi kritik terhadap ‘seni’ yang selama ini terlihat begitu agung, sampai-sampai sulit dikenali oleh orang yang bukan ‘seniman’ secara identitas.

  20. Salam,
    Aku hanya ingin mengucapkan selamat apa ya?kalau waktu sudah menunjukan pukul 03.51 WIB. Oh, sungguh bodoh aku-kurun waktu dalam satu hari pun aku tak tahu. memang malang nasib orang yang bodoh ini.
    bagaimana ya cara seniman yang sering ‘berbicara’ dalam bahasa simbolik bersosialisasi? Apakah jika ia berbicara kepada wanita cantik, ia akan berkata “wahai bunga yang merekah!” atau kata – kata lain yang serupa. Mohon bimbingannya untuk orang yang tersesat ini.
    Terima Kasih

    - Waktu sekarang menunjukan pukul 03.59 WIB

  21. A.Musyafa 28 April 2009 pukul 22:27 · Balas

    jadi ingat lagi tulisannya mas Dami N. Toda :
    ……………….Diksi puisi tidak terikat pada definisi “bahasa, kata, morfem dan fonem” menurut sejarah kamus dan paradigma linguistic. Puisi terus ditulis penyair (tanpa batas pembedaan kelamin laki atau perempuan) bersetia azas “mencari” dan menciptakan (baru). Tiada definisi. Karena definisi berarti mandek. Tetapi terus mencipta. Mencari untuk mencipta (lagi).
    ( Dami N. Toda : “What is Poetry? Who and What is a Poet?”
    Afterward for “Santa Rosa by Dorothea Rosa Herliany”)

  22. Sumycin 22 Oktober 2010 pukul 08:52 · Balas

    News. Today

  23. Sumycin 22 Oktober 2010 pukul 08:52 · Balas

    News. Today

  24. Ibrahim anak baik 31 Maret 2009 pukul 17:19 · Balas

    Wah judul baru yang di usulkan dengan sebutan “perspektif perupa dalam sastra terhadap akumassa” keren juga tuh. Apalagi kalau ada tulisan baru dari judul ini ada pasti lebih keren lagi. Sebenarnya antara sastra sama rupa di mata aku ya sama aja, sama dalam pengertian ketika memanifestasikanya kedalam bentuk sesuatu dalam rangka membaca posisi sang kreatornya. Ketika segala sesuatu (manifestasinya) itu telah berubah/menjadi bentuk, gerak, bahasa (teks), ada hal lain yang bisa membedakannya. Katakanlah rumusan formalnya kalau masih percaya dengan ini, seperti unsur visual, estetika, etika dan lain. Masing2 dari disipilin tersebut saat membaca dan menerapkan unsur visual, gerak, bunyi, dll sangat tampak memiliki cara penerjemahan dan penerapan yang pariatif.

    Namun aku terus terang mengatakannya saat melihat akumassa jelas segala unsur tadi menjadi satu dan cair. Sebab kita tahu dan juga tidak salah kalau apa yang di antarkan oleh seniman selama ini bukanlah gambaran dunia yang sebenarnya (yang bisa difahami masyarakat banyak) melainkan dunia yang di idamkan, dibenci atau yang dihayalkan si seniman. Sehingga disini tampak seperti “mengelak” dari realitas yang lain. Nah apakah akumassa itu tidak membongkar posisi sentral? tergantung susut pandang, walau dalam dunia sastra posisi sentral cukup heboh gara2 om derrida itu. Ya kalau masalah “posisi sentral” harus dilihat hanya dari sastra aku menganggap terlau kaku dan bukan itu yg aku tangkap dari terjemahan masalah “sentral” dalam sastra. Tapi jangan kuatir akumassa juga bisa dilihat dari sudut sastra, sosiologi, antropologi, bahkan sains. Jadi buat dong akumassa dari perspektif sastra pasti menarik!

  25. Ibrahim anak baik 1 April 2009 pukul 03:35 · Balas

    Salam REFORMASI,
    Kalau dikatakan “membedah posisi sentral” jelas pekerjaan atau jawabannya sudah lama ditemukan oleh masyarakat seni, ini dibuktikan ketika muncul ungkapan bahwa “nilai, makana, tidak lagi ditentukan oleh seniman maupun karyanya, namun nilai atau makna itu akan hadir dan tampak ketika bagaimana kita membaca sebuah karya seni”. Pernyataan macam aku rasa sudah tidak asing dan jika di telusuri lebih dalam jelas ungkapan ini sudah menggeser posisi sentral namun masih di tingkat teoritik. Jadi perjuangan yang di maksud untuk mereformasi posisi sentral secara teoritik sudah membuka jalan namun dalam bentuk kerja empirik yg sulit di temukan akibat praktek kesenian “dominan” dan dielaborasi sedemikian rupa masih menjaga posisi sentral(itulah yang masih mengakar). Lain halnya yang aku temukan di dalam akumassa bahwa dalam menghadirkan produk kreatifnya telah mengkonfigurasikan antara wacana dan praktek kreatifnya dalam rangka membongkar posisi sentral, dan tidak dalam praktek lain yang disatu sisi menggeser posisi sentral namun disisi lainya mempertahankan posisi sentral.

    Kalau bicara peradaban udah jelas kalau kampus seni seperti ITB atau ASRI dan hampir seluruh kampus seni di Indonesia awalnya berangkat dari pemahaman peradaban yg menjaga posisi sentral. Adapun itu peradaban Barat yang sekarang udah kelihatan belangnya. Dan “posisi sentral adalah sebuah cap” yang sudah diadobsi dari barat yg kemudian di terapkan dalam masyarakat seni Indonesia melalui pendidikan. Sedangkan secara kultural-lokal jelas posisi sentral tidak di kenal akibat pelaku seni bersifat anonim dan tidak otonom seperti yang di yakini peradaban barat. Ini bisa di lihat dari produk kesenian yang ada di Indonesia yg mana pada umumnya bahkan semuannya merupakan representasi dari kesepakatan komunal bukan ekspresi personal. Tapi yang harus di garis bawahi aku tidak mengatakan menjaga posisi sentral salah dan membongkar posisi sentral benar atau sebaliknya, namun bagaimana memciptakan sebuat trobosan itu aja…

  26. Ibrahim anak baik 1 April 2009 pukul 14:18 · Balas

    Terimakasih atas “perigatannya”

    Kan itu yang aku sampain dalam SALAM REFORMASI kalau pertanyaan posisi seniman itu udah selesai. Maaf aku kira disini bisa buka diskusi dan sekali lagi maaf kalau aku udah lancang memberikan pandangan.

    Salam

Tinggalkan Komentar

comm comm comm

www.akumassa.org adalah bagian dari program akumassa yang digagas oleh Forum Lenteng sebagai sebuah program pemberdayaan komunitas dengan berbagai media komunikasi, antara lain: video, teks, dan suara. akumassa memiliki strategi: penggerakan motivasi, memproduksi karya, pendokumentasian, berkelanjutan, pemberdayaan medium filem dan video, berbagi informasi serta merekam potensi lokal dengan cara berkolaborasi dengan komunitas dampingan.

akumassa:
Jl. Raya Lenteng Agung No.34 RT.007/RW.02
Lenteng Agung - Jakarta Selatan
DKI Jakarta 12610
Telp. (+6221) 78840373

www.akumassa.org // info@akumassa.org

© Agustus 2008 - 2009 ( akumassa )

// Forum Lenteng // Jurnal Footage // Arkipel // Dongeng Rangkas // Naga // Anak Sabiran // Radio akumassa //