Makan Bersama Raja di Nagari Badewa
Oleh M Fandi Taufan / pada 10 Februari 2011 / di Padangpanjang, Sumatera Barat // 6 Komentar
Abai. Itulah nama daerah yang harus aku kunjungi guna membantu ujian akhir Strata 2 (S2) salah satu mahasiswa Pasca Sarjana ISI (institut Seni Indonesia) Padangpanjang. Untuk tiba di Abai, aku harus menempuh waktu sekitar enam jam dari tempat kosku yang berada di Padangpanjang.
Aku melewati Danau Atas dan Danau Bawah atau biasa dikenal dengan nama Danau Kembar yang berada di kota Solok Sumatera Barat. Aku berangkat bersama temanku dari Padangpanjang pukul lima sore, setelah sebelumnya menunggu mobil yang akan menjemput kami.
Seminggu sebelum keberangkatan aku pun sempat mencari informasi tentang daerah tersebut, tetapi hasilnya nihil. Sampai-sampai ada yang mengatakan Abai itu berada di daerah Pasaman, bagian pesisir Pulau Sumatera. Itu berarti aku berada dalam perjalanan ke sebuah daerah yang belum pernah aku jejaki.
Dengan bermodal penasaran yang dalam tentang daerah tersebut, aku pun mulai menikmati perjalanan dengan melihat kebun teh di daerah Solok. Sesampainya di daerah Danau Kembar waktu menunjukkan jam 7 malam, itu berarti aku telah menempuh perjalanan sekitar 2 jam.
Selama perjalanan aku berbincang-bincang dengan teman yang sudah pernah ke sana. Mitosnya ternyata wanita-wanita Abai sangat cantik dilihat, namun hanya jika di dalam kampungnya saja, tapi kalau mereka sudah ke luar Abai, mereka akan terlihat biasa-biasa saja. Itulah kenapa daerah tersebut dinamakan Nagari Badewa (Desa Berdewa). Masyarakat di sana masih percaya dengan adanya dewa, walaupun mayoritas mereka beragama Islam.
Mobil kami pun mulai memasuki Kabupaten Solok Selatan. Namun, perbincangan dan rasa penasaranku masih berlanjut. Abai juga dikenal dengan negeri yang mempunyai tiga raja yang disebut Rajo Nan Tigo Selo dan salah satunya diberi gelar Tuanku Rajo Putiah. Ia merupakan raja tingkat ke dua dari tiga tingkatan raja di daerah itu.
Sudah pukul 23:00 WIB. Namun penasaranku dengan daerah yang berada di Kecamatan Sangir, Batang Hari ini pun belum selesai. Di Abai dulu terdiri dari satu kerajaan, namun karena sesuatu hal, kerajaan tersebut terpisah menjadi tiga bagian yang disebut Tiga Jorong. Jorong merupakan wilayah terkecil dalam sebuah nagari (desa). Dalam satu jorong dipimpin oleh seorang raja.
Nagari (desa) Abai mempunyai ketinggian 400–1200 Meter di atas permukaan laut dan memiliki luas sekitar 10 Hektar. Yang unik lagi dari daerah ini adalah, setiap orang yang akan memasuki Abai dengan maksud jahat, maka dia tidak akan menemukan Abai.
Praakk….. Tiba – tiba mobil kami terhenti karena ban depan sebelah kanan masuk lubang besar.
“Tenang itu berarti kita sudah hampir dekat dengan Abai,” sahut teman di sebelahku.
Kami harus menempuh waktu 2 jam lagi untuk melewati jalan yang berlubang dan di kelilingi Hutan Karet. Masyarakat asli Abai mencari nafkah dengan menanam Sawit dan Karet.
Sambil mobil kami bergoyang ke kiri dan ke kanan setiap masuk lubang dan dengan kecepatan 20–40 Kilo Meter per jam, kami pun memulai perbincangan kembali tentang daerah yang berada di Kecamatan Sangir, Batang Hari, Kabupaten Solok Selatan.
Nagari Abai merupakan daerah yang memiliki hukum adat sangat kuat, hukum ini lebih berperan besar dari pada hukum pemerintahan. Masyarakat hanya akan mengikuti peraturan adat daripada peraturan pemerintah setempat. Konon dahulunya daerah ini diceritakan tidak pernah dapat di taklukkan oleh Kerajaan Pagaruyuang yang pernah dipimpin oleh raja yang terkenal, Aditiwarman.
Separuh perjalanan, mobil kami berpapasan dengan mobil truk yang mebawa Sawit. Itu berarti salah satu harus mengalah. Karena jalan yang kami tempuh selain berlubang, jalannya pun hanya cukup untuk satu mobil. Karena sebelah kiri terdaat jurang yang di bawahnya terdapat Sungai Batang Hari, sedangkan di sebelah kanan terdapat tebing yang menjulang.
Nagari yang memiliki curah hujan 20 – 30 Celcius ini mempunyai banyak kebudayaan yang belum pernah aku jumpai. sebelumnya. Di antaranya Batombe.
Batombe adalah sebuah kesenian sastra tutur yang lahir dari daerah ini. Ritual Batombe hanya boleh diadakan dalam acara-acara besar atau penikahan masyarakat yang boleh dibilang ternama di daerah tersebut.
Konon, Batombe sudah menjadi adat sebelum Islam masuk. Sebelum melakukan Batombe masyarakat harus memotong kerbau terlebih dahulu. Dan masyarakat percaya ketika Batombe diadakan, maka para dewa-dewa mereka turun ke Bumi dan menjaga mereka selama kegiatan Batombe berlangsung. Batombe biasanya diadakan hingga jangka waktu dua sampai empat minggu di sebuah Rumah Gadang (rumah adat Minangkabau).
Ada yang menarik dari Batombe, yaitu banyak muda-mudi yang menemukan jodohnya lewat acara adat ini, karena dalam Batombe dua orang bersahut-sahutan, bisa antara laki-laki atau perempuan, dan ketika itulah mereka dapat menyampaikan maksud mereka dengan sastra tutur Batombe. Mereka saling berbalas kata-kata dengan irama seperti orang mengaji, diiringi dengan sebuah alat musik yang di sebut Rabab (alat musik yang menyerupai biola, memiliki 3 sampai 4 senar).
Namun, aku juga diingatkan oleh teman bahwa tidak boleh mengambil gambar atap Rumah Gadang sebelum atap tersebut diberi hiasan. Karena dipercaya atap Rumah Gadang tersebut dihuni oleh berbagai makhluk yang menjaga rumah itu.
Akhirnya kami sampai dan berhasil masuk ke Nagari Abai. Dari kejauhan sayup-sayup terdengar suara seperti orang mengaji. Jam tanganku sudah menunjukan pukul 02:00 WIB. Aku heran kenapa jam segini masih ada orang mengaji.
“Itu orang sedang Batombe” sahut temanku.
Akhirnya kami sampai di tempat yang dituju, kami pun disambut dengan keramahan warga Abai, dan ketika aku menjejajkkan kakiku di tanah Abai aku merasakan sebuah keakraban daerah ini dengan segala mitos-mitos nya.
Kami pun dijamu dengan makan malam di salah satu rumah warga. Ya, anggap saja makan malam. Karena sebenarnya kami belum singgah ke warung makan selama perjalanan dari Padangpanjang menuju Abai. Sambil makan kami ditemani oleh suara warga yang sedang Batombe.
Di saat kami sedang menikmati makanan, datanglah dua orang bapak, salah satunya memilki tinggi sekitar 180 CM. Tiba-tiba semua orang di sekeliling ku berdiri, menghentikan makannya, dan langsung bersalaman dengan bapak itu, ternyata kami dikenalkan dengan Tuanku Rajo Putiah.
Wah, berarti aku bersalaman dengan seorang raja. Kemudian Raja pun ikut makan bersama kami. Dalam hatiku berkata, ternyata raja suka juga dengan Jengkol Balado, sama seperti aku. Selesai menikmati makanan kami pun mulai bercerita-cerita untuk menambah keakraban diri dengan daerah ini.
Menurutku sang raja memiliki wibawa yang besar. Ia memakai kemeja bercorak batik dan mengenakan peci berwarna hitam di kepalanya. Malam itu kami pun mulai berbaur dengan masyarakat sekitar. Jam di tangan ku sudah menunjukkan pukul empat pagi, kami pun dipersilakan beristirahat di salah satu ruang tamu rumah warga.
Malam itu aku jadi lebih banyak tersenyum, karena baru saja makan malam bersama raja di Nagari Badewa.


























6 Komentar pada "Makan Bersama Raja di Nagari Badewa"
Waw… mau ke sana..!!
mantap pandi
bagus, fandi.
ditunggu kisahmu selanjutnya ya
hahah
sip…
makanya ugeng kalo mau kesitu harus ke sarueh dulu hehehe
mah bisa2 jadi tujuan backpakeran q selanjutnya ne…
tunggu ya ….
q pengan k sarueh dlu…
foto pemandangannya bagus.