Problematika The Jak Gang Anyar

Oleh / pada 19 Januari 2012 / di Lenteng Agung, Jakarta Selatan // 2 Komentar

Perseteruan kepentingan di tubuh PSSI memang cukup mengganggu untuk kelangsungan jadwal pertandingan Liga Super Indonesia (LSI). Tapi ketergangguan itu mungkin tidak terlalu berlaku bagi para supporter tim yang ada. Misalnya, para The Jak Mania (supporter Persija Jakarta) wilayah Lenteng Agung, Jakarta Selatan yang bernaung pada sebuah saung kecil di Gang Anyar. Justru aku melihat ada hal lain yang meredupkan mereka.

Saung tempat para The Jak biasa kumpul

Pada pertandingan Persija melawan Sriwijaya FC pada tanggal 18 Desember 2011 kemarin mereka mengutus salah satu rekan untuk mendukung Persija secara langsung di Stadion Gelora Sriwijaya, Palembang. Perwakilan ini menjadi tanda bahwa para The Jak Lenteng Agung masih dan terus mendukung Persija dalam setiap laga.

“Kita ngirim si Santos untuk dukung The Jak di Palembang, kebetulan dia juga lagi libur kerja,” kata Asmadi.

Pria bernama lengkap Asmadi Mahmud (40) ini merupakan salah satu senior The Jak Mania Lenteng Agung. Ia sudah turut aktif sejak tahun 2000 awal, bahkan ia memiliki kartu anggota The Jak Mania yang ia dapat dengan merogoh uang sebesar Rp 15.000. Hampir setiap laga pertandingan Persija ia datangi ke stadion, khususnya yang ada di Jakarta.

Asmadi sedang asik menonton televisi di rumahnya

Kartu anggota milik Asmadi

“Saya dapet kartu anggota dengan beli formulir di kantor The Jak Mania di Senayan. The Jak kalo gak punya kartu anggota mah bukan The Jak.” Jelas Asmadi sambil tersenyum.

Pada awal keterlibatan Asmadi, Kordinator Wilayah (Korwil) Lenteng Agung dipegang oleh almarhum Yuting yang meninggal pada tahun 2003. Ia jatuh dari kereta dan meninggal dunia saat perjalanan pulang setelah menyaksikan pertandingan Final Liga Indonesia, Persebaya versus Persija di Surabaya. Yuting sendiri punya hubungan dekat dengan Gugun Gondrong yang masih menjabat Humas The Jak Mania pada saat itu. Setelah kematian Yuting, Korwil Lenteng Agung berganti-ganti hingga akhirnya,  sekarang Santos (39) yang mengurusnya.

“Waktu jaman Yuting yang megang mah, buset sukses bener. Lah, dia kalo ada apa-apa langsung si Gugun Gondrong sih yang nanganin.” Ujar Asmadi.

Jika ada pertandingan di Jakarta para The Jak biasa berangkat menggunakan bus PPD atau Miniarta. Untuk menyewa bus PPD mereka biasa membayar Rp. 500.000, sedangkan Miniarta biasa membayar Rp. 200.000. Bus itu akan mengantar mereka hingga Stadion Glora Bung Karno atau Stadion Lebak Bulus. Ketika sampai di stadion si supir pun akan menunggu hingga pertandingan usai. Setelah itu akan  mengantar para The Jak Mania hingga tempat semula, yaitu Lenteng Agung.

Asmadi mengaku sejak tahun 2008 para The Jak Mania di Gang Anyar semakin surut jumlahnya. Padahal dulu menurut pengakuan Asmadi, jumlah mereka kurang lebih mencapai seratus orang. Sekarang yang masih suka terlihat kumpul bersama tidak lebih dari 15 orang, itupun hanya sesekali. Tapi komunikasi di antara mereka tetap berjalan. Surutnya jumlah mereka bukan lantaran rasa cinta terhadap Persija yang semakin memudar, tapi banyak di antara mereka yang harus bekerja dan mengurus rumah tangga.

Pria beranak dua ini menambahkan, “Itu aja si Santos nyempet-nyempetin ke Palembang, berhubung dia lagi libur.”

Surutnya The Jak Gang Anyar cukup disayangkan oleh Asmadi dan rekannya Sami (27) yang tiba-tiba datang pada saat itu. Sami sendiri menjelaskan padahal pada saat itu para The Jak di sini sempat membuat tim sepak bola antar kampung yang bernama Panser (Pasukan Serang).

Mading yang dulu menjadi pusat informasi The Jak dan Panser

“Pasukan Serang? Berarti pemainnya Striker semuanya Bang?” Tanyaku sambil tersenyum.

“Ya kagak Bang, ada back sama keepernya juga Bang,” jawab Sami diiringi tawa.

Menurut Sami Panser bukan tim sepak bola biasa, karena Panser memiliki manajemen yang profesional. Jam terbangnya pun boleh diperhitungkan. Popularitas Panser bukan hanya di Lenteng Agung atau kampung-kampung di Jakarta lainnya saja, pada waktu itu nama Panser sudah terdengar hingga Gunung Putri, Bogor.

Dulu Panser biasa latihan di lapangan sepak bola yang terletak di Jalan Joe, Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Lapangan itu mereka sewa dengan biaya Rp 200.000 per bulan. Dengan uang sebesar itu mereka diberi jatah seminggu dua kali untuk menggunakan lapangan. Peraturan itu dibuat oleh pemilik lapangan untuk memberi kesempatan pada penyewa yang lain. Karena bukan Panser saja yang menyewanya.

Kagak dilanjutin Bang?” Tanyaku.

“Yaitu, udah pada sibuk semua sama urusan kerjaan dan keluarganya.” Jawab Sami.

“Emang kagak ada regenerasi  Bang?”

“Sekarang mah udah jamannya futsal, Bang. yang muda-muda pada ogah diajak main bola di lapangan gede,” jelas Sami.

Menurutnya dengan kehadiran lapangan futsal di mana-mana membuat surut minat bermain sepak bola di lapangan besar. Lagi pula untuk bermain futsal tidak membutuhkan banyak orang, cukup terkumpul sepuluh orang pertandingan pun dapat berlangsung. Mungkin kemudahan seperti itu yang membuat orang-orang meninggalkan bermain sepak bola di lapangan besar.

Grafiti The Jak Mania Gang Anyar

Waktu pun telah berlalu, rasanya aku harus beranjak dari saung kecil para The Jak Mania di Gang Anyar. Jumlah mereka memang semakin surut untuk alasan pekerjaan dan rumah tangga. Begitu juga dengan Panser yang tak mampu regenerasi karena kehadiran futsal yang sekarang lebih digandrungi para pecinta sepak bola. Namun, aku bisa melihat sebuah graffiti The Jak Mania masih terpajang lebar di antara dinding-dinding Gang Anyar.

Tentang Penulis

Lulus Gita Samudra

Lulus Gita Samudra telah menyelesaikan studi Strata Satu-nya di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta. Pria kelahiran Jakarta tahun 1989 ini, juga turut aktif di Forum Lenteng sebagai Sekretaris Redaksi akumassa.org. Sebelumnya ia pernah mengikuti workshop akumassa Depok pada tahun 2011. Kini ia sedang membangun sebuah komunitas berbasis massa di Depok, bernama Suburbia.

2 Komentar pada "Problematika The Jak Gang Anyar"

  1. didik saputra 21 Januari 2012 pukul 16:58 · Balas

    Jangan lupa bung! Segala hal yang membuat tatanan masyarakat sekarang berubah dikarenakan cengkraman kuat industrialisasi sepakbola. Mungkin juga teman-teman The Jak sudah mulai jengah dengan pemerintah, harga tiket, atau pun stadion Persija yang tidak menentu alias silih berganti. Tapi apa pun itu, saya tidak pernah meragukan kualitas dan dedikasi dari The Jak kepada Persija.
    Maju terus macan kemayoran…

  2. toink 27 Mei 2012 pukul 15:15 · Balas

    The jak ga intelek…rusuh mulu

Tinggalkan Komentar

comm comm comm

www.akumassa.org adalah bagian dari program akumassa yang digagas oleh Forum Lenteng sebagai sebuah program pemberdayaan komunitas dengan berbagai media komunikasi, antara lain: video, teks, dan suara. akumassa memiliki strategi: penggerakan motivasi, memproduksi karya, pendokumentasian, berkelanjutan, pemberdayaan medium filem dan video, berbagi informasi serta merekam potensi lokal dengan cara berkolaborasi dengan komunitas dampingan.

akumassa:
Jl. Raya Lenteng Agung No.34 RT.007/RW.02
Lenteng Agung - Jakarta Selatan
DKI Jakarta 12610
Telp. (+6221) 78840373

www.akumassa.org // info@akumassa.org

© Agustus 2008 - 2012 ( akumassa )

// Forum Lenteng // Jurnal Footage // Arkipel // Dongeng Rangkas // Naga // Anak Sabiran // Radio akumassa //