Kebingungan di Parung Bingung: Parung Bingung Sebagai Sebuah Folklore

Oleh / pada 26 Desember 2011 / di Depok, Jawa Barat // 16 Komentar

Berawal dari spontanitas

Pada sebuah siang yang cukup cerah di Kota Depok tercinta secara spontan aku memutuskan untuk melakukan kegiatan yang sudah jarang kulakukan, yaitu berjalan-jalan tanpa tujuan dan tiada dibebani target akan dapat apa nantinya. Hal itu sudah sangat jarang dikarenakan waktu senggang yang semakin tersita oleh rutinitas lain yang membuat sebagian orang menghabiskan dirinya sebagai manusia urban kekinian, manusia satu dimensi yang kadang lupa untuk menghela nafas sejenak atau bahkan menjadi abai terhadap hal-hal keseharian di sekelilingnya.

Pertigaan Parung Bingung, serong kiri ke arah Parung, sedangkan serong kanan ke arah Cinere. Dari arah sebaliknya menuju Terminal Kota Depok

Dalam kesempatan kali ini aku memutuskan membawa serta kamera saku digitalku. Hanya mempersiapkan diri tanpa pretensi (keinginan) berlebihan, sekedar untuk mengisi ruas-ruas kartu memori dan mengerahkan segenap daya tersisa pada baterai yang mungkin harus kuganti nantinya. Maklum saja, kameraku serba nanggung, seperti pemiliknya yang galau akan identitas kelas menengahnya. Yah, canggih nggak, butut banget juga nggak. Ketika aku masih terlalu sibuk dengan pembicaraan di dalam kepala, ternyata kaki ini sudah menjejakkan dirinya di aspal hitam nan panas.

Teriknya Depok siang itu memang tidak tedeng aling-aling (tanggung-tangung). Berbeda ketika awal-awal kepindahanku ke Depok 11-12 tahun yang lalu, rimbunnya pohon masih dapat menjadi tabir dari sengatan surya. Begitupun asap bahan bakar fosil kendaraan bermotor masih belum terlalu ramai mengisi ruang-ruang dan udara kota. Beberapa lembar ribuan rupiah telah berpindah tangan, dan dengan itulah aku sampai di lokasi yang mungkin lebih dari puluhan ribu telah kulewati.

Namun sekali lagi, segala kegiatan lampau itu kusederhanakan hanya sebagai ritual perpindahan tempat secara fisik semata, tereduksi tanpa pernah disinggahi pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti mengapa dinamakan seperti itu, bagaimana ceritanya, siapa yang pertama menyebutnya atau bahkan sejak kapan dinamakan begitu. Parung Bingung, begitulah lokasi itu disebut, sebuah lokasi yang merupakan pertigaan jalan, sebuah titik pertemuan dari tiga arah berbeda. Dari arah Bogor dan Pasar Parung-Ciseeng dapat ditempuh dengan angkot 03 biru, dan angkot yang sama dapat juga mengantarkan menuju Terminal Depok. Sedangkan angkot D 102 ke arah lain, yang nantinya akan bermuara hingga Cinere bahkan Pondok Labu.

Parung Bingung yang Membuat Bingung

Pertigaan Parung Bingung, seperti yang telah kuceritakan pada alinea sebelumnya, memang berpuluh ribu telah kulewati, bukan tanpa alasan, karena memang betapa strategisnya tempat itu untuk menghubungkan Depok dengan Jakarta dan Banten (naikilah D 03 dan berhenti di Bojong Sari, jauh sebelum Parung-Ciseeng, kemudian ambil belokan ke kanan, nantinya akan berjumpa dengan daerah Pamulang yang masuk dalam Provinsi Banten). Walaupun bukan sebuah perbatasan provinsi, namun bagi warga Kota Depok, kota yang sedang mengembangkan dirinya, tentu saja titik pertemuan itu menjadi berarti, bagi warga setempat maupun sekedar pengguna jalan tersebut.

Walaupun telah kulewati berpuluh ribu kali, Parung Bingung tentu masih menjadi sebuah pertanyaan dalam benakku siang itu. Biasanya orang-orang hanya akan menjawab dengan singkat asal-usul nama Parung Bingung, yaitu sebagai sebuah lokasi yang sering membuat orang bingung ketika ingin pergi ke Parung. Singkat dan tanpa penjelasan lebih lanjut, siapa yang pertama menyebutnya, bagaimana dan sejak kapan nama itu mulai digunakan. Penasaran itu seringkali mengalah oleh fokus pikiranku yang lain. Maka, pada hari itu kuputuskan untuk menjejakkan kaki di Parung Bingung, sebuah keputusan spontan dalam pengapnya angkot yang membantu orang kehilangan kalori bahkan bisa jadi kehilangan akal sehatnya.

Keringat yang membanjiri sekujur tubuh menggiringku mencari tempat teduh yang menjual minuman dingin. Pilihanku jatuh pada sebuah warung sederhana pinggir jalan, yang terlihat sedang direnovasi bagian dalamnya namun cukup variatif dagangannya. Adalah Teh Titi sang pemilik warung tersebut, seorang Ibu muda asal Bogor yang sudah sejak lama berjualan di tempat itu. Meskipun begitu, warung Teh Titi berbeda dengan warung lain yang lazim  aku temui karena tidak merangkap sebagai tempat tinggalnya.

Teh Titi salah satu pemilik warung di pertigaan Parung Bingung

“Saya, mah, tinggal di daerah Sawangan”, begitu jawab Teh Titi ketika ditanya tempat tinggalnya, dengan logat Sunda yang kentara.

“Sudah lama, Teh, jualan di sini?” tanyaku.

“Lumayan, A, lima tahun mah ada”.

Sembari menghirup nikotin dan segelas minuman dingin ku iseng bertanya perihal nama Parung Bingung.

“Wah, udah lama juga itu, saya juga kurang tau persisnya gimana, cuma kata orang-orang sini dulu tiap orang dari Jakarta mau ke Bogor selalu nyasar di sini, bingung katanya…”.

“Oh gitu ya, Teh, emang sejak kapan ya?”

“Lama banget, saya juga denger-denger aja.”

Jawaban Teh Titi bertepatan dengan tegukan terakhir minuman dinginku, kembali kulihat kondisi jalan saat itu, frekuensi kesibukan jalan manusia dan kepadatan kendaraan bermotor tidak berkurang sedikitpun. Tentu saja, karena merupakan titik pertemuan 2 trayek angkot; D 03 dan D 102. Jalan yang tidak terlalu besar itupun seringkali dipenuhi dengan angkot yang ngetem(berhenti menunggu penumpang), bahkan secara tidak resmi menjadi ‘terminal bayangan’ bagi angkot D 102. Bak dua sisi mata uang, satu sisi membantu para penumpang mencari kendaraan, satu sisi membuat penuh jalan yang menyempit.

Pertigaan Parung Bingung menjadi pangkalan angkot D102 Rute Limo-Cinere-Pondok Labu, namun sering juga sampai Lebak Bulus

Walaupun tidak tersesat, janganlah malu bertanya

Pepatah lama ‘malu bertanya sesat di jalan’ terasa masih relevan hingga sekarang, mungkin karena memang aku beruntung masih dapat menemukan orang-orang yang ramah dan baik untuk membantuku agar tidak tersesat dalam dugaan semata tentang Parung Bingung. Tidak sulit bagiku mencari orang-orang ramah tersebut, dalam sekejap kumenuju pangkalan ojek, yang tentunya berkumpul para tukang ojek (pangkalan ojek ini posisinya di pinggir jalan, sederetan dengan warung Teh Titi). Semoga saja mereka ramah dan dapat memuaskan dahaga keingintahuanku. Tanpa basa-basi kumulai obrolan dengan meminjam korek api untuk mencairkan suasana. Adalah Pak Ubai, tukang ojek dengan umur 40-an yang dengan ramah menjawab seluruh pertanyaanku.

“Pak, numpang tanya, ini nama daerahnya Parung Bingung, ya?”, tanyaku.

“Iya, Mas, kalo ke kiri ke arah Depok(terminal), kalo ke kanan ke Cinere, lurus ke arah Parung.” jawabnya.

Lantas, kutanya lagi, “Namanya lucu juga ya, ParungBingung, dari Pemda, tuh, Pak?” pancingku.

“Oh, itu mah udah dari lama, Mas, sebelum Orde Baru juga udah begini namanya.” jelas Pak Ubai.

Mendengar itu akupun kaget, setelah selama ini mendengar kisah Parung Bingung, namun baru kali ini ada yang bisa memberi gambaran kapan nama itu mulai disebut publik.

Belum selesai aku merenung, Pak Ubai menambahkan, “Ini, Mas, ada Pak Rojak yang lebih tua di sini, saya mah ga ada apa-apanya dibanding dia, hahahah.” Sambil tertawa dia juga bersiap-siap mengambil helm dan jaketnya, karena bersamaan dengan itu penumpang datang menghampiri ke pangkalan tersebut.

Tidak butuh waktu lama, Pak Ubai pun meluncur dengan motornya, dan aku mulai bertanya kepada Pak Rojak. Pak Rojak berumur 70-an. Uban sudah memenuhi kepalanya, namun tetap bugar dan menarik ojek setiap hari. Tanpa kutanyakan kembali, ternyata dia langsung memotong dan menjelaskan, “Parung Bingung dulu ga kaya gini, belom jalan beton, tengah jalan situ (menunjuk ke tengah-tengah jalan, arah menuju Parung) dulu ada pohon asem gede bener, tempat neduh. Wah, jalannya juga masih jalan batu ama lumpur.” Dengan logat Betawi kental dia menjelaskan.

Kalo namanya sendiri dari kapan, Pak?” tanyaku penasaran.

“Sama kaya sekarang, jalan ini dilewatin semua orang, yang mau Ke Jakarta, mau Ke Bogor, pasti lewat sini. Jadi dulu, Mas, setiap orang yang mau lewat sini pasti bingung, mau ke Bogor bingung, nah yang mau ke Jakarta juga bingung. Gitu aja orang-orang pada lewat nyebutnya ga ada yang ngasih nama,” tandasnya.

“Oh, berarti namanya beneran gara-gara jalannya bikin bingung ya, Pak?” tanyaku langsung.

“Bener mas, dulu orang ke sini bingung, mau ngetan, mau ngulon, ngalor ato ngidul, pasti bingung dah (Ngetan maksudnya ke wetan atau timur, ngulon maksudnya ke kulon atau barat, ngalor maksudnya ke lor atau utara, ngidul maksudnya ke kidul atau selatan).

”Itu udah dari Jaman Belanda(Kolonial Belanda), Mas, Bapak aja masih kecil itu, dulu mah orang jalan kaki, paling juga naek gerobak sapi ato sado(delman), belom ada mobil, Mas, dulu tuh, ga kaya sekarang mobil ama motor mulu”.

Pembicaraan itu sedikit banyak membuatku tersenyum dan malu, betapa sudah lebih dari 10 tahun aku tinggal di Depok dan masih baru kali ini mendengar penjelasan yang begitu jelas dari pelaku sejarahnya sendiri.

Kemudian Pak Rojak pun sudah kebagian jatah penumpang (sistem pembagian penumpang di pangkalan ojek adalah bergiliran, misalnya, ketika ada 10 ojek, maka akan diurutkan sesuai yang pertama datang dan ketika sudah ada sewa, istilah bagi penumpang, maka urutan pertama akan ditandai dan kemudian berlanjut ke nomor 2, dan ketika nomor 1 sudah balik, maka harus menunggu hingga giliran nomor 10 sudah mendapatkan sewa juga, kecuali bila itu langganan atau memang diberikan oleh nomor 10) yang artinya tidak mungkin aku menahan dia lebih lama. Maka dengan itu pula aku berterima kasih dengan memotretnya yang sudah dalam balutan jaket dan helm fullface. Setelah memotret akupun membakar rokok terakhirku, sebelum akhirnya memutuskan menaiki angkot D 03.

Rojak salah seorang tukang ojek di pertigaan Parung Bingung

Parung Bingung Sebagai Sebuah Folklore, Sebagai Sebuah Identitas

Mengingat pemberian nama Parung Bingung sudah menjadi tidak dapat ditelusuri lagi secara rinci, siapa yang pertama menyebut ParungBingung, sejak kapan, mengapa dan bagaimana ceritanya, maka kisah Parung Bingung dapat dianggap sebagai sebuah Folklore.

Folklore yang kudapat dari bahan-bahan kuliah dapat dipahami sebagai(menurut James Danandjaja) : “Folklor adalah sebagian kebudayaan suatu kolektif, yang tersebar dan diwariskan turun-temurun, di antara kolektif macam apa saja, secara tradisional dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat (mnemonic device).” Kata folklor adalah penerjemahan kata dalam bahasa Inggris folklore. Adalah kata majemuk, yang berasal dari dua kata dasar folk dan lore. Folk sifatnya kolektif (collectivity).

Menurut Alan Dundes, folk adalah sekelompok orang yang memiliki ciri-ciri pengenal fisik, sosial, dan kebudayaan, sehingga dapat dibedakan dari kelompok-kelompok lainnya. Sementara lore adalah kebudayaan (dalam hal ini cerita) yang diwariskan secara turun temurun.

Alhasil, kisah Parung Bingung dapat dikategorikan sebagai sebuah bentuk folklore, mengingat sifatnya yang disebarkan dengan lisan (oral tradition), bersifat tradisional dan berlangsung setidaknya selama dua generasi, ada dalam versi yang berbeda-beda, sifat pengarangnya anonim, dan kisah ini dimiliki secara kolektif (Danandjaja, 2007).

Kolektivitas itupula yang menjaga nama tersebut tetap digunakan hingga sekarang, terlebih lagi ketika generasi awal sudah menjelang tutup usia, sehingga generasi pewaris yang sekarang seharusnya memiliki kesadaran untuk tetap menjaga kisah itu sebagai sebuah identitas kolektifnya. Alat pembantu pengingat (mnemonic device) berwujud dalam sebuah kisah tentang asal-usul sebuah nama, Parung Bingung. Mengingatkan akan hakikat kehidupan yang guyub, akrab dan tanpa adanya tendensi (maksud) satu pihak manapun yang menunjukkan kuasa dalam pemberian nama tersebut. Ekspresi dalam folklore yang cenderung spontan dan polos bisa dipahami dengan mudah bahwa kehadiran folklore tentang Parung Bingung selayaknya dapat membantu kita bahwa peradaban mungkin tidak serumit yang kita jalani sekarang.

Tentang Penulis

Akbar Rahmadi

Pria yang akrab dipanggil Barjo, masih menjadi mahasiswa Sosiologi FISIP UI Depok, angkatan 2007. Pernah aktif mengelola Komunitas Diskusi Astina, Komunitas Musik Fisip, Komunitas Puisi & Teater ‘Paradox’, serta gemar diskusi seputar sosial-humaniora.

16 Komentar pada "Kebingungan di Parung Bingung: Parung Bingung Sebagai Sebuah Folklore"

  1. Mas Widodo 1 Januari 2012 pukul 09:25 · Balas

    bagus artkikelnya. suatu saat, jika saya bereinkarnasi di zaman selanjutnya, mungkin ini akan jadi referensi buat bikin artikel sejarah. :) good job. I enjoy it!

  2. rozin 1 Januari 2012 pukul 09:45 · Balas

    menginspirasi gue untuk mempertanyakan beberapa hal remeh yang janggal, tapi seringkali diterima bulat-bulat secara taken for granted. bagus!

  3. lintar 1 Januari 2012 pukul 15:08 · Balas

    masyarakat parung juga mejalani rutinitasnya, bertahan hidup dengan segala kelelahan. urbanisasi merasuk kedalam sela-sela pohon rindang dipinggir jalan, coba tengkok teh titi dan pak rojak mereka hadir sebagai masyarakat yang bertahan digencatat kapital untuk sekedar bertahan hidup. folklor sudah tak lagi mampir dibenak mereka karena terlalu sibuk untuk bertahan hidup atau karena parung sudah tak lagi membingungkan?

  4. naya 2 Januari 2012 pukul 07:03 · Balas

    bagus artikelnya. selama 3 tahun saya melewati jalan tersebut untuk sekolah.. nama jalannya menarik.. hehehe

  5. izul waulat 3 Januari 2012 pukul 12:26 · Balas

    zaman sepertinya memenjarakan kita pada kekinian, hingga kadang luput mempertanyakan apa, bagaimana, darimana yang kini itu berasal. tulisan keren !

  6. Wahyu Chandra K 4 Januari 2012 pukul 19:04 · Balas

    Kini ku tahu ;)

  7. Hafiz 5 Januari 2012 pukul 07:15 · Balas

    Barjo…Selamat. Tulisannya mantab.

  8. barjow 5 Januari 2012 pukul 16:05 · Balas

    makasih ya udah pada nanggepin..heheh…

    aduh sori tulisannya seadanya…semoga tulisan2 berikutnya lebih bagus…

    salam.

  9. Erna Karim. 7 Januari 2012 pukul 10:53 · Balas

    Selamat ya Akbar, sebuah tulisan indah bernuansa kerakyatan yang lentur dinamis. Melalui tulisan ini, saya belajar tentang kamu yang berpihak pada dunia nyata keseharian sebuah setting sosial transisional. Sekali lagi “Selamat!”

  10. Joan R.S 18 Januari 2012 pukul 17:51 · Balas

    sederhana, santai, ngademin, dan mencerdaskan. bagus! gw jadi pengen jalan2 ke bogor..

  11. Irfan 2 Mei 2012 pukul 14:25 · Balas

    Wah baca artikelnya bagus juga, jadi pengen pulang ke depok, trus fotonya ngingetin rumahku yang ada di parung bingung juga

  12. inayah 22 Maret 2013 pukul 08:38 · Balas

    menarik sekali artikelnya…jalan iseng2.tapi dapat hasil informasi sejarah…:)

  13. bob.kodir 30 Januari 2014 pukul 12:00 · Balas

    mantap artikelya om… secara yg diwawancarai saya kenal semua… saya jg bingung dengan nama kampung saya, gak ada yg tahu persisnya kenapa dinamai parung binggung

  14. ahmad tamami 4 Februari 2014 pukul 03:49 · Balas

    Parungbingung itu nama sbuah dusun dulunya mah, salah satu bagian kmpung yg digabung(dirangkep-bukan rangkap) dg bbrapa dusun yg lain mnjadi satu desa yaitu desa rangkepan jaya, bukan nama pertigaan, trkait jga dg pnamaan meruyung, sawangan, kampung disekitarnya

  15. sopyan 4 Februari 2014 pukul 09:10 · Balas

    Parung bingung sekarang sejatinya bukan hanya sebuah pertigaan jalan yang sampai saat ini masih banyak membingungkan para pengembara jalan ke kota, tapi sudah menjadi nama sebuah kampung/dusun pada wilayah administratif kel. Rangkapanjaya Baru, kec.Pancoranmas kota Depok…
    Kampung yang didalamnya dipenuhi “kampung-kampung” para urban (komplek perumahan), sudah takterbilang jumlahnya, dari besar (komp. Marinir, BDN), sampi yang kecil (town house)…sayang sekali, dengan pesatnya pembangunan tempat tinggal, perlahan menggilas nuansa kampung parung bingung, bahkan lebih miris lagi, para urban enggan menggunakan atau mengakui kalu mereka berdomisili dibwilayah parung bingung, mereka lebih suka mengakui wilayahnya sebagi bilangan sawangan atau Meruyung yg merupakan wilayah parungbingung….
    Saya orang parung bingung yang bangga dengan kampungnya

  16. Leah 4 Februari 2014 pukul 12:35 · Balas

    sewaktu SMP, saya pernah di ajarkan oleh guru IPS saya, dan memang benar, nama lucu itu udah muncul dari zaman Belanda.
    dan kalo baru ketemu orang baru saya pasti di ketawain karena daerah saya. haha

Tinggalkan Komentar

comm comm comm

www.akumassa.org adalah bagian dari program akumassa yang digagas oleh Forum Lenteng sebagai sebuah program pemberdayaan komunitas dengan berbagai media komunikasi, antara lain: video, teks, dan suara. akumassa memiliki strategi: penggerakan motivasi, memproduksi karya, pendokumentasian, berkelanjutan, pemberdayaan medium filem dan video, berbagi informasi serta merekam potensi lokal dengan cara berkolaborasi dengan komunitas dampingan.

akumassa:
Jl. Raya Lenteng Agung No.34 RT.007/RW.02
Lenteng Agung - Jakarta Selatan
DKI Jakarta 12610
Telp. (+6221) 78840373

www.akumassa.org // info@akumassa.org

© Agustus 2008 - 2011 ( akumassa )

// Forum Lenteng // Jurnal Footage // Arkipel // Dongeng Rangkas // Naga // Anak Sabiran // Radio akumassa //