Toko Buku Bekas di Stasiun Pondok Cina

Oleh / pada 15 November 2011 / di Depok, Jawa Barat // 12 Komentar

“Tiga lima rebu gak dapet Neng, 40 rebu aja ya?”
“Gak Bang, tiga puluh lima ribu saya mau deh, soalnya kalau empat puluh ribu sama aja kaya yang di Gramed.”
“Neng, Neng, iya deh nih tiga, lima rebu aja!”

Suasana sekitar toko buku bekas di Stasiun Pondok Cina

Gadis berkacamata itu pun membalikkan badannya dan kembali melangkah ke toko buku semula setelah si bapak penjual akhirnya menyerah pada negosiasi yang cukup alot itu. Aku pun tersenyum melihat keteguhan gadis tersebut dalam melakukan penawaran.

Ditaksir dari segi penampilan dan buku yang dibelinya, menurutku gadis itu adalah seorang mahasiswi jurusan Psikologi. Akhirnya, buku tebal berjudul Terapan Psikologi Dasar itu pun berpindah tangan dan si bapak tersenyum sumringah karena salah satu barang dagangannya telah laku.

Tampak bangunan Universitas Gunadarma dari deretan toko buku bekas

Gadis itu mungkin serupa denganku yang sama-sama sedang mencari buku kuliah dengan harga murah di Stasiun Pondok Cina ini. Di stasiun kereta api ini terdapat enam toko buku yang berjejer dan terkenal dengan sebutan toko buku bekas Stasiun Pondok Cina atau Pocin. Kios-kios tersebut dibangun pada tahun 1998 (menurut penjaga pintu kereta api). Letaknya sangat strategis karena berada tepat di jalan akses dua universitas besar di Depok yaitu Universitas Indonesia dan Universitas Gunadarma. Pembelinya kebanyakan adalah mahasiswa dari universitas terdekat seperti mahasiswa Universitas Indonesia (UI), Universitas Gunadarma, Universitas Pancasila, ataupun IISIP.

Keberadaan toko-toko buku ini memiliki peran yang sangat besar bagi para mahasiswa universitas-universitas tersebut, karena bisa membeli buku dengan harga miring dan tidak perlu pergi jauh untuk mendapatkannya. Maka tak heran jika kekuatan pasar toko buku bekas di sini tak ada matinya dan terus bertahan secara stabil karena memiliki pangsa pasar yang kuat dan juga relatif tetap. Lucunya, walaupun tempat ini dikenal dengan sebutan toko buku bekas namun, kebanyakan buku yang terjual dan dicari adalah buku-buku cetakan baru yang diambil dari penerbit atau grosir buku di Senen.

Aku kembali menyusuri deretan buku-buku di dalam toko yang susunannya agak berantakan. Karena tidak menemukan buku yang kucari, aku pun meminta bapak Rinsan, pemilik toko buku tersebut, menunjukkan letak kategori buku yang ku cari.  Namun ternyata buku tersebut memang sedang tidak tersedia di toko ini. Lalu bapak Rinsan memberikan alternatif lain yaitu melalui sistem pemesanan.

Neng butuhnya kapan? Nanti bapak ambilin dari grosiran, ya palingan besok juga udah ada.”

Karena aku masih melakukan perbandingan harga dengan toko-toko di sebelah, maka aku pun menolak dengan halus penawaran si bapak, “Sebentar dulu ya pak, saya cari dulu di toko sebelah siapa tau ada.”

“Coba cari di toko paling ujung itu tu, biasanya stok dia banyak. Tapi kalau soal harga sama aja Neng, soalnya di sini gak ada saingan harga.”

Pernyataan bapak itu menarik bagiku. Karena menurutku, yang notabene mahasiswa ekonomi, komunitas usaha yang jumlahnya tidak terlalu banyak seperti toko-toko buku ini memang memiliki persaingan harga yang tidak signifikan dibanding komunitas usaha besar seperti toko-toko buku bekas di Senen. Selain karena komunitas usaha kecil memiliki pangsa pasar yang tetap dan merata, juga karena kondisi  sosial yang lebih dekat menjadikan para pemiliknya menjalin hubungan erat seperti saudara.

Buku-buku lama, komik dan cerita anak juga tersedia di toko buku bekas ini

Hal ini pun dibenarkan oleh Pak Rinsan, salah satu pelopor pertama yang merintis usaha ini dan sebelumnya pernah berjualan di Senen. Beliau menceritakan juga di sela kegiatan berjualannya mereka sering menghabiskan waktu dengan saling mengobrol atau becanda. Tak jarang pula berbagi makanan yang mereka punya.
Aku pun mengucapkan terimakasih kepada Pak Rinsan dan beranjak menyusuri toko-toko lain. Sebagian besar buku-buku yang kutemui merupakan buku pendidikan, dan sisanya adalah buku-buku lama, komik, atau majalah bekas.

Jarak antara rel kereta dengan toko buku bekas sangat dekat, hanya terhalang oleh pagar besi dan pagar tanaman

Uniknya, di sini aku bisa melihat kereta listrik yang berseliweran dan berhenti di stasiun. Karena jarak antara rel kereta dengan toko buku bekas sangat dekat, hanya terhalang oleh pagar besi dan pagar tanaman. Sehingga ketika aku sedang melihat-lihat buku, akan terasa sensasi angin dan suara khas yang ditimbulkan oleh kereta yang lewat. Kadang-kadang percakapan dengan pemilik toko pun menjadi seru karena volume suaraku bersaing dengan deru kereta lewat yang cukup keras.

“Cari buku apa Neng?” Tanya seorang bapak pemilik toko yang sedang membenahi majalah bekas di depan tokonya.

“Cari buku Intermediate Accounting edisi bahasa Indonesia, Pak.”

Bapak pemilik toko itu bilang kalau buku yang kumaksud tidak tersedia karena jarang yang mencari, namun aku bisa memesannya. Bapak itu lalu memberikan harga awal dan harga setelah diskon. Dan memang harga tersebut sama seperti harga yang sebelumnya ditawarkan oleh Pak Rinsan. Aku mengangguk dan meminta izin untuk melihat-lihat dulu buku lain di dalam tokonya.

Pengunjung sedang mencari buku di salah satu toko buku Stasiun Pondok Cina

Lalu datang seorang pemuda yang menanyakan novel bahasa Inggris terbitan lama kepada bapak pemilik toko. Dengan sigap bapak pemilik toko menunjukkan tumpukan buku-buku lama disebelah kanan.

Ternyata di sini buku-buku terbitan lama pun banyak dicari, biasanya oleh para kolektor dan mahasiswa yang perkuliahannya masih menggunakan buku terbitan lama. Buku-buku tersebut kebanyakan merupakan buku bekas karena sudah langka peredarannya. Para pemilik toko di sini sebelumnya mencari tahu dulu buku langka apa saja yang banyak diminati, baru kemudian berani membeli kepada penjualnya.

Sedangkan untuk majalah atau komik, mereka mendapatkannya dari tukang gerobak penjual barang bekas dan mahasiswa yang menjadi konsumen mereka juga. Aku jadi teringat dengan koleksi komik dan majalahku di rumah yang sudah lama tertumpuk di gudang. Mungkin benda-benda yang kuanggap kurang berharga itu, akan bisa menjadi berharga di sini.

Tentang Penulis

Jayu Julie

Dilahirkan di Garut pada tanggal 4 Juli 1989. Sekarang sedang menyelesaikan studi akhirnya di Universitas Islam Negri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Fakultas Manajemen Akuntansi. Selain itu ia juga aktif sebagai akuntan Forum Lenteng dan aktif di komunitas Suburbia.

12 Komentar pada "Toko Buku Bekas di Stasiun Pondok Cina"

  1. manshurzikri 15 November 2011 pukul 15:58 · Balas

    Toko buku bekas di sekitar kampus UI memang menjadi bahasan yang menarik. Bayangkan saja, ketika para kaum akademisi di lembaga pendidikan mengkampanyekan gerakan anti plagiarisme dan duplikasi (sebagaimana kaum kapitalis yang menggalakkan hak cipta dan hak terbit), justru dengan kehadiran buku-buku jiplakan asli yang dijual oleh para pedagang ini membantu para mahasiswa. Dengan kata lain, kemajuan intelektual muda di negeri ini tidak terlepas dari apa yang selama ini kita kenal dengan istilah ‘pembajakan’. Menurut gue, perlu ada bahasan, kajian dan diskusi yang lebih mendalam tentang praktek-praktek seperti ini, terutama untuk konteks sosial budaya di Indonesia atau negara-negara berkembang lainnya.

    Silakan ditanggapi! #asyek

  2. barjow 24 November 2011 pukul 03:57 · Balas

    hidup copyleft/copywrong!
    hahaha….

    mau belajar aja udah dihantui sama elitisisme penerbit dan pemilik toko buku besar.
    repot amat!

    nanggepin tolenk, buku bajakan sah2 aja, selama bukan mencolong gagasan sepenuhnya, dalam artian fotokopi, print e-book untuk distribusi ilmu itu sendiri.

  3. ivan 14 Desember 2011 pukul 02:48 · Balas

    melihat plagiarisme tentunya membuat sakit hati para penerbit, katakanlah kita penulis buku lalu dibajak harusnya kita dapat royalti dari penjualan buku menjadi tidak dapat apa-apa, padahal karya kita digunakan. Namun dilihat dari sisi kebutuhan mahasiswa yang notabene membutuhkan buku dengan harga murah dan lebih mudah mencari buku2 tua di sana tentunya yg sudah tak terbit lagi.perlu di cermati bahwa ada perpustakaan untuk mencari buku-buku lama.kalau buku baru bisa di solusikan dengan kata”menabung”. ada anggapan “susah nabung buat mkn aja irit2 namanya juga mahasiswa sebatang kara(misal)”. jadi mahasiswa di tuntut kreatiflah utk cari uang sampingan:)…dilihat dari sisi hemat memang lebih irit pake buku bajakan toh kita gak di tangkep gara2 pake buku bajakan selain itu juga menolong mata pencaharian penjual buku dong?? betul tapi kembali lagi ke pribadi masing2 ya klo kira2 pnya mobil ke kampus masa iya beli buku bajakan…apa iya ya??

  4. manshurzikri 24 Desember 2011 pukul 09:15 · Balas

    Yah, soal tentang hak cipta dan royalti juga merupakan sesuatu yang penting untuk diperhatikan. Tentunya kita harus menghargai jerih payah para penulis buku. Namun, yang menjadi sorotan justru pada sistem industri yang ‘menekan’ masyarakat; harga mahal justru menutup akses bagi masyarakat untuk mendapatkan pengetahuan. Apalagi di negara berkembang seperti Indonesia, sistem copyright tentunya belum pas di tengah-tengah carut marut persoalan KKN dan kemerosotan moral. Ujung-ujungnya, justru menjadi lahan subur untuk penyimpangan.

    Intinya, ‘pembajakan’ di sini hanya untuk akses mendapatkan pengetahuan, bukan mencuri gagasan atau ide yang kemudian diklaim sebagai miliki sendiri. Dan perlu pula diingat, copyleft yg benar pastinya semata-mata hanya untuk kepentingan pendidikan, tidak ada tujuan komersil sama sekali.

    Nah, kalau misalnya Negara atau para korporat bisa memberi jaminan kepada kita semua tentang akses itu (baca: harga murah dan terjangkau), dan kalau itu memang menjadi satu kenyataan, saya orang pertama yang akan menentang pembajakan di masa seperti itu. Masalahnya, Negara dan para korporat di negara kita ini mampu dan mau, nggak?

    #asyek

  5. daniel 7 Maret 2012 pukul 23:05 · Balas

    Ini ditengarai karena pendidikan telah menjadi ajang bisnis, dan oleh para penerbit besar atau toko buku besar, setiap buku adalah bisnis. jadi klop.

    cita-cita pendidikan telah jauh dari harapan para founding fathers bangsa ini.

  6. Muhammad Ghufron 17 Mei 2012 pukul 16:21 · Balas

    haah saya alumni gunadarma .. setiap saya mampir ke gunadarma.. sambil nostalgia.. saya sempatkan untuk mampir ke toko buku itu… yang jelas… toko buku seperti itu harus tetap ada… jadi kangen sama depok….

  7. etha 3 Agustus 2012 pukul 14:35 · Balas

    kalu punya komik jadoel elex media buat aku aja tp harganya murahh yaaa…hehehhe

  8. amel 12 Januari 2013 pukul 17:29 · Balas

    kalo buku yg saya cari di sana mending asli tp second aja kalo mau murah dan gak merasa ‘bersalah’ beli bajakan…contohnya buku novel.Lumayan abis baca simpen aja

  9. Buku Bekas 21 Februari 2013 pukul 08:44 · Balas

    kalo di Jogja, kulakan buku bekas di mana ya?

  10. jossu 7 Maret 2013 pukul 07:53 · Balas

    sayang, toko buku ini sudah tidak ada lagi.
    diberantas PT KAI atas nama modernisasi

  11. hermina 27 Maret 2013 pukul 10:45 · Balas

    Kalau boleh tahu, saat ini di Depok, pusat buku bekas ada dimana saja ya?
    Saya lihat di Pondok Cina sudah digusur?

    trims.

  12. Hendrik 12 Mei 2013 pukul 18:48 · Balas

    Masih ada, tapi hanya tinggal 3 atau 4 toko di dekat parkiran motor stasiun.

Tinggalkan Komentar

comm comm comm

www.akumassa.org adalah bagian dari program akumassa yang digagas oleh Forum Lenteng sebagai sebuah program pemberdayaan komunitas dengan berbagai media komunikasi, antara lain: video, teks, dan suara. akumassa memiliki strategi: penggerakan motivasi, memproduksi karya, pendokumentasian, berkelanjutan, pemberdayaan medium filem dan video, berbagi informasi serta merekam potensi lokal dengan cara berkolaborasi dengan komunitas dampingan.

akumassa:
Jl. Raya Lenteng Agung No.34 RT.007/RW.02
Lenteng Agung - Jakarta Selatan
DKI Jakarta 12610
Telp. (+6221) 78840373

www.akumassa.org // info@akumassa.org

© Agustus 2008 - 2011 ( akumassa )

// Forum Lenteng // Jurnal Footage // Arkipel // Dongeng Rangkas // Naga // Radio akumassa //