Oleh Alwendry | Pada Rabu, 23 Juni 2010
* * *

Siang itu, setelah selesai rapat di Komunitas Sarueh, saya bersama 4 orang lainnya Fauzi, Anggi, Zani dan Angga berjalan bersama menuju Pasar Padangpanjang. Sampai di pasar saya dan Fauzi berpisah dengan yang lainnya, kami berdua berjalan sampai pada sebuah warung kaki lima yang menjual Katupek (Ketupat) Pitalah

Katupek Pitalah

Katupek (Ketupat) Pitalah

Karena kebetulan saya lapar dan belum makan kami memutuskan untuk makan ketupat dulu. Saya memesan satu piring Ketupat Pitalah dan Fauzi hanya makan gorengan saja, karena dia sudah makan tadi pagi katanya. Pitalah adalah nama salah satu daerah di Kecamatan Batipuh, Tanah Datar.

Sedang enaknya makan ketupat saya kepikiran kenapa ketupat ini dinamai Ketupat Pitalah dan kenapa rasanya lebih enak dari ketupat lainnya yang pernah saya coba, apa sih resepnya, pikir saya pada waktu itu.

Karena makin penasaran saya langsung saja bertanya pada penjualnya, Ibu Jusmarni, 55 tahun.

Buk, lah lamo Buk manggaleh disiko? (Bu, sudah lama berjualan di sini?), tanyaku.

Kalau dihituang, lah ampia 15 tahun wak manggaleh disiko mah. Sabalum awak manggaleh disiko, urang gaek jo nenek wak alah  disiko juo manggaleh, alah sajak tahun 60-an mah.  Jadi tibonyo iko alah usaho turun tamurun. (Kalau dihitung, sudah hampir 15 tahun saya berjualan di sini. Sebelum saya berjualan di sini orang tua  dan nenek saya sudah lebih dulu berjualan di sini,  sudah sejak tahun 60-an. Jadi ini merupakan usaha yang telah turun temurun).

Ibu Jusmarni, penjual Katupek Pitalah

Ibu Jusmarni, penjual Katupek Pitalah

Buk, baa kok gulai katupek pitalah ko lain rasonyo pado katupek nan lain? Labiah lamak, apo resepnyo, Buk? (Bu, kenapa gulai Ketupat Pitalah ini rasanya beda dari ketupat yang lain? Lebih enak, apa resepnya, Bu?)

Ndak ado resep khusus gai do, samo jo mamasak gulai biasonyo, tapi caro masaknyo tu beda. Mamasaknyo tu mulai dari sore hari tu bisuak paginyo baru salasai. (Sebenarnya tidak ada resep khusus, sama dengan memasak gulai pada umumnya, tapi cara memasaknya beda. Memasaknya itu mulai dari sore hari dan besok paginya baru selesai.)

Baa kok katupek  pitalah namonyo, Buk? (Kenapa dinamai dengan Ketupat Pitalah, Bu?)

Kalau itu awak kurang jaleh lo, mungkin dek urang Pitalah  yang mambuek katupek ko tu urang tu lo yang manjuannyo di pasa. (Kalau itu saya kurang jelas juga, mungkin karena orang Pitalah yang membuat ketupat itu dan orang Pitalah juga yang menjualnya di pasar).

Baa manggaleh kini, Buk, lai rami jo urang nan mambali? (Bagaimana berjualan sekarang, Bu, apakah banyak pembelinya?)

Sajak pasa alah duo kini, urang nan mambali alah langang pulo apo lai sajak gampo patang alah batambah kurang bana. Nan biasonyo tajua 350 buah sahari, kini 200 buah sahari lai nyo. (Sejak pasar sudah menjadi dua tempat, pembeli sudah berkurang apalagi semenjak gempa kemarin, pembeli semakin berkurang. Biasanya dalam sehari bisa terjual 350 buah, sekarang hanya 200 buah per hari.)

Gulai nangka dan rebung

Gulai nangka dan rebung

Dari jam bara, Buk manggaleh disiko, Buk? (Dari jam berapa Ibu mulai berjualan di sini)

Pagi sekitar jam satangah anam alah tibo di siko, kalau pulangnyo ndak bisa ditantuan do,  tagantuang abihnyo galeh, kalau capek abihnyo capek pulo pulangnyo, kalau lambek abihnyo tu lambek pulo pulangnyo. (Pagi sekitar jam setengah enam sudah sampai di sini, kalau pulangnya tidak bisa ditentukan, tergantung habisnya jualan, kalau cepat habisnya maka cepat juga pulangnya, kalau lambat habisnya maka lambat juga pulangnya).

Setelah beberapa lama perbincangan saya mendapat banyak informasi, di antaranya bagaimana Ibu Jusmarni menyekolahkan anak-anaknya hingga keperguruan tinggi dengan hanya berjualan Ketupat Pitalah dan suka dukanya Si Ibu berjualan di Pasar Padangpanjang. Gulai Ketupat Pitalah juga selalu khusus, yaitu gulai cubadak dan rabuang (nangka dan rebung). Selain menjual ketupat, Ibu Jusmarni juga menjual gorengan-gorengan yang merupakan tumpangan dari orang lain, untuk dijual di tempatnya, semua gorengan itu dijual dengan harga Rp 500, dari setiap penjualan gorengan ibu Jusmarni mendapatkan Rp 100.

Gorengan

Gorengan

Setelah selesai makan ketupat, saya dan Fauzi segera pergi karena masih banyak hal lain yang harus dikerjakan. Saya membayar sepiring ketupat hanya dengan Rp 2000,- dan Fauzi membayar 4 buah gorengan yang dimakannya dengan Rp 2000-. Sekarang saya lebih tahu tentang Ketupat Pitalah yang selama ini tidak pernah terbayangkan.

Your email:

 

3 pembaca suka artikel ini.
Bagi dan Sebarkan:
  • PDF
  • Print
  • email
  • RSS
  • Facebook
  • MySpace
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Ping.fm
  • Digg
  • Reddit
  • del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Tumblr

Artikel terkait:

  1.           Minggu yang Cerah untuk Main Layang-layang
Anda dapat meninggalkan respon, atau jejak balik dari situs anda.

Komentar (1)

 

  1. Co2@dre mengatakan:

    Terakhr mkn ni ketupat 3 thn lalu….
    taragak wak katupek pitalah..

Tinggalkan pesan balasan

ACARA

PESAN

Tentang Perubahan Iklim Dunia

Kami mengajak kawan-kawan komunitas untuk berpartisipasi dalam melakukan gerakan kesadaran terhadap perubahan iklim ini. Komunitas-komunitas merupakan yang paling terdepan dan secara langsung menghadapi perubahan yang dialami oleh masyarakat. Jadi, mulailah kita berubah dari kebiasaan yang merusak lingkungan. Kita pasti bisa menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan bumi yang sudah semakin panas ini.

  • Forum Lenteng Channel on Youtube

PROMOSI

  • Sinau Art Course

POTRET

ARTIKEL ACAK

      Rumah Kontrakanku yang terakhir itu, kini menjadi Jl. H. Juanda

      (Lenteng Agung, Jakarta Selatan)

      Rumah kontrakan Ajat yang lama
      [caption id="attachment_1034" align="alignnone" width="225" caption="Rumah kontrakan Ajat yang lama"][/caption] Di memoriku teringat dulu sekitar tahun 1992 di Kota Depok, khususnya daerah Margonda yang masih terlihat hijau, banyak lahan-lahan kosong ...

      (Ada 5 komentar pada artikel ini)

      Kereta dan Massa

      (Lenteng Agung, Jakarta Selatan)

      Rel kereta Lenteng Agung
      Kereta dan massa. Mungkin terbayang dalam benak kita tentang rangkaian gerbong dengan penumpang yang berjejalan di dalamnya. Atau puluhan orang menunggu datangya kereta di stasiun. Itu semua benar. Tapi yang akan aku ceritakan saat ini adalah tentang ...

      (Ada 0 komentar pada artikel ini)

      Profil Anak Seribupulau Randublatung

      (Randublatung - Blora, Jawa Tengah)

      1
      Anak Seribupulau adalah komunitas terbuka di Randublatung, Blora, Jawa Tengah. Komunitas yang  mandiri ini pada awal berdirinya dibentuk oleh Exi, Agung Japah dan di bantu oleh Tony Voluntero, Alexandra Crosby, Anang Sarno, Djuadi, Hendras, dan kawan ...

      (Ada 12 komentar pada artikel ini)

      Sisakan Satu Pohon Saja

      (Randublatung - Blora, Jawa Tengah)

      Blora
      SELAMATKAN BUMI ! Itu seharusnya yang harus didengar dan kita lakukan, kerusakan alam yang telah terjadi di negeri ini bukanlah hal yang baru kita lihat. Penjarahan besar-besaran yang dimulai sejak dahulu, bahkan sebelum lengsernya Rezim Orde Baru da ...

      (Ada 4 komentar pada artikel ini)

      Kang Ayo Kang!

      (Rangkasbitung - Lebak, Banten)

      Pedagang tahu sumedang
      Sebelum adzan subuh di depan tempat kami Saidjah Forum tepatnya Jalan Kitarung terlihat 10 sampai 13 orang bergegas menuju pangkal jalan. Di atas pundaknya ada kotak-kotak plastik beroda, di dalamnya berisi tahu-tahu siap saji yang tersusun sangat ra ...

      (Ada 1 komentar pada artikel ini)

      Kali Mati

      (Rangkasbitung - Lebak, Banten)

      Kali Mati
      1 Januari 2009 Di tempat ini sebagian besar masa kecilku dihabiskan, daerah angker dengan mitos – mitos nya yang membuat bulu kuduk setiap orang yang mendengarkannya merinding. [caption id="attachment_502" align="alignnone" width="300" caption="Kali ...

      (Ada 0 komentar pada artikel ini)

STATISTIK

    • Artikel:  386
    • Komentar:  2,181
    • Halaman:  13
  • KUNJUNGAN

    Saat ini: 0

    Total: 79143

  • www.akumassa.org adalah media informasi komunitas yang digagas oleh Forum Lenteng Jakarta
    untuk merekam informasi tentang persoalan lokal dalam konteks sejarah dan kekinian yang diproduksi oleh komunitas.

    FB | TWEET
    RSS | Kontak | Jaringan | Forum Lenteng | Jurnal Footage | DariVisual | Context Creative Media