Oleh Bayu Alfian | Pada Selasa, 2 Februari 2010
* * *

‘Pameran Senirupa: Maaf, Numpang Ke Belakang’; Pameran enam perupa Cirebon: Nico Permadi, Agus Suwanda, Beas Abimanyu, Iskandar Abeng, Yudha Sasmito, dan Nur Oji  pada 10-17 Januari 2010. Pameran Senirupa yang dilaksanakan kali pertama di Galeri Merdeka, dikurasi oleh Daniel Adenis. Dibuka oleh Nurdin M. Noer dan dimeriahkan oleh kelompok Kroncong “Semoga Ayah Cepat Pulang”.

Para pengunjung sedang memotret karya para seniman

Para pengunjung sedang memotret karya para seniman

Ketika membaca pengantar katalog ‘Pameran Senirupa: Maaf, Numpang Ke Belakang’, kita dituntun ke dalam kerangka pemikiran tentang pameran senirupa sebagai representasi solidaritas sosial masyarakat Cirebon1. Sedemikian hingga paradigma tersebut menjadi suatu hal yang baru dalam lingkungan seni dan budaya di Cirebon; bahwa seni telah ‘mencair’ dalam masyarakat ditandai dengan kerangka berpikir yang komprehensif.

“Pameran Senirupa sebagai sarana memahami situasi di sekitar kita.”

Sedemikian kontemplatif sehingga mengingatkan pada perhelatan JAKARTA BIENNALE XIII 2009 - ARENA yang untuk pertama kalinya memanfaatkan bentuk-bentuk kesenian sebagai sarana pemahaman dan kritik terhadap ruang, kota, secara bebas di ruang-ruang publik2.

Pameran Senirupa: "Maaf Numpang ke Belakang"

Pameran Senirupa: "Maaf Numpang ke Belakang"

Dalam pengantar, kita pun dijelaskan tentang ‘konsep kebutuhan’ masyarakat terhadap produk elektronik, otomotif dan fashion daripada karya-karya seni. Mendeskripsikan ‘ketidak-mampuan’ pelaku seni (seniman) di Cirebon untuk membaur dan menangkap isu publik. Deskripsi tersebut mulai memudarkan paradigma tentang perhelatan yang komprehensif terhadap isu di dalam masyarakat (Cirebon) dengan membuat standarisasi berdasarkan kuantitas apresiator3.

Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan kuratorial; Ide ini muncul ketika mereka sedang berkumpul dan tiba-tiba ada salah satu teman yang permisi untuk numpang ke belakang4, menawarkan kepada kita suatu ketidak-menentuan kerangka pemikiran dalam perhelatan ini. Paradigma yang ditawarkan kepada kita di awal ‘Pengantar’1, pada taraf kerangka pemikiran, perhelatan ini tidak masif.

Dimeriahkan oleh keroncong dari "Semoga Ayah Cepat Pulang"

Dimeriahkan oleh keroncong dari "Semoga Ayah Cepat Pulang"

Bagaimana ‘Pameran Senirupa: Maaf, Numpang Ke Belakang’, dapat ‘mencair’ dalam masyarakat?

Akan sangat sulit kita mendapatkan jawaban jelas, terkecuali dalam taraf implementasi terdapat program-program senirupa yang masuk dalam masyarakat luas. Seperti perhelatan tahunan Gardu Unik: JAGAKALI ART FESTIVAL, yang melibatkan masyarakat sebagai pelaku festival melalui pendekatan pendidikan berupa lokakarya-lokakarya (lokakarya senirupa dan musik).

Dalam buku “Dampak Ilmu Pengetahuan Atas Masyarakat” menyatakan; bahwa dalam bidang psikologi massa, teknik ilmiah yang paling mutakhir adalah melalui pendekatan pendidikan5. Mengacu pada konteks dalam buku tersebut, kita perlu mempertanyakan kredibilitas ‘Pameran Senirupa: Maaf, Numpang Ke Belakang’ berdasarkan fungsinya sebagai implementasi untuk menanggapi dan mengangkat isu-isu yang terjadi di dalam masyarakat (Cirebon).

Pameran dijadikan tugas sekolah oleh guru (kurator)

Pameran dijadikan tugas sekolah oleh guru (kurator)

Nico Permadi, dengan karya trimatra-nya: 1) Danger (Tak Pernah Bersemi), 2) Air, dan 3) Kusut; merupakan salah satu seniman yang berpotensi mencair dalam ruang-ruang publik, misalnya karya tersebut berada (dipamerkan) di WC umum Bioskop 21 dan tempat ibadah seperti Masjid; bayangkan berapa banyak yang akan berapresiasi. Minimal, apresiasi tersebut berupa lirikan dan/atau pertanyaan: Kenapa ada benda seperti itu di sini?. Dengan begitu akan mudah diterjemahkan bahkan oleh orang yang awam seni sekalipun. Seperti karya ‘Air’ jika kita dapat melihatnya di tempat wudhu Masjid Sang Cipta Rasa, misalnya, akan masif suatu kerangka berpikir bahwa karya tersebut dapat dipandang dari aspek keagamaan. Akan tetap masif, jika karya tersebut berada (dipamerkan) di suatu tempat di Kantor PDAM, misalnya. Begitu pula dengan karya-karya seniman lainnya seperti Agus Suwanda (karya: Tertusuk Merah Jambu, Mencoba Dalam Kemasan, dan Melunak, Menusuk, Meretak), Beas Abimanyu (karya: Girls), Iskandar Abeng (karya: My Privacy, Diantaramu Aku Ada I, dan Diantaramu Aku Ada II), Nur Oji (karya: Mau Pipis, dan Shower) dan Yudha Sasmito (karya: 2nd Dreamland, Arrghh…, dan Mabuk Laut) dapat kita lihat di ruang-ruang publik. Namun demikian fungsi galeri pada umumnya; untuk mencitrakan karya-karya tersebut sangat istimewa dan bercita rasa seni  tinggi (bukan untuk publik) jika berada (dipamerkan) di Galeri.

Pameran ini juga dijadikan studi banding oleh guru sekaligus kurator pameran

Pameran ini juga dijadikan studi banding oleh guru (kurator pameran)

Apakah relevan, kita mempersoalkan tentang minimnya apresiasi terhadap pameran senirupa (di Cirebon)?

Berdasarkan data yang tercatat (12/1), Pameran Senirupa: Maaf, Numpang Ke Belakang dikunjung oleh 133 orang6. Pengunjung didominasi oleh pelajar SMA; berpotensi membangun segmentasi pameran senirupa, di Cirebon khususnya.

Pada hari ke-5 ‘Pameran Senirupa: Maaf, Numpang Ke Belakang’, masih dikunjungi oleh pelajar SMA yang semakin menegaskan tentang antusiasme Pelajar tingkat Menengah Atas dalam mengapresiasi pameran tersebut. Dengan berpotret di dalam galeri, mungkin menjadi semacam pengalaman menarik bagi mereka.

Kehadiran Pelajar SMA tersebut, apakah menegaskan segmentasi dalam Pameran ini?

Pentingkah bagi pelajar-pelajar tersebut untuk datang  dalam Pameran Senirupa kali ini?

———————————————————————————————————————-

1 Katalog Pameran Senirupa: Maaf, Numpang Ke Belakang. Halaman 1; Perihal tema itu sendiri muncul pada puncak musim kemarau, beberapa bulan terakhir tahun 2009 yang lalu. Ketika di beberapa daerah di Cirebon kekurangan air… Dalam situasi tersebut sangat terasalah rasa sosial serta kesetiakawanan dalam bertetangga… tetangga yang lain menyediakan kamar mandi dan WC nya menjadi “kamar mandi dan wc umum”. Sehingga “Maaf, numpang ke belakang” menjadi ungkapan yang juga mengusung kesetiakawanan.

2 Katalog: JAKARTA BIENNALE XIII 2009 – ARENA, Halaman 04, oleh: Marco Kusumawijaya (Ketua Pengurus Harian Dewan Kesenian Jakarta).

3 Katalog Pameran Senirupa: Maaf, Numpang Ke Belakang. Halaman 2; Namun untuk senirupa, yang untuk menunjukan existensinya diwujudkan dengan menggelar pameran, lebih memprihatinkan lagi. Dari beberapa kali pameran senirupa yang kami selenggarakan, selalu saja sepi pengunjung, minim apresiasi. Kiranya pameran produk elektronik, otomotif, fashion, jauh lebih menarik minat masyarakat. Hal itulah yang mendorong kami menggelar pameran senirupa, agar bias tetap bertahan dalam kondisi seperti ini.

4 Katalog Pameran Senirupa: Maaf, Numpang Ke Belakang. Halaman 3.

5 Bertrand Russel, Seri Filsafat Atmajaya: 14 DAMPAK ILMU PENGETAHUAN ATAS MASYARAKAT, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2009

6 Buku Tamu Pameran Senirupa: Maaf, Numpang Ke Belakang.

 

Your email:

 


Foto: Iskandar Abeng

6 pembaca suka artikel ini.
Bagi dan Sebarkan:
  • PDF
  • Print
  • email
  • RSS
  • Facebook
  • MySpace
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Ping.fm
  • Digg
  • Reddit
  • del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Tumblr

Artikel terkait:

  1.           Pameran Video akumassa: Pertama di Blora
  2.           Pameran Setiap Hari
  3.           HUT RI ke-64: Merdeka!
  4.           Cirebon, 12 Desember 2008
  5.           Persiapan Jagakali Art Festival II
Anda dapat meninggalkan respon, atau jejak balik dari situs anda.

Komentar (5)

 

  1. bayu mengatakan:

    suatu hal (apapun wujudnya) akan imajinatif ketika hadir ditengah-tengah publik tanpa ada tujuan (karena tujuan hanya cocok jika memuat ke-subjektif-an).

    –B. Russell

    apakah tujuan kawan-kawan? :D

  2. manshurzikri mengatakan:

    quote:
    “Kehadiran Pelajar SMA tersebut, apakah menegaskan segmentasi dalam Pameran ini?

    Pentingkah bagi pelajar-pelajar tersebut untuk datang dalam Pameran Senirupa kali ini?”

    saya juga bertanya demikian…

  3. otty mengatakan:

    tenang ki. lo bakalan…di kuningan, pertemuan akumassa 8-11 pebruari

  4. kikie pea mengatakan:

    selamat untuk rupawan-rupawan cirebon yang perupa!!!
    aku ingin sekali bernyanyi bersama grup keroncong “Semoga Ayah Cepat Pulang”…. kapan yaaa?

  5. Hafiz mengatakan:

    Pameran memang dapat diukur dengan jumlah pengunjug yand datang. Tapi, pameran juga dapat diukur dengan bagaimana “membungkus” penyataan dalam pameran (yang diwakili oleh karya-karya di ruang pameran tsb). Pameran seni rupa atau apa saja bukan untuk menampilkan sesuatu yang “aneh” kepada publik…tapi dia harus dapat berelasi dengan persoalan sekitar dan memberikan pencerahan bagi audiens, meski respon itu negatif. Saya senang dengan pameran ini bisa dilakukan. Selamat.

Tinggalkan pesan balasan

ACARA

PESAN

Tentang Perubahan Iklim Dunia

Kami mengajak kawan-kawan komunitas untuk berpartisipasi dalam melakukan gerakan kesadaran terhadap perubahan iklim ini. Komunitas-komunitas merupakan yang paling terdepan dan secara langsung menghadapi perubahan yang dialami oleh masyarakat. Jadi, mulailah kita berubah dari kebiasaan yang merusak lingkungan. Kita pasti bisa menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan bumi yang sudah semakin panas ini.

POTRET

ARTIKEL ACAK

      Soerabaja Joeang

      (Surabaya, Jawa Timur)

      Soerabaja Joeang 1
      Mendengar kata pahlawan aku jadi ingat dengan kota ku, Surabaya. Kata banyak orang kota ini kota pahlawan, kotanya para pemberani pada jamannya. Namun sejak aku kecil aku benar-benar tak mengerti sosok pahlawan itu seperti apa dan bagaimana. Sampai p ...

      (Ada 1 komentar pada artikel ini)

      Sehari Sebelum Sakit

      (Cirebon, Jawa Barat)

      carrefour-cirebon
      [caption id="attachment_366" align="alignnone" width="300" caption="Carrefour Cirebon"][/caption] Malam itu jam sembilan malam, 19 Desember 2008, saya sedang di warnet bersama Desie, baru setengah jam online saya menerima telepon dari Eta, “Kie, gue ...

      (Ada 6 komentar pada artikel ini)

      Puskesmas Kita

      (Lenteng Agung, Jakarta Selatan)

      dsc00305
      Bacaan Saya Sejarah perkembangan kesehatan masyarakat di Indonesia dimulai sejak pemerintahan Belanda pada abad ke-16. Kesehatan masyarakat di Indonesia pada waktu itu dimulai dengan adanya upaya pemberantasan cacar dan kolera yang sangat ditakuti m ...

      (Ada 6 komentar pada artikel ini)

      Kang Ayo Kang !

      (Rangkasbitung - Lebak, Banten)

      Pedagang tahu sumedang
      Rangkasbitung. Sebelum adzan subuh di depan tempat kami Saidjah Forum tepatnya Jalan Kitarung terlihat 10 sampai 13 orang bergegas menuju pangkal jalan. Di atas pundaknya ada kotak-kotak plastik beroda, di dalamnya berisi tahu-tahu siap saji yang ter ...

      (Ada 1 komentar pada artikel ini)

      Agot

      (Rangkasbitung - Lebak, Banten)

      patung kuda di Kebon Kopi
      Perasaan dan emosi berdiam di balik nama samaran yang dibuat semasa kecil. Lantunan lagu pagi membawaku ke tempat-tempat semasa kecil tumbuh tak subur. Tidak lagi ada sesal karena semua telah menjadi kenangan, kini. Raut muka polos dan menggembiraka ...

      (Ada 6 komentar pada artikel ini)

      Donasi Untuk Korban Gempa di Sumatera Barat

      (Padang Panjang, Sumatera Barat)

      Alam memang memiliki cara tersendiri untuk menyampaikan pesan. Dalam satu bulan terakhir terjadi sebanyak 30 gempa kecil maupun besar di bumi Indonesia. Tiga gempa di antaranya termasuk besar. Pertama Pengalengan, Jawa Barat, lalu Yogyakarta, dan kin ...

      (Ada 0 komentar pada artikel ini)

STATISTIK

    • Artikel:  292
    • Komentar:  1,494
    • Halaman:  13
  • KUNJUNGAN

    Saat ini: 35

    Total: 41112

  • www.akumassa.org adalah media informasi komunitas yang digagas oleh Forum Lenteng Jakarta
    untuk merekam informasi tentang persoalan lokal dalam konteks sejarah dan kekinian yang diproduksi oleh komunitas.

    FB | TWEET
    RSS | Kontak | Jaringan | Forum Lenteng | Jurnal Footage | DariVisual | Context Creative Media