“Aku di Sini, Selamanya Atau Sementara?”

Jakarta, 24 Februari 2009

Lenteng Agung adalah daerah di selatan Jakarta yang aku diami sekarang. Daerah ini berada di antara jalur Depok-Pasar Minggu.  Arus lalu lintasnya sangat padat, terutama pada jam-jam kerja. Banyak angkutan kota yang beroperasi di jalur ini. Di antaranya Mikrolet 04 (Depok–Pasarminggu), KWK T19 (Depok–Kampung Rambutan), 129 (Pasar Minggu–Mekarsari). Ada juga bis-bis berukuran sedang seperti Kowanbisata (Pulo Gadung–Depok), Kopaja 63 (Depok–Blok M), P.O Deborah (Lebak Bulus–Depok). Selain bis sedang, banyak juga bis besar yang melewati jalan ini, Mayasari Bakti 81 (Depok–Kalideres), Deborah AC (Depok–Kalideres), Patas PPD 54 (Grogol–Depok), Steady Safe 48 (Depok–Grogol). Nama-nama tersebut di atas, merupakan angkutan yang sering saya tumpangi. Selain itu, daerah ini dilalui jalur kereta api yang menghubungkan Jakarta Kota dan Bogor. Sepanjang Lenteng Agung terdapat tiga stasiun kereta yaitu Stasiun Tanjung Barat, Stasiun Lenteng Agung dan Stasiun Universitas Pancasila.

Tempat Kost Lenteng Agung 34
Kontrakan Lenteng Agung 34

Aku tinggal di Jalan Raya Lenteng Agung no. 34, tepatnya di sebuah kamar kontrakan berukuran 3×4 meter . Di blok pertama, terdiri dari 8 kamar dengan 4 kamar mandi, aku tinggal di kamar no. 1. Aku adalah mahasiswa berumur 23 tahun, asal Tangerang berdarah Cianjur yang saat ini sedang kuliah tingkat akhir di IISIP (Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) Jakarta. Kurang lebih tiga tahun sudah kutempati kamar dengan sebuah kamar mandi kotor kumuh yang tidak layak. Kamar di depanku ditempati oleh dua wanita pekerja tangguh dan mandiri. Yang satu bernama Titin (25), wanita asal Sumatera Utara ini bertubuh besar dan cukup tinggi untuk ukuran wanita Indonesia. Rambutnya panjang dan berkulit putih. Ia juga seniorku di kampus. Orang tuanya tinggal di Parung dan setelah lulus kuliah ia bekerja sebagai wartawan tabloid gosip terkemuka di ibukota. Sedangkan teman sekamarnya bernama Nora (25). Gadis berdarah minang ini berperawakan sedang, rambutnya yang lurus di smoothing dengan kulit sawo matang. Gaya bicaranya plas-ples-plos, ia bekerja di perusahaan ANZ (perusahaan asuransi) setelah sekian kali keluar masuk beberapa perusahaan. Selain itu ia juga pandai dalam berdagang. Aku mengenalnya karena ia adalah kekasih temanku yang sebelumnya tinggal di kamar yang aku tempati sekarang. Ia bernama Wahyu a.k.a Tooxskull, pria berdarah Jawa ini masih kuliah dan bekerja di sebuah perusahaan iklan sebagai desainer grafis. Ia juga terkenal sebagai vokalis Gamelanoink, band punk rock asal Bekasi. Sebelum mereka, kamar itu ditempati oleh sepasang lelaki dan wanita paruh baya yang dimabuk asmara. Mereka pindah dari kamar itu karena setahuku mengalami gejolak dalam hubungannya.

Teras kamarku
Teras kamarku

Aku kurang mengenal siapa yang menempati kamar nomor 3, yang jelas ia bernama Sri, seorang wanita yang kini tak muda lagi. Kira-kira ia seumuran dengan tanteku di Cianjur. Bentuk tubuhnya biasa saja namun masih terlihat gres untuk lawan jenis seusianya. Aku rasa ia berasal dari Jawa, ia biasa bekerja di malam hari. Sebelumnya ia tinggal bersama seorang lelaki berperawakan kecil yang penuh tato di sekujur tubuhnya. Lelaki itu mempunyai pekerjaan yang tidak jelas. Jika mereka bertengkar, seluruh lingkungan kontrakan pasti mendengar teriakan-teriakan. Mereka bagaikan pasangan yang sudah lima tahun tidak makan. Acapkali mereka juga saling melempar barang dan mencekik leher. Tetapi kini lelaki itu sudah tidak pernah aku lihat lagi. Mungkin mereka dipisahkan oleh takdir.

satu kamar mandi untuk dua kamar
Satu kamar mandi untuk dua kamar

Setiap berangkat bekerja, kira kira jam sepuluh malam. Mbak Sri berdandan dengan aduhai, ia mengenakan baju ketat, bibirnya dipoles gincu dan kedua pipinya di touch-up dengan bedak. Asap Djarum Super dan semerbak parfum khas “Indomaret” dari badannya menusuk hidungku. Dengan menggunakan sepeda motor “automatic terdepan”, ia berangkat dengan Mbak Nana, rekannya yang sangat fenomenal di tempat tinggalku. Tubuhnya sudah tidak proporsional, tapi masih gres untuk lawan jenis seusianya. Ia tinggal di lantai dua di blok 2 kamar no. 10. Ia merupakan wanita malam senior yang tiada banding di wilayah Hotel Kaisar, Pasar Minggu dan sekitarnya. Namanya unik jika menggunakan mbak. Temanku sering tertawa jika kami nongkrong di kantin mahasiswa, karena ada sebuah smoothies yang di namai banana split dan jika kami ada yang memesan itu lalu diletakkan di meja, spontan kami langsung  menyebutnya “banana split on the table” dan menerjemahkannya dengan “mbak nana ngangkang di atas meja”. Mereka biasa pulang kerja jam setengah empat dini hari dan biasanya ditemani oleh pria-pria paruh baya dengan menggunakan sepeda motor.

Salah satu lorong
Salah satu lorong di kontrakan

Kamar ke-4 diisi oleh sepasang muda-mudi yang baru saja tinggal di kamar itu. Usia mereka kira kira 25-26 tahun. Lelakinya menggunakan sepeda motor besar, berperawakan tinggi, rambut agak gondrong dan teman wanitanya menggunakan sepeda motor automatic. Ia berperawakan mungil, kulitnya putih dan menurutku sangat cantik, karena aku tidak mengetahui nama mereka, kita sebut saja kamar itu adalah kamar Galih dan Ratna. Dalam hati, aku sangat terkesan dengan gadis itu.

Kamar ke-5 diisi oleh temanku yang bernama Agung (25) mahasiswa jurusan Kesejahteraan Sosial di IISIP Jakarta. Ia tinggal di Rempoa dan kamarnya jarang ditempati. Kamar itu hanya digunakan jika ada tugas berat dari kampus atau membawa seorang …… (mm…..tau kan?!). Ia adalah anggota geng motor termasyhur di kotanya. Kamar ke-6 ditinggali oleh orang yang tidak aku kenal bahkan bertemu saja aku belum pernah. Memang aneh, satu lingkungan kok nggak saling kenal ya? Tapi ini biasa terjadi di Jakarta.

Kamar ke-7 diisi oleh segerombolan mahasiswa dan eks-mahasiswa. Madon (26) sarjana sosial bertubuh atletis dan mempunyai toko stiker di Ragunan. Temannya bernama Oknum, pria berusia sekitar 30 tahun ini tampak gagah, tubuhnya tambun dan garang, ia adalah wartawan sebuah tabloid otomotif, ia juga diseganidi Tanjung Barat dan sekitarnya. Ia sudah memiliki anak, dan kamarnya hanya ia gunakan singgah atau beristirahat sebelum pulang ke rumahnya. Lalu Firman (26) mahasiswa jurusan Kesejahteraan Sosial ini sedang mengerjakan skripsi. Rumahnya di Bekasi. Perawakannya kurus, berkacamata dan gemar mendengarkan musik dari band-band lokal yang mendayu-dayu semacam D’masiv, Ungu, Kangen dan sebagainya, ia sangat rendah hati. Kemudian temannya bernama Nurul Hidayat dan biasa disapa Tompel. Ia juga mahasiswa jurusan Kesejahteraan Sosial dan merupakan penduduk asli Lenteng Agung. Ia berdarah Bima (salah satu daerah di Jawa) berperawakan sedang dengan kulit sawo matang. Selain fotografer handal dan seorang petualang, ia sangat pandai bermain sepak bola dan beladiri. Sepengetahuanku, kamar ke-8 ditempati oleh pasangan suami istri yang baru menikah. Rasanya aku tak banyak membahasnya, karena memang aku sama sekali belum mengenal mereka.

suasana sehari-hari Lenteng Agung 34
Suasana sehari-hari Lenteng Agung 34

Sebagai “aku”, tentunya aku dapat mengenali aku-aku lainnya di sekitar kita dengan penglihatan sendiri dengan ciri-ciri seperti fisik, logat, adat dan sebagainya. Setiap sore anak-anak kecil bermain bola, petak umpet dan berlari kesana kemari, suara riangnya membuat bising namun sedikit membuka kenangan masa kecilku dulu. Sampai kapan aku bisa mendengar suara itu semua yang mungkin tak ada lagi di kontrakan lainnya. Yang jelas, jika harus pergi, aku akan selalu merindukan tempat ini. Dan ketika aku menulis ini, penghuni kamar no.4 pindah entah kemana. Semua barangnya sudah dikemasi. Aku hanya dapat melihat ruangan kosong di kamar itu. Semua orang datang pergi, datang lagi, pergi lagi, lagi pergi, lagi datang dan aku pun tak tahu sampai kapan berada disini. Selamanya atau sementara kami disini?

foto: M Gunawan Wibisono


 


Tentang Penulis

Gelar Agryano Soemantri

Gelar Agryano Soemantri, panggil saja Gelar. Pria ini telah menyelesaikan pendidikannya di Institut Ilmu Sosial dan Imu Politik (IISIP) Jakarta. Aktif sebagai anggota Forum Lenteng. AKtif juga dalam membuat video.

18 Komentar pada "“Aku di Sini, Selamanya Atau Sementara?”"

  1. dayat.arik 23 April 2009 pukul 00:04 · Balas

    masih kurang tuh kayanya

  2. Jim Jamur 23 April 2009 pukul 08:42 · Balas

    udah lumayan sih!!! ternyata sesitifitas si penulis cukup peka dengan lingkungan sosialnya, walau jika ingin menulis tentang tempat ini , mungkin bisa dijadikan novel atau malah bisa jadi skrip filem berjudul “catatan harian pisang ngangkang diatas meja”

  3. bars 23 April 2009 pukul 13:26 · Balas

    bagaimana jika mengenal tidak dengan nama??? mungkinkah??? bagaimana jika yang dimaksud dengan “selamanya” bukan soal tubuh apalagi menghidupi tubuh???semoga saja….

  4. din 23 April 2009 pukul 18:41 · Balas

    Selamat Menikmati Simpanlah didalam hati apayang kau rekam saat ini bkalah dimasa yang akan datang sebagai bekal hidupmu salan dari tetangga LA.

  5. dayat.arik 23 April 2009 pukul 21:24 · Balas

    bisa juga tuh usulannya hmm nama?? yah? penting sih nama itu jadi pepetah apalah arti sebuah nama ” SALAH BAPAK-BAPAK IBUIBU HAHAHA….(setuju ngacung ) di alam kubur juga menurut buku TATANG S yang dipanggil namanya jadi apa mungkin yah ??? hehehe mungkin sih bisa ajah dengan ciri2 spesipik heheh ( sotoy nih ) hahaha… masalah “selamanya” hehe konsepsi itu kita kembalikan dari falsafah hidupnya masingmasing hehe ( ah ga ngrti om terlalu tingi untuk saia hehehe) kan manusia tradisionil hahaha… masalah hasrat ?? hahaha atau melampiaskan hasrat hehehe…

  6. aep nu kasep.. 23 April 2009 pukul 21:24 · Balas

    alus lah hehehe..

  7. koordinator program aku massa, forumlenteng 24 April 2009 pukul 13:12 · Balas

    manis nih idenhya. mungkin gelar bisa nembuat lanjutannya, karena membaca tulisan ini rasanya seperti membaca sebuah catatan yang panjang dan tak berujung namun kita tidak pernah tahu apa yang kemudian bakal teradi. tapi, lar. bima itu bukan di jawa, keong. tapi di sumbawa.

  8. aep nu kasep.. 24 April 2009 pukul 14:23 · Balas

    iya tuh bima bukan jawa dongdong nih.. oia editornya kecapean kali nih hahaha…jadi kurang tanggap hahaha

  9. omjojon 25 April 2009 pukul 10:04 · Balas

    lumayan tulisan ini… buat baca-baca selayaknya cemilan
    tapi ada yang miss disini “Ia berdarah Bima (salah satu daerah di Jawa)” setau gw nama daerah bima itu adanya di daerah NTB deh bkn di Jawa…
    ya mungkin kita perlu cari tau lagi nih bener gak di jawa itu ada daerah yang namanya BIMA

    makasih

  10. aen nu kasep 26 April 2009 pukul 06:24 · Balas

    hehehe..tuh kang !!! om/tuan hehe cemilan juga ga papa asal banyak dan rutinmah jadi kenyang hehehe…sapa tau bisa jadi sarapan hehehe..tapi janagan kebanyakan ngemil nanti gendut hahaha… iya emang bima bukan dijawa tauuu..(bikin malu hehehe)

  11. dayat.arik 26 April 2009 pukul 06:30 · Balas

    terimakasih atas perhatian dan koreksi anda semua hehehe… inilah gunanya kau dalam massa hehehe… hmmm… ajiplah..

  12. Tohjaya Tono 28 April 2009 pukul 18:57 · Balas

    Gelar si nana dimana yaaaaa…masih ada di situ gak ?hehe

  13. tante soen-toek 29 April 2009 pukul 23:20 · Balas

    si cak tohjaya tono rupanya kangen sama masa lalu nan indah bersama mbak nana. lamar lah, cak!

    eh, om jojon, mendingan makan cemilan ya daripada ga makan.yang lebih keren lagi yang bikin cemilannya, dari pada ga bikin.

  14. dayat.arik 3 Mei 2009 pukul 02:59 · Balas

    om, Tohjaya Tono kata gelar masih ada tuh dia di atas (on top ) hahaha..iya tante soentoek bener daripada ga makan mendingan ngemil lama-lama kenyang tuh hehehe… kasih jalan dong masukan yang berguna buat penulisnya jangan dikritik ajah bisanya !!! ( hehehe )

  15. keponakan pak de 3 Mei 2009 pukul 04:58 · Balas

    oooohhhh…..
    menulis dblog ini ternyata cuma buat obsesi menjadi keren y????
    duh salah makan cemilan ternyata om hari ini….

  16. aridinamics 18 Mei 2009 pukul 12:09 · Balas

    Bagus bagus..
    Banana split, huahahaha.
    Itu yang tinggal di samping kamar Andang ya?

  17. jiwadara 30 Desember 2009 pukul 10:32 · Balas

    menarik

  18. akumassa 18 Mei 2009 pukul 19:53 · Balas

    hush, jangan nyebut merk ah… hehehe

Tinggalkan Komentar

comm comm comm

www.akumassa.org adalah bagian dari program akumassa yang digagas oleh Forum Lenteng sebagai sebuah program pemberdayaan komunitas dengan berbagai media komunikasi, antara lain: video, teks, dan suara. akumassa memiliki strategi: penggerakan motivasi, memproduksi karya, pendokumentasian, berkelanjutan, pemberdayaan medium filem dan video, berbagi informasi serta merekam potensi lokal dengan cara berkolaborasi dengan komunitas dampingan.

akumassa:
Jl. Raya Lenteng Agung No.34 RT.007/RW.02
Lenteng Agung - Jakarta Selatan
DKI Jakarta 12610
Telp. (+6221) 78840373

www.akumassa.org // info@akumassa.org

© Agustus 2008 - 2009 ( akumassa )

// Forum Lenteng // Jurnal Footage // Arkipel // Dongeng Rangkas // Naga // Anak Sabiran // Radio akumassa //